Home » Artikel » Biarkan Aku Masuk PKN STAN

Biarkan Aku Masuk PKN STAN

Semua kerja keras dan semua  doa yang telah aku lakukan merupakan usaha untuk mewujudkan keinginanku masuk PKN STAN. Semua usaha dan kerja keras itu semata mata hanya untuk membanggakan ibu, satu satunya orang tua yang senantiasa mengangkatku dikala semua orang ingin menenggelamkan. Satu satunya harta dunia tak ternilai. Sekeras apapun sikapnya, dia tetap ibuku. Malaikat penjaga yang dikirim Tuhan untuk melindungi dan mengisi hidupku. Bagiku dia adalah ibu terbaik di dunia. Soal ayah, aku tak ambil pusing untuk membahagiakannya. Biar dia bahagia dengan kehidupannya sendiri.

Ijinkan Aku Masuk PKN STAN

Aku cuma seorang anak yang berusaha tegar, walau sebenarnya sangat membutuhkan sosok ayah di hidupku. Aku terbiasa sendirian dirumah. Kakakku sibuk melanjutkan kuliah broadcastingnya di Yogyakarta. Ibuku mau tidak mau harus menafkahi dua orang anaknya seorang diri. Hidup terkadang memang kejam. Ketika kamu sedang berada di atas awan, bisa saja kamu akan terhempas ke tanah sekencang kencangnya tanpa kamu kira. Ketika aku merasa memiliki keluarga yang sangat sempurna, sosok kepala keluarga yang selama ini ku banggakan pergi. Sejak saat itu semua berubah. Suasana rumah tak lagi sama. Kadang aku berfikir, apa yang bisa dilakukan seorang anak broken home yang begitu lemah ini? Aku memang dibesarkan dalam kesepian dan kesendirian, hal inilah yang membuatku begitu sensitif. Sosok ayah sepertinya sudah hilang dari ingatanku. Sungguh, aku rindu. Tapi aku tidak boleh merindukan ayah. Sudah 10 tahun rasanya kami tidak pernah berkumpul bersama. Begitu pedih.

Ayahku tidak perduli kemana aku akan melanjutkan tujuanku. Lainhal dengan ibuku, ia akan mengusahakan agar anaknya bisa sekolah setinggi tingginya, walau harus pergi dini hari pulang larut malam. Walaupun aku harus merelakan waktu untuk bersama dengannya. Membiayai dua anak yang sedang melanjutkan perguruan tinggi memang terasa berat. Walaupun ia masih sanggup, bukankah kuliah gratis akan meringankan sedikit bebannya? Maka dari itu kuputuskan untuk mencoba masuk PKN STAN yang konon cukup sulit untuk bisa mendapatkan bangku disana. Namun langkahku tidak semudah yang ku fikir. Aku dan ibuku berbeda pendapat. Ia menginginkan aku mengenyam bangku pendidikan di STIS. Aku goyah, tak tau harus bagaimana. Begitu melihat latihan soal memasuki STIS saja aku ragu. Mampukah aku? STIS memang lebih baik dari STAN dalam urusan biaya pendidikan. STIS akan membebaskan segala biaya, bahkan memberikan sejumlah nominal uang untuk para mahasiswa dan mahsiswinya.

Aku akhirnya memutuskan untuk memilih masuk PKN STAN sebagai tujuanku, walaupun mendaftar saat penghujung penutupan. Lalu kucoba membuat ibuku mengerti bahwa STAN pun dapat sama baik dengan STIS, bahwa aku akan lebih baik jika berada di STAN yang menjadi pilihanku. Aku sangat mengerti bahwa ibuku hanya ingin memberikan yang terbaik. Tapi untuk kali ini biarkan aku menentukan jalanku, jalan yang kurasa sudah cukup baik, dan sudah mampu memenuhi hasratku. Lagipula jika aku dapat masuk PKN STAN, aku ingin membuktikan kepada temanku yang lain, kepada temanku yang sama sama mendambakan sosok orang tua bahwa kita mampu melakukan segala hal. Aku sebagai anak broken home yang acap kali dianggap negatif oleh orang orang sekitar akan menunjukkan kepada dunia bahwa aku tidak seburuk yang mereka fikir. Masuk PKN STAN akan menjadi bukti untuk mereka yang sering meragukan, mereka yang sering berbicara di belakang tanpa pernah tau bagaimana sakitnya menjadi aku.

Sedari SMP aku sudah terbiasa untuk mengurusi urusan sekolah sendiri. Termasuk saat mendaftar masuk PKN STAN. Aku rasa aku mampu mengerjakannya sendiri, tapi ibuku sengaja memanggil kakakku pulang untuk menemani dan mengantarkanku dalam segala kesempatan. Mungkin untuk menebus rasa bersalahnya karna tidak bisa berada di sisiku. Dan mau tidak mau kakakku langsung kembali menuju ke Bekasi. Meninggalkan produksi filmnya yang tengah berlangsung untuk sementara, hanya untuk menemani adik satu satunya yang dia miliki agar dapat menyelesaikan pendaftaran dengan baik.

Aku memilih jurusan D3 Akuntansi sebagai tempatku berlabuh. Bukan tanpa alasan, aku memilih jurusan tersebut karna lokasi pendidikannya yang sudah pasti berada di Jakarta, dan merupakan jurusan yang paling banyak menampung mahasiswa. Dengan beradanya aku di Jakarta, akan memudahkan ibuku untuk menjenguk. Apalagi jika aku kuliah, itu berarti ibuku akan sendirian. Ditinggal pergi dua anaknya yang sama sama menempuh perguruan tinggi. Kesendirian pasti berujung kesepian, aku setiap hari merasakan hal itu saat dirumah. Sepi, sunyi hanya terdengar suara nafas yang memburu dan jantung yang berdetak begitu kencang. Aku tidak bisa membayangkan ibuku merasakan hal itu. Jarak Bekasi Bintaro yang dapat ditempuh selama satu setengah jam akan mempermudah ibuku untuk datang.

