Home » Artikel » JALAN TERBAIK MENUJU KULIAH GRATIS DI PKN STAN

JALAN TERBAIK MENUJU KULIAH GRATIS DI PKN STAN

KULIAH GRATIS DI PKN STAN-Awalnya, tidak terpikirkan oleh saya untuk dapat menjadi mahasiswi PKN STAN BDK Pontianak. Mendaftar ke STAN adalah saran dari Ayah saya yang memang sejak dulu menginginkan ada anaknya yang berkuliah disana. Selain jaminan setelah kuliah langsung bekerja di kementrian keuangan, serta biaya kuliah gratis, PKN STAN memang sudah terbukti sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia. Tentunya dengan lulusan-lulusan yang terbaik pula.

Sebenernya saya berminat untuk menjadi dokter, cita-cita saya sejak kecil. Setelah berkonsultasi dengan guru bimbingan belajar saya mengenai nilai rapor untuk pendaftaran SNMPTN, saya akhirnya mantap memilih jurusan kedokteran umum pada SNMPTN saya. Kedokteran yang saya pilih adalah di Universitas Diponegoro, salah satu universitas dengan jurusan kedokteran terbaik di Semarang, kota tempat tinggal saya. Banyak pula alumni-alumni berprestasi sekolah saya, SMA Negeri 3 Semarang, yang berkuliah disana melalui jalur SNMPTN maupun SBMPTN. Alhamdulillah pilihan saya ini disetujui oleh Ibu saya yang memang ingin anaknya menjadi dokter, dan juga dari kakak-kakak saya. Namun rupanya Ayah saya lebih suka saya berkuliah dan nantinya bekerja di bidang ekonomi, karena Ayah saya memang lulusan ekonomi begitu juga kakak saya yang pertama. Ayah saya selalu bilang “Kuliah kedokteran itu susah Dek, perjuangannya panjang, kamu harus benar-benar siap segalanya kalau mau mendaftar disana. Lebih baik kamu ambil ekonomi saja, peluang kerjanya sangat luas.

Saya agak bosan dengan perkataan Ayah saya yang seperti itu. Ya mau bagaimana lagi, saya sudah menginginkan kuliah di kedokteran, walaupun sebenarnya saya juga tertarik pada jurusan ekonomi tetapi entah mengapa pilihan pertama hati saya tetap di kedokteran. Setelah menjelaskan dengan baik ke Ayah, akhirnya beliau setuju, namun beliau menyarankan saya untuk mendaftar ke PKN STAN. Katanya untuk sekalian antisipasi kalau-kalau SNMPTN saya yang di kedokteran tidak diterima. Beliau menjelaskan tentang kuliah gratis PKN STAN dengan antusias kepada saya. Tertarik dengan apa yang dijelaskan Ayah saya tersebut, saya akhirnya mulai mencari-cari tentang kuliah gratis PKN STAN di internet. Dan ternyata PKN STAN memang kampus yang luar biasa, peminatnya tiap tahun pun banyak sekali.

Saya jadi sering berbicara tentang PKN STAN dengan Ayah saya, termasuk ketertarikan saya juga untuk mencoba mendaftar disana. Benar juga kata Ayah saya, hal ini untuk antisipasi kalau-kalau saya tidak diterima di kedokteran melalui SNMPTN. Sampai suatu hari, saya mendapat kabar bahwa ada workshop tentang kuliah gratis PKN STAN yang diadakan di salah satu hotel di Semarang. Bersama Ayah, saya pun mendatangi workshop tersebut. Disana kami menjadi tau lebih banyak lagi tentang STAN, dan tentunya Ayah menjadi semakin mendorong saya mendaftar.

Untuk menjadi mahasiswa/mahasiswa STAN harus melalu serangkain tes yang terdiri dari 3 tahap. Tes ini disebut Ujian Saringan Masuk (USM) STAN. Tahap pertama adalah tes tertulis, terdiri dari 2 bagian yaitu Tes Potensi Akademik (TPA) dan Tes Bahasa Inggris (TBI). Untuk TPA ada 120 soal dan TBI ada 60 soal. Soal sebanyak itu harus diselesaikan dalam waktu 100 menit. Dan untuk tes tahap 2 ada tes kesehatan, dan tes kebugaran. Bagian dari tes kebugaran adalah lari 12 menit memutari lapangan dan shuttle run (lari membentuk angka 8). Sedangkan untuk tes tahap 3, untuk tahun 2016 adalah tes TKD (CPNS). Tes ini biasanya dilakukan setelah mahasiswa/mahasiswi STAN selesai menempuh pendidikan. Namun tahun ini berbeda, tes TKD menjadi syarat lolos tidaknya ke STAN. Ada 100 soal dengan waktu 90 menit.

