Home » Artikel » Beasiswa Sekolah untuk Kebanggaan Orang Tuaku

Beasiswa Sekolah untuk Kebanggaan Orang Tuaku

beautiful young female graduate hugging her father at graduation

Memanfaatkan Peluang Emas (Beasiswa Sekolah)

Di era seperti ini dimana persaingan dunia kerja dan ekonomi yang semakin sengit ditambah dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, membuat pendidikan yang tinggi tak menjamin seseorang bisa mendapat pekerjaan. Melihat kondisi ini banyak para siswa lulusan SMA sederajat yang mulai melirik peluang perguruan tinggi kedinasan di Indonesia. Seiring tahun jumlah pendaftar perguruan tinggi kedinasan selalu meningkat. Banyak alasan yang melatar belakangi perguruan tinggi kedinasan menjadi favorit setiap tahunnya, diantaranya adanya beasiswa sekolah yang sudah ditanggung oleh negara sehingga mahasiswa tidak perlu membayar biaya pendidikan, buku pelajaran yang juga diberikan secara gratis kepada mahasiswa dan tentu jaminan diangkat menjadi pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah. Seperti yang kita katahui jika gaji sebagai pegawai negeri sipil terhitung besar ditambah dengan berbagai tunjangan yang didapat. Hal inilah yang membuat perguruan tinggi kedinasan selalu kebanjiran pendaftar setiap tahunnya. Dan saya termasuk salah satu yang berminat untuk bisa diterima menjadi mahasiswa perguruan tinggi kedinasan.

PKN STAN merupakan perguruan tinggi kedinasan yang pertama kali saya minati. Tepatnya waktu kelas 6 SD saya mulai mengetahui PKN STAN dari orang tua, waktu itu namanya masih bernama STAN. Mendengar cerita tentang beasiswa sekolah STAN tersebut membuat saya tertarik agar kelak menjadi salah satu mahasiswa STAN. Meskipun saat itu informasi yang saya ketahui tentang beasiswa sekolah STAN masih sangat terbatas. Hingga memasuki jenjang SMP keinginan tersebut semakin menguat. Saat itu tepatnya kelas 7 SMP saya tulis impian untuk bisa menjadi salah satu penggawa keungan lulusan STAN. Tulisan itu berbunyi Farah Dewi Pratiwi akuntan sukses lulusan STAN yang saya ketik kemudian saya tempel di pintu lemari tempat menyimpan buku. Dengan harapan jika saya malas untuk belajar, saya bisa teringat jika saya memiliki mimpi yang menunggu untuk diwujudkan.

Semakin berjalannya waktu, dengan berbagai informasi yang didapat tentang perguruan tinggi membuat saya sempat berpikir untuk mencoba perguruan tinggi lain dan keinginan untuk masuk PKN STAN sempat menurun. Ini terjadi ketika saya memasuki jenjang SMA. Sempat ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri dan mengurungkan niat untuk masuk PKN STAN atau perguruan tinggi kedinasan lainnya. Tapi melihat harapan orang tua yang besar pada saya agar dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi kedinasan membuat saya merubah pemikiran kembali dengan tetap mendaftar di perguruan tinggi negeri yang saya inginkan tetapi memprioritaskan perguruan tinggi kedinasan sebagai tujuan utama saya.

Melihat tingginya persaingan untuk masuk berbagai perguruan tinggi kedinasan membuat saya berpikir untuk mencoba mendaftar dan mencari cara mendapatkan beasiswa sekolah untuk perguruan tinggi kedinasan diantaranya PKN STAN, STIS dan STSN. Serta mulai mempersiapkan diri untuk seleksi perguruan tinggi kedinasan mulai awal semester satu kelas 12 SMA. Persiapan tersebut diantaranya mengikuti try out USM PKN STAN yang diadakan oleh berbagai bimbel serta dengan belajar latihan soal TPA yang tidak hanya untuk persiapan seleksi perguruan tinggi kedinasan tapi juga SBMPTN. Tujuan saya merencanakan untuk mendaftar lebih dari satu perguruan tinggi kedinasan tentu agar peluang diterima semakin besar. Hingga rencana yang sudah saya susun ini dipatahkan oleh peraturan Kemenpan RB yang mengatur bahwa mulai tahun 2016 pendaftar hanya dapat memilih salah satu dari tujuh sekolah kedinasan yang ada. Dengan berbagai pertimbangan pilihan akhirnya mengkerucut pada dua perguruan tinggi kedinasan yaitu PKN STAN dan STSN.

Saat itu saya sempat bingung dan cemas tentang pilihan yang harus saya pilih. Banyak hal yang menjadi pertimbangan, salah satunya tentu jumlah pesaing dan peluang diterima. Sebagai contoh pada tahun 2006 sendiri jumlah pendaftar PKN STAN mencapai 119.628 dengan presentase diterima 1.98 %, tahun 2007 jumlah pendaftar mencapai 125.285 dengan persentase diterima 1,68 %, tahun 2010 jumlah pendaftar mencapai 113.545 dengan presentase diterima 3,32 %, tahun 2014 jumlah pendaftar mencapai 102.675 dengan presentasi diterima 4,35 %. Meskipun jumlah pendaftar PKN STAN setiap tahun selalu banyak tetapi setelah memperhatikan nasehat dan masukan dari orang tua akhirnya keputusan jatuh untuk tetap mendaftar PKN STAN seperti yang menjadi keinginan saya dulu. Setelah memutuskan untuk mendaftar PKN STAN, fokus saya lebih tertuju untuk USM PKN STAN ketimbangan SBMPTN karena jadwal PKN STAN yang lebih dulu dari SBMPTN.

