Home » Artikel » Keinginan Yang Tertunda Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN

Keinginan Yang Tertunda Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN

Memiliki sebuah pekerjaan tetap yang jelas dan tetap merupakan cita-cita dan harapan bagi seluruh lulusan SMA maupun SMK dan merupakan panjatan doa yang diutarakan baik bagi siswa maupun orang tua siswa dimanapun mereka berada, dan masuk ke suatu instansi ataupun perguruan tinggi ternama juga merupakan cita-cita dan banyak orang banyak remaja yang ingin bercita-cita untuk masuk ke suatu perguruan tinggi yang membuat masa depan mereka cerah dengan suatu sistem perkuliahan yang ter-akreditasi dengan sangat bagus dan memiliki jaminan kerja yang bisa menjadikan mereka individu yang lebih berkarakter dan memiliki integritas maupun tanggung jawab sosial yang tinggi. Politeknik Keuangan Negara STAN merupakan suatu solusi bagi mayoritas siswa yang ingin melanjutkan pendidikan dengan jaminan kerja yang jelas dan biaya yang tidak dipungut sama sekali dari pihak Akademik karena memang pada dasarnya sekolah ini berbasis atau berbentuk instansi pemerintahan yang bekerja dan bersistematika dibawah naungan Kementerian Keuangan dengan macam-macam jurusan yang ada yaitu; Pajak,Akuntansi,Bea Cukai,Manajemen Aset,Kebendaharaan Negara,Penilai/PBB.

Banyak remaja remaja yang bersaing untuk mendapatkan sebuah kebanggan atau prestise tersendiri untuk masuk Politeknik Keuangan Negara STAN ,dan ada juga yang mengejar sebuah beasiswa disana. Dan termasuk saya yang ingin mengejar sebuah prestise tersebut dan meraih cita cita yang memang saya idam idamkan dahulu. Lulus tahun 2014 dari salah satu SMA di Jakarta saya yang memang bercita cita berkuliah di  Politeknik Keuangan Negara STAN sangat malas belajar tidak sepadan dengan cita-cita tinggi untuk masuk Politeknik Keuangan Negara STAN yang memiliki saingan beratus ratus ribu orang untuk menjadi bagian dari ribuan orang untuk meraih sebuah cita-cita tersebut yaitu menjadi Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN.

Dan hasilnya pun sudah bisa ditebak saya gagal pada saat tes dikarenakan telat pada saat ujian ,disitu saya merasa bahwa kesombongan karena jarang berdoa kepada yang khalik yang Maha Kuasa Allah S.W.T dan minimnya usaha yang diperbuat tidak berhasil apa apa yang dihasilkan pada saat final/akhirnya merenung dan meratapi hasil dari buah yang kita petik sendiri.Pada saat itu pun tidak satupun kata berhasil atau selamat saya dapatkan dari berbagai tes Universitas  yang saya dapatkan hanya kata maaf anda gagal! itulah kata-kata yang singkat tapi sangat menyayat hati yang menandakan sebuah kampus atau universitas itu tidak atau belom menerima saya sebagai Mahasiswa baru tahun ini. Dan keadaan ini tentu saja membuat hidup saya berubah 180 derajat dan disinilah cerita hijrah saya berlangsung.

Lalu saya kembali bimbel di Nurul Fikri salah satu tempat bimbel yang merupakan bagian dari sejarah perubahan dan kehidupan saya ,dasar yang dibawa oleh Bimbel ini adalah dasar Islam yang sangat kuat sehingga selain belajar untuk persiapan SBMPTN ataupun tes mandiri mandiri lainnya saya dapat pelajaran agama yang notabenenya dapat merubah sebuah bagian dari kehidupan saya menjadi manusia yang memiliki akhlak yang lebih baik dari yang dulu-dulu saya lakukan.

Dulu yang waktu SMA yang jarang shalat,jarang mengingat Allah,jarang membaca kitab suci agama saya sendiri,tidak bisa mengaji dan bahkan dosa dosa remaja lainnya yang saya perbuat semasa SMA dengan sebuah pergaulan di lingkungan sekolah yang tidak baik.

Dan sekarang semenjak saya bergaul dengan orang orang yang mayoritas jg gagal di tes tahun lalu tahun 2014 yang ikut berhijrah juga, sekarang saya sudah bisa mengingat Allah saya dengan interaksi lewat ibadah yang semakin rajin dan saya sudah bisa mengaji dengan baik dan benar dengan makhorijul huruf yang baik dan tartil dan saya lebih mencintai diri dan orang di sekitar saya dengan berkata yang sopan dan lebih terbuka dengan sesama jika mereka ingin selalu sharing kebaikan.Pada saat tes lagi tahun 2015 saya menjalani semua tes dengan tekun dan serius mengikuti semua tes berharap tahun itu saya lulus dan dapat berkuliah di salah satu universitas yang saya cita-citakan.

Karena selama jerih payah dan setiap perubahan maupun usaha yang saya lakukan saya optimis karena terdapat doa saya dan terutama doa orang tua saya yang selalu berusaha dan tiap hari mendoakan saya untuk bisa anaknya berkuliah tahun itu,karena saya yakin dengan setiap doa dan ikhtiar dan tawakal yang kita lakukan pasti akan hasilnya optimal.

Dan pengumuman tes pun keluar ,setelah sekian lama menunggu akhirnya saya diterima di beberapa Universitas tinggi yaitu jurusan Vokasi Akuntansi UI,Hukum UNS,dan Hukum Unair . Tapi saya sempat gambling karena semua jurusan yang saya dapati itu sesuai keinginan saya,dan setelah berunding ,diskusi,dan berdoa kepada Allah untuk diberikan petunjuk akhirnya saya memilih UI sebagai pijakan pertama saya sebagai mahasiswa baru.

