Home » Artikel » Kebiasaan Kecil Berbuah Keberuntungan ” Bermimpi di Ikatan Dinas 2017″

Kebiasaan Kecil Berbuah Keberuntungan ” Bermimpi di Ikatan Dinas 2017″

Yang pertama kali menyarankan untuk saya meneruskan kuliah sekolah ikatan dinas 2017 di STAN adalah ibu, dan itu adalah keinginan beliau semenjak saya SMP. Waktu itu saya belum mengetahui tentang seluk beluk STAN. Setelah SMA menginjak kelas dua belas semester satu, teman-teman mulai banyak membicarakan soal perguruan tinggi, tapi yang paling sering mengenai sekolah tinggi kedinasan seperti STAN, STIS, STSN, dan yang lainnya.

Sejak saat itu saya mulai mencari tahu di internet tentang segala seluk-beluk sekolah ikatan dinas 2017 di STAN. Mulai dari informasi perkuliahannya, sampai soal-soal USM yang katanya sangat sulit. Setelah saya pelajari, menurut saya tidak sesulit yang dikatakan orang-orang untuk melampaui nilai mati yang ditentukan. Ada soal yang memang sulit karena membutuhkan logika yang sangat tajam, namun tak jarang juga soal yang membutuhkan logika intuisi seperti kebanyakan soal TPA. Ibu terus membujuk saya agar mau mengikuti tes awal sekolah ikatan dinas 2017 di STAN, karena awalnya saya bersikeras untuk masuk ITB. Tapi akhirnya SNMPTN pun tidak lolos. Lalu ibu mengungkapkan isi hatinya bahwa beliau benar-benar menginginkan saya untuk masuk STAN. Karena jika saya berhasil, maka masa depan saya akan terjamin.. Sedangkan jika diterima di universitas di luar kota Semarang beliau harus menyediakan biaya lebih untuk membayar UKT per semester.

Akhirnya saya menyetujui untuk mengikuti USM tahun 2017. Dan memilih tidak mengikuti SBMPTN. Hari USM pun semakin dekat. Saat itu saya belum banyak mempelajari soal, yang saya tahu hanyalah tipe soalnya. Saya sedikit khawatir karena waktu tersisa hanya tinggal beberapa hari lagi. Untungnya sehari sebelum tes, ibu menyarankan bahwa saya harus paling tidak sekali saja mencoba latihan mengerjakan satu paket soal sambil mengkondisikan seperti tes yang asli dengan dibatasi waktu. Hmm.. saya baru menyadari kalo cara mengerjakan saya masih urut. Saya belum berani meninggalkan soal yang sulit begitu saja demi mengejar skor di soal yang mudah. Masalahnya soal-soal yang sulit bagi saya, seperti soal ber-teks dan soal hitungan matematika, itu terletak di nomor-nomor awal, sedangkan soal yang menurut saya cukup mudah malah terletak di akhir. Untuk yang TBI, saya juga mempelajari tipe soal yang keluar dari tahun sebelumnya.

Tentang vocabulary dan grammar yang sama dengan tahun lalu. Hari USM tiba. Saya mencoba menghilangkan gelisah saat mengerjakan soal dan mencoba fokus. Berbekal pengetahuan tentang tipe soal, saya melompati soal ber-teks yang sudah pasti akan lama bila saya kerjakan. Saya langsung lompat ke soal-soal belakang. Empat puluh nomor terakhir TPA saya kerjakan semua, dan saya yakin jawaban saya benar. Sedangkan untuk Bahasa Inggris tinggal mengaplikasikan grammar yang sudah saya pelajari sebelumnya. Saya keluar dengan tenang dan ibu menyambut dengan senang. Ibu berkata bahwa selama saya mengerjakan soal, beliau memilih untuk pergi ke masjid terdekat dan berdoa kepada Allah supaya saya bisa mengerjakan soal dengan lancar dan lolos nantinya. Akhirnya pengumuman hasil USM pun keluar. Dan astaga, saya deg-degan. Pasti demikian juga dengan sebagian besar pendaftar lainnya.

