Home » Artikel » Bangga Menjadi Mahasiswa STAN !!! ( Kisah Inspiratif Mahasiswa STAN )

Bangga Menjadi Mahasiswa STAN !!! ( Kisah Inspiratif Mahasiswa STAN )

BANGGA MENJADI MAHASISWA STAN-Kisah ini berawal dari ketika saya masih SMA. Saya dulu bersekolah di SMA Negeri 67 Jakarta. Saat itu saya sangat ingin menjadi mahasiswa dengan almameter kuning yang sangat legendaris. Maka dari itu saya rajin mengikuti bimbel untuk persiapan SBMPTN. Meskipun ada jalur SNMPTN, saya tetap mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk karna Universitas Indonesia adalah kampus favorit yang diidam-idamkan oleh ribuan bahkan puluhan ribu mahasiswa di seluruh Indonesia. Pada saat SNMPTN saya memilih jurusan Kesehatan Masyarakat. Di sekolah saya, yang memilih jurusan Kesehatan Masyarakat ada 6 orang. Pada saat pengumuman rekapitulasi nilai mereka dari semester 1-5 , saya mendapatkan nilai tertinggi.

Akan tetapi, Tuhan memberikan kejutan lain kepada saya. Tak disangka-sangka sahabat saya yang mendapatkan kursi undangan tersebut. Saya berusaha berbesar hati dan menerima kenyataan tersebut. Saya kemudian segera mempersiapkan diri untuk tes selanjutnya yang ada di depan mata. Saya kembali mendaftar di Universitas Indonesia melalui jalur SBMPTN dan SIMAK UI. Tetapi ternyata saya belum berhasil untuk menjadi mahasiswa almamater kuning melalui jalur SBMPTN dan SIMAK UI. Saya merasa kecewa karna tidak bisa menjadi bagian dari kampus yang telah saya idam-idamkan. Akan tetapi saya kembali termotivasi setelah mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman-teman saya. Saya kemudian mengikuti ujian mandiri di Universitas Brawijaya Malang yang harus dilaksanakan di kampusnya langsung, maka saya dan teman-teman berangkat ke Malang dengan kereta untuk mengikuti tes.

Total kami saat itu ada 5 orang. Kebetulan kami semua satu OSIS saat SMA jadi sudah sangat akrab. Saat itu kami berangkat pada tanggal 27 Juli 2015 dan tesnya dilaksanakan pada tanggal 28 Juli. Kemudian pada tanggal 1 Agustus pukul 00.00 keluar lah pengumuman dari Universitas Brawijaya. Alhamdulillah saya diterima di jurusan Administrasi Bisnis Internasional. Akan tetapi, sayangnya 4 teman saya yang lainnya belum diterima untuk menjadi mahasiswa di Universitas Brawijaya. Saya kemudian segera mencari info tentang pendaftaran ulang mahasiswa baru di Universitas Brawijaya dan saya segera mengisi data diri dan mengerjakan tugas ospek online yang telah diberikan oleh pihak Brawijaya. Beberapa hari kemudian, UKT mahasiswa pun diumumkan di halaman website masing – masing mahasiswa karna setiap mahasiswa memiliki UKT yang berbeda tergantung dari gaji orang tua dan banyaknya tanggungan yang dimiliki.

Dan ternyata karena saya diterima di kelas Internasional, maka biaya UKT yang harus saya bayar terbilang cukup tinggi dibandingkan dengan jurusan lain. Belum lagi pada saat pertengahan semester, kelas internasional wajib mengikuti exchange ke luar negeri dengan beberapa pilihan negara seperti Australia, Amerika dsb. Sebenarnya saya sangat ingin mengikuti exchange tersebut akan tetapi pihak kampus tidak menyediakan beasiswa dan semua biaya harus ditanggung oleh mahasiswa. Kemudian saya pun berpikir ulang mengenai keputusan untuk meneruskan pendidikan di Universitas Brawijaya, apabila saya tetap meneruskan maka untuk kedepannya tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan oleh ibu saya yang telah menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayah saya meninggal pada akhir tahun 2014.

Kemudian setelah sholat isthikarah dan pertimbangan yang matang maka saya memutuskan untuk melepas Universitas Brawijaya. Memang tidak mudah rasanya untuk melepas apa yang telah digenggam. Tapi saya berusaha berbesar hati dan percaya bahwa Allah memiliki rencana yang indah bagi setiap umatnya. Lalu saya mendapatkan kabar dari kerabat yang bekerja sebagai Kepala Cabang di Bank BCA Sidoarjo. Beliau memberi tahukan tentang program PPA yang diberikan oleh BCA. Yaitu Program Pendidikan Akuntansi. Lalu saya segera membuka website PPA BCA dan mendaftarkan diri. Beberapa bulan kemudian, saya pun mendapatkan panggilan tes yang pertama dari BCA.

Tes yang pertama berisi ratusan soal psikotes dengan beragam jenis, mulai dari hitungan, susunan kalimat, hingga gambar pun ada. Kemudian 2 jam kemudian pengumumannya diumumkan. Dari 150 orang tersebut, hanya 19 orang yang berhasil untuk mengikuti tes selanjutnya. Dan alhamdulillah saya berhasil lolos tes yang pertama. Tes yang kedua dilaksanakan hari itu juga. Saat tes kedua kami diberi tugas untuk membuat karangan tentang cita-cita, menggambar pohon dan terakhir tes pauli-kraepplin. Lalu 2 minggu kemudian hasil tesnya pun keluar, alhamdulillah saya mendapatkan panggilan untuk tes yang selanjutnya yaitu interview. Namun nasib sudah berkata lain, saya gagal saat tinggal selangkah lagi untuk menjadi mahasiswa PPA BCA.

