Home » Artikel » STAN IS MY DREAM ! (Kisah Inspiratif Penerimaan PKN STAN)

STAN IS MY DREAM ! (Kisah Inspiratif Penerimaan PKN STAN)

Kisah Inspiratif Penerimaan PKN STAN-Setiap siswa SMA/SMK setelah lulus pastinya akan melanjutkan hidupnya dengan pilihan yang berbeda-beda. Ada yang melanjukan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti masuk ke perguruan negeri tinggi atau perguruan tinggi swasta bahkan, ke perguruan tinggi kedinasan dan ada juga yang tidak melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi melainkan langsung kerja, menganggur, dan juga menikah. Semua orang tua cenderung meminta dan menyuruh anak-anaknya untuk melanjukan pendidikan yang lebih tinggi karena persaingan saat ini sudah benar-benar ketat. Oleh karena itu, kini banyak orang tua yang memberikan anaknya pendidikan selain di sekolah dengan memasukkan anaknya ke bimbingan belajar atau menyewa guru privat yang tentunya merogoh kocek yang cukup dalam. Semua itu dilakukan oleh para orang tua demi masa depan cerah anak-anaknya. Tetapi hal ini juga harus diimbangi dengan bakat dan minat anak, agar mereka tidak merasa dirugikan jika masuk pada bidang yang tidak sesuai dengannya.

Dari sekian banyak perguruan tinggi, beberapa orang tua cenderung menyuruh anaknya untuk mencoba dan berusaha untuk masuk ke perguruan tinggi kediasan yang masa depannya sudah benar-benar terjamin, seperti Poiteknik Keuangan Negara STAN, yang dapat disingkat menjadi PKN STAN. Agar setelah lulus diangkat menjadi pegawai negeri di lingkungan Kementrian Keuangan. Banyak orang yang masih asing mendengar penerimaan PKN STAN, mungkin karena PKN STAN baru saja bertranformasi menjadi PKN STAN pada 2015 yang sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN). Oleh karena itu, banyak orang masih mengenal PKN STAN dengan nama STAN. Persaingan menembus PKN STAN tidaklah mudah, beribu-ribu lawan harus di singkirkan demi merebutkan sebuah kursi di PKN STAN. Sesuatu yang sangat fantastis. Oleh karena itu, tanpa usaha, belajar, kerja keras, doa restu orang tua, dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak akan mudah untuk bersaing dan merebut sebuah kursi di PKN STAN. Karena itu semua bukan suatu keberuntungan semata yang bisa diperleh dengan cuma-cuma tanpa adanya suatu usaha yang berarti.

Hal tersebut juga terjadi pada diriku. Sejak awal masuk ke SMA, tepatnya ketika masih duduk di bangku kelas 10, aku mulai browsingbrowsing tentang perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. Aku memiliki tekat untuk menembus masuk universitas negeri, tetapi orang tuaku menyarankan untuk ikut penerimaan PKN STAN ke dalam rencanaku. Sejak awal aku sudah berminat masuk ke PKN STAN dan aku sudah memasukkannya dalam recanaku, hal ini berarti orang tua support aku merebutkan sebuah kursi di PKN STAN. Untuk penerimaan PKN STAN pada tahun 2016, ada 3 tahapan yang harus dihadapi. Tahapan-tahapan ini bertujuan untuk menggugurkan siapa saja yang meraih nilai belum cukup.

Perjuangan masuk ke PKN STAN, kuawali dengan mencari-cari kumpulan soal-soal tes tulis beberapa tahun sebelumnya. Setiap toko buku kumasuki, kuharap dapat menemukan buku yang kuharapkan, akan tetapi aku tidak menemukannya entah aku yang tidak dapat mencari bukunya atau memang tidak dijual di toko buku. Pilihan terakhir cari buku beli lewat internet dan hal ini membuahkan hasil. Aku menemukan buku kumpulan soal-soal 5 tahun kebelakang disebuah situs yang cukup dikenal masyarakat Indonesia dengan harga yang bervariasi. 3 hingga 4 hari buku sampai di rumah, kubaca tips-tips dari penulis buku sebelum memulai mengerjakan soal-soal.

