Home » Artikel » Anak MA Swasta Bisa Masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Anak MA Swasta Bisa Masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Gedung MA NU MIftahul Falah Kudus
Gedung MA NU MIftahul Falah Kudus

Masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara merupakan sebuah hal yang tidak pernah melekat dalam benakku sebelumnya, bahkan aku tak pernah bermimpi akan menjadi seorang STANERS, tapi kerena kehendak Allah lah yang telah menuntunku dan mengarahkan kepada saya bahwa masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara adalah jalan terbaikku setelah lulus dari MA. Dulu aku sangatlah egois, bermimpi ingin kuliah di universitas negeri jurusan fisika lalu lulus S1 dengan cum laude dan melanjutkan S2 ke luar negeri. Tapi semua itu hanyalah angan-angan yang harus aku buang. Orang lain pasti senang kalau bisa masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, tapi aku tidak, jika ditanya orang lain : apa kamu senang dan bangga masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ? Maka akan aku jawab : ini semua karena kehendak Allah yang harus aku syukuri. Tapi itu semua adalah masa lalu.

Sekarang, aku harus senang,bangga dan akan berusaha keras untuk menjadi yang terbaik di STAN, karena perjuanganku masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) mungkin sangat berbeda dengan temanku yang lain. Penuh luka, air mata, pengorbanan, penuh keringat, emosional dan rasa syukur yang kini telah berubah menjadi senyuman terindah dalam hidupku. Mimpiku ini bermula ketika aku masuk di MA, yang tidak pernah aku inginkan untuk sekolah disana karena factor ekonomi dan lokasilah yang memaksaku untuk sekolah di MA tersebut.

Saya hanyalah seorang dreamer yang tinggal di sebuah desa di kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ya…Sebuah desa terplosok dan terpencil di lereng gunung muria. Saya juga seorang alumni dari MA swasta desa yang bernama MA NU Miftahul Falah Kudus, sebuah sekolah yang bukan menjadi favorit di Kudus dan cenderung lebih menjadi tempat buangan siswa yang tidak diterima di sekolah negeri dan bagi orang kurang mampu atau mereka yang tidak punya mimpi. Lulusannya pun hampir 80 persen tidak meneruskan kuliah dan langsung kerja. Bahkan pada angkatanku baru pertama kalinya dalam sejarah ada siswi yang mendapat beasiswa di Universitas Negeri, padahal sekolahku bukan merupakan sekolah baru, ini karena tidak adanya koneksi, usaha dan perhatiaan dari guru kami, kemana dan bagaimana lulusannya bisa melanjutkan kuliah. Tapi lebih mementingkan bagaimana bisa mendapatkan siswa banyak karena kuatir kalah bersaing dengan sekolah lain.

Bahkan ada orang yang  bilang Untuk apa sekolah di MA MIFFA ( singkatan untuk sekolahku ), mau jadi apa ?. Karena itulah tekadku untuk masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) menjadi semakin bulat. Saya ingin membuktikan bahwa kami dari MA bisa dan sekolahku tidak kalah dengan sekolah negeri dan favorit yang lain. Tekadku semakin membara, setelah sahabat sejatiku meremehkanku dengan berkata :  jangan mimpi tinggi-tinggi nanti jatuhnya sakit, tapi aku teringat kata-kata Bung Karno : Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh maka akan jatuh di langit dan bintang. Ternyata aku telah membuktikan bahwa kata Bung Karno lah yang  benar. Selain itu, ada seorang tetanggaku yang juga berhasil lulus STAN dan sekarang telah kerja di kantor penilaian Bogor, dialah yang juga memotivasi diriku untuk lebih semangat !. Tapi faktor utama aku masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) adalah ekonomi dan masa depan.

Aku tau bahwa diriku bukanlah orang kaya,untuk kuliah saja aku harus berpikir dua kali. Aku tidak ingin membebani kedua orang tua. Maka dari itu setelah lulus dari MA, aku berusaha untuk mencari beasiswa kuliah, tapi hal itu tidaklah mudah, seperti apa yang aku fikirkan. Memang beasiswa untuk kuliah kini sangatlah banyak. Bagi orang pintar yang bersekolah di sekolahan negeri atau favorit sangatlah mudah mendaftarkan dirinya dan diterima di jalur prestasi serta memperoleh beasiswa karena dapat memakai almamater sekolahnya. Tapi hal tersebut berbeda denganku yang tidak bisa mengandalkan nama sekolah, padahal beasiswa kuliah kebanyakan berada pada jalur prestasi, setahuku hanya bidkmisi yang bisa memakai segala jalur baik itu prestasi (SNMPTN), tes bersama (SBMPTN), atau mandiri. Persaingan masuk kuliah bahkan di universitas negeri juga sangatlah ketat. Aku sudah ditolak di berbagai universitas. Pertama, ketika aku baru saja lulus dari MA, aku dan 3 temanku berniat untuk mengikuti SBMPTN 2015.

