Home » Artikel » Demi Kebahagian Orang Tuaku (Mengejar Beasiswa Ikatan Dinas STAN)

Demi Kebahagian Orang Tuaku (Mengejar Beasiswa Ikatan Dinas STAN)

Beasiswa Ikatan Dinas-Perkenalan dengan STAN dimulai saat saya menginjak kelas X. Ditambah dengan banyaknya sosialisasi dan try out yang sering dilakukan oleh Ikatan Mahasiswa STAN Tegal. Mereka memberi saya dan teman-teman SMA lain tentang apa itu STAN, apa saja keunggulannya, apa saja yang diujikan dalam tes seleksi, menjual buku kumpulan soal STAN, dan juga mengadakan try out. Mendengar tentang beasiswa ikatan dinas STAN, saya menjadi tertarik untuk masuk di PTK itu. Lalu saya menyusun rencana dengan mulai belajar soal-soal USM STAN dari buku yang aku beli semenjak saya kelas XI. Awalnya saya kaget dengan banyaknya soal TPA ditambah dengan soal Bahasa Inggris yang tidak mudah. Bahkan saat mengikuti try put saya sempat tidak bisa melewati nilai mati. Berbagai cara saya upayakan agar bisa mengerjakan soal dengan sukses. Dari belajar cara menyelesaikan soal bersama teman, mengenali tipe-tipe soal, belajar grammar, mengejar waktu, dan mengikuti berbagai try out.

Setelah menginjak kelas XII SMA, jadwal semakin padat. Ditambah ada banyak serentetan ujian sebagai syarat kelulusan. Waktu untuk mempelajari soal STAN pun sangat sedikit. Bahkan saat itu saya hanya fokus untuk ujian yang saat itu ada di depan mata. Pasca Ujian Nasional pun saya belum bisa kembali belajar USM STAN karena persiapan SBMPTN/ Saat itu saya sangat pusing dan bimbang. Disatu sisi saya harus belajar soal-soal SAINTEK, disisi lain saya juga harus belajar USM STAN. Hari-hari sebelum USM STAN saya baru kembali fokus memmpelajari soal.

Perjuangan mengikuti seleksi dimulai dari USM STAN yang bertempat di Universitas Semarang. Karena tidak ada teman yang saya kenal yang mengikuti seleksi di tempat dan hari itu, akhirnya ayah saya mengantar sampai tempat seleksi. Oh ya, dulu saat verifikasi data pun ayah yang mengantar saya. Kami dari Tegal menggunakan kereta api. Perjalanan sekitar dua setengah jam kami lalui. Setelah sampai stasiun, kami menggunakan jasa taksi untuk mengantar kami sampai Universitas Semarang. Setelah sampai kami langsung melihat lokasi ujian dan bertanya kepada Satpam dimana tempat penginapan di sekitar lokasi. Rupanya hotel atau sekedar penginapan biasa cukup jauh dari lokasi. Akhirnya satpam tersebut menyarankan kami untuk tinggal di kost yang terletak tepat di samping Universitas Semarang. Kami menginap disana.

Tempatnya sangat panas. Sedangkan kipas angin pun tak ada. Saat malam saya belajar sebentar untuk mempersiapkan USM keesokan harinya. Lalu berencana untuk beristirahat karena berpikir bahwa saya harus cukup tidur dan cukup stamina untuk menghadapi soal-soal esok hari. Tapi ternyata saat itu sangat panas. Ditambah nyamuk yang membuat kami sulit tidur. Karena aku harus tidur, berbagai cara saya lakukan dari berpindah ke lantai saat tidur agar terasa sedikit dingin, hingga kipas-kipas menggunakan kertas. Sampai sekitar pukul dua belas malam saya masih belum bisa tidur. Tetapi akhirnya berhasil juga mata ini terpejam dengan lelap.

Keesokan harinya saya bersiap-siap untuk ujian yang akan saya jalani. Sebelum berangkat, ayah saya menyarankan saya untuk melakukan shalat dhuha. Saya menurut, karena saya yakin itu adalah salah satu ikhtiar saya yang semoga bisa Allah kabulkan. Seleksi berlalu. Kami semua keluar ruang ujian dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang bingung, kesal, dan ada juga yang merasa percaya diri dengan apa yang sudah ia kerjakan. Sedangkan saya merasa sangat gelisah dan kecewa karena saat mengerjakan TPA, saya kurang sadar waktu yang menyebabkan saya hanya mengerjakan 59 dari 120 soal yang ada. Sedangkan peserta yang lain mengerjakan lebih dari itu. Saya mulai pesimis. Kekecewaan bertambah ketika melihat ayah saya yang dengan setia menunggu anaknya selesai mengerjakan soal.

