Home » Artikel » KESEMPATAN EMAS DI SEKOLAH STAN JAKARTA

KESEMPATAN EMAS DI SEKOLAH STAN JAKARTA

Sebelum saya menceritakan tentang minatku masuk sekolah STAN Jakarta, saya akan memperkenalkan diri terlebih dulu. Aku sekolah di salah satu SMA Negeri di Jakarta, tepatnya di SMAN 34 Jakarta. Seperti layaknya siswa kelas 12 SMA, semester 6 merupakan masa-masa dimana anak SMA sepertiku penuh kebimbangan. Dalam benak timbul pertanyaan-pertanyaan seperti, “Dimana aku harus melanjutkan pendidikan?”, atau “Apa Jurusan yang bagus untuk mendapatkan kerja yang layak?”. Aku sendiri tidak bisa menjawabnya.

Bulan Maret 2016, broadcast di grup-grup chat bermunculan tentang beasiswa, dan perguruan tinggi kedinasan. Munculah sebuah broadcast tentang pembukaan pendaftaran Sekolah STAN Jakarta, dan ternyata bapakku juga sudah mendapatkan kabar tersebut. Sebenernya aku sudah merencanakan masuk Sekolah STAN Jakarta sejak beberapa bulan yang lalu. Bahkan aku sudah mengikuti try out USM. Namun, aku tidak terlalu memikirkannya karena sekolah tersebut tidak begitu aku minati. Orang tuakulah yang menyarankanku untuk masuk sekolah STAN Jakarata tersebut, dan kurasa mereka sangat bersungguh-sungguh untuk memasukanku ke sekolah tersebut. Kata mereka kalau aku masuk Sekolah STAN Jakarata dan PTN, aku harus memilih Sekolah STAN Jakarta. Aku tidak tahu mengapa mereka sangat berambisius seperti itu.

Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Sekolah STAN Jakarata. Dari apa yang kubaca dari internet, sekolah ini cukup menarik perhatianku. Sekolah ini memberikan berbagai macam jurusan ada program D-III dan D-1. Pikiranku mengatakan bahwa aku cocok di jurusan pajak.

21 Maret 2016, pendaftaran Sekolah STAN Jakarata telah dibuka. Bapakku menyarankanku untuk mendaftarkan secepatnya. Aku tidak tahu buat apa buru-buru. Tapi, ternyata dihari pertama pendaftaran saja sudah ada ribuan orang yang mendaftar. Jadi, aku memutuskan untuk mendaftar dihari kedua.

Aku sudah memiliki buku kumpulan USM PKN STAN, aku mulai melatih mengerjakan soal-soalnya. Ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Akupun terus mengerjakan soal-soal yang kumiliki. Di try out pertama aku mendapatkan peringkat yang lumayan, namaku berada di halaman kedua dari 20 halaman. Kupikir ini merupakan awal yang bagus. Jadi, aku memutuskan untuk mengikuti try out lagi ditempat yang cukup jauh dari rumahku. Tak kusangka, aku malah mendapat nilai yang lebih kecil dari sebelumnya. Aku merasa tak terima, hal ini memacuku untuk belajar lebih giat lagi.

15 Mei 2016, USM PKN STAN untuk Jakarta bertempat di Gelora Bung Karno. Aku datang bersama ketiga temanku dengan diantar oleh salah satu orang tua temanku dengan mobilnya. Aku tidak menyangka pesertanya akan sebanyak ini. Aku mencari-cari dimana tempatku berada, untungnya kaka PKN STAN sangat baik, mereka menunjukanku dimana tempat duduk kuberada. Walau masih ada setengah jam lagi sebelum ujian berlangsung, aku memutuskan untuk tidak membuka buku, karena hal tersebut malah akan membuatku panik, hal ini sudah sering kuterapkan diujian-ujian sekolah. Detik-detik sebelum mulai ujian, aku berdoa kepada Tuhan untuk melancarkan ujian hari itu.

