Home » Artikel » JATUH BANGUN MASUK FAKULTAS DI PKN STAN

JATUH BANGUN MASUK FAKULTAS DI PKN STAN

Waktu berlalu begitu cepat. Waktu telah mengajarkan kita banyak hal penting dalam hidup, tentang pengalaman, perjalanan kehidupan, dan mengajarkan arti penting sebuah masa depan. Ya, seperti yang pernah saya alami dalam perjuangan masuk fakultas di PKN STAN tahun 2016 ini.

Saya sudah bercita-cita masuk salah satu fakultas di PKN STAN sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Awalnya, saya menanyakan kepada Ayah tentang riwayat pendidikan beliau. Saya mendengarkan dengan penuh semangat setiap kata-kata yang Ayah ceritakan tentang apa yang pernah beliau capai semasa menuntut ilmu. Ayah memang sosok yang sangat pintar. Dalam benak hati, saya menginginkan agar setiap tempat yang Ayah gunakan untuk menuntut ilmu juga dapat saya ikuti. Mulai saat itu juga, saya telah bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh supaya apa yang saya inginkan bisa tercapai dengan baik.

Akhirnya Ujian Nasional tingkat Sekolah Dasar berlangsung. Saya sudah mempersiapkan segala materi yang akan diujikan. Saat sedang mengerjakan saya menemui kesulitan. Namun, saya ingat nasehat Ayah untuk selalu jujur dalam mengerjakan dan tetap yakin pada jawaban yang saya pilih. Hari demi hari berlalu. Tibalah saat paling mendebarkan bagi setiap orang tua saat mengetahui bahwa pada hari itu adalah hari penentuan kelulusan anaknya. Ketika itu saya sangat ragu dengan hasil yang akan saya terima. Saya akan merasa sangat bersalah jika pada detik itu orang tua saya menangis karena hasil yang mengecewakan. Akan tetapi, semua rasa takut yang saya alami terbayar dengan tangis bahagia kedua orang tua. Pada saat itu juga, kepala sekolah dan semua guru memberi ucapan selamat atas prestasi yang saya capai. Berkat doa dan dukungan dari kedua orang tua, saya berhasil meraih peringkat terbaik tingkat Sekolah Dasar di kota asal saya.

Tak lama kemudian, pengumuman pendaftaran SMP dibuka. Saya segera mendaftar di salah satu SMP favorit di kota asal saya. Ada dua tahap seleksi penerimaan murid baru di SMP tersebut, yaitu test tertulis dan test wawancara. Saya mengikuti seluruh tahapan test dengan penuh semangat. Akhirnya saya pun dinyatakan sebagai siswi di SMP tersebut. Ketika duduk di bangku SMP, saya mulai mencari informasi mengenai perguruan tinggi terutama PKN STAN. Ketertarikan saya terhadap fakultas di PKN STAN pun bertambah. Saat itu juga saya mulai melihat seperti apa soal-soal yang diujikan dalam USM PKN STAN. Saya terkejut melihat soal tersebut. Saya merasa takut jika tidak bisa mengerjakan soal USM PKN STAN. Sejak saat itu saya meminta kepada Ibu supaya saya diizinkan mengikuti bimbel. Namun, Ibu menyuruh agar saya fokus dengan Ujian Nasional SMP terlebih dahulu. Saya pun mengikuti apa yang Ibu katakan.

Ujian Nasional SMP berlalu. Hari itu adalah hari pengumuman kelulusan. Nilai yang saya capai sangat memuaskan. Saya merasa senang bisa melihat senyum kedua orang tua saya untuk yang kedua kalinya. Akhirnya Ibu menepati janji untuk mengizinkan saya mengikuti bimbel saat SMA nanti. Selang beberapa hari, pendaftaran SMA pun dibuka. Calon peserta didik baru mengikuti serangkaian test seleksi masuk SMA tersebut. Saya melaksanakan setiap perintah dengan penuh semangat, mengingat ini merupakan awal perjuangan saya untuk dapat memasuki dunia perkuliahan usai lulus sekolah nanti.

