Home » Artikel » KEGAGALAN ADALAH AWAL DARI KESUKSESAN MASUK IKATAN DINAS 2018

KEGAGALAN ADALAH AWAL DARI KESUKSESAN MASUK IKATAN DINAS 2018

Saya adalah seorang siswi di salah satu sekolah menengah atas favorit yang berada di salah satu kota provinsi Jawa Tengah, yaitu kota Magelang. Tepatnya saya bersekolah di SMA N 3 Magelang. Saya adalah siswi jurusan IPS. Saya memang dari awal ingin mengambil jurusan tersebut. Walaupun jurusan IPS dipandang sebelah mata, tetapi saya tetap pada pilihan saya, karena itu memang bakat dan minat saya.

Tak terasa tiga tahun sudah saya menjalani kehidupan di masa SMA. Dan artinya saya sudah harus berjuang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Awal mulanya saya menjalani dua kali seleksi masuk perguruan tinggi. Saya terus menuruti ego saya dan memang takdir berkata lain. Saya tidak lolos seleksi di universitas yang saya inginkan tersebut. Kecewa? Pasti jawabannya adalah iya. Dihadapkan dengan keadaan yang sangat sulit sempat membuat saya berpikir untuk menyerah. Tetapi memang pada saat itu keinginan saya sangat bertolak belakang dengan keinginan orang tua saya. Orang tua saya menginginkan saya untuk melanjutkan pendidikan ke sebuah ikatan dinas. Saya percaya bahwa segala sesuatu yang saya lakukan tidak akan berjalan dengan baik tanpa restu dari kedua orang tua saya.. Seiring dengan berjalannya waktu, rasa ego yang melekat pada diri saya pun luntur.

Pada saat ada tes sekolah ikatan dinas 2018 di PKN STAN, akhirnya saya mengikuti tahapan demi tahapan. Ya. STAN adalah ikatan dinas yang diinginkan oleh kedua orang tua saya walaupun masih banyak sekolah ikatan dinas 2018 yang membuka penerimaan mahasiswa baru. Itulah yang memotivasi saya untuk dapat menjadi salah satu orang yang beruntung dari sekian banyak puluh ribu orang yang berjuang ingin menjadi punggawa keuangan Negara. Setelah tes administrasi, tibalah tes tertulis. Saya hanya membekali diri saya dengan mempelajari soal-soal usm dari tahun-tahun sebelumnya. Memang, saya merasa sedikit tidak percaya diri mengetahui teman-teman saya mempunyai semangat yang lebih dari saya untuk mengikuti tahapan tes tertulis ini. Tetapi saya yakin dengan tekad dan usaha saya yang kuat, saya pasti bisa.

Saya pun menjalani tes tertulis dan apa yang ada di hadapan saya adalah penentu masa depan saya kelak. Rasa pesimis saya pun muncul ketika tes berakhir karena lagi dan lagi saya merasa tidak yakin. Saya hanya bisa menunggu sampai waktu pengumuman tiba. Saya mulai yakin bahwa saya memang menginginkan melanjutkan pendidikan saya disini dengan jaminan masa depan yang layak. Dan ketika hari itu datang, saya benar-benar sangat pesimis. Tetapi sangat tidak diduga bahwa nama saya ada di daftar nama-nama peserta yang lolos dalam seleksi tahap tes tertulis tersebut. Saya mulai mengobarkan api semangat yang ada di dalam diri saya, satu langkah lagi saya dapat menjadi bagian dari salah satu ikatan dinas yang didambakan sebagian besar orang.

Satu tahapan seleksi lagi harus saya jalani, yaitu tes kesehatan dan kebugaran jasmani. Dan saya merasa disitulah kelemahan saya. Tapi itu tidak membuat saya patah semangat. Saya terus berlatih lari selama 12 menit setiap hari menjelang tes. Awalnya, saya merasa tidak kuat bahkan saya ingin mundur. Tetapi saya ingat apa dan siapa yang memotivasi saya sehingga saya bisa sampai di tahap ini. Fisik saya yang lemah membuat saya ragu untuk menjalani tes ini. Sampai pada akhirnya hari tes tiba, saya berusaha sekuat tenaga saya agar dapat lari semampu yang saya bisa. Dibandingkan yang lain, mungkin kekuatan saya tidak seberapa. Banyak para pesaing yang mempunyai kemampuan lebih dari saya. Tetapi saya yakin bahwa saya telah mengeluarkan kemampuan terbaik saya dan memberikan semua yang saya bisa.