Ujian dimulai. Seperti try out yang kukerjakan sebelumnya, tidak banyak yang kubisa kerjakan dalam sinonim dan antonim kata. Namun dalam hubungan kata aku mengerjakan semuanya. Seterusnya aku mengerjakan sesuai dengan pola yang biasa kukerjakan di buku kumpulan soal USM PKN STAN maupun soal-soal try out. Aku mengerjakan bagian soal yang biasa ku anggap mudah dan memakan dikit waktu dulu, lalu kebagian yang cukup rumit. Diselingan mengerjakan soal, aku memperhatikan jam besar yang berada di Stadion Gelora Bung Karno. Ternyata waktuku untuk mengerjakan soal bagian TPA sebagian besar sudah kuhabisi. Lalu saat dua menit sebelum selesai, kaka PKN STAN memperingatkan kami untuk bersiap-siap ke ujian selanjutnya, TBI. Aku tidak menyangka akan langsung mengerjakan soal TBI. Kukira ada selingan untuk istirahat. Badanku sudah pegal sekali dikarenakan posisi tempat duduk yang sangat tidak nyaman. Di tes TBI aku sudah menargetkan untuk mengerjakan berapa soal. Saat waktu habis ternyata sangat pas sekali dengan apa yang kutargetkan.

Aku telah selesai mengerjakan USM PKN STAN tahap pertama. Aku merasa percaya diri bahwa aku akan lolos tahap ini. Kenapa? Karena aku mengerjakan semuanya sesuai targetku. Syukur aku mengerjakan soal TPA lebih dari biasanya.

25 Mei 2016, merupakan hari pengumuman USM PKN STAN tahap pertama. Pada pagi hari, seorang temanku yang juga mengikuti USM mengatakan aku lolos ujian tahap pertama. Namun, aku ingin melihat dengan mataku sendiri dengan membuka web USM PKN STAN. Ternyata benar aku telah lolos ujian tahap pertama. Aku langsung memberitahu mama dan bapak bahwa aku telah lolos. Mereka sangat bergembira, terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. Melihat mereka gembira dan bangga membuatku terharu. Aku berharap aku bisa terus lolos ujian-ujian selanjutnya.

Dipengumuman tes tahap pertama, aku dinyatakan berhak untuk mengikuti tes tahap kedua, Tes Kesehatan dan Kebugaran. Aku bukan merupakan tipe anak laki-laki yang mempunyai fisik yang kuat, karena aku tidak menyukai olahraga. Namun, mamaku selalu menyemangatiku untuk latihan fisik setiap hari. Mamakupun memberikan makanan-makanan yang dikatakan dapat memperkuat daya tahan tubuhku.

Aku latihan lari di lapangan depan rumahku. Walaupun keliling lapangannya tidak sesuai dengan standar lapangan yang akan digunakan untuk tes kebugaran, namun aku sudah memperhitungkan berapa kira-kira keliling lapangan tersebut. Saat mencoba lari mengelilingi lapangan, di putran keempat aku sudah terengah-engah. Aku mulai lari dengan langkah-langkah yang kecil. Tak terasa waktu 12 menit telah selesai. Jarak lariku masih jauh dari harapan.

30 Mei 2016, tes kesehatan dan kebugaran di Pusdiklat kepabeanan dan cukai di Rawamangun. Aku mengira sudah datang cukup pagi, namun ternyata aku mendapatkan nomor antrian sekian ratus. Setiap sepuluh orang diantar ketempat tes kesehatan untuk diperiksa oleh dokter. Setelah sampai ternyat kami masih harus menunggu lagi untuk dipanggil namanya.

Akhirnya namaku dipanggil, beratku ditimbang dan tinggiku diukur. Kemudian, aku diminta untuk menunggu lagi. Kali ini untuk pemeriksaan tekanan darah dan pengecekan mata. Saat giliranku tiba, aku diminta duduk, dan seorang panitia melilitkan alat tensimeter ke lengan kiriku. Aku bertanya kepada beliau berapa tensiku. Aku tak memperhatikan berapa tepatnya yang belia sebut. Namun, yang terpenting aku ingin memastikan apakah itu normal atau tidak. Beliau mengatakan bahwa tensiku cukup rendah. Aku berharap hal ini tidak menyebabkanku tidak lolos tes kesehatan. Selanjutnya pengecekan mata berjalan dengan lancar, karena mataku memang normal. Begitu juga dengan tes buta warna dan tes lainnya dengan dokter, aku dinyatakan sehat dan dapat mengikuti tes kebugaran.