Ayah saya sangat berharap saya bisa mendapat beasiswa ikatan dinas STAN. Sedangkan saya? Dengan ceroboh berpikir lambat saat mengerjakan soal TPA saat itu. Ya meskipun saat mengerjakan soal Bahasa Inggris saya langsung mengejar waktu. Berharap nilai TPA bisa tertutup oleh nilai Bahasa Inggris. Saat saya bercerita tentang hanya sedikit soal yang saya kerjakan di TPA dan terlihat sangat pesimis saat itu, ayah saya berkata bahwa tidak apa-apa karena semuanya sudah terjadi dan serahkan saja kepada Allah. Sungguh, kata-kata itu membuatku sangat tenang. Setelah seleksi saya hanya memperbanyak doa dan berbagai shalat sunnah yang saya harap bisa banyak membantu. Dari sekian banyak doa, hanya satu harapan saya yaitu agar Allah membiarkan saya membanggakan kedua orang tua saya dengan bisa bersekolah di perguruan tinggi yang bagus dan bisa membuat mereka bangga saat mereka ditanya orang-orang dimana anaknya sekarang bersekolah.

Pengumuman tahap satu saya dengar di pagi hari. Saya tidak melihat pengumuman langsung karena saya takut dan merasa sangat pesimis. Sampai akhirnya ada seorang teman yang mengirimiku pesan selamat atas keberhasilanku melewati tahap satu. Saat itu seluruh tubuh rasanya sangat lemas. Saya tidak menyangka, sangat terkejut, dan bahagia sekaligus. Bagaimana bisa? Yang saya bisa lakukan hanya bersyukur atas kuasa Allah. Dan saat itu saya mendapat pelajaran bahwa rejeki memang sudah diatur dan Allah Maha Segalanya. Setelah pengumuman kelulusan, ibu saya terlihat sangat bahagia, begitu pula dengan ayah saya. Mereka menyemangatiku yang jarang berolahraga ini untuk berlatih lari. Bahkan mereka mau berlari bersama denganku setiap pagi. Mereka selalu mensupportku.

Di seleksi tahap dua ini ibu ikut mengantar sampai lokasi tes yang bertempat di Gor Tri Lomba Juang, Semarang. Keikutsertaan ibu dalam mengantar saya ini membuat saya semakin merasa bahwa saya harus lolos! Tetapi nyatanya saat tes lari berlangsung, saya lari paling akhir di kloter saya dan hanya bisa menempuh sekitar 3,5 putaran. Padahal ayah dan ibu saya duduk di samping lapangan dan bersiap memberi semangat. Tapi lagi-lagi anak ini hanya bisa membuat mereka kecewa. Akhirnya saat-saat menuju pengumuman pun berlangsung dengan rasa kecewa dan pesimis lagi. Ayah saya selalu bangun tengah malam untuk berdoa demi kesuksesan anak-anaknya. Melihatnya seperti itu membuat saya selalu menangis saat berdoa dan selalu memperbanyak ibadah. Karena saya tahu hanya Allah yang bisa membantuku disaat seperti ini.

Lagi-lagi saat pengumuman tahap dua saya tidak berani membukanya sendiri. Saya hanya menunggu info dari teman dengan harap-harap cemas. Sedangkan saat itu posisi saya berada di Pekalongan, mengikuti seleksi Poltekkes Semarang. Itu harapan saya jika saya tidak bisa lolos STAN atau perguruan tinggi yang lain. Di perjalanan pulang menuju Tegal seorang teman berkata bahwa saya lolos seleksi tahap dua, begitu pula dengan teman-teman satu SMA saya. Untuk kesekian kalinya saya terkejut dan merasa tidak percaya. Ayah saya tersenyum, begitu pula dengan saya.

