Home » Artikel » JALAN MENUJU STAN (KISAH NYATA PEJUANG PKN STAN)

JALAN MENUJU STAN (KISAH NYATA PEJUANG PKN STAN)

JALAN MENUJU STAN-PKN STAN. Hmmm banyak yang beropini tempat menuntut ilmu ini adalah tempatnya calon orang-orang sukses. Tapi tidak sedikit pula yang menilai PKN STAN punya imej yang buruk, karena identik dengan Gayus Tambunan sang koruptor sukses. Namun terlepas dari apapun penilaian masyarakat mengenai jalan menuju STAN, saya bangga bisa menjadi salah satu pemenang satu kursi di kampus elit ini. Tentu bukan hal yang mudah untuk bisa menjadi salah satu mahasiswi di sekolah kebanggaan ini. Banyak yang harus berusaha mati-matian untuk bisa mewujudkan impian untuk jalan menuju STAN, termasuk saya.

Kira-kira satu tahun yang lalu, bersama dengan teman-teman seangkatan, saya ikut mendaftar SNMPTN dan saya menaruh harapan besar disana. Namun takdir berkata lain, saya tidak lolos SNMPTN. Bisa dipastikan, saya down, sangat. Tapi apa boleh buat, hidup harus tetap berjalan. Gagal di SNMPTN, saya mencoba peruntungan melalui jalur SBMPTN. Kali ini pun keberuntungan belum berpihak pada saya. Lagi-lagi saya gagal. Tapi saya sedikit lebih legowo menerima kegagalan ini. Saya pun coba ikut Ujian Mandiri di Universitas Sebelas Maret, memperjuangkan cita-cita orang tua tapi Allah punya rencana lain. Saya gagal lagi. Sedih, pasti. Tapi apadaya, gagal menjadi dokter bukan akhir segalanya, kan?

Setelah mengalami kegagalan-kegagalan yang menguatkan, saya sedikit putus asa. Bagaimana tidak? Teman-teman lain sudah punya jas almamater kampus masing-masing dan memakainya dengan bangga di depan adik-adik kelas di SMA. Sedangkan saya selalu menjawab pertanyaan kuliah dimana sekarang? dengan senyum pahit dan jawaban hehehe, belum rejeki. Sakit! Tapi taka ada gunanya menyesali kegagalan kemarin.

Setiap hari selalu mencari informasi tentang perguruan tinggi mana yang masih membuka pendaftaran mahasiswa baru, kecuali swasta. Menunggu PKN STAN membuka pendaftaran mahasiswa baru juga melelahkan ternyata, hampir hopeless mendengar berita PKN STAN tidak membuka pendaftaran mahasiswa baru.

Beberapa saat setelah hampir lelah menunggu, ternyata PKN STAN membuka pendaftaran maba. Lega sekali rasanya. Tapi seperti mendengar petir di siang hari dengan matahari yang panas menyengat, orang tua tidak mengizinkan saya mendaftar ke PKN STAN. Orang tua malah menyarankan untuk daftar ke IPDN “salah satu Perguruan Tinggi Kedinasan juga- dengan alasan lebih aman karena ada asrama. Baiklah, lagi-lagi dengan sedikit terpaksa saya mendaftar. Tahap I lolos, lanjut ke tahap II lolos lagi, tapi di tahap III Allah kembali mengajarkan kalau gagal itu menguatkan.

Nasi sudah menjadi bubur. Tahun 2015 sudah tidak ada perguruan tinggi yang membuka pendaftaran “kecuali swasta-. Mau tidak mau, apa yang saya takutkan selama ini nganggur setahun terjadi dan bagaimanapun harus dihadapi. Sanggup  tidak sanggup, siap tidak siap. Modal nekat, hanya minta kekuatan kepada Yang Maha Menguatkan. Alhamdulillah, sampai sekarang masih hidup. Selama nganggur di rumah, tak henti merayu orang tua untuk diizinkan mendaftar ke PKN STAN, dan Alhamdulillah akhirnya mereka luluh juga.

Tahun berganti begitu lambat skip saja-. PKN STAN membuka pendaftaran mahasiswa baru. Dengan mantap, walau tidak mendaftar di hari pertama, saya mendaftarkan diri. Baru akan masuk ke laman MENPAN-RB saja sudah ada masalah. Nomor KK saya tidak sesuai. Sedikit panik, saya mencari info dari teman-teman di grup social media. Banyak juga yang mengalami seperti saya. Untungnya saya ingat kalau dulu pernah berganti KK. Saya coba memasukkan data di KK yang lama, dan Alhamdulillah bisa. Kalau rezeki memang nggak kemana. Selesai daftar saya melakukan pembayaran. Disini pun bermasalah. Kode MVA saya tidak ditemukan. Teller bank mengatakan untuk mencoba lagi besok. Besoknya saya ke bank lagi, dan masih tidak ada. Saya coba ke bank di cabang lain tetap tidak membuahkan hasil. Sampai empat kali saya mondar-mandir ke Bank Mandiri, barulah urusan administrasi saya berhasil, syukurlah.

