Home » Artikel » 3 Tahun Untuk PKN STAN Jakarta dan Untuk Masa Depan

3 Tahun Untuk PKN STAN Jakarta dan Untuk Masa Depan

MASUK PKN STAN JAKARTA-Aku adalah seorang anak dari kabupaten yang jarang dikenal orang yaitu Sukoharjo. Kebetulan, saya juga menjalani pendidikan SMA di SMA N 1 Sukoharjo, yang notabenenya sering dikatakan sekolah gratis dan sekolah favorit.

Kelas 3 SMA, inilah tahap-tahap dimana para siswa di seluruh Indonesia sibuk memikirkan berbagai hal. Mulai tentang US, tentang Ujian Praktek, UN, bahkan sudah pusing mikir Perguruan Tinggi mana yang diinginkan.

Bicara tentang Perguruan Tinggi, saya jadi teringat waktu saya kelas 1 SMA, dimana saya masih polos, tidak tau apa-apa. Polos bukan berarti saya belum punya wawasan masa depan ya teman-teman, sejak SMP saya sudah mempunyai cita-cita jadi dokter, dimana setiap pelajaran Biologi selalu saya perhatikan, meskipun gurunya udah tua. Tapi entah mengapa semua impian itu pupus. Tiba di SMA N 1 Sukoharjo dengan polos, dan saat itu penjurusan kelas dilakukan mulai kelas 1 SMA mengikuti kurikulum yang baru yaitu K-13 (Kurikulum 2013). Baru selasai MOS langsung diadakan ujian untuk penjurusan. Belum ada persiapan sama sekali dan sangat keteteran. Padahal saya mempunyai keiinginan untuk masuk Kelas IPA. Mengerjakan sampai keringat dimana-mana. Ujian selesai, harap-harap cemas saya berjalan pulang, karena hasil ujian akan diumumkan besok pagi.

Tidak sabar mendengar pengumuman saya berangkat dini hari, tepatnya pukul 06.00, dengan semangat yang berkobar-kobar, walau sebenarnya memang sudah ada pengumuman untuk berangkat jam 06.00 WIB dari kakak pembina MOS. Semua siswa baru dikumpulkan tepat pukul 06.30 untuk mendengarkan pengumuman pembagian kelas. Satu persatu siswa dipanggil. Mulai dari Kelas IPA 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Tetapi saya sama sekali tidak mendengar kakak pembina MOS mengatakan Bangkit Jati Prabowo dalam pembagian kelas tersebut. Hari sudah mulai panas, aku-pun tertunduk lesu karena sampai pemanggilan kelas terakhir namaku belum terpanggil. Saya bingung, apakah saya di Drop Out dari SMA atau melakukan pelanggaran berat saat MOS. Kakak pembina MOS bertanya kepada beberapa segelintir orang yang masih berada di lapangan. Apakah masih ada yang belum mendapatkan kelas? teriak Kakak pembina MOS. Beberapa orang mengacungkan tangan, termasuk saya. Kakak pembina MOS menyuruh kami untuk ke ruang Bimbingan Konseling.

Dengan sedikit gugup saya berjalan menuju ruang Bimbingan Konseling. Satu persatu siswa disuruh untuk masuk ruangan dan diberi penjelasan. Saya hanya bisa melihat dari kejauhan, karena giliran masuk saya masih lama. Setelah beberapa menit menunggu saya-pun dipanggil ke ruang Bimbingan Konseling. Tangan saya sedikit bergemetar dan mulai mengeluarkan keringat karena gugup. Setelah sampai, saya disuruh untuk duduk dan mendengarkan penjelasan dari guruĀ  Bimbingan Konseling. Ternyata setelah saya mendengarkan penjelasan dari guru Bimbingan Konseling, terjadi kesalahan pencatatan nama dalam pembagian kelas. Saya sedikit tersenyum mendengar kabar tersebut. Tetapi harapan saya kandas masuk dalam Kelas IPA karena saya akan ditempatkan di kelas IPS 4. Perasaan saya sangat tidak jelas saat itu. Saya bingung mau berekpresi senang atau sedih. Setelah itu saya langsung menuju kelas IPS 4. Setelah bel berbunyi saya pulang dengan perasaan kecewa, tidak tau mau mengatakan apa kepada orang tua.

