Home » Artikel » AKU MEMILIH PKN STAN ( Karena ini jalan Takdir yang Kuambil )

AKU MEMILIH PKN STAN ( Karena ini jalan Takdir yang Kuambil )

MEMILIH PKN STAN-Memasuki kelas XII, yang dipikirkan kebanyakan siswa adalah tentang apa yang akan mereka pilih untuk masa setelah SMA. Termasuk saya. Sebagian besar teman dari sekolah saya menginginkan untuk kuliah. Yang paling awal pembahasan kami adalah SNMPTN. Dalam memilih jurusan pun sangat membingungkan. Adapula gosip tentang adanya peraturan dari sekolah yang melarang siswa yang diterima SNMPTN untuk mengikuti tes kedinasan. Itu membuat saya sangat bingung untuk mendaftar SNMPTN atau tidak. Saya pun memberanikan diri mendaftar SNMPTN. Saya juga berniat akan mendaftar STIS dan PKN STAN.

Pada awalnya saya tidak ada niatan untuk memilih PKN STAN. Sekolah kedinasan yang pertama kali saya tuju adalah STIS. Beberapa hari setelah mendaftar STIS, kakak saya yang merupakan alumni PKN STAN, menawarkan untuk memilih PKN STAN. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar. Namun, terdapat pengumuman tentang  peraturan yang hanya membolehkan mendaftar di satu sekolah kedinasan. Saya merasa lega karena saya bisa fokus di STIS. Dan ternyata ada perubahan peraturan yang membolehkan mendaftar di dua sekolah kedinasan bagi yang mendaftar pada tanggal sebelum pengumunan itu keluar. Dan saya pun mendaftar. Banyak kendala yang saya hadapi, seperti nama yang tertera di akta dan kartu keluarga itu berbeda. Saya mencari-cari informasi tentang itu. Walaupun awalnya saya tidak terlalu berniat untuk memilih PKN STAN, tetapi saya tetap saja ingin melakukan yang terbaik karena saya tidak ingin mengecewakan keluarga saya.

Setelah selesai mendaftar, tinggal menunggu untuk verifikasi dan saya  fokus untuk UN dan pengumuman SNMPTN. Ketika verifikasi banyak kendala yang muncul. Untuk ke Jogjanya saya harus naik apa, dengan siapa, dan banyak kebingungan lain. Akhirnya saya memutuskan untuk naik sepeda motor berdua dengan teman saya. Dari pagi sehabis subuh itu saya berangkat dari rumah. Sampai di sana saya termasuk siang sehingga mendapat nomor antrean belakang. Setelah melalui beberapa tahap verifikasi, saya dan teman saya pulang ke rumah. Sangat lelah yang saya rasakan. Namun setelah melihat senyum tulus dari kedua orang tua, semangat saya seakan muncul kembali.

Selama masa liburan setelah UN, ibu menyuruh saya untuk mengikuti les di guru SMA saya dulu. Saya pun berusaha untuk ikhlas mengikuti pembelajarannya dan memanfaatkannya semaksimal mungkin karena mengingat orang tua saya yang sudah membiayainya. Hari pengumuman SNMPTN pun segera tiba. Di dalam benak saya, saya yakin bahwa saya bakal diterima di pilihan pertama saya di SNMPTN. Dan, betul. Saya lolos SNMPTN pilihan pertama, yaitu S1 Teknik Geodesi UGM. Begitu bahagianya saya. Timbul keraguan di hati saya. Apakah saya harus melanjutkan USM kedinasan? Seminggu sebelum USM saya hampir memutuskan untuk tidak melanjutkan kedinasan. Namun lagi-lagi saya berfikir tentang orang tua saya yang lebih mengharapkan saya di kedinasan, terutama PKN STAN yang membuat saya melanjutkan USM.