Kemudian ibu saya memberikan nasehat dan semangat bahwa kegagalan adalah suatu keberhasilan yang tertunda. Kata “ kata ibu saya tersebut selalu terngiang  ngiang sampai sekarang. Kemudian akhirnya saya, ibu dan adik perempuan saya memutuskan pindah rumah ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Karena mama saya ingin menemani nenek saya yang tinggal disana. Lalu saya pun berusaha dari awal lagi dan mendaftarkan diri di STAN pada tahun 2016. Meskipun hampir semua orang berkata bahwa sangat sulit untuk bisa menjadi mahasiswa STAN, tapi saya belum mau menyerah sebelum mencoba nya. Dengan bermodalkan buku  buku soal tahun lalu yang dipinjamkan oleh teman saya yang diterima DIII bea cukai tahun 2015, saya pun berlatih soal  soal USM STAN. Saya mendapatkan lokasi tes di Gelora Bung Karno yang saat itu sangat ramai karna sedang ada acara musik. Saya tes bersama sahabat saya yang tahun lalu telah mengikuti tes USM STAN tetapi belum berhasil dan pada tahun ini mencoba nya kembali.

Saat TPA saya hanya mengerjakan sekitar 70% dan saat TBI saya mengerjakan 95% dari jumlah soal karna waktu yang sangat terbatas. Setelah tes nya selesai, saya hanya bisa berdoa dan memasrahkan diri kepada – Nya. 2 minggu kemudian hasil TPA pun diumumkan. Alhamdulillah nama saya termasuk di dalam daftar orang  orang yang lulus dalam TPA STAN dan bisa melanjutkan untuk tes yang selanjutnya yaitu TKK. Akan tetapi, saya juga merasa sedih karena sahabat saya gagal mengikuti tahap yang selanjutnya. Saya pun segera mempersiapkan fisik demi mengikuti TKK USM STAN. Setiap pagi dan sore saya rutin jogging keliling komplek dan meminum kuning telur ayam kampung yang dicampur madu agar nanti saat TKK kondisi saya tetap prima. Satu hari sebelum TKK, saya mengecek tekanan darah dan alangkah kagetnya saat mengetahui bahwa tekanan darah saya ternyata hanya 90/60. Saya pun segera menelfon ibu saya yang sedang berada di Makassar. Kemudian beliau menyuruh saya untuk segera membeli susu Bear Brand dan sate kambing yang konon katanya bagus untuk menaikkan tekanan darah.

Akhirnya hari TKK pun tiba, saya datang menggunakan gojek dan sampai disana pukul 05:00 dan mendapatkan nomer urut 62. Saat tes kesehatan, alhamdulillah tekanan darah saya normal yaitu 110/80. Akan tetapi, perut saya terasa keram karena sedang menstruasi hari ke-2 namun saya tetap memaksakan diri untuk mengikuti Tes Kebugaran dan alhamdulillah saya mendapatkan 4 putaran lari di Pusdiklat Bea Cukai Rawamangun. 2 Minggu kemudian hasil TKK pun diumumkan di website PKN STAN seperti biasanya. Alhamdulillah saya lolos dalam TKK dan bisa mengikuti tahap tes yang terakhir yaitu TKD. Bermodalkan dengan soal  soal TKD dan CPNS yang ada di internet saya berlatih segiat mungkin agar bisa lolos TKD dan bisa diterima menjadi mahasiswa STAN tahun ini. Hari tes pun tiba, saya berangkat dari Bekasi ke Depok dengan menggunakan kereta. Ini kali pertama saya pergi naik kereta seorang diri. TKD pun telah selesai, sangat deg  degan rasanya menunggu hasil pengumuman.

Pada tanggal 28 Juni 2016, hasil tes SBMPTN 2016 diumumkan. Alhamdulillah saya lolos pada pilihan pertama di Universitas Hasanuddin Makassar yang terletak satu kota dengan ibu dan nenek saya. Akan tetapi saya tetap menantikan pengumuman TKD STAN yang berdasarkan website akan diumumkan pada tanggal 29 Juni 2016. Pada tanggal 29 Juni, saya terbangun pukul 2 dini hari dan segera menunaikan sholat tahajud. Saat saya mengecek handphone, ternyata pengumumannya belum juga keluar. Dan pada malam harinya kami mendapatkan kabar di website jika pengumumannya diundur menjadi 1 Juli 2016. Suasana hati menjadi sangat tidak menentu menunggu pengumuman.

Hari pengumuman pun tiba, kebetulan saat itu saya sedang berada di Makassar karena ingin lebaran bersama keluarga besar yang tinggal disana. Alhamdulillah allah maha baik, nama saya termasuk di dalam tabel nama peserta yang lolos dalam TKD dan resmi diterima menjadi Mahasiswa STAN tahun ini dengan spesialisasi Pajak dan pendidikan di BDK Pontianak. Dan tanpa ragu saya melepas Universitas Hasanuddin yang satu kota dengan keluarga saya demi bisa menjadi mahasiswa STAN 2016 meski harus jauh dari keluarga. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan perasaan saya dan keluarga saat mengetahui kabar bahagia tersebut. Perasaan syukur, bangga, senang, terharu semuanya berkumpul menjadi satu. Ternyata kata  kata yang pernah ibu saya lontarkan semuanya benar yaitu kegagalan adalah sebuah keberhasilan yang tertunda dan apabila kita berusaha maka tidak ada yang tidak mungkin. Semoga STAN adalah jalanku untuk meraih kesuksesan.

Tinggalkan Balasan