 Dan sangat terkejut ketika mengetahui ketika hari pengumuman ternyata datang lebih awal dari yang dijadwalkan. Disitulah perasaan saya mulai campur aduk. Takut dan gelisah. Saya mencari nama saya di daftar nama-nama peserta yang lolos seleksi sesuai urutan abjad. Dan ternyata tidak terdapat nama saya. Saya mencoba mencari lagi dan ternyata memang tidak ada nama saya di daftar tersebut. Ya. Saya tidak lolos. Perasaan saya pada saat itu tidak dapat dideskripsikan. Sakit, marah, kecewa bercampur menjadi satu. Saya marah dan kecewa kepada diri saya sendiri karena saya merasa tidak dapat menggunakan kesempatan dengan baik. Saya telah mengecewakan kedua orang tua saya. Dan saya telah mengecewakan orang-orang yang ada di sekitar saya yang mendukung saya. Pada saat itu saya mulai menyerah.

Saya dihadapkan pada situasi dan keadaan yang sulit dan tidak bisa saya terima. Saya tidak bisa menerima keadaan tersebut. Yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah menyesal mengapa saya tidak bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik. Tinggal satu langkah lagi menuju kampus idaman, dan saya gagal. Orang-orang di sekitar saya berusaha memberikan motivasi untuk tidak patah semangat begitu saja. Apalagi kedua orang tua saya. Walaupun saya tau sebenarnya mereka kecewa. Saya bersyukur memiliki orang-orang yang berada di sekitar saya saat ini. Di saat saya jatuh dan terpuruk, mereka dengan sabar selalu mendampingi saya. Disitulah saya mencoba untuk berpikir realistis. Saya percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak mampu dilewati oleh hamba-Nya. Dia pasti tahu yang terbaik untuk saya. Dibalik semua ini pasti ada hikmah yang dapat diambil. Saya tahu bahwa masih ada kesempatan kedua. Dan itu berarti saya harus mencoba lagi pada tahun selanjutnya.

Tahun ini adalah tahun dimana saya mencoba untuk yang kedua kalinya. Alhamdulillah umur saya masih mencukupi. Dan selain itu, saya juga harus mempersiapkan untuk mengikuti tes seleksi perguruan tinggi. Saya cukup bahagia sekaligus lega karena tes tkd dilakukan di awal yang berarti nantinya tidak perlu memikirkan hal tersebut ketika menjalani pendidikan. Inilah hikmah yang bisa saya ambil dari kegagalan saya. Selama setahun belakangan, saya mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi tes ujian saringan masuk ini. Saya mengikuti bimbingan belajar selama satu bulan. Dan saya belajar dari kesalahan-kesalahan saya sebelumnya. Saya gagal pada saat tahapan tes kebugaran jasmani. Itu berarti saya harus berlatih lebih sering lagi untuk melatih ketahanan fisik saya. Selama berlatih, saya sudah merasakan perubahan yang terjadi pada diri saya. Dan memang perubahan adalah sesuatu yang datang dari diri kita sendiri. Segala persiapan sudah saya lakukan. Itu semua saya lakukan untuk mempersiapkan menghadapi tes.

Tahapan demi tahapan tes saya jalani dan saya merasa sangat diberikan kemudahan dan kelancaran. Sampai pada akhirnya tes kebugaran yang membuat saya gagal pada tahun sebelumnya. Saya berusaha agar kesalahan yang saya perbuat tahun lalu tidak terulang kembali. Saya mencoba melakukan yang terbaik. Saya tidak ingin mengecewakan orang-orang di sekitar yang mendukung saya selama ini. Dan ternyata di luar perkiraan saya, tes pada tahun ini tidak seketat tes pada tahun sebelumnya dimana hanya 200 orang yang gugur dari kurang lebih 7000 orang. Ketika tes tkd tiba, saya juga merasa kurang siap dengan materi yang sangat begitu luas dan saya juga merasa gugup karena saya belum pernah melakukan tes tkd dengan berbasis komputer. Ketika tes tkd sedang berlangsung, saya terkejut melihat soal-soal yang menurut saya itu adalah di luar jangkauan saya. Dengan rasa optimis, saya mengerjakannya satu per satu. Dan ketika melihat hasilnya, ternyata saya lolos dan mendapatkan nilai di luar dugaan saya.