Selanjutnya saya coba untuk membuka website pknstan.ac.id bersama ibu. Sebelumnya saya sudah meyakinkan beliau bahwa saya kemungkinan besar lolos, karena saya pikir saya sudah mengoreksi pekerjaan saya dan menghitung skor saya yang melampaui nilai mati untuk kedua tes yaitu TPA dan TBI. Dan ternyata memang benar, nama saya tercantum. Dan badan ibu langsung bergetar semua. Hahaha, Alhamdulillah ya Allah maturnuwun, ucap beliau. Saya hanya bisa tersenyum dan bersyukur pada Allah karena ibu sangat senang. Dari sekian banyak anak yang mendaftar, di kelas saya hanya dua orang yang lolos, yaitu saya dan satu orang teman laki-laki yang sekarang sudah diterima di D1 Bea Cukai Jakarta.

Tes selanjutnya adalah tes kesehatan dan kebugaran. Setelah berlatih cukup keras setiap hari, sejak dua minggu sebelum tes, saya berhasil lolos dengan tes kesehatan, lari 4 kali 400 meter, serta shuttle run. Lalu untuk tes TKD, saya mengeprint banyak sekali soal dari internet yang baru saya buka-buka sehari sebelum tes, ditambah menghafal bab-bab dan pasal penting di UUD, hafalan adalah kelemahan saya, ya. Itu pun malam sebelum tes ada buka bersama dan main ke lawang sewu setelahnya sampai pulang jam sepuluh malam. Ibu sangat marah karena besok pagi tes. Wah biasanya saya tidak pernah dimarahi kalau main sampai malam jika tidak ada sekolah besoknya. Saya sangat khawatir karena persiapan yang kurang. Akhirnya setelah dipaksa, mata pun terpejam pukul 12. Saya bangun pagi dan kepala saya rasanya pusing karena kurang tidur. Ibu cemas bukan main. Untung tidak kena marah hehehe karena mau tes.

Setelah tes selesai, kepala saya masih agak pusing karena soal hafalan di bagian TWK. Hasil tes pun langsung keluar dan alhamdulillah lagi, setelah saya lihat di website hasil TKD STAN 2017 Nasional, ternyata hasil saya di atas rata-rata nasional. Kata seorang senior, kelulusan TKD selain harus melampaui nilai mati juga harus lolos perankingan nasional. Yang saya tahu STAN tahun 2016 ini akan menerima lebih dari setengah peserta yang lolos tes kesehatan sebelumnya, jadi kemungkinan besar saya akan lolos. Saya meyakinkan ibu tetapi beliau selalu pesimis dan itu membuat saya sangat sedih. Sampai akhirnya kenyataan berbicara bahwa saya harus berpisah dengan ibu demi mewujudkan cita-cita. Cita-cita ibu, ya? Tidak ding, cita-cita mengabdi pada Indonesia maksudnya hehehe.. Ya, mau tidak mau ibu harus merelakan anak tunggalnya pergi merantau dan berkelana menyeberangi lautan.

Mungkin kalian berpikir bahwa saya sangat beruntung karena tidak melakukan usaha yang keras untuk masuk STAN yang jelas-jelas diincar ratusan ribu pendaftar. Tapi jangan salah, menurut saya, mungkin saya adalah orang yang paling bekerja keras dan mengorbankan banyak hal penting dalam kehidupan saya. Hmm.. saya seorang introvert. Penyendiri? Bisa dibilang. Saya juga mempunyai beberapa teman yang benar-benar dekat seperti keluarga. Tapi saya memerlukan lebih banyak waktu sendirian setiap harinya untuk mengcharge energi yang cepat habis bila berada di keramaian seperti sekolah, atau bila saya menghadiri event-event lainnya. Itu memang sudah bawaan dari lahir, pada susunan saraf otak. Jadi mau bagaimana lagi, setiap kali saya memaksa diri jadi orang yang ekstrovert di sekitar orang-orang baru atau orang-orang yang saya tidak kenal, selalu gagal. Entahlah. Tapi saya juga tidak membeda-bedakan teman yang ekstrovert maupun introvert. Karena pada dasarnya hal-hal semacam itu hanyalah penilaian manusia. Yang kita harus lakukan adalah menjadi diri sendiri.

