Home » Artikel » IMPIAN MASUK POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

IMPIAN MASUK POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

Singkat kata singkat cerita, saya mendengar kata STAN saat SD kelas 6. Entah kenapa mulai saat itu tumbuh keinginan untuk sekolah disana. Padahal tidak tahu sama sekali apa itu STAN, sekolahnya dimana, mempelajari tentang apa, sama sekali tidak tahu. Bahkan sampai SMP pun saya belum tahu lebih jauh. Tetapi setiap ditanya guru, teman dan saudara pengen kuliah dimana saya pasti menjawab STAN.

Hingga akhirnya tiba masa SMA, dimana saya mulai bertemu dengan teman-teman yang sudah lebih dewasa pemikirannya. Kita semua saling bertukar cerita, pendapat, pengalaman dan pengetahuan. Kita pun saling berkhayal tentang impian dan cita-cita. Pemikiran yang mendalam tentang sekolah lanjutan dimulai setelah masuk kelas 12. Dimana waktu kelas 12 itu banyak yang mengalami dilema tentang masa depannya sendiri-sendiri, termasuk saya.

Beruntungnya, guru-guru SMA sangat peduli dan perhatian dengan muridnya. Mereka memotivasi kita untuk mempunyai impian setinggi mungkin, tetap semangat dan jangan pernah putus asa. Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa semester pertama kelas 12 sudah berakhir. Sudah menjadi kebiasaan kalau menjelang berakhirnya kelas 12. Kakak-kakak kelas yang sudah kuliah diperguruan tinggi melakukan sosialisasi ke adik angkatan tentang universitasnya masing-masing.

Sosialisasi banyak berdatangan, namun sejak awal saya tidak tertarik sama yang namanya PTN maupun PTS. Alasannya saya tidak tahu harus memilih jurusan apa, kuliah di universitas apa, tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya membuat skripsi dan lebih tidak sukanya habis lulus kuliah harus cari kerja sendiri. Selain itu, saya juga mempertimbangkan biaya kuliah. Saya pengen sekolah yang gratis dan bisa mengurangi beban orang tua dengan apa yang saya bisa.

Setiap kali ada sosialisasi dari PTN semisal UGM, UNDIP, UI, UNY, UNNES, ITB dll saya merasa kurang tertarik aja. Tetapi, begitu ada berita kalau hari itu bakal ada sosialisasi dari STAN hati ini merasa gembira sekali. Terlalu senangnya tubuh ini sampai gemetaran dan tangan berubah menjadi dingin. Bahkan saat saya bertanya, keringat bercucuran. Itu mungkin efek terlalu senangnya ada sosialisasi dari sekolah yang saya impikan.

Setelah selesai masa-masa sosialisasi, kita semua saling bertukar impian lagi. Ada yang pengen ke UI, UGM, UNY, UNNES dll. Tetapi saya tetap pada satu keinginan, yaitu bisa sekolah di STAN. Apalagi setelah sosialisasi, saya semakin tertarik dengan STAN. Saya sangat memimpikan bisa belajar tentang pajak dan menjadi punggawa keuangan negara. Membanggakan kedua orang tua dan orang-orang yang saya sayangi.

Terlalu senangnya dengan STAN, saya sampai tidak mencetak kartu SNMPTN padahal ikut daftar. Sama sekali tidak ikut SBMPTN lah, ujian mandiri pun saya tidak ikut. Saya sangat berharap impian masuk politeknik keuangan negara STAN dan berjuang dengan sekuat tenaga untuk mencapainya. Saya pun bertekad untuk bisa mencapainya.

Perjuangan impian masuk politeknik keuangan negara STAN pun dimulai. Sebulum daftar online saya berkunjung ke tempat teman ayah. Dia seorang lulusan IPDN, saya meminta bimbingannya bagaimana langkah-langkah yang harus saya lakukan untuk untuk impian masuk politeknik keuangan negara STAN. Saya disaranin mengambil D1 Pajak untuk pilihan pertama kemudian D3 Pajak untuk pilihan kedua. Saya pun mengikuti sarannya, selain cepat kuliahnya D1 Pajak juga bisa meminimalisasi untuk terkena DO. Selain itu, saya juga pengen cepat-cepat bisa cari uang sendiri. Bisa sedikit membantu orang tua dan orang-orang yang saya sayangi.

Daftar online saya sengaja daftar agak terakhir, dengan tujuan kalau tes dapat hari yang akhir-akhir. Waktu daftar online, saya memilih tempat tes di Yogyajarta. Selain dekat, banyak juga teman yang daftar disana. Verifikasi berkas tanggal 25 April 2016 di BDK Yogyakarta Jalan Solo KM 11 Kalasan. Daftar ulang diantar sama ayah naik sepeda motor dengan perjalanan kira-kira 2 jam. Saat ambil antrean daftar ulang saya kaget dapet nomer 776, nomor itu sama dengan nomor belakang daftar online yaitu 10776. Kemudian saya bilang sama ayah, dia menjawab semoga itu menjadi pertanda baik dan keberuntungan.

Tes TPA dilaksanakan tanggal 15 Mei 2016, sebelum tanggal itu saya belajar dengan giat. Les inggris juga, karena saya sangat merasa kurang dalam hal mapel inggris. Les inggris pertama hanya di satu tempat, karena merasa kurang akhirnya saya les inggris di dua tempat. Sehingga dalam seminggu saya bisa bolak balik dari rumah ke tempat les dengan jarak yang lumayan jauh. Belajar sampai malem, bangun pagi buat salat tahajut, siangnya juga belajar. Hari-hari itu terasa sangat melelahkan. Bahkan sempat juga saya berdua sama teman, sampai belajar di depan alfamart karena waktu habis les tidak ada tempat buat belajar dikarenakan rumah kita jauh dari tempat les. Sempat juga belajar di rumah makan demi internetan gratis, tapi kita berdua Cuma membeli makanan satu-satu dan minuman satu gelas. Itu menjadi kenangan kita berdua.