Setelah tes berakhir, yang dapat saya lakukan hanyalah berdoa dan bertawakal. Dan saya tetap optimis jika saya akan mendapatkan hasil yang terbaik sesuai usaha yang saya lakukan. Karena saya percaya bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Beberapa hari kemudian, tepatnya sehari sebelum hari pengumuman merupakan pengumuman seleksi perguruan tinggi. Alangkah terkejutnya ternyata saya diterima di salah satu universitas yang saya inginkan. Usaha saya selama ini ternyata telah terbayarkan dengan hasil yang saya dapat. Dan ketika hari pengumuman datang, lagi-lagi saya sangat terkejut ketika melihat nama saya tercantum di dalam daftar nama-nama peserta yang lolos dalam seleksi. Saya tidak menyangka sekaligus bahagia karena apa yang saya lakukan selama setahun untuk mempersiapkan ini tidak sia-sia. Saya bersyukur karena dapat menjadi salah satu orang yang beruntung.

Tetapi, ada satu hal yang membuat saya kembali ragu ketika melihat lokasi pendidikan yang saya dapat. Saya mendapatkan lokasi pendidikan di kota Pontianak yang berada di provinsi Kalimantan Barat. Yang artinya, saya harus pergi ke luar pulau jauh dari jangkauan orang tua saya. Namun, atas restu kedua orang tua saya, akhirnya saya dapat mengambil kesempatan yang tidak akan mungkin saya sia-siakan lagi. Dan mereka juga lah yang mendorong saya agar tidak mundur dan harus mengambil peluang ini karena saya sudah berjuang selama setahun untuk mendapatkan kampus yang saya inginkan. Perjalanan yang saya lalui tidaklah mudah, maka saya harus mengambil kesempatan yang telah saya dapat.

Hari yang dinantikan pun tiba, saatnya saya berangkat menuju kota Pontianak yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi untuk melaksanakan daftar ulang. Tidak lupa dengan membawa semua berkas-berkas persyaratan yang telah diumumkan jauh-jauh hari. Saya berangkat dari bandar udara internasional Adi Sucipto Yogyakarta pukul 16.45 menuju bandar udara internasional Supadio Pontianak. Keesokan harinya, saya berangkat menuju Balai Diklat Keuangan Pontianak pukul 09.00 untuk melakukan daftar ulang. Disana saya bertemu teman-teman seperjuangan saya. Setelah melakukan daftar ulang, saya beserta teman-teman yang lain mencari kos untuk tempat tinggal kami selama berada di Pontianak. Karena waktu masih sebulan menjelang dinamika, esok harinya pun saya bergegas untuk pulang kembali pulang untuk mempersiapkan segala keperluan dinamika.

Motivasi terbesar saya selama ini adalah ibu saya. Beliau yang selama ini mendampingi dan memberikan dukungan moral kepada saya. Beliau adalah penyemangat saya. Dan sekarang, saya dapat membuat beliau tersenyum bangga. Menurut saya, itu adalah hadiah terbaik untuk saya. Saya dapat mengambil hikmah di dalam kegagalan yang saya alami bahwa kegagalan bukanlah penghambat kesuksesan. Saya tahu bahwa ini adalah awal dari perjalanan saya. Jangan mudah menyerah ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Sebagai manusia, kita hanya bisa berdoa dan berusaha, dan selebihnya Tuhan yang menentukan karena Tuhan mengetahui mana yang terbaik untuk kita. Dan saya berharap dapat menjalani pendidikan dengan lancar selama setahun kedepan dan dapat menjadi pegawai pajak yang amanah.

Tinggalkan Balasan