Menjelang USM, saya kembali dibingungkan akan masalah tempat saya untuk menginap besok dan transportasi. Dengan menghubungi banyak akak kelas saya di Yogyakarta, akhirnya saya bisa menumpang  di kosnya beliau.  Tanggal 14 Mei, saya mengerjakan USM STIS. Saya merasa yakin bisa lolos tahap I. Dan tanggal 15 Mei, saya juga mengerjakan USM PKN STAN. Setelah selesai, saya juga merasa yakin lolos tahap I. Namun, terdapat kejadian yang ,e,buat saya putus asa. Yaitu ketika saya mau kembali ke rumah. Saya ditinggal teman saya yang sudah berjanji untuk pulang bersama naik kereta. Dia membeli tiket sendiri tanpa membelikan saya tiket. Saya pun mengantre untuk mendapatkan tiket kereta. Namun di tengah antrean, ada pengumuman bahwa tiketnya sudah habis saya langsung panik.

Kemudian saya antre tiket yang harganya jauh lebih mahal dengan jumlah tiket yang terbatas. Lagi-lagi saya kehabisan. Keadaan waktu itu handphone saya mati karena kehabisan baterai. Saya langsung menuju ke tempat bus untuk membeli tiket bus efisiensi. Dan ternyata juga habis. Perasaan saya benar-benar campur aduk. Antara benci dan lelah. Akhirnya saya kembali ke kos kaka kelas saya. Dan saya pulang paginya memakai kereta yang paling pagi. Setelah sampai rumah saya lalu bergegas menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk daftar ulang UGM. Karena posisi waktu itu saya tetap melanjutkan UGM karena status saya di STAN belum jelas diterima atau tidak. Banyak sekali hal yang membuat saya hampir putus asa.

Menjelang pengumuman PKN STAN, saya ternyata berharap jika saya lolos. Dan betul saya lolos. Dalam hati saya masih tetap lebih menginginkan STIS. Saya berfikir untuk tidak melanjutkan tahap II PKN STAN dan ingin fokus untuk tahap II STIS. Namun, setelah mengetahui bahwa saya lolos tahap I PKN STAN, orang tua saya sangat bahagia dan langsung menyuruh saya untuk bersiap-siap tahap II, yaitu Tes Kesehatan. Sampai-sampai beliau membelikan sepatu baru untuk saya berlari. Saya tetap berusaha untuk mengumpulkan niat mengikuti tahap II PKN STAN. Saya hanya ada waktu satu hari untuk latihan berlari. Saya sudah merasa pesimis bisa lolos tahap II. Saya jalani tes kali ini dengan bekal kepercayaan diri yang telah saya dapatkan dari orang-orang yang mendukung saya untuk di PKN STAN.

Untuk kali ini saya mendapat bantuan dari teman saya untuk ikut menginap di tempat kakaknya. Tanggal 30 Mei saya mengikuti tahap II dengan mencoba untuk santai. Saat berlari 12 menit, di pertengahan berlari,saya berada di posisi paling belakang. Saya merasa malu tetapi saya sudah terlalu lelah. Saat satu menit terakhir, saya langsung berlari sekencang-kencangnya. Saya tidak lagi memikirkan  posisi saya. Yang terpenting saya tidak jatuh pingsan. Kemudian dilanjutkan shuttle run. Saya cukup percaya diri akan kecepatan berlari saya dalam jarak pendek. Namun sayangnya, tangan saya menyentuh tiangnya. Saya benar-benar sudah pasrah akan hasilnya. Saya pesimis bisa lolos.

Tahap II STIS telah saya lalui dengan percaya diri dan saya lagi-lagi percaya diri akan lolos. Disela-sela menunggu hasil tahap II STIS, pengumuman tahap II PKN STAN keluar dan saya terkejut melihat hasilnya. Saya lolos. Saya menangis. Antara bahagia dan sedih. Saya menginginkan STIS. Kalau saya melanjutkan tahap III PKN STAN, saya tidak bisa melanjutkan tahap III STIS. Kalau saya tidak melanjutkan tahap III PKN STAN, belum tentu saya lolos tahap II STIS. Banyak pertimbangan yang saya pikirkan. Saat itu saya sudah tidak tahu lagi harus memilih yang mana. Saya hanya ingin mengikuti keinginan keluarga. Semakin lama saya terbuka hatinya untuk mencoba berpikir yang tanpa berpihak di salah satu. Saat itu saya sudah menetapkan untuk memberikan surat pengunduran diri ke UGM di waktu mendatang.