Karena dari 130 an siswa yang tertarik mendaftar kuliah negeri hanyalah kami. Pada saat itu, aku tidak sempat belajar SBMPTN karena sibuk bekerja karena banyak waktu luang setelah UN sampai wisuda, sayang kalo aku hanya menganggur dan tidak ada aktifitas positif. Maka dari itu, aku memutuskan bekerja di Toko pusat pabrik jenang atau dodol terbesar di Kudus. Akhirnya, kamipun berangkat untuk mengikuti SBMPTN ke Semarang bersama ketiga kawanku. Kami berempat memilih UNNES, jika aku memilih jurusan Fisika dan Akuntansi, padahal aku tahu bahwa jurusanku adalah IPS. Panas, dingin, merasa terlantar kami rasakan dan sempat tersasar di Semarang menjadi buah keringat tak terlupakan bagi kami. Hanya satu harapan kami lulus bareng dan diterima bidikmisi. Tapi Allah, punya kehendak lain, takdir begitu misterius. Hanya temanku Elisa yang memilih jurusan Management yang lulus.

Iri, sedih merasuk dalam jiwa, dalam benakku pun sempat terbesit pertanyaan “kenapa harus dia yang lulus ? kenapa gax aku ? Tapi, aku mencoba ikhlas,mungkin ada jalan terbaik lain untukku, aku mulai mencari jalan lain tersebut dengan ikut UNNES mandiri 2015 dengan memilih jurusan akuntansi dan manajemen. Tapi entah kenapa Allah seakan menyulitkanku dengan errornya website jalur pendaftaran bagi pelamar bidikmisi. Akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar mandiri jalur regular. Karena terdapat keterangan di website resmi UNNES : Bagi pendaftar bidikmisi silahkan mendaftar lewat jalur regular dan menyerahkan berkas bidikmisinya ke rektor jika lulus. Sebagai syarat pemindahan jalur pendaftaran. Ternyata aku lulus jurusan akuntansi dan mendapat UKT 5,1 juta, tapi ternyata UNNES bukan kado yang terbaik bagiku. Setelah pengumuman kelulusan, akupun pergi ke UNNES bersama ibuku untuk menyerahkan berkas.

Entah kenapa saat itu aku sangat lelah, bimbang, malu dan tidak ada selera berjuang lebih keras untuk mencoba bertanya kepada yang lain. Aku langsung menyerah, ketika bapak bidang pendidikan tersebut berkata bahwa tidak bisa pindah jalur. Bagiku kata tersebut adalah pisau tumpul yang mengkoyak dan mengiris sukma. Lalu aku mencoba  merelakannya karena aku tau bahwa masih ada USM STAN. Tapi angan-angan untuk bisa masuk STAN harus pudar ketika aku tidak lulus tahap pertama. Ya , petir bagai menyambar disiang bolong, pening mengikat kepala, nafas tak kuat melantun dengan bebas. Aku menyadari bahwa aku tidak pintar dalam bahasa inggris, TOEFL pun baru tau. Nilai UN bahasa inggrisku pun hanya mendapat 6. Tapi aku puas karena hasil kerja kerasku sendiri walaupun teman-temanku mendapatkan nilai 7 dan 8 karena mencontek. Tapi buat apa nilai bagus dengan mencontek. Memang sungguh ironi negeri ini !. Ya, aku akui bahwa aku lemah dalam bahasa inggris.

Aku pun mencoba tegar dan kembali berdiri tegak walaupun hatiku masih dirundung pilu. Aku pun pasrah dengan kehidupan yang diberikan allah padaku, sungguh melelahkan dan sulit. Aku menyadari bahwa kesempatan kuliah di tahun 2015 telah sirna. Tak ada lagi informasi beasiswa kuliah yang aku tahu atau setidaknya gratis biaya kuliah saja. Hanya dengan bersimpuh dan sujud pada Illahi Rabbi meminta ketegaran dalam batin ini. Aku mencoba melupakan dan ikhlas pada semua yang telah terjadi. Mencoba berfikir bahwa Allah belum mengizinkanku untuk kuliah tahun ini karena aku belum siap. Tapi bingung mulai menghampiriku, akhirnya aku memutuskan untuk memperbaiki kesalahanku di tahun ini, dengan memperkuat dan menambah pengetahuan bahsa inggris ku ke Kampong Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur dengan berbekal uang yang telah aku kumpulkan dari hasil kerja.