Di akhir acara, ada penawaran bimbingan belajar  untuk melalui rangkaian Ujian Saringan Masuk (USM) STAN. Ada beberapa promo khusus yang ditawarkan bagi yang hadir dalam workshop tersebut. Tidak mau melewatkan kesempatan mendapatkan promo bimbel masuk STAN, Ayah saya langsung menawarkan agar saya ikut mendaftar. Saya awalnya merasa tidak perlu, namun rupanya Ayah saya pintar sekali membujuk hingga akhirnya saya benar-benar mengikuti bimbel tersebut.

Bimbel masuk stan dijadwalkan ketika telah selesai menempuh Ujian Nasional dan sudah tidak ada pembelajaran lagi di sekolah. Saya juga mengikuti bimbel untuk masuk SBMPTN. Program bimbel ini merupakan program lanjutan dari bimbel yang sudah saya ikuti sejak awal masuk kelas 12, Sehingga sayang kalau dibatalkan karena sudah membayar. Akhirnya saya harus bisa membagi waktu untuk dapat mengikuti kedua bimbel ini dan tentunya berusaha maksimal di keduanya. Kebetulan letak kedua bimbel ini tidak saling berjauhan. Pukul 07.00 saya mengikuti bimbel untuk SBMPTN, lalu siangnya pukul 12 .00 saya langsung lanjut untuk mengikuti bimbel stan.

Sangat sulit rupanya membagi waktu untuk persiapan dua ujian masuk perguruan tinggi yang jelas-jelas bukan ujian main-main ini. Apalagi jadwal dari 2 bimbel terkadang berubah-ubah, sehingga saya harus bolak-balik tempat bimbel agar bisa mengikuti keduanya. Terlebih try out yang kadang dengan ajaib bisa dilaksanakan pada hari dan waktu yang sangat berdekatan, sehingga saya harus merelakan try out dari salah satu bimbel untuk dikerjakan pada lain hari. Mengetahui kesulitan saya, kedua orangtua saya menyarankan untuk fokus salah satu saja, dan Ayah saya menyarankan untuk fokus STAN, sembari menunggu pengumuman SNMPTN. Karena akan sayang juga kalau pada akhirnya saya tidak bisa fokus keduanya.

Mengikuti bimbel STAN sangat menyenangkan menurut saya. Saya menjadi tau trik-trik mengerjakan soal STAN yang dibuat berbeda (khusus) dan ternyata setiap tahun polanya selalu sama. Saya banyak berlatih soal-soal USM STAN tahun-tahun lalu dan dari yang diberikan oleh bimbel. Saya mempelajari cara-cara cepat mengerjakan soal dengan benar, termasuk strategi memanage waktu agar dapat mengerjakan soal sebanyak itu dengan waktu yang tersedia. Yang paling saya sukai sebenarnya adalah bagian TBI, karena saya memang menyukai pelajaran Bahasa Inggris sejak kecil. Sedangkan untuk soal TPA saya harus banyak bekerja keras karena saya agak lamban dalam menghitung. Sedangkan dalam tes ini harus menghitung dan berpikir cepat. Saya terus belajar setiap malam, berusaha dengan sungguh-sungguh dan selalu berdoa kepada Allah agar dimudahkan dan dilancarkan jalannya, serta selalu diberikan yang terbaik. Kedua orangtua saya sangat mendukung saya dalam mengikuti ujian ini, baik STAN maupun SBMPTN nya. Begitu juga dengan Kakak-kakak saya.

Tiba saatnya pengumuman SNMPTN. Ya, ternyata manusia memang hanya bisa berencana, sedangkan selebihnya hanya Allah yang menentukkan. Ternyata ada masalah input data dari sekolah saya yang menggunakan system sks ber-menu. Sehingga seluruh siswa golongan IPA di sekolah saya tidak diterima di SNMPTN. Semua teman-teman saya termasuk guru-guru sangat berduka atas kejadian ini. Bayangkan, usaha keras kami selama tiga tahun untuk mendapat nilai rapor bagus agar lolos jalur SNMPTN harus pupus karena kesalahan system. Saya sangat bersedih, namun saya bangkit karena saya masih ada harapan di STAN dan SBMPTN nya. Saya terus berjuang, terutama di STAN nya. Doa tidak henti-hentinya saya panjatkan, agar diberikan terbaik, baik itu lewat STAN atau lewat jalur SBMPTN nya.