Malam harinya orang tuaku bertanya apakah saya masuk IPA atau IPS. Saya langsung menjawab IPS. Saya melihat sepertinya orang tua saya sedih. Tiba-tiba Ayah saya langsung berkata Nak, apakah kamu mau masuk IPA? Ayah nanti bisa ngatur. Karena saya tahu, jika ingin pindah jurusan itu harus membayar mahal dan tentu saja itu bukan jalur yang legal saya menolak mentah-mentah tawaran Ayah saya. Setelah mendengar perkataan tersebut saya langsung masuk ke kamar dan membuka laptop. Karena saya tidak mau gagal, saya langsung mencari Perguruan Tinggi menggunakan laptop dan internet seadanya.

Mulai dari UI, UGM, UNDIP, UNPAD, ITB, UB, dan sampai saya menemukan sebuah logo PKN STAN yang tidak tahu kenapa dalam hati saya tertarik sekali dengan Perguruan Tinggi itu. Perguruan Tinggi itu adalah PKN STAN Jakarta. Melihat sedikit deskripsi PKN-STAN dari google sudah membuat saya tertarik, apalagi jurusan saya sangat sesuai dengan PKN STAN Jakarta. Mulai hari itu semangat belajar saya mulai tumbuh lagi. Keesokan harinya saya berangkat sekolah, seperti biasa saya selalu mencium tangan kedua orang tua saya. Ketika saya mencium tangan Ayah saya, ayah bertanya Bagaimana tawaran Ayah kemarin?. Saya menjawab dengan tegas Saya ingin masuk PKN STAN Jakarta.

Saya tahu untuk mencapai impian butuh kerja keras, oleh karena itu saya mempersiapkan dari kelas 1 SMA untuk masuk PKN STAN Jakarta. Mulai mempelajari bagaimana jenis soalnya dan tahap-tahapnya. Berhubung saudara saya ada yang lulusan dari PKN STAN Jakarta saya langsung menghubunginya dan menanyakan tips-tips agar bisa diterima di PKN STAN Jakarata.

Ujian Seleksi Masuk PKN STAN tahap pertama bisa dibilang harus dipersiapkan dengan matang. Karena dalam tahap pertama ini harus benar-benar memahami konsep dasar matematika, bahasa indonesia dan bahasa inggris. Hal ini membuat semangat belajar saya bertambah lagi karena bisa dibilang saya mempunyai dasar matematika dan bahasa inggris yang kuat. Lalu akan saya matangkan lagi dengan pembelajaran di SMA selama 3 tahun untuk mempelajarinya.

Bukan hanya di sekolah, saya juga menambah proporsi belajar saya dengan mengikuti bimbingan belajar harian. Setelah selesai jadwal reguler di bimbingan belajar, saya menemui tentor yang tidak sibuk untuk menanyakan soal-soal. Saya sudah membawa sendiri soal-soal PKN STAN mulai dari tahun 2009, 2011, 2015 dan membeli buku bank soal khusus untuk Ujian Seleksi Masuk PKN STAN. Sedikit demi sedikit saya mempelajari tipe tipe soal yang ada dalam soal-soal tersebut. Awalnya memang sulit, tapi setelah beberapa kali mencoba akhirnya saya mulai bisa mengerjakan setiap soal. Saya mulai menghafalkan tipe-tipe soal yang sering muncul dalam Ujian Seleksi Masuk PKN STAN Jakarta. Tidak jarang saya harus pulang malam untuk menyelesaikan tiap-tiap butir soal. Tetapi saya tidak patah semangat, karena saya berharap perjuangan ini akan terbalas kelak nanti.

2 tahun sudah berlalu dan kini saya sudah kelas 3 SMA. Memang benar kata orang jikalau kelas 3 SMA masa dimana kamu akan pusing memikirkan berbagai hal seperti yang saya katakan di paragraf dua tadi. Sibuk mempersiapkan UN, US, Ujian Praktek, dan tentunya Perguruan Tinggi. Saya setiap pulang sekolah sudah pasti mempunyai jadwal yang padat, akan tetapi saya luangkan waktu untuk mencari informasi-informasi Perguruan Tinggi dan hal lainnya yang berhubungan, tentu saja saya mencari melalui internet. Setelah loading beberapa menit saya menemukan informasi yang cukup penting yaitu akan diadakan Try Out USM Tahap Pertama PKN STAN di SMP N 2 Sukoharjo yang diadakan oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa PKN STAN Sukoharjo. Ini adalah waktu dimana saya harus mengukur kemampuan saya untuk lolos tahap pertama.

