Home » Artikel » KADO SPEASIAL ( Pejuang Sekolah Ikatan Dinas STAN 2016 )

KADO SPEASIAL ( Pejuang Sekolah Ikatan Dinas STAN 2016 )

Pertama kali mengenal salah satu Sekolah Ikatan Dinas STAN waktu itu saya masih duduk di bangku SMA, tepatnya di SMAN 1 Pacitan. Saya mengira bahwa Sekolah Ikatan  DInas STAN dikhususkan untuk siswa dari jurusan IIS saja dan saya sendiri tidak ada minat sama sekali untuk menjadi pegawai negeri, sehingga saya kurang begitu berminat untuk mendaftar di Sekolah Iktan Dinas STAN. Setelah memasuki kelas 12 mulai banyak kegiatan sosialisasi masuk PTN dan PTK. Saya mengikuti berbagai sosialisasi masuk PTN dan PTK.

Perjuangan pun dimulai, saya mulai mencari informasi-informasi tentang PTN, PTK, maupun PTS. Rencana pada saat itu saya ingin berkuliah di Jawa Timur karena peluang diterima lebih besar. Pilihan pertama saya adalah salah satu PTN terbaik di Jawa Timur. Dan saya memilih prodi teknik karena banyak diminati dan memiliki prospek yang baik kedepannya. Setelah berkonsultasi dengan orang tua akhirnya pilihan saya jatuh pada teknik industri. Saya juga sudah merencanakan setelah selesai kuliah ingin bekerja di Surabaya yang terkenal dengan kota industri di Jawa Timur.

Setelah sosialisasi PTN berlalu, ada satu PTK yang akan mengadakan sosialisasi dan tryout beserta pembahasan soal-soal USM masuk PTK-nya. PTK tersebut adalah Sekolah Ikatan Dinas STAN. Saya belum begitu tertarik untuk mengikuti sosialisasi tersebut, tetapi banyak sekali teman yang mendaftar secaraa kolektif. Pada saat itu teman mengajak saya untuk mengikuti sosialisasi tersebut, dan saya akhirnya ikut karena untuk memenuhi kuota daftar kolektif. Sehari sebelum tryout saya sama sekali tidak belajar. Keesokan harinya saya datang tepat sebelum tryout dimulai. Saat mengerjakan soal saya sangat santai, dan akhirnya masih banyak jawaban yang belum terisi. Saat pengumuman ternyata nilai saya tidak melewati passing grade yang telah ditentukan dan saya sangat menyesal karena tidak bersungguh dalam mengikuti tryout USM STAN tersebut.

Selang beberapa bulan kemudian dibuka pendaftaran online PTK. Pada tahun saya, satu orang siswa hanya bisa daftar satu dari tujuh ikatan dinas. Dan saya pun memutuskan untuk mendaftar Sekolah Ikatan Dinas STAN. Saya mengikuti alur pendaftaran online dengan hati-hati, karena ini merupakan kesempatan satu kali dalam seumur hidup. Saya memilih Yogyakarta untuk tempat seleksi, karena tempat yang paling dekat dari kota saya. Setelah selesai mendaftar online saya pun menunggu sembari melengkapi berkas yang digunakan untuk verivikasi berkas.

Setelah menunggu beberapa bulan akhirnya datang juga waktu verifikasi berkas. Saya berangkat dari pacitan bersama teman saya yang bernama Adit. Kami berangkat habis subuh dan perjalanan memakan tiga jam menggunakan motor. Sampai di Yogyakarta sekitar pukul Sembilan pagi, dan menuju BDK hanya mengandalkan google maps saja. Dan akhirnya sampai di BDK setengah jam kemudian. Setelah sampai di BDK saya dan Adit langsung ganti baju yang sebelumnya adalah baju touring dan berubah menjadi baju kemeja putih dan celana kain hitam yang agak kebesaran. Setelah rapi kami pun segera menuju ke BDK dan mengambil nomor antrian, dan mendapat nomor yang lumayan besar. Setelah mengambil nomor antrian kami memutuskan untuk makan bakso sembari menunggu panggilan dari panitia. Setelah makan kami kembali ke BDK dan sebentar lagi nomor antrean saya akan dipanggil. Saat panitia keluar untuk memanggil peserta ternyata panitia malah mengumumkan untuk istirahat sholat dan saya sholat ke masjid. Setelah istirahat panitia memanggil nomor antrean saya kemudian saya menuju ruangan verifikasi berkas. Berkas yang telah saya siapkan diperiksa oleh panitia. Setelah semua berkas terverifikasi dengan baik saya mendapatkan BPU yang digunakan untuk tes tulis. Setelah mendapat BPU kami memutuskan untuk meninggalkan BDK.

