Home » Artikel » Dari Jauh Tidak Terjangkau Tapi Bisa Diraih (Ikatan Dinas di PKN STAN)

Dari Jauh Tidak Terjangkau Tapi Bisa Diraih (Ikatan Dinas di PKN STAN)

Dari awal SMA tidak pernah terpikir olehku untuk melanjutkan sekolah ikatan dinas di PKN STAN. Hanya mendengar cerita pengalaman dari ayah, yang memang lulusan PKN STAN. Ayah bilang sekolah ikatan dinas di PKN STAN STAN itu tekanannya kuat, jadi harus siap mental. Aku waktu itu hanya tertawa mendengar pengalaman ayah dari yang lucu sampai yang bikin tegang. Awalnya aku memang tidak tertarik perpajakan atau akuntansi karena menurutku saat itu, terlalu rumit. Di mulai dari sering diminta bantuan ayah untuk mengurusi pajak yang ayah kerjakan. Kebetulan ayah konsultan pajak, jadi aku diajarkan sedikit hal-hal mendasar tentang pajak untuk yang disetorkan ke kantor pajak. Dan sejak itu walaupun mulai rumit aku tertarik dengan pajak. Aku belum berniat untuk masuk sekolah ikatan dinas di PKN STAN. Karena menurutku masih terlalu jauh dari jangkauanku. Aku hanya memilih untuk masuk ke universitas negeri yang lain.

Di masa SMA ini, aku tidak sekolah. Di bilang homeschooling juga tidak. Karena aku selama dua setengah tahun tidak belajar kognitif pelajaran sekolah. Mulai awal tahun 2016, bulan Januari daftar bimbingan belajar untuk mengejar pelajaran untuk ujian nasional dan untuk masuk perguruan tinggi negeri juga. Masih belum kepikiran untuk daftar sekolah ikatan dinas di PKN STAN.

Sibuk belajar untuk ujian sekolah dan untuk ujian nasional pikiran tentang perguruan tinggi agak sedikit berkurang, walaupun masih terpikir sekilas di otak. Ujian sekolah dan ujian nasional selesai kenyataan menamparku. Keras. Aku mau lanjut kuliah dimana? Kalau aku lulus gimana? Kalau aku tidak lulus gimana? Kalau diterima diluar kota nanti bagaimana? Kost? Makan? Biayanya berapa? Nanti nyari kerja gimana? Kalau tidak dapat kerja harus bagaimana? Semua pikiran tentang masa depan yang tidak pasti, tentang segala kemungkinan yang akan terjadi, kemungkinan yang kecil terjadi terlintas di otak membuat pikiran tambah rumit dan memusingkan.

Di saat aku semangat belajar menuju SBMPTN, salah satu sahabatku bernama Ocha mengajakku mendaftar USM PKN STAN. Aku mencoba mendaftar. Daftar pertama harus pake NIK sedangkan Kartu Keluarga waktu itu terselip jadi harus bongkar rumah kesana-kesini. Alhamdulillah akhirnya ketemu baru bisa daftar. Bagian kedua memasukkan nilai rapot sekolah. Bagian memilih jurusan aku bingung lagi. Aku kira sekolah ikatan dinas di PKN STAN hanya pajak, bea cukai dan akuntansi. Ternyata ada banyak dan ada pilihan DI dan DIII. Dilema datang, jadi meminta pendapat ayah. Katanya daftar saja DIII pajak dan akuntansi. Eh, tidak bisa memilih hanya 2 jurusan. Aku harus memilih semua jurusan yang ada. Jadi aku memilih semua DIII dulu lalu baru semua DI.

Pendaftaran online selesai, masuk tahap verifikasi berkas langsung ke sekolah ikatan dinas di PKN STAN Bintaro. Pagi-pagi sampai di Bintaro langsung mencari tempat pas foto karena aku belum punya. Masuk ke kampus, sekitar sudah ramai untuk verifikasi. Aku mulai tegang. Dan karena aku tegang itu aku salah membaca persyaratan. Aku baca hanya butuh 2 pas foto padahal harusnya 3 aku langsung panik karena sisa foto yang tadi di cetak ada di ibuku yang lagi pergi. Alhamdulillah oleh panitia boleh keluar sebentar mengambil pas foto sisanya. Setelah itu verifikasi berjalan lancar sampai selesai. Aku mendapat tempat ujian di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan.