Sungguh luar biasa pengalamanku di Pare, tempat ajaib untuk belajar bahasa inggris dengan mudah dan cepat karena setiap hari kita terbiasa menggunakan bahsa inggris. Disana aku juga belajar tentang kehidupan, sebelumnya aku tak tahu apa kehidupan ini karena aku sangatlah tertutup, aku juga bertemu dengan teman-teman dari seluruh indonesia bahkan luar negeri. Dan bertemu dengan Sakti, seorang perempuan Pare yang juga gagal pada saat masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tahun 2015 sama sepertiku. Aku mulai banyak belajar untuk memahami karakter orang lain dari dirinya. Aku juga bertemu dengan Rudi, seorang S1 lulusan jurusan Psikologi Univ. Muhamadiyyah Jember. Dia mengajariku juga soal bagaimana kita harus menjadi seorang yang terbuka dan mencoba untuk menyambut orang lain dalam hidup kita. Singkatnya, aku mempelajari banyak hal, ya..begitu indah 3 bulan di Pare, setiap pagi harus mengayuh sepeda ke kursusan meyambut mentari dengan senyuman, menyambut pagi dengan berdzikir vocabularies yang harus kita hafalkan.

Sungguh tak terlupakan walaupun  rindu orang tua sempat menghantui diri ini dalam setiap mimpi malam ku. Tapi waktu seperti pedang yang berputar kejam, mengiris insan yang lalai. Tanpa sadar aku telah melewati tahun 2015 dan kini telah awal bulan di tahun 2016. Ya, aku harus kembali ke Kudus karena masalah ekonomi padahal aku belum puas belajar disana hanya 3 bulan saja .Tapi mau tidak mau aku harus pulang. Setelah itu, aku memutuskan bekerja karena aku sadar bahwa uang mulai menipis sedangkan ini saatnya aku harus bersiap-siap untuk menyiapkan kuliah. Akhirnya takdir megantarkanku untuk bekerja di sebuah pasar swalayan terbesar di Kudus, aku pun mulai menjadi seorang pramuniga atau SPB di toko alat tulis, disana juga aku bertemu banyak orang salah satunya adalah Nisa, seorang SPG yang telah bekerja selama 4 tahun disana, uniknya dia sangat sederhana, PD untuk tampil apa adanya padahal SPG swalayan diwajibkan untuk berdandan menor.

Dia mengajarkanku tentang kepercayadirian dan dia juga pernah ikut USM STAN 2007, sayangnya tidak lulus, karena mimpinya harus sirna karena telat di tes kesehatan. Ya, aku tau inilah takdir Allah, aku bekerja disana. Jadi aku bisa memperoleh pengalaman dari si Nisa. Bahkan aku harus merelakan untuk belajar di tengah kesibukanku bekerja, teringat sambil blocking di belakang aku menghafal untuk persiapan kuliah sambil melihat supaya SPV tidak melihatku, 5 bulan aku bekerja hingga awal bulan Juli 2016. Sejujurnya, aku tidak betah kerja disana karena banyak pemotongan gaji dan peraturan waktu yang ketat. Tapi aku harus optimis demi mimpiku kuliah tahun ini. Ya aku harus kuliah ! . Walaupun tahun ini aku telah gagal di berbagai tempat yaitu beasiswa Universitas esa Unggul Jakarta (udah keterima tapi tak ada kejelasan ),Beasiswa univ. islam Indonesia Yogyakarta, UGM PBSVUTM, UMK jalur prestasi,Polines Semarang.

Ditahun 2016 tujuan utama ku bukan STAN tapi SBMPTN bidikmisi, aku mulai belajar dan akhirnya tes tahap pertama dimulai, berbagai konflik kerja seakan menjadi rintangan yang sungguh menjadi cobaan, dimana aku harus bekerja selama 7 jam sehari dan hanya satu hari libur dalam seminggu, bahkan itupun diatur. Sempat beberapa kali tes masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara bertabrakan dengan jam kerja tapi ternyata Allah selalu memberikan jalan. Berbeda dengan tahun lalu tes tahap pertama aku hadapi dengan mudah dan lulus, begitu pula dengan tes kesehatan dan TKD yang hanya medapatkan scor 356. Ya jam seakan berputar lama menunggu waktu pengumuman, seakan berhenti berdetak, akhirnya waktu pengumuman kelulusan telah datang. Alhamdulillah namaku tercantum dalam salah satu dari 4490 nama.

Aku sangat senang sekaligus bingung dengan diterimanya diriku di Pontianak.  Sedangkan pada waktu itu aku juga lulus SBMPTN bidikmisi 2016 di UNS. Akhirnya aku mengikuti kata kedua orang tuaku untuk memilih masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Bagiku lulus USM STAN 2016 merupakan langkah awal dalam jembatan mimpi yang harus aku lalui. Aku ingin terbang tinggi bersama pelangi. Berteman dengan deru angin. Dan mengejar mentari ku.

Tinggalkan Balasan