Home » Artikel » Perjalanan Panjang Menuju PKN STAN ( Kisah Inspiratif Mahasiswa STAN )

Perjalanan Panjang Menuju PKN STAN ( Kisah Inspiratif Mahasiswa STAN )

KISAH INSPIRATIF MAHASISWA STAN-Tak terasa, perjalanan kini telah dimulai. Satu per satu tugas mulai dikerjakan, waktu berpacu cepat bagai peluru. Ya, kehidupan baru sebagai mahasiswa kini telah menantiku. Bersiap menghadapi masa depan yang sudah menunggu. Sendu dan tawa berbaur menjadi satu., menyambut datangnya momentum menuju karier, yang terbentang jauh hendak digapai, mengajak rajin tanpa ragu. Dengan penuh harapan dan doa, bersyukur aku, di hadapan Allah yang senantiasa melimpahkan rezeki dan syafaat-Nya. Berdiri di titik ini, mengingatkanku kembali kepada masa-masa dulu, tepatnya sebulan yang lalu, sebelum gegap-gempita menjumpaiku. Membawa potongan memori tentang sedikit usaha kerja keras agar dapat menuntut ilmu di kampus Ali Wardhana ini. Di tempat yang diinginkan ribuan orang seantero negeri dengan ciri khas kampusnya dengan arsitek serba baru. Semakin lama terdiam seperti ini membuat saya lupa akan rasa sakit yang telah usang dan lalu. Mengkristal oleh waktu.

Setelah ujian-ujian tulis mandiri dan SBMPTN yang penuh tekanan, tidak baik bila rasanya saya beristirahat sejenak sembari menunggu keputusan-keputusan yang tak menentu. Saya yang ketika sudah diterima di FK Internasional UGM, hanya tak acuh tentang rencana studi dokter yang hendak saya ambil di Universitas Indonesia. Sebab, fakultas kedokteran yang saya masuki itu jauh lebih mahal dibandingkan sekolah kedokteran yang menjadi incaran saya selama ini yaitu FK UI. Saya-pun memutuskan untuk menolak universitas tersebut. Kemudian, sebuah sekolah bernama IKOPIN (Institut Manajemen Koperasi Indonesia) menelpon saya dan menanyakan tentang Fakultas Manajemen SDM yang saya pilih. Akankah saya ambil atau tidak sebab, beasiswa dari Kementerian UKM dan Koperasi ini juga cukup diminati banyak orang diluar sana. Lagi-lagi saya dihadapkan ke berbagai pilihan yang membingungkan sebab mendaftar IKOPIN ketika itu hanyalah iseng-iseng mengisi waktu yang begitu luang pasca ujian.

Kakak sepupu saya yang mungkin gerah melihat kondisi saya saat itu benar-benar tidak ingin kuliah dan memilih intensif di Inten serta Zenius X. Lalu menyarankan saya mengikuti tes-tes kedinasan yang tersisa. Saya berpikir untuk mencobanya namun apa daya seluruh konsentrasi saya keika itu hanya tertuju pada sekolah kedokteran. Perguruan Tinggi Kedinasan sangat bertolak belakang dengan minat awal saya. Saya-pun melanjutkan solo vakansi saya dengan rute Malang-Bandung dan kemudian melupakan hal itu sesampainya saya di Ganesha. Saya berjumpa dengan beberapa sahabat karib yang (lagi-lagi) menyarankan untuk mengikuti tes untuk menjadi mahasiswa STAN apabila pendaftaran sudah dibuka. Saya hanya tersenyum, tetapi kemudian memikirkan hal itu kembali, apa salahnya untuk mencoba bukan? Banyak mahasiswa yang sudah berkuliah di Universitas Padjajaran saja masih berminat menjadi bagian dari mahasiswa STAN, mengapa saya pun tidak?