Sebelum berangkat perang 15 Mei 2016, saya meminta doa restu ke sanak saudara. Berharap doa mereka bisa membantu saya dan dipermudah semuanya. Tes TPA pun datang, saya berangkat ke Jogja naik sepeda motor sama ayah. Kita menginap ditempat saudara supaya ada jeda waktu buat istirahat sebelum tempur. Dini hari sebelum perang, tanpa diduga saya mengalami sakit perut dan masuk angin. Hal itu dikarenakan waktu perjalanan berangkat saya kehujanan ditambah lagi belum terbiasa dengan hawa panas di Jogja. Alhamdulillahnya, sehabis saya muntah perut saya sehat seperti semula. Kemudian berangkatlah menuju tempat tes TPA. Saya mengerjakan sebisa saya dan berdoa semoga hasil tidak mengkhianati usaha. Pulangnya dari tes TPA saya langsung sakit. Tubuh terlalu kecapaian dan otak terlalu berpikir keras. Sampai-sampai bertubuh saya turun 3 kg dikarenakan masuk angin selama 3 hari tersebut.

25 Mei 2016 adalah waktu yang menegangkan, dimana hari itu diumumkan hasil tes TPA. Alhamdulillah saya lolos kemudian mempersiapkan diri untuk Tes Kesehatan dan Kebugaran. Saya rutin latihan lari dilapangan yang suasananya panas seperti di Jogja. Akhirnya saya latihan lari setiap jam 12.00 siang. Saya juga rutin minum air gula jawa dan madu supaya menambah energi. Tes TKK pun datang, saya dapat tanggal 3 Juni 2016. Berangkat ke Jogja sama teman bertiga diantar orang tua. Waktu lari, saya berusaha sekuat tenaga. Lari dapat 6 putaran kurang sedikit. Suasana di jogja sungguh panas, beruntung saya sudah mempersiapkan diri. Setelah tes saya menyerahkan hasilnya sama Allah dan berdoa tiada hentinya.

Hasil tes kedua pun keluar tanggal 15 Juni 2016, Alhamdulillah lolos lagi. Saya memersiapkan diri untuk tes yang terakhir yaitu TKD. Saya dapat tanggal 23 Juni 2016. Untuk tes TKD saya membeli buku TKD CPNS di Gramedia Semarang. Bukunya tebal sekali, tapi tidak masalah itu semua demi masa depan. Saya belajar dan berdoa, semoga diberi kemudahan dan kelancaran. Untuk tes TKD saya belajar tentang wawasan kebangsaan, intelejensi umum dan kematangan kepribadian. Tes wawasan kebangsaan saya banyak mempelajari tentang sejarah Indonesia, menghafalkan UUD 1945, memahami lebih dalam tentang Pancasila, membaca tentang Bhineka Tunggal Ika dan pengetahuan nasional lainnya. Untuk tes wawasan kebangsaan memang dituntut kita untuk memahami dan menghafalkan. Apalagi tentang pasal-pasal yang terdapat di UUD 1945, memang harus sedikit hafal.

Untuk tes TKD saya berangkat sama ayah, kita berdua numpang mobil tetangga yang kebetulan punya rumah di Jogja. Hari H pun tiba, saya mengerjakan TKD dengan penuh semangat dan berusaha sebisa mungkin. Hal yang paling mendebarkan yaitu saat melihat hasil TKD. Karena hasil TKD bisa langsung dilihat setelah tes TKD selesai. Saya berharap sekali dengan hasil TKD itu saya bisa lolos. Keoptimistisan itu saya dapat setelah melihat hasil TKD saya yang lumayan tinggi.

Hal yang tidak akan terlupakan adalah kenangan bersama ayah. Sehabis TKD kita pulang naik bus dari Yogyakarta ke Temanngung. Punya kenangan mengejar bus yang berhentinya lumayan jauh dari kami berdua. Bus antarkota biasanya melaju cepat jadi berhentinya tidak tepat didepan kita. Oleh karena itu kita harus mengejarnya. Sepanjang perjalanan kita berdua bercanda dan tertawa senang. Sesampai dirumah, saya tinggal menunggu hasil tes terakhir. Kebetulan waktu itu bersamaan dengan bulan suci Ramadan, saya sangat berharap semoga di bulan yang suci tersebut merupakan bulan keberkahan. Alhamdulillah setelah menunggu beberapa hari, pengumuman terakhir tiba juga. Saya lolos dan mendapat Prodi D1 Pajak di Pontianak, Kalimantan Barat. Saya sangat bersyukur sekali dan mengucapkan banyak terima kasih kepada kedua orang tua, saudara dan teman yang sudah mendoakan dan membantu saya dari tahap awal sampai akhir. Dalam menggapai sesuatu kita harus niat dan bersungguh-sungguh. Karena hasil tidak akan mengkhianati usaha. Takdir memang sudah digariskan sama yang diatas, tapi kita diwajibkan untuk tetap berusaha dan berdoa. Baru setelah itu, kita bertawakal menyerahkan hasilnya lagi sama yang diatas. Bermimpilah setinggi langit, walaupaun jatuh kita akan jatuh diantara bintang-bintang. Begitulah cerita perjuangan saya masuk PKN STAN 2016.

Tinggalkan Balasan