Hari minggu merupakan hari pelaksanaan Try Out. Saya sudah mempersiapkan betul untuk menghadapi Try Out ini. Duduk di bangku SMP N 2 Sukoharjo menunggu arahan dari panitia pelaksana sambil memakan roti dan air mineral agar bisa berkonsentrasi penuh saat mengerjakan. Ujian dimulai, saya mengerjakan dengan teliti. Beberapa jam berlalu ujian-pun selesai. Duduk di aula sambil menunggu pengumuman hasilnya. Dan setelah diumumkan saya senang karena saya mendapat peringkat yang cukup bagus yaitu 26. Hal itu tidak akan membuat terlena karena Tes Bahasa Inggris saya masih dibawah nilai mati. Saya juga mendapat tiket bimbingan belajar gratis selama 1 minggu.

Setelah beberapa bulan, saya sudah menyelesaikan Ujian Sekolah, Ujian Nasional, Ujian Praktek dan yang belum adalah mengikuti seleksi untuk masuk Perguruan Tinggi. Seperti biasa saya menyalakan laptop dan mencari informasi-informasi penting. Dan ternyata pengumuman USM PKN-STAN sudah keluar dan saya juga mendapat sms dari bimbel yang bekerja sama dengan pelaksanaan Try Out beberapa bulan lalu. Saya bersama Ayah bergegas menuju bimbel tersebut. Nama bimbingan belajar tersebut adalah Science Society. Setelah itu saya mendaftar bimbingan selama satu bulan.

Bukan hal yang mudah memang, karena saya harus belajar selama satu bulan untuk mencapai mimpi saya. Disamping itu jarak antara rumah saya dengan bimbingan belajar bisa memakan waktu selama 45 menit perjalanan dan saya harus melakukan pembelajaran selama 6 jam di bimbel. Dari pihak bimbingan belajar juga menyarankan kepada siswa untuk belajar minimal 7 jam di rumah.

Setelah satu bulan selesai, Ujian Tahap Pertama dimulai, saya sudah sangat siap dengan tahap ini, saya mengerjakan dengan tenang. Dan setelah menunggu pengumuman yang membuat saya tidak bisa tidur akhirnya saya melihat nama saya di pengumuman seleksi tahap pertama.

Selanjutnya tahap kedua yaitu Tes Kesehatan, saya jalani dengan latian lari rutin, setiap pagi saya pergi ke lapangan manahan di solo bersama teman-teman. Biasanya kami melakukan lari mengelilingi lapangan manahan empat kali. Jarang saya terkena keram, karena saya selalu melakukan pemanasaan terlebih dahulu.

Saya berangkat untuk mengikuti tes tahap kedua pukul 03.00 WIB agar mendapat antrian awal dan tidak mendapatkan jadwal tes kesehatan saat di siang hari. Kebetulan saya mendapatkan antrian nomor 58 dan saya melakukan lari pada pukul 09.00 WIB.Saya menjalani tes tersebut sampai selesai dan saya bersyukur karena saya juga lolos tahap ini.

Tahap ketiga, inilah tahap yang menentukan diterima atau tidak. Materi dalam tahap tiga hampir mirip dengan tahap pertama, yang membuat berbeda adalah adanya materi sejarah dan undang-undang. Hal yang membuat saya takut dalam tahap ini adalah saya mempunyai kelemahan dalam menghafal. Tetapi dengan semangat saya menghafalkan setiap materi. Orang bijak mengatakan Usaha dan doa tidak akan membohongi kita. Hal itu memang benar dengan usaha dan doa saya lolos tahap ketiga dan diterima di PKN STAN Jakarta. Hal ini membuat saya senang dan berharap masyarakat Indonesia agar lebih gigih dalam belajar maupun kerja serta diikuti dengan ibadah dan doa untuk mencapai cita-cita dan menjadi masyarakat yang maju.

Tinggalkan Balasan