Tapi saya gagal lagi pada saat tes di Politeknik Keuangan Negara STAN karena pada saat sebelum tes saya sedang ikut kegiatan masa bimbingan di UI jadi tidak ada waktu belajar buat TPA karena waktu yang sangat terbatas tapi saya tetap bersyukur pada waktu itu karena bisa berkuliah dan menikmati masa-masa saya sebagai mahasiswa disana.

Banyak sekali pelajaran yang saya petik dari kegagalan saya,dan selanjutnya cerita saya pada saat saya berkuliah di kampus berjaket kuning.Sebagai manusia yang pernah ditempa kegagalan dari segi ujian kehidupan,maupun pribadi diri saya sendiri saya tidak ingin gagal kembali dan saya bertekad untuk mendapatkan akademik dan organisasi yang baik pada saat berkuliah di UI .Saya memulai perkuliahan saya dengan proses yang baik dan pada saat semester duanya saya mengikuti banyak kegiatan organisasi dan UKM yang ada di UI.

Karena saya ingin menjadi pribadi yang komunikatif tidak hanya unggul saja dibidang akademik melainkan saya harus unggu dibidang soft skill saya dengan mengikuti berbagai organisasi dan Lembaga dakwah islam yang selalu mengingatkan saya kepada perbuatan yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik juga ,saya juga menetap di Asrama UI pada saat itu dan saya bertemu dengan orang orang hebat yang memiliki visi dan pandangan yang luas tentang sebuag cita-cita dan pembangunan yang akan mereka jadikan sebagai tujuan  mereka.Tapi yang lebih menginspirasi dari itu semua adalah teman sekelas saya sendiri yaitu Ramadhan yang biasa dipanggil Bang Rama di kelas karena paling tua di angkatan Akutansi 2015.

Bang Rama adalah mantan mahasiswa ITB yang sudah mengenyam jurusan teknik fisika selama 4 tahun hampir mau skripsi tapi karena berbagai alasan akhirnya Bang Rama keluar dari ITB dan kembali menjadi Mahasiswa Baru bersama saya alasan yang dia ceritakan itu menjadi sebuah kisah yang menarik dan dia pun menjadi salah satu panutan saya.

Dia pernah berkata bahwa  umur tidak menentukan suatu seseorang itu sukses melainkan yang menentukan seseorang sukses itu adalah sebuah kerja keras dan uletnya seseorang itu dalam menggapai cita-citanya yang fleksibel kadang kadang berubah.

Karena menurut Bang Rama cita-cita manusia bisa berubah seiring waktu tapi jangan melupakan cita cita dahulu yang pernah diimpikan ,dan pada saat itu saya langsung merenung apa cita-cita saya ,saya selalu memikirkan sepanjang saat apakah masuk UI ini adalah cita cita saya atau tidak.

Dan ternyata saya terngiang dengan STAN yang merupakan sebuah mimpi saya berkuliah dsana,saya pun memberanikan diri tes STAN kembali karena umur masih bisa untuk tes,dan tentu saja didukung support oleh orang tua sebuah panutan saya berkata umur tidak menjamin kesuksesan seseorang ,biarlah saya menjadi mahasiswa yang sudah menyisahkan sebagian umur saya untuk berhijrah dan berkuliah asal saya dapat menggapai cita cita saya.

Saya kembali melangkah optimis walaupun dalam keadaan saya sedang berkuliah dan sedang menjalani masa persiapan UAS ,disamping saya belajar TPA USM STAN saya belajar beberapa matkul yang nanti akan diujikan pada saat Ujian Akhir Semester. Dan saya hanya mendapatkan waktu belajar USM seminggu dikarenakan jadwal yang mepet dan UAS yang banyak.

Tahap pertama saya jalani dengan ikhtiar berbekal persiapan dari usaha saya berlatih , berdoa , dan doa orang tua,saya Alhamdulillah lolos di tahap pertama.Lalu tahap kedua adalah tahap yang sulit bagi saya dimana saya sudah pasrah tidak ikut UAS dikarenakan waktu yang tidak cukup dikarenakan TKK akan dilakukan pada quarter 2 jam 1 sedangkan jam 1 akan diadakan UAS.Tetapi takdir berkata lain ternyata masih diberi kesempatan jam 11 untuk mengikuti tes kesehatan karena masih bisa dan saya bersyukur saya bisa ikut tes TKK dan UAS ,dan akhirnya saya lulus pada saat TKK itu adalah momen keajaiban dan rasa syukur selalu saya panjatkan kehadirat ALLAH S.W.T . Tahap ketiga tahap tersulit karena harus menghadapi soal TKD yang terkenal sulit dibagian TWK dan itu merupakan sebuah soal abstrak yang kita pun tidak tahu asal muasal soal itu dibuat karena sangat komprehensif sekali pandanganluas terhadap soal tersebut.

Dan pada saat pengumuman semua tes saya dinyatakan sebagai Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN D1 perpajakan Pontianak,walaupun sedikit shock dengan hasil yang didapatkan karena sangat jauh dan harus merantau saya yakin bahwa semua proses yang sudah ditakdirkan merupakan jalan yang baik untuk saya jalankan sepenuh hati untuk mendapatkan hasil yang terbaik dengan effort atau usaha yang tinggi saya yakin bahwa usaha ,cita-cita ,pengalaman,dan doa tidak akan sia sia untuk masa depan nanti ,saya yang dulunya bersifat sangat buruk sekarang menjadi pribadi yang lebih baik dengan adaptasi yang bisa saya terapkan di lingkungan manapun saya tinggal.Setelah saya berdoa meminta petunjuk saya yakin bahwa Politeknik Keuangan Negara STAN adalah jalan saya.

Tinggalkan Balasan