Mulai mencari contoh soal USM untuk latihan dari internet karena kalau beli bukunya cukup mahal. Minjam buku dari Ocha mengerjakan soalnya bersama. Soal-soal USM-nya subhanallah. Aku makin tidak yakin bisa lolos. Aku cukup percaya diri bagian Bahasa Inggris. Sisanya aku latihan tapi tetap pasrah sama Allah.

Hari ujian yang ditunggu tiba. Aku berangkat habis subuh supaya tidak terlambat. Karena sampai senayan masih terlalu pagi, aku sempat sarapan di sekitar senayan. Tapi ternyata ketika mau masuk GBK jalanan ditutup sana sini, arah jalan diputar. Perutku mulai sakit, antara cemas tegang. Karena terlalu macet jalan, ayahku memutuskan untuk turun ditengah jalan dan jalan kaki menuju GBK. Dengan membawa perlengkapan yang dianjurkan aku jalan berdua ayah. Di GBK ternyata sudah sangat ramai, tambah sakit lah perutku. Masih ada sekitar setengah jam lagi sebelum waktu yang ditentukan untuk masuk. Ke toilet sebentar ke Masjid Al-Bina ternyata sangat ramai. Makin pucat aku. Akhirnya memutuskan untuk langsung masuk saja ke tempat ujian. Setelah salim dan minta doa ayah aku masuk mencari tempat duduk dengan nomerku. Aku sempat tersesat karena terlalu luas. Setelah menemukan kursiku, mulai merapihkan barang-barang supaya tidak ribet ketika ujian.

Panitia mulai berkeliling untuk kita mengisi absensi. Sempat dengar ada yang tidak membawa ketentuan, aku jadi ikut grogi. Giliranku datang semua lancar jaya. Ujian dimulai, aku berusaha mengerjakan semua soal, walaupun kemungkinan terjawabnya semua soal sangat kecil. Sambil sesekali melirik jam besar di kedua sisi GBK, aku mengerjakan soal TPA. Waktu habis, ganti soal Bahasa Inggris. Tanpa babibu aku langsung mengerjakan. Kali ini, aku kerjakan semua habis tanpa melirik jam sekalipun. Ketika sudah selesai, ternyata ada sekitar 15 menit waktu tersisa. Aku pejamkan mataku, membaca hamdalah dan mulai membaca Al-Matsurat dari awal sampai habis. Sambil terus berdoa memohon yang terbaik dari Allah. Waktu habis langsung siap-siap untuk keluar mencari sahabatku yang juga ujian di GBK tapi di beda sisi. Sempat bahas soal yang kita jawab tapi memutuskan untuk tidak dilanjutkan karena bikin pusing dan tidak yakin.

Ke tempat bimbingan belajar seperti biasa aku sempat lupa tentang ujian sekolah ikatan dinas di PKN STAN. Sampai suatu pagi sahabatku bilang bahwa pagi itu pengumuman USM tahap pertama sudah keluar. Aku langsung coba membua laman pengumuman lewat laptop tapi tidak bisa terbuka. Mencoba lewat hp juga sama, makin tegang. Tiba-tiba di grup aku dan sahabatku di LINE, dia bilang bahwa dia tidak lulus tapi ada foto pengumuman dan namaku tertera jelas. Aku langsung menggigil dan memeluk kakakku yang kebetulan ada dirumah. Sambil terus memelukku yang masih menangis, kakak menghubungi ayahku yang sudah berangkat untuk kerja. Ayahku langsung menangis dan langsung pulang. Sesampainya dirumah, aku langsung memeluk ayah lalu sujud syukur bersama. Aku benar-benar tidak menyangka akan lolos seleksi pertama itu. Ayah langsung mempersiapkan aku untuk latihan fisik untuk ujian tahap kedua, yaitu TKK.

Di tahap TKK ini aku juga kurang percaya diri. Setelah ketahuan punya kelainan jantung ketika kelas 1 SMP. Dan takut juga kalau karena aku sakit itu aku tidak bisa lolos tahap ini. Tapi kalau tidak dijalani tidak tahu hasil kan? Jadi di waktu yang ditentukan aku berangkat habis subuh lagi menuju tempat TKK. Sampai di tempat setengah 6, tapi ternyata aku dapat antrian 200-an. Pasrah saja aku, sambil dinikmati biar tidak bete. Ketika tes mata aku agak takut karena aku merasa mataku minus, tapi aku belum sempat periksa ke dokter. Dan ketika di tes benar aku tidak bisa menyebutkan satupun huruf yang ada di depan. Makin takut aku, tapi kata ibunya tidak apa-apa tulis saja di kertasnya. Masuk ke tempat dokter aku cerita tentang sakitku, tapi ketika di cek tidak ada yang aneh aku boleh ikut tes lari tapi dengan catatan jika tidak kuat harus segera lapor panitia.