Persiapan awal saya tentu untuk seleksi tahap pertama yaitu tes TPA dan TBI dimana jumlah pendaftar yang gugur pada tahap ini paling banyak. Persiapan pada tahap ini diantaranya dengan mengikuti try out USM PKN STAN yang diadakan oleh bimbel atau try out mandiri yang saya lakukan di rumah, latihan soal-soal USM PKN STAN dari buku ataupun dari internet serta mengikuti bimbel online zenius untuk mematangkan materi TPA dan TBI. Di website zenius itu pula saya pernah membaca artikel tentang perjuangan salah satu tutor zenius untuk bisa masuk PKN STAN. Ada satu hal yang menarik yaitu dia menulis jika perjuangan masuk PKN STAN akan lebih berat lagi ketika telah diterima menjadi mahasiswa PKN STAN. Ini adalah bagian yang memunculkan rasa penasaran saya dan membuat saya ingin membuktikan hal itu. Disela-sela persiapan untuk tahap pertama, saya juga menyempatkan untuk mulai latihan fisik guna menyiapkan tes tahap kedua yaitu tes kesehatan dan kebugaran.

Seleksi tahap pertama diadakan pada hari Minggu tanggal 15 Mei 2016, waktu itu lokasi tes saya di SMK 4 Semarang. Pukul 07.30 saya sampai di lokasi tes dan sudah banyak peserta lain yang datang. Sambil mencari ruang tes, saya perhatikan banyak peserta lain yang sedang belajar di sepanjang teras ruang tes. Sontak perasaan minder mulai menghinggapi hati. Tes tahap pertama berjalan lancar dan proses selama tes tidak jauh berbeda seperti pada saat saya melakukan try out pribadi di rumah. Meskipun rasa tegang yang dirasakan jauh lebih dahsyat, karena harus benar-benar mati-matian menyelesaikan tes tersebut mengingat ini adalah moment yang telah ditungu-tunggu selama ini. Dan tanggal 25 Mei menjadi hari pengumuman tes tahap pertama dan hari yang menghebohkan keluargaku. Setelah sempat mencari nama saya dipengumuman berulang kali alhamdulillah namaku menjadi salah satu dari 7.576 peserta yang lolos tahap pertama dan sontak saya langsung teriak kegirangan.

Untuk tes tahap kedua berhubung saya sudah mulai latihan lari sejak sebelum dimulai USM PKN STAN beban latihan yang dirasakan sudah tidak begitu berat. Dan seminggu sebelum tes saya selalu datang latihan lari jam 12 siang di lokasi tes untuk membiasakan diri ketika tes nanti. Baru tiga hari sebelum jadwal tes kesehatan dan kebugaran saya menyadari kalau di kaki kanan saya ada varises dan lebih parahnya itu diketahui jam 9 malam. Beruntung varisesnya masih varises ringan jadi tidak begitu kelihatan. Saat tes kesehatan dan kebugaran ada satu hal yang membuat saya khawatir yaitu tensi. Karena saya ini orangnya gampang tegang waktu saat-saat penting dan efeknya ke tensi yang tinggi. Dan benar saja karena rasa tegang yang tidak bisa dibendung, tensi saya waktu di tes kesehatan 160/80. Sempat diberi waktu istirahat tapi itu malah membuat saya makin tegang dan tensi bukannya turun malah tambah naik.

Waktu itu pikiran sudah campur aduk tidak karuan, takut tidak diizinkan buat lari, takut gimana kalau tidak lolos. Tapi alhamdulillah dokter mengizinkan saya buat lari dan tidak begitu mempermasalahkan tensi yang tinggi. Tes kebugaran berjalan lancar dan saya mendapat 4,5 putaran pada tes lari 12 menit dan waktu 20 detik an pada lari shuttle run. Selesai tes bukannya lega tapi malah galau karena ingat tensi yang tinggi waktu tes kesehatan. Yang ada dipikiran cuma lolos sama tidak lolos dan takut mengecewakan orang tua. Waktu pengumuman tes kesehatan dan kebugaran, alhamdulillah bisa lanjut ke tahap terakhir yaitu TKD.

Tes TKD ini baru tahun ini diadakan diawal seleksi. Ini jadi tantangan tersendiri bagi peserta USM PKN STAN tahun 2016. TKD sendiri terdiri dari TWK, TIU dan TKP. Bagian yang biasanya paling susah itu di TWK atau TIU. Saat tes TKD saya mendapat sesi ke tiga jam 1 siang di Gedung Keuangan  Negara Semarang. Tes ini jadi tes hidup dan mati karena tinggal satu langkah lagi buat masuk jadi mahasiswa PKN STAN. Tapi di soal tes TKD saya kemarin justru TIU jadi bagian soal yang paling susah, nilai TIU yang batas tuntasnya 75 saya hanya mendaptakan 80. Sekali lagi kegelisahan ini muncul kembali karena nilai TKD saya yang pas-pasan.. Tapi alhamdulillah semua penantian dan kerja keras selama ini dapat mendatangkan tangis bahagia bagi orang tua dengan diterima menjadi mahasiswa PKN STAN 2016. Meskipun harus sementara jauh dari orang tua tapi saya akan selalu berusaha agar jadi kebanggan untuk mereka berdua.

Tinggalkan Balasan