Seleksi tahap tiga saya hadapi dengan lebih percaya diri. Saya mengumpulkan soal-soal dari internet, meminjam buku tentang soal CPNS, dan sebagainya. Namun ternyata ibu saya membelikan sebuah buku soal-soal CPNS yang harganya bagi saya cukup mahal. Padahal saya berniat untuk tidak membeli buku apapun karena pengeluaran ayah saya saat itu sangat banyak. Dari biaya pendaftaran SNMPTN, SBMPTN, UTUL UGM, UM UNDIP, Poltekkes, belum lagi biaya transportasi dan menginap di berbagai kota tersebut. Tidak ingin menyia-nyiakan buku yang ibu beli, saya belajar dengan sungguh-sungguh. Dari mengahafal UUD 1945, sejarah, dan sebagainya. Tes berlangsung di Gedung Keuangan Negara, Semarang.

Ayah yang selalu mengantarku dan ibu juga ikut mengantarku lagi. Saat tes berlangsung, saya bertekad untuk mengerjakan dengan teliti dan bekerja keras untuk menyelesaikannya. Saya tidak ingin gagal ketika saya sudah sampai tahap ini. Dan ternyata soal-soal yang saya hadapi saat itu sangat sulit. Apalagi bagian wawasan kebangsaan yang kalimat soalnya bahkan saya tidak paham dan tidak pernah baca sebelumnya. Yang ada dipikiran saat itu hanyalah untuk mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Akhirnya hasilnya pun keluar. Dan saya hanya bisa mencapai skor sebanyak 361. Saat itu saya sedikit sedih karena masih banyak yang nilainya berada diatas saya. Tapi saat ini keoptimisan saya sedikit ada dibanding tahap-tahap sebelumnya. Dan lagi-lagi saya hanya bisa pasrah dan memperbanyak doa. Doa yang sama, yang sudah saya ulang berulang kali disetiap shalat saya.

Tanggal 28 Juni 2016 adalah pengumuman SBMPTN. Dan saya gagal saat itu. Sebenarnya saya sudah mengira karena saat tes berlangsung, dengan cerobohnya saya lupa menuliskan kode naskah ujian. Setelah pengumuman SBMPTN, keluarga saya kecewa karena kegagalan itu. Sedangkan saya sedang tertekan melihat teman-teman yang sudah semakin banyak diterima di Universitas. Hari-hari menunggu pengumuman STAN dan berbagai UM yang saya ikuti itu berlangsung sangat berat. Hati ini sangat gelisah. Tanggal 29 Juni 2016 pun terjadi. Saat itu adalah jadwal penguman final seleksi STAN. Saya menatap handphone dengan gelisah. Selalu me refresh web PKN STAN yang tidak ada perubahan meskipun sudah berjam-jam. Dan sampailah pada pengumuman yang ternyata ada pengunduran pengumuman yaitu tanggal 1 Juli 2016. Ternyata kegelisahanku harus diperpanjang hingga tiga hari mendatang. Dan faktanya adalah di tanggal 1 Juli itu saya harus menanti tiga pengumuman sekaligus. Yaitu UM Undip, Utul UGM, dan STAN.

Di pagi hari saya membuka pengumuman Undip yang ternyata gagal. Di malam hari nya saya membuka pengumuman UGM dan gagal lagi. Saya sangat sedih dan kecewa. Sedangkan teman-teman saya banyak yang diterima. Jiwa ini kembali tertekan. Sungguh saat itu kepala rasanya sangat berat, sakit, dan pusing. Sedangkan pengumuman STAN sampai sekitar pukul 10 malam belum juga dirilis. Karena tidak sanggup bertahan hingga malam hari, akhirnya saya memutuskan untuk tidur. Saat sahur tiba, ayah membangunkan saya dan berkata bahwa saya lolos seleksi STAN.

Awalnya saya tidak percaya sampai akhirnya melihat sendiri pengumuan bahwa saya lolos D1 Pajak Pontianak. Kami sekeluarga terkejut. Saya sempat merasa sedih dan kecewa mengapa harus sejauh ini. Tetapi saya pikir ini memang rejeki dan jalan yang telah ditentukan Allah. Lagipula menjadi Mahasiswa STAN adalah doa yang selama ini saya panjatkan. Meskipun harus jauh dari keluarga, tetapi saya harus tetap bersyukur dan menjalankan dengan ikhlas. Yang jelas disini saya harus belajar dengan giat dan dapat benar-benar membahagiakan orang tua dan seluruh keluargaku.

Tinggalkan Balasan