Ketika giliran untuk tes lari ternyata jam 12 istirahat sampai nanti jam 2 larinya. Walaupun agak bersyukur diundur tapi takut tidak lolos tes ini masih ada. Sekitar jam 2 semua yang belum tes lari kumpul lagi, suasana agak lebih cair sudah kenalan dengan beberapa peserta yang lain. Dengar dari peserta yang lain katanya kalau mau lulus coba lari lebih dari 3 puteran untuk perempuan. Jadi aku langsung berusaha mempersiapkan diri. Aku dapat 4 puteran lebih sedikit dengan kepala sedikit pusing seperti melayang langsung kumpul untuk tes berikutnya yaitu lari membentuk angka 8. Agak terpeleset sedikit, aku berhasil melaluinya lagi!

Bulan Ramadhan tiba, aku menunggu pengumuman sambil sedikit harap-harap cemas. Aku kira pengumuman keluar jam 8 pagi, ternyata teman SMP-ku memberikan kabar bahwa pengumuman sudah keluar dan aku diberi selamat. Aku tidak percaya jadi aku meminta tautannya dan aku coba buka sendiri. Dan benar, ada namaku beserta tanggal untuk tes tahap terakhir. Aku sujud syukur lagi. Benar-benar tidak menyangka akan lulus tahap itu.

Tahap terakhir adalah TKD. Aku mencoba mencari tahu tentang tes terakhir ini. Ternyata ini bukan tes biasa dan ada minimal nilai untuk lulus. Seperti yang aku baca bagian TWK paling susah dan banyak yang tidak lulus di bagian itu. Aku mulai pelajari contoh-contoh soal. Kali ini sudah niat untuk yang terbaik, hanya tinggal 1 tahap lagi.

Hari ujian tiba aku deg-degan lagi. Masuk ke dalam sebuah kelas lalu daftar untuk mendapat pin untuk ujian nanti. Ketika sedang mendaftar ada peserta perempuan datang tapi tidak memakai seragam yang ditentukan jadi dia diminta kembali pulang. Aku semakin gelisah dan tidak nyaman. Sempat ditunjukkan video cara mengerjakan soal. Ketika bagian hasil langsung keluar seluruh kelas langsung heboh. Sampai masuk ke ruang ujian. Ketika masuk ada yang tidak bisa, untungnya aku baik-baik saja dan mulai mengerjakan. Bagian TWK aku lewati dulu untuk mengerjakan yang lebih mudah. Karena tidak ada nilai minus, 10 menit terakhir aku menebak asal semua soal yang belum aku isi. Ada sisa waktu sedikit aku baca Al-Matsurat lagi dan pasrah ke Allah. Hasil sudah didapat dan aku LULUS! Tidak bisa berhenti tersenyum. Ketika keluar ternyata ayahku menunggu didepan layar yang langsung menampilkan nilai ketika tadi kita mengerjakan. Aku langsung memeluk ayah dan ibu. Tinggal menunggu pengumuman terakhir.

Tanggal 29 dini hari aku sudah menunggu pengumuman. Aku refresh terus menerus website PKN STAN. Nihil. Tidak ada pengumuman baru sama sekali. Menjalankan hari seperti biasa tapi tetap me-refresh setiap 10 menit. Sampai pada jam 12 siang ada tulisan bahwa pengumuman diundur menjadi tanggal 1. Aku pasrah. Tanggal 1 dari pagi sampai hampir jam 10 malam pengumuman tidak juga muncul. Aku jadi gelisah. Karena tidak tahan, aku memutuskan untuk tidur sambil menunggu pengumuman. Pukul 1 pagi tanggal 2 aku mencari pengumuman di twitter. Walaupun bukan dari akun resmi sekolah ikatan dinas di PKN STAN  , aku coba buka tautannya. Dengan tangan dan seluruh tubuh menggigil aku menunggu pengumuman terbuka. Dan hasilnya aku masuk  DI PAJAK, PONTIANAK aku langsung memeluk ibuku dengan bercucuran air mata. Tidak menyangka hal yang aku pikir jauh dari jangkauan dengan kekuasaan Allah jadi dekat dan bisa diraih.

Tinggalkan Balasan