Home » Artikel » HARI ESOK TAK BISA DITEBAK

HARI ESOK TAK BISA DITEBAK

Lolos Ujian Saringan Masuk STAN-Satu kata yang membawa ku mengalami sejuta pengalaman berharga. Umur ku 17 tahun, tadinya aku tinggal di Cibinong kabupaten Bogor Jawa Barat. Aku hanya seorang murid madrasah Aliyah, yang kadang dipandang sebelah mata karena orang-orang masih banyak yang mengira sekolah madrasah hanya belajar ilmu agama saja dan cenderung kurang dipelaaran umum. Padahal madrasah itu belajarnya seimbang antara agama dan umum, jumlah mata pelajaran pun lebih banyak dari sekolah lain, kalau kata guru disekolah sih anak madrasah anak yang istimewa, haha. Aku termasuk siswi yang biasa-biasa saja disekolah.

Awal mula aku ingin kuliah di PKN STAN saat aku kelas 12 semester 1 di Madrasah Aliyah Negeri Cibinong sewaktu ada penyuluhan dari mahasiswa PKN STAN. Saat itu aku tertarik untuk masuk PKN STAN karena semua lulusan sekolah manapun dapat mendaftar tanpa dibeda-bedakan, tidak melihat apakah dia lulusan SMA, SMK, MA, negeri ataupun swasta, jurusan ipa, ips, akuntansi, tataboga, bahkan lulusan pondok pesantren pun bisa mendaftar. Lalu aku membeli buku latihan Ujian Saringan Masuk STAN. Sejak saat itu aku mulai rajin mengerjakan latihan soal dari buku tersebut dan belajar materi Ujian Saringan Masuk STAN.

Aku pernah sekali ikut try out USM yang diadakan organda bogor, hasilnya pas-pasan hanya lebih sedikit dari nilai mati. Tapi aku tetap semangat untuk belajar dan berdoa agar dapat lolos Ujian Saringan Masuk STAN tahun ini.

Saat waktu pendaftaran tiba, aku daftar usm di tengah-tengah tanggal pendaftaran, saat itu namaku salah karena nama di Kartu Keluarga L nya hanya satu. Aku langsung mengurus Kartu Keluarga ke RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan  pada keesokan harinya, aku mengantri dari jam 8 sampai jam 2 demi menambah satu huruf L di namaku, berharap nama dipendaftaran USM bisa berubah. Dan ternyata nama dipendaftaran USM tidak berubah, keesokan harinya aku langsung melakukan pembayaran karena waktu penutupan pendaftaran semakin dekat, dengan nama pendaftaran yang berbeda dengan nama di ijasah SD dan SMP. Sehabis mendaftar aku langsung mempersiapkan berkas untuk verifikasi, sambil mengecek ulang takut ada yang tertinggal.

Sewaktu verifikasi itulah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di PKN STAN, melihat air mancur yang fenomenal itu, lalu aku mencari tempat verifikasi, mengantre dengan antrean yang panjang seperti antre sembako gratis demi mendapatkan sebuah nomor antrean verifikasi. Setelah itu menunggu beberapa menit sampai ada kakak yang membimbing kami masuk ke ruang verifikasi dan mengantre (lagi). Sampai giliranku tiba, berkasku diperiksa oleh bapak yang baik hati, aku tak tahu namanya. Kujelaskan tentang kesalahan namaku tadi, Alhamdulillah namaku bisa diganti.

Sehabis verifikasi, aku dan beberapa pendaftar Ujian Saringan Masuk STAN lain berfoto di air mancur PKN STAN, foto yang tak berani ku unggah ke sosmed karena belum resmi jadi mahasiswa PKN STAN. USMnya pun belum. Dijalan pulang, turun hujan deras, aku berlarian ke stasiun, lalu menunggu kereta jurusan tanah abang, untungnya dapat duduk. Tapi saat aku berganti kereta jurusan bogor, aku harus kembali berdesakan didalam kereta seperti tadi pagi. Terus berdiri sampai stasiun bojong gede. Saat keluar dari stasiun, hujan deras kembali turun. Aku naik sepeda motor kehujanan dari stasiun bojong sampai rumah basah kuyup malam-malam.