Ternyata pada hari yang ditentukan untuk daftar ulang, aku melihat begitu banyak orang dengan tujuan yang sama. Aula PKN STAN terasa padat dan sesak. Seluruh kursi penuh. Ratusan orang itu adalah pesaing, bahkan sahabat baikku sendiri yang ikut mendaftar hari itu. Walau dalam hatiku aku sangat sangat ingin kami kembali berada di universitas yang sama. Hadirnya ratusan pesaing di depan mataku membuat aku berada dalam tekanan. Hal tersebut lah yang membuatku terpacu untuk dapat lolos dari tahap 1 yang akan menyisihkan begitu banyak orang.

Aku hanya bermodalkan sebuah buku dan web-tutoring. Tanpa mengikuti bimbingan belajar yang sedang gencar gencarnya dipromosikan dengan harga yang cukup menguras kocek. Ibuku pun tidak henti hentinya memanjatkan doa kepada Allah SWT agar aku mampu melewati semua ini, dengan lancar dan tanpa hambatan. Hingga pada akhirnya, aku mampu melewati tahap 1. Dan aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku harus melanjutkan perjuanganku sendiri karna sahabat baikku tidak terseleksi bahkan sejak tahap awal.

Perjuanganku tidak terhenti disitu, masih ada tahap 2 yang harus aku lewati dengan baik. Aku meminta bantuan sahabat lamaku, seorang murid SMK Penerbangan yang dengan sukarela mau menjadi tutorku. Pengalamannya selama pelatihan di Halim menjadi pelajaran bagiku. Terkadang aku merasa beruntung, aku dikelilingi orang orang baik yang tanpa pamrih akan segara mengulurkan tangannya untukku. Setiap pagi dan sore kita lewati bersama di lapangan bola. Tidak hanya berlatih untuk berlari, stamina ku selalu dijaga dengan baik oleh ibu yang mau tidak mau harus mengatur pola makanku.

Saat hari itu datang, hari dimana semua stamina dan latihanku diuji, aku mengalami masalah. Sepatu Nike Running yang biasa aku pakai rusak. Sepertinya karna sepatu yang sudah lama tersebut terlalu sering aku pakai berlatih di lapangan bola. Dan untungnya aku membawa sepatu cadangan yang kutinggal dirumah tanteku. Walaupun sepatu tersebut bukan sepatu running yang artinya akan menjadi kesulitan sendiri bagiku. Pada akhirnya segala perjuangan berbuah manis. Aku mendapat tiket untuk melaju ke tahap 3. Namun karna terlalu lelah berlatih, aku tidak fokus untuk belajar perihal SBMPTN. Aku memang memasuki tahap 3. Tapi aku juga membuang kesempatanku memasuki gerbang UGM. Kampus impian lamaku. Dan aku harus cukup puas, karna memasuki UNTIRTA yang menjadi pilihan terakhirku.

Untuk persiapan tahap 3 pun aku hanya bermodalkan sebuah buku CPNS yang umum tersedia di toko toko buku terdekat. Berusaha mati matian menghapal undang undang dasar, sejarah Indonesia, dan perihal lain yang semakin membuatku tertekan. Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku yang sudah sejauh ini mampu melewati tahap terakhir dengan mudah? Ibu dan kakakku senantiasa menanti di depan gedung. Mengharapkan jawaban yang dapat menenangkan. Dengan perasaan senang, aku menghampiri mereka. Nilai 352 sudah berada di tanganku. Paling tidak aku merasa sedikit percaya diri. Tinggal menunggu pengumuman jurusan yang akan segera diberikan.

1 Juli 2016, hari yang sudah membuatku cemas karna pengumuman yang terpaksa ditunda. Begitu melihatnya, aku begitu terkejut. Rasa sedih terasa meluap di pikiranku. Selama ini yang ku fikirkan hanya ingin masuk PKN STAN yang berlokasi di Bintaro, tidak pernah terbesit sedikitpun kota Pontianak di fikiranku. Namun kali ini kenyataan tidak sesuai harapan. Aku sudah berada sejauh ini, tidak mungkin aku kembali ke titik awal. Walaupun berat, semuanya harus kujalani. Berpisah dengan kakak, ibu dan semua orang yang telah mendukungku selama ini.

Aku tau ini bukan akhir dari segalanya. Masih ada rencana besar yang siap menungguku. Masih ada petualangan yang harus kualami. Masih ada tempat yang harus ku jejaki. Sebuah jurnal baru yang akan menjadi penentu diriku di kemudian hari, yang harus diisi dengan tinta penuh sukacita maupun masalah yang mungkin saja akan semakin memberi warna. Selamat datang di BDK Pontianak, awal dari segalanya. Teman baru, suasana baru, lingkungan baru, bahkan makanan dan budaya baru. Semoga teman teman baruku akan memberi kesan yang begitu indah, yang dapat menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan. Semoga suatu saat nanti aku bisa merasakan suasana keluarga yang sudah lama sangat kurindukan. Semoga setidaknya ayahku merasa bangga memilikiku. Bagaimanapun dia, dia tetap ayahku. Orang yang membuatku berada di dunia. Dan yang terakhir, semoga ibuku bisa bahagia walaupun aku tidak berada di sisinya. Aku, salah satu anak broken home yang sering kalian anggap negatif sudah mampu membuktikannya. Bagaimana dengan kalian? Semoga kalian senantiasa memperjuangkan apa yang kalian inginkan. Semangat!

Tinggalkan Balasan