Sebelum berangkat dari pacitan saya dan teman saya itu sudah merencanakan untuk mengikuti bimbel USM STAN di tempat bimbel yang disarankan oleh kakak kelas. Kami pun menuju tempat bimbel untuk mendaftarkan diri. Setelah mendaftar bimbel kami ditunjukkan tempat tinggal selama mengikuti bimbel. Karena saya memilih paket spesial, saya mendapat tempat tinggal yang bisa dibilang kurang layak. Sebuah rumah yang menampung tiga puluh anak dengan hanya ada satu kamar mandi. Dengan berat hati akhirnya saya pun terpaksa tinggal disana. Saya mengikuti bimbel selama tiga minggu. Tiap akhir pekan biasanya saya pulang ke pacitan. Selama tiga minggu tersebut saya masih tetap belum bisa serius belajar, dan saat tryout nilai saya masih dibawah passing grade.

Sehari sebelum tes tulis saya belajar kebut semalam. Semua teman mes sudah tidur saya pun masih belajar. Paginya saya berangkat menuju tempat tes dengan Andrey yang saya kira tempat tesnya sama karena dapat hari yang sama pada saat verifikasi berkas. Saya berangkat pukul 06.00 dari mes. Sesampainya di tempat tes ternyata tempat tes saya dan tempat tes Andrey berbeda, kemudian saya langsung pinjam motornya dan menuju tempat tes saya hanya mengandalkan google maps. Saya memacu motor dengan kecepatan tinggi, karena takut terlambat masuk ruang tes.

Sampai di tempat tes saya langsung menunjukkan BPU saya pada satpam, lalu satpam segera menunjukkan ruang tes saya. Saya sangat bersyukur karena belum terlambat untuk mengikuti tes tulis. Kemudian saya mengerjakan dengan perasaan yang masih campur aduk. Soal TPA saya pilih soal yang mudah untuk dikerjakan dan tidak memakan waktu yang lama. Kemudian saat membuka soal TBI saya bersyukur karena soalnya tergolong lebih mudah daripada soal tryout bimbel. Setelah selesai mengerjakan saya pun kembali ke mes dan menceritakan pengalaman saya yang hampir gagal mengikuti tes. Hari berikutnya teman bimbel langsung pulang ke daerah asal masng-masing.

Selang beberapa minggu teman saya memberitahu kalau saya lolos tes tulis STAN. Saya sangat tidak percaya karena saya kurang maksimal mengerjakan soal pada waktu tes. Karena penasaran saya pun langsung membuka website Sekolah Ikatan Dinas STAN dan mengunduh pengumuman, dan ternyata benar saya lolos tes tulis. Saya sangat senang dan tidak menyangka bisa lolos tes tulis. Setelah itu saya langsung meyiapkan diri untuk menghadapi tes selanjutnya yaitu tes kesehatan. Selama persiapan saya jogging setiap sore di stadion kota. Sehari sebelum tes kesehatan saya berangkat sendiri dari pacitan naik motor. Tempat yang saya tuju adalah kos kakak saya yang terletak tidak jauh dari BDK. Sesampainya disana saya dijemput karena ini adalah kali pertama saya ke kos kakak saya tersebut. Setelah sampai di kos saya langsung beristirahat supaya pada saat tes tidak kecapean.