Tanggal 15 Mei, adalah hari USM STAN tahap 1. Saya mendapat tempat tes di Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Saya berangkat dengan sangat semangat, dengan diantar kedua orangtua saya yang selalu mengiringi perjuangan saya selama ini dengan doa-doa dan kasih sayang mereka, Dalam mengerjakan tes, saya mencoba melakukan yang terbaik, dengan menerapkan cara-cara yang sudah saya pelajari selama ini. Selesai tes saya langsung menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Bertawakal. Dan tanggal 31 Mei, saya mengikuti SBMPTN. Saya kesulitan dalam mengerjakan, karena ternyata tahun ini tingkat kesulitan soal SBMPTN nya memang meningkat. Sehingga saya sangat pesimis. Saya pun sudah merelakan apapun hasil sbm nya nanti, saya merelakan cita-cita saya menjadi dokter. Entah mengapa semua berubah, STAN lah tujuan saya.

Alhamdulillah saya lolos tes tahap 1 USM STAN. Saya sangat bersyukur, dan segera berjuang kembali, berusaha melakukan yang terbaik untuk 2 sisa tahap yang ada. Tahap 2, tes kebugaran saya lalui. Walau agak pesimis karena merasa tidak maksimal ketika tes lari, namun ternyata saya masih diizinkan untuk lolos. Dan sampai ada tahap 3, saya dengan sangat siap mengikuti tes TKD dengan percaya diri. Tinggal menunggu pengumuman. Saat-saat inilah yang paling mendebarkan, sebab sebelum pengumuman ini saya sudah menerima hasil tes SBMPTN saya yang tidak lolos, Semua usaha saya untuk masuk STAN selama ini, akan segera saya lihat hasilnya. Dan Alhamdulillah saya diterima. Namun jujur tidak seperti harapan saya. Sekali lagi, manusia memang hanya bisa berencana, selebihnya Allah yang menentukkan.

Harapan saya masuk D3 Pajak STAN yang terletak di Jakarta ternyat tidak terwujud, saya diterima di D1 Pajak BDK Pontianak. Saya sempat menangis agak lama, sudah tidak D3, dapat tempat perkuliahan sangat jauh pula. Belum pernah saya pergi keluar pulau Jawa, apalagi sendiri tanpa orangtua, dan sama sekali tidak ada saudara disana. Awalnya saya menjadi frustasi akan hal ini, Ibu saya pun juga sedih karena masih belum rela. Namun Ayah saya, dan Kakak-Kakak saya, menguatkan saya dan Ibu saya. Mereka memberiku semangat. Menumbuhkan keyakinan bahwa kuliah jauh bukan jadi masalah, ini adalah tantangan, agar saya bisa hidup mandiri. Saya harus kuat menjalaninya. Terlebih saya sudah berjuang selama ini.

Ayah saya meyakinkan saya, kuliah D1 tidak masalah, karena D1 nya saja D1 Pajak STAN. Setelah menempuh pendidikan satu tahun langsung bekerja, dan setelah itu masih bisa kuliah lagi meneruskan ke D3. Banyak orang yang merebutkan posisi saya sekarang, dan kesempatan yang diberikan Allah ini tidak boleh saya sia-siakan. Ayah dan Kakak-kakak saya pun berhasil meyakinkan saya dan Ibu saya. Dan Allah ternyata memang selalu memberi jalan kepada hamba-NYA. Rupanya Ayah saya ada teman kantor yang bertugas di Pontianak. Sehingga  kalau ada apa-apa saya bisa dititipkan ke teman Ayah saya disana. Dan berangkatlah saya ke Pontianak. Saya akhirnya berkuliah disini. Mungkin ini tidak seperti yang saya harapkan, kuliah gratis di D3 STAN Jakarta. Namun saya selalu ingat, dalam doa saya selalu minta diberikan jalan yang terbaik! Berarti ini yang terbaik kan dari Allah? We could make plans but Allah decide, and there is always a way.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.