Bulan April pendaftaran di buka, sesegera mungkin aku langsung mendaftar dan memilih tempat tes di Semarang. Pendaftar yang melakukan tes di Semarang jumlahnya sudah diatas 7000. Bahkan kudengar jumlah pendaftar se-Indonesia berjumlah 120.000-an. Setelah masa pendaftar selesai, aku berangkat ke Semarang guna memverifikasi berkas. Datang pukul 06.45 aku mendapat nomor urut 182. Bisa dibayangkan sepagi itu orang-orang sudah pada datang untuk mengantri.

Masa-masa menunggu hari H ujian tulis, aku mulai menghabiskan soal-soal dari buku yang kubeli melalui online dan juga engikuti try out online yang diadakan oleh kakak-kakak PKN STAN, bahkan aku mencoba menari soal-soal di internet untuk menambah wawasanku. Akan tetapi, ada saja kesusahan-kesusahan yang kuhadapi dalam mengerjakan soal-soal tersebut. Mencoba mengontak tutorku, bertanya apakah ada waktu untuk membatu mengerjakan soal-soal yang aku tidak bisa. Akhirnya setelah bertemu tutor dan bertanya, mengerjakan soal-soal, didapat beberapa cara cepat, pokok-pokok penting untuk ngerjakan suatu soal.

Tiba H-1 ujian tulis, aku berangkat ke Semarang dari Kudus bersama orang tua, menginap ke rumah eyang. Di rumah eyang aku tetap tidak lepas dari soal-soal. Aku selalu mencoba soal-soal yang menurutku masih sulit kumengerti. Tak lupa tetap berdoa kepada Tuhan. Hari ujian tulis tiba, dengan persiapan mantap aku berangkat ke lokasi tes, diantar kedua orang tuaku. Memasuki ruang ujian, aku sudah siap mental, jadi aku udah sangat siap mendapat soal model apapun. Alhamdulillah aku dapat menyelesaikan soal-soal, bahkan aku sempat melihat sekitar, melihat anak-anak lain mengerjakan soal-soal dengan tingkat fokus tinggi. Pesaingan terasa sangat kuat di ruang tesku. Aku tetap tenang dan optimis pada tes tahap pertama. Tes selesai, aku menunggu di depan, menunggu dijemput orang tuaku. Selama perjalanan kembali ke rumah eyang, orang tuaku bertanya, “bagaimana tesnya?” Aku hanya menjawab, “Alhamdullilah,” dan berharap semoga mendapat hasil yang memuaskan.

Pengumuman tahap 1, tanggal 25 Mei, aku bangun ketika waktu sholat Tahajud. Aku bangun sholat Tahajud kemudian sesegera mungkin aku langsung mengecek website PKN STAN. Ku cek namaku di dalam daftar pengumuman, Alhamdulillah namaku tertera di pengumuman penerimaan PKN STAN. Dalam batinku 2 tahap lagi, semangat. Tahap 2 di mulai, latihan lari kupertingkatkan, seperti pagi dan sore karena sebelum-sebelumnya aku hanya lari ketika pagi hari. Dalam tempo satu minggu itu aku berlatih setiap hari hingga H-2 demi kesiapan untuk hari H. 2 hari sebelum tes kesehatan dan kebugaran, aku berangkat ke Semarang sendirian, orang tua sama sekali tidak bisa mengantar, menggunkan sepeda motor yang sekarang aku tinggal di Kudus. Itu pertama kalinya aku ke Semarang sendiri pakai motor. Belajar mulai mandiri tidak membebankan orang tua. H-1 aku survei tempat tes, di Lapangan Tri Lomba Juang, Semarang.

Hari H tiba, hari tes kesehatan dan kebugaran, pagi-pagi sekitar pukul 5 lebih seperempat pagi aku berangkat ke Lapangan Tri Lomba Juang. Aku kagum dengan semangat para pendaftar PKN STAN, ketika sampai sana sekitar pukul setengah 6 pagi sudah cukup banyak orang, bahkan nomor antrian aku sampai nomor 82. Tes kesehatan, aku dicek tinggi badan dan berat badan, mata, dan tekanan darah. Setelah itu, aku menjadi agak gugup gara-gara tekanan darah aku agak tinggi. Selanjutnya pindah ke ruangan dokter, disana di tes buta warna, varises, dan fisik. Selesai bertemu dokter, aku dipanggil untuk tes lari. Lariku kurang optimal, aku hanya bisa lari sejauh 1400 meter, hasil yang kurang memuaskan untukku, mungkin ini terjadi karena tekanan darahku. Setelah tes ini aku cukup pasrah merasa harapanku terhenti disitu. Aku hanya bisa mendekatkan diri kepada Tuhan memohon anugerahnya.