Ketika saya kembali ke rumah, pertanyaan itu kembali terngiang. Saya lalu mendiskusikannya kepada orang tua. Ibu saya hanya mengiyakan, tetapi menyuruh saya untuk mendafar salah satu PTS pula. Tak lama berselang, saya kembali berada di Jakarta untuk mengikuti ujian mandiri. Saya yang sama sekali tidak berminat untuk sekolah disana, tidak terlalu menaruh harapan untuk itu. Tak lama sesudah tes usai, kakak sepupu saya, meminta saya untuk mendaftar ke STAN. Sebelumnya saya menelpon ibu dan beberapa sahabat untuk saran. Setelahnya, saya segera mendaftar ke STAN, kembali berdiskusi ringan via Whatsapp bersama beberapa senior mahasiswa STAN. Sepulangnya, saya segera membeli buku soal USM-STAN, melalui kakak senior dan bersegera kembali ke kelas Inten khusus program tambahan PTK untuk yang hendak menghadapi pendaftaran mahasiswa STAN.

Tak berapa lama kemudian, saya sudah berada di tengah hiruk pikuk cafefree wifi di bilangan Kemang, di tengah kerumunan  orang dan musik dari disk jockey yang ingar bingar sementara saya di kursi paling ujung  dengan wajah tegang dan cemas sebab sudah melakukan 3 kali registrasi baru dengan perubahan password, data dan sebagainya yang tidak selesai. Dengan berdoa tak kunjung henti kepada Tuhan yang Maha Esa, saya pun meng-click laman terakhir di situs pendaftaran mahasiswa STAN. Saya menarik napas lega lalu memesan tiket pulang sebab di tes PTS tersebut saya sudah diterima, namun saya tidak ingin mengambilnya. Karena saya masih saja ingin focus pada satu pilihan : Fakultas Kedokteran.

Waktu berlalu sangat cepat hingga saya menginjakkan kaki di tempat registrasi USM di Kantor Pelayanan Pajak Sumbagsel yang tak jauh dari rumah dan mengantri bersama ayah disana. Saya bertemu teman-teman sejawat dan bercengkrama lepas. Saya merasa senang sebab pilihan saya mengikuti STAN sudah merupakan pilihan yang tepat. Sebab saya merasa sejalan dengan teman-teman satu visi dan cita, yang juga saya kenal baik. Di tengah percakapan, mereka menyinggung saya yang dulu sangat enggan mendaftar sekolah kedinasan dan ingin mandiri tanpa ikatan pemerintahan. Saya hanya tertawa lalu menjabarkan rencana saya lain. Menumpas korupsi masuk langsung ke tempat yang menjadi asal segalanya. Mereka mengangguk dan mengamini saja. Tak lama saya pun dipanggil bersama sahabat saya, Visi Gita (D3 Pajak 2015). Kami pun melangkah mantap menuju tempat pendaftaran dan berlatih soal bersama selama tiga minggu sebelum akhirnya saya kembali ke Zenius X dan Inten Tebet untuk meneruskan program bimbingan alumni.

Di Jakarta, saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk bersegera mempelajari soal-soal latihan dari tes STAN tahun sebelumnya dan berlatih fisik setiap pagi dan. Saya sudah berusaha melupakan peluang yang saya tidak ambil di fakultas kedokteran sebelumnya, kemudian tetap fokus berdiskusi dan belajar di tempat yang sangat berkesan bagi saya yaitu Zenius X. Namun, setelah pengumuman kelolosan saya di STAN pada tes kesehatan, saya berpamitan pada rekan-rekan seperjuangan saya. Saya sangat sedih, namun saya berusaha meyakinkan diri ini adalah pilihan yang terbaik untuk saya. Saya pun akhirnya lolos di KBN pada USM 2015. Saya menjadi bagian dari Dana, kelompok 32 yang didampingi oleh Raka Fariz Mirza (Akuntansi 2014, Wakil BLM dan Ketua IMMSU) dan Rakanita Alfin Ardiasmi (KBN 2013, Menteri Sosial BEM 2014) Saya sangat bersyukur telah berhasil melalui Dinamika Metamorphosa dengan IP memuaskan  dan berkesempatan tampil sebagai perwakilan angkatan pada malam penutupan Dinamika.

