Home » Artikel » Awal Pahit Berujung Manis Bisa Masuk PKN STAN

Awal Pahit Berujung Manis Bisa Masuk PKN STAN

BISA MASUK PKN STAN-Tidak pernah sekalipun terbesit dalam pikiranku mengenai apa bidang yang ingin aku tekuni setelah lulus SMA. Banyak diantara teman-temanku yang sudah mulai memikirkan hal tersebut dari kelas 1 SMA, salah satu tujuan dari mereka adalah STAN. Aku sangat tidak tertarik dengan STAN pada waktu itu. Kepanjangan dari STAN adalah Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan pelajaran di sekolah yang paling kubenci adalah akuntansi, maka dari itu aku sangat tidak berminat untuk masuk atau bahkan hanya mencoba tesnya.

Waktu berlalu sangat cepat, tidak terasa aku telah menjadi murid kelas 3 SMA dan masih belum menemukan impian. Teman-temanku yang lain sudah makin mantap dengan pilihannya sedangkan aku masih belum tahu mau memilih apa. Bulan demi bulan berlalu hingga pada akhir semester ganjil aku mulai menaruh ketertarikan dengan animasi. Tekadku sudah cukup kuat untuk menjadi seorang animator, aku sudah mengikuti banyak kegiatan yang berhubungan dengan animasi  namun orang tuaku kurang setuju pilihanku.

Saat aku mengungkapkan apa yang menjadi keinginanku mereka bertanya, Kamu mau jadi apa setelah lulus? Yakin bakal dapet kerjaan?. Pertanyaan itu cukup membuat hatiku sakit karena aku juga tidak yakin apakah aku bisa mendapat kerja nantinya, apakah aku bisa hidup dari pekerjaan itu, dan sebagainya. Walau begitu aku tetap menginginkan menjadi seorang animator, kami sempat bertengkar hebat masalah ini. Tapi akhirnya hatiku luluh karena orangtuaku yang hampir menentang keinginanku tersebut serta biaya kuliah animasi yang terbilang mahal, kebutuhan keluarga kami terbilang cukup banyak. Aku akhirnya menyerah dengan keinginanku tersebut.

Setelah kejadian tersebut, aku terus menerus berpikir mengenai bidang apa yang ingin ku dalami. Karena cukup lama berpikir tapi tidak kunjung menemukan jawaban dan masih ada rasa sakit hati dengan orangtuaku mengenai hal tersebut, akhirnya aku menyerahkan semua keputusan kepada mereka mengenai jurusan.

Singkat cerita aku lulus SMA dan masih bingung dengan impianku, aku memang sudah memasrahkan segala keputusan kepada orangtuaku tapi tetap di hati ada ganjalan karena aku menerimanya tanpa keinginan yang benar-benar dari hatiku. Setelah lulus ayah mendaftarkanku beberapa tes perguruan negeri tinggi dan hasilnya nol, aku tidak dapat dimana-mana. Saat itu pertama kalinya aku merasakan kegagalan yang teramat sangat, merasa manusia yang paling tidak berguna di dunia ini. SNMPTN tidak lulus, SBMPTN tidak lulus, SIMAK UI tidak lulus, dan sebagainya. Aku akui aku malas saat SMA dan memang tidak berminat juga dengan pilihan ayahku. Kegagalan yang kualami adalah hal yang sangat wajar karena aku tidak berusaha keras, tapi entah kenapa tetap ada perasaan sakit yang menusuk di hati.

Suatu hari ayahku datang menawarkan kesediaanku untuk mendaftar  USM STAN 2015, dan dengan tegasnya aku langsung tolak. Aku sedikit berdebat dengannya mengenai hal itu tapi pada akhirnya dengan berat hati aku mau menerima tawaran kesempatan itu. Salah satu faktor ketidakinginanku daftar USM STAN selain mengenai akuntansi adalah rasa sakit hati yang masih belum hilang akibat dari kegagalan-kegagalanku sebelumnya, tapi mau bagaimana lagi,perkataan ayahku tidak bisa dibantah. Daripada menyesali yang lalu-lalu dan merasakan kekecewaan lagi untuk yang kesekian kalinya, untuk tes yang satu ini aku lebih serius dan dari jauh-jauh hari belajar materi-materi yang kira-kira akan keluar saat USM.

Hari tes pun tiba, aku sudah memantapkan materi-materi USM dan hanya bisa berpasrah hasil kepada Allah SWT mengenai hal ini. Aku mengerjakan tes dengan cukup lancar tanpa gangguan apapun, walaupun ada suara berisik karena perenovasian gedung GBK. Selesai tes, aku merasa sangat tenang, tidak ada kekhawatiran masalah lulus atau tidak lullusnya aku. Hari demi hari pun berlalu dan akhirnya tiba hari pengumuman hasil USM STAN 2015 tahap pertama.

Aku tidak bisa berkata apa-apa saat itu, aku hanya bisa menangis mendengar kabar bahwa aku lulus tahap pertama USM STAN 2015. Seluruh anggota keluargaku sangat menyambut baik hal tersebut terutama ibuku. Hal yang benar-benar membuat aku senang bukanlah karena lulus tahap pertama, melainkan dari sekian banyak tes yang aku ikuti akhirnya aku bisa lulus walaupun itu adalah STAN. Tapi semenjak saat itu aku makin memantapkan diri untuk meneruskan perjuanganku di USM STAN tahap kedua, yaitu TKK. Tapi aku tidak lulus pada tahap kedua yang juga menjadi tes terakhir di USM STAN 2015. Ada sedikit kekecewaan di dalam hatiku, tapi semua itu kubuang jauh-jauh karena aku percaya ini adalah keputusan mutlak dari Allah, tahun 2015 bukanlah tahunku untuk bisa masuk STAN. Sejak saat itu aku lebih mendekatkan diri kepada Allah untuk diberikan jalan terbaik dari-Nya, entah itu STAN atau yang lain.