Tanggal 15 Juni pengumuman tahap kedua, hal terbdoh yang kulakukan dalam hal mengecek nama di pengumuman tahp kedua ini adalah salah melihat nomer tes, yang kulihat nomor urut ketika verfikasi bukan nomer tes yang tertera di BPU. Aku sempat benar-benar terpuruk karena salah melihat nomer tes, karena kurang yakin akhirnya aku membandingkan nomor pada lembar verifikasi dan BPU. Ternyata oh ternyata, nomorku yang benar ada di BPU. Kembali aku cek pengumuman tahap kedua ini, alangkah bersyukurnya aku, aku lolos tahap ini bahkan aku sempat menangis di pelukan ibu. Esok harinya aku langsung membeli buku TKD dan mulai mendownload soal-soal tentang TKD. Lagi-lagi hanya waktu seminggu yang diberikan untuk melanjutkan ketahap berikutnya. Menghafal dan menghafal terus ku lakukan karena aku begitu lemah dibagian tes TWK.

Lagi-lagi untuk mengikuti tes tahap 3 ini, orang tuaku tidak bisa mengantar lagi, dan berakhir aku membawa motor ke Semarang untuk kedua kalinya. Ketika hari H tes, Semarang turun hujan jadi aku mengambil keputusan untuk berangkat lebih awal sekitar satu setengah jam sebelum jadwalku pada waktu itu. Dag dig dug rasanya karena meliat anak-anak yang mungkin satu jadwal denganku asik mengerjkan soal, padahal niatku, aku tidak akan mengerjakan soal apapun dan hanya ingin mengingat-ingat yang sudah ku hafalkan. Karena gengsi takut dianggap pintar, aku ikut-ikut mengerjakan soal. Tiba waktunya untuk melakukan tes TKD, dag dig dug, tidak tenang, takut ada kesalahan yang tidak kuinginkan terjadi. Alhamdullilah tes TKD lancar, score TWK 95, lumayanlah diatas 70 dan lolos passing grade setiap subjek. Akan tetapi, lagi-lagi kehawatiran kembali melandaku, aku hanya mendapat score total sebesar 356, jauh dibawah targetku. Aku selalu berharap anugerah Tuhan ada pada diriku.

Tanggal 29 Juni tiba, sesuai jadwal harusnya pada hari itu adalah pengumuman kelulusan. Tetapi apa yang terjadi? Tidak ada pengumuman, tidak ada pemberitahuan, serasa hidup kita digantung. Beberapa teman mengatakan ada pengurangan kuota penerimaan, ada juga yang mengatakan ada penambahan kuota, ada lagi yang mengatakan, “mau nyantumin anak pejabat.” Wow!! Tetapi kata terakhir ini paling tidak kupercaya, tidak mungkin PKN STAN berperilaku buruk. Esoknya, 30 Juni, mucul kabar resmi dari website penerimaan PKN STAN, bahwa pengumuman kelulusan diumumkan tanggal 1 Juli dan berita yang muncul masih sama seperti hari kemarin. Tanggal 1 Juli, seharusnya di tengah malam sudah muncul pengumuman tetapi apa yang terjadi, hingga malam belum ada pengumuman berita-berita yang muncul mulai menjadi-jadi. Esoknya, tanggal 2 Juli, pengumuman penerimaan PKN STAN benar-benar sudah di release, Alhamdulillah wa syukurillah, anugerah Tuhan ada padaku, aku di terima di PKN STAN, impianku, tidak peduli aku diterima D1 atau D3 karena menurutku pendidikan masih bisa ditempuh walau kita sudah bekerja.

Di terima di PKN STAN pada spesialisasi Pajak dan pendidikan nantinya akan dilaksanakan di Pontianak. Awalnya orang tua berat melepas anaknya untuk bersekolah hingga keluar Jawa jauh dari orang tua, akan tetapi berkat perjuanganku dalam memohon ijin dan restu orang tua akhirnya orang tua merestui dengan hati ikhlas. Di terima di PKN STAN berarti aku harus siap untuk di tempatkan dimana saja, di semua wilayah di Indonesia ini. InsyaAllah aku siap untuk menjalaninya. Dan semoga ridho Tuhan melekat pada diriku.

Tinggalkan Balasan