Setelah selesai pendaftaran dan administrasi, ada rentang waktu yang cukup lama untuk verifikasi berkas. Pada saat itu tidak ada hari tanpa mengerjakan soal-soal USM PKN STAN. Setiap hari membawa buku soal-soal USM PKN STAN yang setebal itu kemana-mana. Karena memang belum cukup matang untuk menghadapi USM yang tinggal menghitung hari. Saat verifikasi berkas, saya harus  berangkat lebih awal, karena lokasi verifikasi cukup jauh dari rumah yaitu di BDK Yogyakarta sekitar 2 jam dari rumah. Walaupun sudah berangkat sangat pagi, sampai di lokasi sudah banyak yang mengantri untuk verifikasi. Menunggu memang hal yang membosankan. Tapi demi cita-cita, hal kecil semacam ini bukan hal yang memberatkan, kan?

Tiba saat hari pertempuran tiba. Tanggal 15 Mei 2016, kami pejuang USM PKN STAN bertempur habis-habisan demi mendapat satu kursi. Tidak main-main, pesaingnya pun mencapai ratusan ribu orang. Garis takdir, saya mendapat lokasi tes di GOR Amongrogo Yogyakarta yang notabene sangat panas dan tidak ada meja. Hmmm, perjuangan lagi. Walau begitu, saya tetap ikhlas dan membulatkan tekad. Tak disangka, saat pengumuman tahap I saya menemukan nama saya di daftar peserta yang lolos untuk mengikuti tahap II.

Tes tahap II juga bukan perkara mudah. Setiap hari harus berlatih untuk kuat lari selama 12 menit. Berkat latihan dan usaha yang cukup kuat, saya bisa melewati serangkaian tes TKK dengan cukup lancar. Walau begitu, saya sempat sedikit pesimis karena pesaing-pesaing saya mampu lari lebih jauh dari saya. Namun saya tidak berhenti berharap, dan harapan saya tidak pupus di tengah jalan. Alhamdulillah.

Bagi sebagian peserta, tes tahap III yaitu tes TKD ini mungkin adalah yang paling berat, seperti apa yang saya bayangkan juga. Tapi mau tidak mau, harus siap menghadapi tes terakhir untuk bisa mendapatkan satu kursi impian ini, kan? Dengan materi seadanya yang tentunya sangat belum cukup untuk menghadapi tes ini, saya meneguhkan hati untuk berjuang sekeras mungkin. Bagaimanapun, jangan sampai gagal di saat-saat terakhir. Saya diantar bapak yang luar biasa hebat untuk bisa mengikuti tes TKD di BDK Yogyakarta. Bapak sama sekali tidak keberatan untuk mengendarai mobil pribadi di siang hari yang panas menyengat meskipun sedang berpuasa demi mengantarkan anak kecil ini selangkah lebih dekat dengan impiannya. Karena itulah saya sedikit cemas dan grogi karena takut menyia-nyiakan perjuangan bapak. Mana mungkin anak ini tega membiarkan bapak pulang dengan perasaan kecewa karena menyaksikan anaknya harus terhenti langkahnya di tes tahap terakhir. Tapi untungnya, Allah tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Saya dinyatakan memenuhi passing grade dan nilai saya cukup tinggi, yaitu 379.

Hari berlalu begitu lambat. Hati makin tak menentu tatkala pengumuman hasil USM tahap III sekaligus tahap terakhir yang menjadi penentu lolos tidaknya ini diundur. Rumor pun bertebaran di media sosial. Berusaha tak acuh, saya tetap memohon keberuntungan pada Allah. Tepat pukul 02.00 WIB, ternyata pengumuman sudah tertera disana. Dengan sedikit mengantuk, saya dengan sabar membaca satu-persatu nama peserta yang menjadi mahasiswa baru PKN STAN 2016 mulai dari abjad A. Hati saya semakin tak menentu ketika pencarian saya sudah sampai pada huruf I. Takut, gelisah, bingung, penasaran bercampur disana. Dengan harap-harap cemas, saya scroll down halaman web di handphone saya. Dan diantara sekian banyak huruf I yang ada, saya menemukan ada nama saya tertera disana.

Perasaan yang tadinya gelisah, berubah makin tak menentu. Seperti mimpi, saya tidak menyangka nama saya ada disana. Saya cek beberapa kali nama dan nomor BPU, dan ternyata itu memang identitas saya. Masih menahan air mata, saya bangunkan orang tua untuk memberitahu kabar yang menggembirakan ini, walaupun tidak sepenuhnya menggembirakan karena saya diterima di prodip D1 Perpajakan di BDK Pontianak. Tak disangka, tidak ada raut kecewa di wajah kedua orang tua. Hanya senyum bahagia dan sedikit air mata di ujung mata yang nampak. Saya ingin berkata banyak, namun hanya pelukan yang bisa saya katakan kepada kedua orang tua.

Akhirnya saya bisa mewujudkan apa yang saya inginkan. Akhirnya saya untuk pertama kali tidak memberikan kekecewaan kepada kedua orang tua untuk melanjutkan pendidikan. Akhirnya saya bisa mempersembahkan kursi di PKN STAN untuk kedua orang tua. Semoga saya dan rekan-rekan bisa menjadi abdi negara yang baik. Aamiin.

Tinggalkan Balasan