Tak terasa ini adalah akhir perjuangan saya. Akhir dari masa sekolah selama 12 tahun yang penuh cerita. Sebentar lagi saya akan memasuki dunia perkuliahan yang tentunya sangat berbeda dengan masa-masa saat sekolah dulu. Ya, pengumuman kelulusan. Pengumuman Ujian Nasional SMA yang diwarnai dengan rasa khawatir. Saya bersyukur dengan hasil yang saya dapat. Hasil yang tentunya tidak begitu mengecewakan. Setelah pengumuman kelulusan SMA, saya mengikuti salah satu bimbel di Bintaro selama 1 bulan. Setiap hari saya berlatih dan terus berlatih soal-soal USM PKN STAN sambil memanfaatkan waktu 100 menit dengan seefektif mungkin. Saya juga mengikuti setiap Try Out yang diadakan bimbel tersebut. Nilai yang saya capai saat Try Out pun cukup memuaskan dengan predikat lulus. Namun, saya belum merasa puas karena hasil yang saya capai saat itu belum maksimal.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Saya terus memantau website PKN STAN. Namun, saat yang saya tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Akhirnya saya mencoba mendaftar di salah satu Universitas terbaik di Indonesia yang berada di Kota Yogyakarta. Dan saya bersyukur karena diterima melalui jalur undangan untuk program Diploma.

Pada tahun lalu, tepatnya tahun 2015, PKN STAN baru membuka pendaftaran pada bulan Agustus dan hanya melalui 2 tahap test, yaitu test tertulis dan test kesehatan dan kebugaran. Setelah selesai jam kuliah pada hari itu, saya segera pulang ke kost untuk mendaftar PKN STAN. Segala keperluan pendaftaran telah saya siapkan sejak saya memutuskan untuk berkuliah terlebih dahulu. Usai melakukan pendaftaran, saya langsung menuju ATM untuk membayar pendaftaran. Lalu saya mengonfirmasi bahwa saya telah melakukan pembayaran. Tak lama kemudian, tibalah hari untuk melakukan verifikasi berkas. Saya berangkat dari kost menuju tempat verifikasi, yakni BDK Yogyakarta, bersama kedua orang tua dan teman-teman satu kelas perkuliahan yang mendaftar salah satu fakultas di PKN STAN pula. Saat itu saya bersyukur karena lolos verifikasi berkas.

Kemudian tibalah saat USM PKN STAN 2015. Saya mendapat tempat ujian di salah satu Universitas Swasta di Yogyakarta. Pada waktu itu, saya sangat berdebar-debar melihat para pejuang PKN STAN yang begitu banyak. Dalam hati, saya berbicara, semoga saya adalah salah satu peserta yang lolos. Setelah USM PKN STAN selesai, saya segera kembali ke kost bersama teman-teman saya. Lalu setelah beberapa hari, hari pengumuman test tahap pertama pun tiba. Saya sangat bersyukur karena nama saya tercantum dalam lampiran tersebut, yang menandakan bahwa saya berhak untuk mengikuti test tahap kedua. Kemudian saya segera memberi tahu kedua orang tua saya. Ayah dan ibu pun merasa senang.

Selang beberapa hari, test tahap kedua dimulai. Kedua orang tua saya ikut mengantar ke BDK Yogyakarta. Saya berangkat sebelum subuh, kira-kira pukul 04.30 WIB supaya mendapat kloter lari pertama. Lalu saya mengantre untuk mengambil nomor antrian. Kemudian kira-kira pukul 07.30 WIB, saya dan teman-teman satu kelompok segera menaiki mobil yang digunakan untuk mengantar kami ke lapangan tempat kami melakukan test kesehatan dan kebugaran. Ayah dan ibu pun mengikuti mobil yang saya naiki. Beberapa menit kemudian, peluit tanda dimulainya lari pun berbunyi. Ayah dan ibu melihat saya berlari keliling lapangan selama 12 menit.