Aku belajar materi Ujian Saringan Masuk STAN jika ada waktu luang, kadang bersama teman di sekolah, kadang dirumah sepulang sekolah atau saat malam hari sebelum tidur, seringkali aku tertidur bersama buku USM disampingku. Aku juga sering mengadakan try out mandiri bersama teman-teman sewaktu istirahat. Tapi setelah UN selesai, konsentrasi ku terbagi dua antara belajar untuk Ujian Saringan Masuk STAN dan SBMPTN.

Kecewa itu tetap ada meskipun tak pernah diharapkan kehadirannya. 10 juni 2016, ada pengumuman SNMPTN undangan. Sesuai dugaan, aku tidak lolos. Sebenarnya sih biasa saja, tapi rasa sedih itu tetap ada.

Aku kembali belajar untuk SBMPTN dan USM PKN STAN, pagi aku belajar untuk SBMPTN, malamnya aku belajar untuk USM PKN STAN. Terus begitu hingga waktu USM pun tiba karena lebih awal dari SBMPTN.

Dari awal verifikasi sampai USM STAN tahap 3 aku selalu pulang pergi naik kereta ditemani ibu, jadi sebelum mengikuti tes aku harus berdiri berdesak-desakan di kereta pagi. Kereta yang selalu pemuh sesak dengan penumpang.  Sampai lokasi tes jadi capek duluan. Apalagi sewaktu USM tahap 1 di Gelora Bung Karno, waktu baru sampai, cari pintu masuknya pun sulit. karena tidak cek bangku sehari sebelum usm, jadi kebingungan sendiri cari bangku di tribun. untungnya aku datang lebih awal jadi tidak terburu-buru. Cari bangku kesana-kemari di sektor 7 bawah, akhirnya ketemu juga. Waktu USM pun dimulai, aku mengerjakan soal yang ku anggap mudah terlebih dahulu, saking fokusnya tiba-tiba waktu pengerjaan TPA tinggal sepuluh menit lagi. Aku mengisi sisa soal yang kira-kira masih bisa ku kerjakan.

Saat bagian bahasa inggris, aku agak bingung memilih jawabannya, baru mengisi sedikit, ada pengumuman waktu pengerjaan TBI tinggal 1 menit lagi. Aku buru-buru menghitamkan jawaban yang kurasa benar. sempat pesimis melihat orang segitu banyaknya yang ikut USM. aku pun sudah bilang ke ibu ini mah gabakal lolos bu tapi ibu tetap menyemangati. Sampai dirumah banyak yang bahas soal USM tadi di grup chat, kalau aku sih tunggu hasilnya nanti saja. Ada yang bahas tandatangan di LJK juga, aku lupa sudah tandatangan atau belum. Semoga saja sudah.

Sewaktu pengumuman tahap 1, aku sedang mengikuti learning camp SBMPTN di Bandung, jam 6 pagi saat tanggal pengumuman tiba aku membuka website dan aku kaget karena tak menyangka namaku ada disana, aku mendapat giliran tes kesehatan dan kebugaran dihari ke empat. Sebenarnya sehabis pengumuman aku ingin langsung latihan lari, karena aku sadar ketahanan fisikku tak begitu baik. Tapi waktu itu aku tidak sempat lama latihan lari karena masih mengikuti persiapan SBMPTN. 3 hari sebelum tes kesehatan dan kebugaran barulah aku bisa latihan lari pagi, siang dan sore. Padahal awalnya lari 5 menit pun aku sudah gakuat.

USM tahap 2, seperti biasa pagi hari berdesakkan dikereta pagi, takut telat karena waktunya sudah mepet. Dari stasiun Manggarai aku naik bajaj bersama ibuku, sesampainya di Rawamangun, aku langsung berlari kedalam gedung untuk mengambil nomor antrean. Dapat nomor antrean terakhir karena datang pun paling akhir. Sambil menunggu giliran, aku mengobrol dengan teman-teman yang baru ku kenal. Saat tes kesehatan, tiba-tiba sewaktu diperiksa mata kiri ku dibilang min oleh pemeriksa. Padahal normal, mungkin karena terlalu keras ditutup saat tes mata kanan. Waktu tes lari 12 menit, kaki ini sudah terlalu lelah untuk melangkah, saat orang tua yang lain menyemangati anaknya untuk terus berlari, ibuku malah menyuruhku untuk jalan saja karena tak tega melihatku kelelahan, lucu memang, tapi aku tetap berlari sampai waktu 12 menit itu habis, aku hanya dapat sekitar 1,5 KM. Saat shuttle run aku hanya lari sebisaku dengan sisa tenaga yang ada.

Aku menunggu pengumuman tahap 2 tiba dengan harap-harap cemas, sambil belajar sedikit tentang sejarah Negara Indonesia dan kewarganegaraan. waktu itu bulan Ramadhan, saat aku bangun sahur kulihat di hp ku ada sms dari kaka kelas yang kuliah di PKN STAN, ia mengucapkan selamat karna aku lolos tahap 2, awalnya tak percaya sampai ku lihat sendiri isi pengumuman itu. Ternyata benar aku lolos tahap 2. Sejak saat itu aku makin sering belajar sejarah dan pendidikan kewarganegaraan. Aku diberi buku TKD oleh teman seperjuangan ku saat USM tahap 1. Langsung kupelajari buku tersebut dan mengisi soal-soal latihan tes kompetensi dasar CPNS.

Hari TKD pun tiba, aku mendapat sesi ke 3, yaitu jam 13.00 sampai 14.30 WIB, waktu yang cocok untuk tidur siang, di ruang C208. Aku berangkat dari jam 6 pagi, aku beberapakali harus pindah kereta karena keretanya begitu penuh. Baru sampai bintaro jam 10.00 WIB Sambil menunggu sesi 3, aku berkenalan dengan peserta lain. Saat melihat soal, agak kaget karena ada beberapa saoal yang tidak terbayangkan sebelumnya. Tapi tetap ku isi semua. Sampai skor keluar, dapat ucapan selamat lolos passing grade TKD dari monitor. Sepulang TKD aku mengobrol dengan teman yang kukenal saat tes kesehatan dan kebugaran sambil menunggu ibuku datang dan pulang bersamanya.

Hari pengumuman pun tiba, tanggal 29 Juni 2016, hari dimana seharusnya pengumuman sudah keluar, tetapi ternyata diundur jadi tanggal 1 Juli 2016. Padahal aku sampai sakit perut menunggu pengumuman itu dan terus membuka websitenya. Tapi pengumumannya baru keluar tanggal 2 Juli 2016. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Kesabaran yang membuahkan hasil, aku lolos Ujian Saringan Masuk STAN 2016 D1 Pajak. Tapi…

BDK PONTIANAK ! kaget bukan main, bingung harus bagaimana. Tak pernah terbayangkan akan dapat di BDK seberang pulau, sangat jauh dari kampung halaman, tak ada saudara sama sekali disana. Sewaktu bilang ke ibu, awalnya ibu tak membolehkanku kuliah di PKN STAN, karena Pontianak terlalu jauh, ditambah aku lolos SBMPTN di universitas yang lumayan dekat dengan kampung halaman, beliau menyuruhku untuk kuliah di PTN saja. Keluargaku yang lain juga menyarankan begitu. tapi terus ku bujuk ibu ku hingga akhirnya ia mengizinkanku menuntut ilmu di pulau sebrang.

Waktu daftar ulang pun tiba, aku pergi ke Pontianak bersama ibuku untuk pertama kalinya pada tanggal 27 Juli 2016. Waktu itu aku bingung harus kemana. Akhirnya aku menghubungi nomor penginapan yang diberitahu oleh kakak tingkat. Aku menginap dipenginapan itu sambil mencari kost.

Sekarang, disinilah aku berada, di kabupaten Kubu Raya, Pontianak, Kalimantan Barat. Sangat jauh dari kampung halaman, tapi masih di tanah air, ditempat yang tak pernah terbersit akan ku datangi sekalipun, apalagi ku diami untuk waktu yang cukup lama. Hari esok tak bisa ditebak. Aku yakin dibalik ini semua pasti ada hikmahnya.

Tinggalkan Balasan