Akhirnya, setelah tiga hari sebelum ujian TKD, saya baru memutuskan untuk melanjutkan tahap III PKN STAN. Saya berlatih mengerjakan soal dan saya juga memutuskan, jika saya lolos PKN STAN, saya akan mengikhlaskan STIS dan tidak melanjutkan tahap III STIS. Saya berangkat TKD diantar ayah saya. Saat mengerjakan saya sangat santai. Karena saya tidak mau panik akan skor TKD saya nantinya. Saat keluar skor, saya lolos passing grade dan skor saya sangat minim. Saya hanya bisa berserah diri pada Tuhan apapun hasilnya.

Saat hari pengumuman, saya masih ada sedikit rasa berharap tidak lolos sehingga dapat melanjutkan tahap III STIS. Namun saya buang jauh-jauh pikiran itu. Pengumuman kelulusan diundur sekitar dua hari. Sehingga saya tidak lagi menunggunya hingga tengah malam. Paginya, ibu mendapatkan telpon dari kakak saya yang mengatakan kalau saya lolos PKN STAN prodi D1 Pajak. Begitu bahagia ibu saya. Saya belum terbangun dari tidur sehingga masih merasa biasa saja. Namun setelah kakak saya mengatakan saya pendidikan di Pontianak, ibu pun menangis dan mengatakan bahwa beliau dan ayah sangat mendukung saya untuk mengambil PKN STAN. Saya merasa bahagia karena saya menjadi tidak engerjakan tugas PPSMB UGM yang begitu banyak.

Namun saya harus benar-benar mengikhlaskan STIS.  Sangat berat memang, namun saya juga harus menghargai komitmen saya. Saya juga harus memahami keinginan orang tua saya. Saya bahagia jika keluarga saya pun mendukung sepenuhnya pendidikan saya. Dan lagipula saya sudah tidak bisa melanjutkan tahap III STIS. Karena tidak bisa TKD dua kali.

Saya telah membulatkan tekad untuk ke PKN STAN. Namun seminggu sebelum jadwal TKD yang seharusnya saya jalani, ada pengumuman baru dari pihak STIS yang membolehkan peserta mengikuti TKD dua kali. Lagi-lagi pikiran saya goyah. Saya suda ingin melanjutkan TKD STIS. Saya sudah belajar lagi. Namun hari itu ibu saya memberi nasihat. Dimana dari nasihat ibu itu saya dapat kembali meyakinkan diri untuk mengambil PKN STAN. Selain itu keperluan untuk daftar ulang pun sudah saya siapkan. Tiket menuju Pontianak pun sudah disiapkan. Saya tidak boleh menyia-nyiakan uang yang telah dikeluarkan  orang tua saya untuk saya.

Banyak dari pihak keluarga dan sanak saudara yang mendukung dan bangga akan keterterimaannya saya di PKN STAN. Dan dari lingkungan saya pun masih jarang yang alumni PKN STAN. Dari hal itu membuat saya sangat bersyukur karena sudah diterima di PKN STAN.

Dalam proses USM PKN STAN, saya merasa kurang bersungguh-sungguh dalam menghadapinya. Saya seolah-olah menyepelekannya. Namun yang saya herankan, saya masih tetap diterima sampai tahap akhir. Hal ini lah salah satu yang membuat saya yakin bahwa PKN STAN adalah pilihan yang terbaik yang Allah berikan kepada saya. Dan dari keterterimaannya saya di PKN STAN, saya menjadi mengerti maksud dari Allah Maha Membolak-balikkan Hati. Saat dalam tahap seleksi, saya membolehkan diri saya untuk menomor-berapakan PKN STAN atau STIS atau UGM. Namun, saat saya sudah diterima di salah satu Sekolah atau Universitas tersebut, saya harus menomor satukan sekolah atau universitas tersebut. Dan saat ini saya bersekolah di PKN STAN, maka dariitu saya harus menempatkan PKN STAN nomor satu di hati saya.

Tinggalkan Balasan