Setiap kali saya sedang menyendiri, saya tidak berdiam diri, melainkan melakukan sesuatu yang bermanfaat, seperti membaca artikel-artikel pengetahuan dari internet semacam tentang IT, filosofi, saya suka karya kahlil gibran. Dan sering saya melamun untuk memikirkan logika dari segala hal, walaupun itu sangat sederhana, namun itu sering diabaikan orang. Saya juga sempat menulis artikel yang berjudul “Strategi Memajukan Indonesia” di blog saya yang isinya ide-ide abstrak yang sangat mustahil diwujudkan hahaha, awalnya saya pikir tidak berguna, tapi saya hanya ingin berkarya dalam kesendirian itu. Hal seperti ini saya alami hampir setiap hari. Terlebih karena saya anak tunggal dan orang tua saya sering sibuk bekerja. Jadi sehari-hari saya hanya menghabiskan waktu di rumah sepulang sekolah. Maka bukan hal mustahil kalau saya bisa mengerjakan soal USM dengan mudah. Untuk Bahasa Inggris, saya memang sudah suka Bahasa Inggris, terutama grammar sejak SMP dan kemampuan saya terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Ketika saya bangun di tengah malam dan menemukan hal yang mengganjal tentang Bahasa Inggris, saya tidak segan-segan untuk membuka kamus atau mencari tahu di internet saat itu juga. Awalnya saya mulai suka Bahasa Inggris saat Justin Bieber mulai dikenal di Indonesia. Tapi tentu saja banyak hal yang saya korbankan untuk semua itu. Saya menjadi kurang percaya diri dan sulit bergaul karena memang saya jarang sekali bertemu banyak orang di luar rumah dan berkumpul bersama-sama untuk berbincang. Paling hanya ke rumah sahabat saya yang juga introvert. Kalian tidak akan menyangka hal-hal apa saja yang kita suka bicarakan bersama. Pergi main pun hanya berdua dengan naik angkot ke kota lama.

Begitu sunyi hidup saya, itu yang saya korbankan, tanpa saya sadari. Bukan usaha yang instan. Sempat juga saya dibully oleh orang yang merasa hebat, karena waktu itu saya pendiam. Tapi saya memilih untuk terus melangkah maju dan memetik pelajaran dari setiap kejadian untuk dijadikan pengalaman. Lalu saya mulai menyadari bahwa bergaul itu penting. Jadilah saya belajar untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, meningkatkan rasa percaya diri dan sebagainya, tentu dengan dukungan sahabat, karena orang tua tidak terlalu mengerti kondisi saya. Sejak saat itu, saya mengurangi kesendirian, saya lebih banyak bergaul dan memahami karakter setiap orang. Kata seseorang, basa-basi itu adalah sopan santun. Namun tetap saja masih canggung dengan orang baru. Bacaan saya yang semula ilmu pengetahuan beralih ke berbagai ilmu psikologi sampai akhirnya saya menemukan bahwa saya adalah seorang introvert.

Menyendiri yang selalu berpikir tentang logika dan hal tidak penting telah usai. Sekarang berganti pergaulan yang untuk memahami kehidupan, dan pergi ke alam untuk mengagumi setiap ciptaan Allah, memelihara hewan sebagai sesama makhluk hidup. Begitulah perjalanan saya.. Tidak nyambung dengan tema perjuangan masuk STAN? Tapi saya benar-benar tidak punya cerita lain untuk diceritakan tentang perjuangan. Jadi apakah saya beruntung? Atau saya sudah mencuri start terlebih dahulu bertahun yang lalu? Ataukah saya anak yang malang karena belum bisa mempunyai watak dan pendirian yang kuat? Tapi saya selalu bersyukur untuk bisa belajar dari pengalaman dan kehidupan. Sekarang saya bahagia karena memiliki keluarga baru dan saya akan berusaha menjadi orang yang tidak tertutup dengan tetap menjadi diri saya sendiri. Mungkin saya akan sering membicarakan hal-hal yang aneh hahahaha..

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.