Pagi harinya saya berangkat ke BDK setelah subuh, saya sarapan lima buah pisang yang saya bawa dari rumah. Sesampainya di BDK dapat nomor yang lumayan besar. Selama saya menunggu dipanggil saya melakukan sedikit pemanasan untuk melemaskan otot. Akhirnya tiba saatnya nomer antrean saya dipanggil oleh panitia. Setelah itu saya melakukan berbagai pemeriksaan mulai dari berat badan, tinggi badan, mata, tensi, buta warna dan pemeriksaan dokter. Pada saat tes buta warna saya langsung berkata kepada petugasnya kalau saya buta warna parsial, tetapi saya tetap di tes. Dan petugasnya malah membentak saya karena saya tidak bisa membaca nomor yang tertera pada buku pemeriksaan buta warna. Tetapi akhirnya saya lolos tes buta warna.

Setelah itu saya menunggu giliran untuk tes lari dan shuttle run. Setelah mendapat panggilan saya diangkut menggunakan mobil menuju lapangan tempat tes lari. Sesampainya di lapangan saya masih menunggu dipanggil lagi untuk melaksanakan tes. Akhirnya tiba giliran saya untuk melaukan tes lari, tetapi panitia menginstruksikan untuk melakukan peregangan terlebih dahulu. Setelah selesai kami dibariskan digaris start. Peluit berbunyi saya lari jogging untuk menghemat tenaga, target saya adalah enam putaran dalam dua belas menit. Sehingga dua menit harus dapat satu putaran. Saya sudah mensiasati dengan memakai jam tangan sehingga dapat mengetahui waktu yang saya catat dalam satu putaran. Akhirnya saya bisa mendapat enam putaran lebih.

Setelah lari kami dipersilahkan untuk minum dan beristirahat sebentar. Kemudian melanjutkan ke tes kedua yaitu tes shuttle run, atau yang biasa disebut lari angka delapan. Pada saat tes ini teman saya menyarankan untuk melepas sepatu supaya bisa lebih lincah. Benar saja saya melepas sepatu dan saya bisa melakukan shuttlerun dengan cukup baik. Setelah tes selesai saya langsung kembali ke kos kakak saya dan keesokan harinya saya kembali ke pacitan.

Selang beberapa minggu pengumuman tes kesehatan keluar dan saya dinyatakan lolos tes kesehatan. Saya sangat tidak menyangka bisa lolos sejauh ini. Karena waktu selang antara pengumuman tes kesehatan dan tes TKD hanya beberapa hari saya kembali mengikuti bimbel untuk tes TKD ditempat bimbel yang dulu. Sehari setelah pengumuman saya langsung pergi ke jogja lagi untuk mengikuti bimbel. Sesampainya di jogja saya langsung menuju tempat bimbel dan daftar lagi. Setelah itu saya tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh enam orang peserta bimbel lainnya. Bimbel hanya berlangsung selama empat hari dan setiap dua hari diadakan tryout. Pada saat bimbel itu saya belajar habis-habisan karena ini merupakan sebuah langkah terakhir untuk menjadi mahasiswa di Sekolah Ikatan Dinas STAN. Setiap hari saya menghafalkan UUD, mengerjakan soal-soal, memahami sejarah dan mengerjakan soal yang ada di smartphone. Tes TKD merupakan tes terberat dari serangkain tes karena materi yang dicakup sangatlah luas dan ditambah lagi tes TKD dilaksanakan pada waktu bulan puasa.

Pada saat tes saya mendapatkan sesi terakhir, dan itu sangatlah menyiksa karena perut sudah lapar dan mata sudah perih untuk melihat layar monitor. Tetapi saya tetap berusaha mengerjakan semaksimal mungkin meskipun teramat berat. Setelah tes selesai saya langsung pulang ke pacitan.

Setelah menunggu lama untuk pengumuman terakhir USM STAN, dan setelah sekian kali dimundurkan dari jadwal, akhirnya pengumuman keluar dan saya diterima di Sekolah Ikatan Dinas STAN pada prodi Diploma I spesialisasi pajak BDK Pontianak. Meskipun mendapat tempat pendidikan yang jauh saya sangat bersyukur bisa diterima di Sekolah Ikatan Dinas STAN.

Tinggalkan Balasan