Hal tersebut membuat saya cukup banyak mendapat teman baru sehingga saya berkesempatan untuk aktif di Kementerian Relasi Publik dan Politik BEM KM STAN 2015/2016. Sebagai Public Relations & Affairs bersama Shobibur Rohman Ghiffari, sahabat yang kemudian menjadi andil dalam keputusan saya selanjutnya. Sebuah keputusan yang tidak terduga mengingat posisi saya yang telah melalui hampir setahun masa pendidikan dengan kehidupan organisasi kampus yang cukup baik. Saya telah menjadi bagian dari kepanitiaan Dies Natalis hingga Mapres dan juga ditawari menjadi panitia Dinamika 2016, namun saya merasa jenuh pada jurusan yang telah saya pilih dahulu sebagai pilihan pertama sehingga saya kemudian mencapai suatu fase dimana saya kembali mempertanyakan keputusan yang telah saya ambil. Saya sadari bahwa kegiatan intra-kampus lebih menarik sehingga saya mulai mengabaikan kewajiban saya.

Saya hampir tidak pernah bisa pulang sebelum jam sepuluh malam sebab banyaknya tugas kepanitiaan yang harus saya kerjakan. Shobib (panggilan akrabnya) yang merupakan ketua angkatan (D3 Pajak 2015, Dewan Kehormatan IMP) merasa bertanggung jawab penuh atas kelalaian kami berdua setelah pengumuman IP semester satu dimana saya dan dia tidak berhasil mencapai target cum laude yang dituju, terlebih dia yang kini jauh lebih sibuk dari saya dengan banyaknya jabatan yang ia emban.Sebagai tim, kamipun mengadakan diskusi dan sharing guna mengevaluasi kemampuan diri dan meningkatkan kinerja. Shobib kemudian menyarankan saya untuk pindah jurusan dan meyakinkan saya untuk pindah jurusan perpajakan , yang menerapkan ilmu yang luas untuk dieksplor. Sayapun bertanya pada alumni di IKANAS dan menjalani beberapa sesi obrolan panjang dengan senior-senior di FOKMA dan BEM untuk mendapatkan gambaran kedepan serta peluang keberlanjutan studi saya nantinya.

Setelah saya paham dan yakin, sayapun siap dan mengikuti serangkaian tes STAN dengan konsekuensi mencuri beberapa waktu kuliah dengan dibantu penyesuaian jadwal oleh ketua kelas dan ketua angkatan KBN. Akhirnya diterima pada tes pertama dan kemudian menjalani tes kesehatan di kampus Frans Seda di Rawamangun. Disana, saya saya menjumpai teman-teman saya yang kemudian ikut menyemangati pada saat tes kala itu. Mereka yang awalnya tidak tahu tentang keikutsertaan saya pada USM tahun ini kemudian membantu saya dengan caranya masing-masing seperti membelikan buku TKD dan menemani saya ketika tes TKD setelahnya. Beberapa sahabat baik saya yang berada di Akuntansi dan Perpajakan sangat mendukung hal ini dan giat berdoa untuk keberhasilan saya terutama sepupu saya, Rezky Ramadhan (BC 2014, Ketua Disiplin KMBC)  yang bersama rekan-rekan membantu akomodasi saya selama tes berlangsung. Saya benar-benar tidak ingin mengecewakan semua orang yang telah membantu banyak dan mengorbankan waktunya untuk saya. Pengumuman yang diundur tak jadi soal.

Karena pada tahun ini saya kembali gagal mendapatkan FKUI namun justru FKH Unair yang tidak saya sangka. Ibu saya tidak mengizinkan, sehingga saya hanya berketetapan pada pengumuman untuk menjadi mahasiswa STAN ini saja. Saya yang tidak pernah membuka pengumuman USM (biasanya dicari dan diberitahukan teman) pada subuh itu mendadak lemas sebab apa yang tercantum diaitu sanagat jauh dari perkiraaan saya. Terlebih di Pontianak yang asing. Tetapi saya tidak gentar dan tetap melepaskan status kemahasiswaan saya sebelumnya 9 yang terlebih dahulu telah diketahui oleh dosen pengampu saya). Meskipun saya tidak berhasil menjadi mahasiswa D3 Pajak di tahun ini, saya berusaha untuk tetap ikhlas dan tawakkal atas semua anugerah yang telah Allah berikan pada saya. Alhamdulillah, hingga detik ini , setelah saya resmi menjadi mahasiswa perpajakan, saya tidak pernah berhenti bersyukur dan berusaha memperbaiki diri guna menjadi individu yang berbakti dan berguna bagi bangsa dan negara. Barakallah.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.