Ayahku sangat berambisi tentang aku yang bisa masuk ke perguruan tinggi negeri, entah dimana pun itu. Karena tahun 2015 aku tidak mendapatkan perguruan tinggi negeri dimana-mana, ayahku memutuskan untuk memasukkanku ke universitas swasta kelas karyawan. Jadwal kuliah kelas karyawan hanyalah sabtu dan minggu, jadi ayahku berharap aku bisa belajar pada hari senin sampai jumat untuk persiapan SBMPTN dan juga STAN tahun berikutnya.

Kegagalanku di USM tahun 2015 pada adalah tahap kedua atau TKK, tes yang mengharuskan calon mahasiswa mempunyai fisik yang bugar. Aku merasa kekuranganku tahun kemarin adalah di lari 12 menit, aku kurang kuat dalam mengatur nafas sampai-sampai aku lebih banyak berjalan daripada lari. Agar kesalahan itu tidak terulang lagi aku melakukan olahraga ringan hampir setiap hari dengan harapan bisa mengatur napas dengan baik.

Tidak terasa pendaftaran USM STAN 2016 dibuka, ada desas-desus bahwa USM tidak aka nada pada tahun 2016 karena sebelumnya USM sudah dibuka 2 tahun berturut, tapi nyatanya tidak. Setelah mendengar kabar tersebut, pada hari pertama pendaftaran USM aku langsung mendaftarkan diri sebagai peserta USM. Setelah mendaftar aku belajar lebih giat lagi dari tahun kemarin agar aku tidak menyesal lagi. Banyak minggu kuhabiskan untuk mempelajari materi STAN, sampai detik terakhir pun aku masih membuka catatanku untuk memantapkan materi.  Saat mengerjakan tes, aku tidak menyangka bahwa tes 2016 sedikit lebih susah daripada tahun 2015, terutama TBI. Selesai tes aku benar-benar pasrah pada keputusan Allah dan aku mulai belajar SBMPTN yang akan dilaksanakan 2 minggu berikutnya.

Beberapa hari berlalu dan hari pengumuman tes pun tiba. Aku hanya bisa memasrahkan hasil kepada Allah dan betapa sangat bersyukurnya aku ada namaku di lembar pengumuman peserta USM STAN 2016 yang lulus tahap pertama. Aku sangat senang dengan berita tersebut tapi sekaligus khawatir karena aku akan menghadapi TKK lagi, tes yang belum bisa kutaklukkan tahun kemarin. Walau sudah mempersiapkan cukup baik untuk tes itu, tetap ada rasa khawatir tentang apakah aku bisa menyelesaikan tes itu dengan baik. Tapi pikiran itu langsung kubuang jauh-jauh karena itu hanya akan menghancurkan konsentrasiku saja nantinya.

Minggu pada pelaksanaan TKK itu merupakan minggu yang cukup berat karena besoknya adalah SBMPTN dan pada hari minggunya adalah SIMAK UI. Materi SBMPTN dan SIMAK UI tidak bisa terkejar karena aku memfokuskan diri pada USM, dan aku pun tidak berharap banyak dengan hasil SBMPTN atau pun SIMAK UI. Dengan usaha yang cukup maksimal pada sebelum sampai saat tes kebugaran USM STAN tahun 2016, aku kembali bersyukur karena aku bisa menaklukkan tes kedua. Senang bukan kepalang pada saat itu, keluargaku juga sangat senang akan hal itu dan mereka terus berdoa agar aku bisa melewati tes tahap selanjutnya.

Aku cukup tegang dengan tes ketiga ini karena tes ini, TKD, baru ada pada tahun 2016, tahun-tahun sebelumnya belum pernah ada. Hal ini membuatku lebih waswas pada tes terakhir. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain usaha, doa, dan serahkan semuanya kepada Allah. Hari demi hari aku belajar untuk menghadapi tes ketiga, satu materi yang sedikit mengganjal adalah TWK karena memiliki banyak hapalan dan kekuatan menghapalku kurang, tapi bagaimana pun caranya aku tetap berusaha walau tidak bisa hapal keseluruhan materi.

Tes sudah kujalani dan tinggal menunggu hasil. Sebelum hasil TKD keluar, hasil SBMPTN sudah keluar dan aku bersyukur aku dapat di PTN, yaitu UNJ. Kalau-kalau STAN tidak masuk, masih ada UNJ, kata ayahku, walaupun aku tahu kita sekeluarga mengaharapkan bisa masuk PKN STAN. Penantian hasil TKD adalah saat-saat dimana jantungku berdebar jauh lebih cepat dari biasanya. Pengumuman sempat diundur dan hal itu juga makin membuatku tidak sabar menunggu hasil, tapi aku hanya bisa pasrah. Hari yang dinanti pun tiba dan aku sangat kaget serta bahagia setelah tahu aku diterima di STAN. Ibuku langsung menangis bahagia mendengar hal tersebut, tapi tangis bahagia itu berubah menjadi tangis kesedihan karena aku ditempatkan di Pontianak. Ibuku sempat ragu untuk melepaskanku pergi ke Pontianak, tapi lama-kelamaan beliau sadar bahwa ini adalah keputusan yang terbaik dari Allah, akhirnya ia mengijinkanku mengambil STAN Pontianak.

Perjuangan untuk bisa masuk PKN STAN ini cukup berat, pengorbanan tidak hanya di tenaga dan pikiran, tapi juga mental. Aku sangat bersyukur semua itu terbayar karena aku telah menjadi Mahasiswi STAN (walaupun masih OSPEK).

Tinggalkan Balasan