Setelah dari ruang dokter, aku menuju seorang panitia yang mengumpulkan 10 orang untuk menjadi kloter lari. Sungguh mengejutkan, ternyata aku masuk kloter terakhir. Dikarenakan waktu sudah menunjukan pukul 11.00, kami diminta untuk beristirahat terlebih dahulu lalu kembali lagi pukul 14.00. Saat istirahat, aku menemui mama dan papaku yang menunggu diluar gedung. Tidak kusangka, ternyata mereka sudah menyiapkan berbagai macam benda-benda yang dipercaya dapat mendukung performaku saat lari. Mereka mendapat informasi ini dari orang-orang yang sudah selesai berlari. Benda yang mereka berikan adalah, pisang, gula merah, salep nyeri otot, dan madu yang dicampur garam.

Pukul 14.00, Aku dan peserta lainnya kembali ke aula untuk menunggu kloter kami dipanggil. Aku menunggu cukup lama, sampai akhirnya kloterku dipanggil dan diantar kelapangan. Sebelum lari, aku pemanasan terlebih dahulu dan mengoleskan salep nyeri otot ke betisku. Salep ini dipercaya mengurangi nyeri pada otot saat berlari. Aku juga mengemut gula merah yang diberi orangtuaku agar aku mendapatkan pasokan energi yang cukup.

Pukul 16.00, Giliran kloterku untuk lari. Dipermulaan lari aku cukup cepat dibanding yang lain. Namun, saat putaran kedua nafasku mulai terengah-terengah dan peserta lain mulai melewatiku. Langkah lariku menjadi kecil-kecil. Sampai akhirnya aku hanya mendapat 4 putaran. Pada lari angka 8 aku melakukannya dengan lancar, tanapa tahu berapa detik waktuku karena tidak diberi tahu.

15 Juni 2016, pengumuman tes kesehatan dan tes kebugaran sudah ada di website resmi Sekolah STAN Jakarata. Aku sangat gugup untuk melihat pengumuman. Tetapi, mau tidak mau aku akhirnya membuka pengumumannya. Puji Tuhan, aku dinyatakan lolos tes kesehatan dan kebugaran juga berhak untuk mengikuti tes selanjutnya, tes kompetensi dasar (TKD).

 Aku membeli buku kumpulan soal dan materi TKD. Bagiku materi yang lumayan sulit adalah bagian tes wawasan kebangsaan (TWK). Aku memutuskan untuk mememahami dan menghafal pasal-pasal di UUD 1945 untuk mempermudahku mengerjakan soal TWK.

20 juni 2016, aku datang kekampus Sekolah STAN Jakarata di Bintaro untuk menikuti TKD. Aku mengerjakan semuanya dengan lancar. Bahkan aku masih ada waktu cukup banyak padahal semua soal sudah kukerjakan. Jadi, aku memutuskan untuk mencek dari awal. Kemudian waktupun habis. Nilaiku terpampang di layar monitor. Puji Tuhan semua nilaiku berada diatas nilai minimal.

29 juni 2016, aku menunggu pengumuman ujian. Dari pagi hingga malam tidak kunjung muncul pemberitahuan di website. Ternyata pengumuman diundur menjadi tanggal 2 Juli.

2 Juli 2016, aku sudah buka website berkali-kali. Namun, tetap saja pengumuman belum ada diwebsite. Hingga pukul 24.00 pun belum ada. Aku sudah putus asa menunggunya. Kupikir akan diundur lagi. Namun ternyata beberapa menit kemudian aku mendapatkan informasi  bahwa pengumuman sudah ada. Aku segera membuka website. Puji Tuhan aku lolos menjadi mahasiswa baru PKN STAN 2016 di jurusan D-I pajak Pontianak.

Aku sangat bersyukur dapat masuk Sekolah STAN Jakarta. Aku bertekad untuk bersungguh-sungguh belajar karena aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Tinggalkan Balasan