Saya melihat air mata ibu mengalir melewati kedua pipinya. Air mata ibu menjadi semangat untuk saya agar terus berlari dan berlari. Usai lari 12 menit, saya dan teman-teman satu kelompok pun diberi waktu untuk beristirahat selama 5 menit. Setelah itu, kami berlari membentuk angka 8 sebanyak 3 kali atau biasa disebut dengan shuttle run. Selesai melakukan shuttle run, kami segera kembali ke BDK Yogyakarta untuk mengambil BPU (Bukti Peserta Ujian) yang dibawa panitia sebelum kami melaksanakan test kesehatan dan kebugaran. Namun, untuk bisa kembali ke BDK kami harus menunggu mobil jemputan karena jarak dari BDK ke lapangan cukup jauh. Akhirnya datang satu mobil yang kosong dan kami segera menaiki mobil tersebut. Sesampainya di BDK, kami kembali mengantre untuk mengambil BPU. Setelah itu, saya menghampiri ayah dan ibu kemudian kami pulang.

Lalu pada tanggal 19 September 2015 tepatnya pukul 23.30 WIB, kelulusan calon mahasiswa baru pun diumumkan. Saya sangat berdebar-debar ketika melihat lampiran yang tercantum dalam website PKN STAN. Entah apa yang ada dipikiran saya. Jantung berdetak seakan tak ada hentinya. Dan ternyata semua yang saya takutkan pun benar terjadi. Di dalam lampiran tersebut tidak tercantum nama saya. Tangis kesedihan pun pecah. Semangat yang awalnya membara kini berubah menjadi redup. Saya segera menelepon kedua orang tua saya, kemudian meminta maaf karena merasa telah gagal menjadi seorang anak yang patut dibanggakan. Hati orang tua mana yang tak sedih mendengar kabar bahwa anaknya harus menerima suatu kenyataan yang mungkin sangat berat dalam hidupnya. Ya benar, cita-cita yang sudah saya impikan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar pun harus terhentikan.

Ketika itu saya langsung berpikir untuk berhenti kuliah di salah satu universitas terbaik di Kota Yogyakarta tersebut, yang rencananya akan saya gunakan untuk belajar soal-soal USM PKN STAN kembali. Namun, ayah dan ibu melarang saya untuk memutuskan hal itu. Kedua orang tua saya mengatakan bahwa ayah dan ibu tetap bangga pada saya dan menginginkan agar saya tetap melanjutkan kuliah di universitas tersebut sambil menunggu pendaftaran PKN STAN tahun 2016 dibuka. Sejak saat itu, teman-teman satu kelas saya di perkuliahan terus menerus memberi semangat. Mereka mengatakan bahwa orang sukses memiliki banyak jalan dan tidak harus dari PKN STAN. Mendengar nasehat mereka, semangat saya untuk berkuliah pun mulai bangkit.

Ya, kesuksesan tidak selamanya harus lewat fakultas di PKN STAN. Akan tetapi, impian saya untuk berkuliah pada fakultas PKN STAN akan tetap saya perjuangkan sampai batas usia maksimal yang ditetapkan dalam persyaratan. Saya terus belajar dan berlatih supaya dapat menggapai cita-cita saya. Berdoa serta meminta restu dari ayah dan ibu pun tak lupa saya lakukan. Dan saya sangat bersyukur karena tahun ini, tahun 2016, saya bisa mewujudkan cita-cita saya untuk melanjutkan salah satu fakultas di PKN STAN.

Mungkin Allah SWT mempunyai rencana lain yang lebih indah karena pada tahun 2016 sekarang ini PKN STAN menyeleksi calon mahasiswa baru melalui 3 tahapan test, yaitu test tertulis, test kesehatan dan kebugaran, serta TKD. TKD yang merupakan kependekan dari Test Kemampuan Dasar inilah yang menjadi tahapan paling menegangkan. Lengkung senyum kedua orang tua saya yang sempat hilang kini kembali terlihat. Saya pun bangga kepada diri sendiri karena dapat menjadi penerus ayah ketika saya bekerja di Direktorat Jenderal Pajak nanti. Aamiin.

Itulah sepenggal kisah perjuangan saya dalam meraih mimpi saya. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua yang pernah gagal meraih mimpi. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan