Home » Artikel » KISAH PERJUANGAN MASUK STAN (Sebuah Kisah Inspiratif Mahasiswa STAN)

KISAH PERJUANGAN MASUK STAN (Sebuah Kisah Inspiratif Mahasiswa STAN)

AWAL KISAH PERJUANGAN MASUK STAN

Tepatnya 14 Mei 18 tahun silam. Terlahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil yang sangat sabar dan seorang ibu rumah tangga yang sangat hebat dalam mendidik anak-anaknya. Ditakdirkan sebagai satu-satunya anak laki-laki dari 3 orang bersaudara, membuatku menjadi seorang anak yang dididik untuk lebih tanggung jawab dan diberi amanah lebih dari kakak dan adik perempuanku.

Rabu, 25 November 2015 terlihat tiada yang berbeda dari ayahku. Seperti biasa ayahku harus menjalankan dinas diluar kota selama beberapa hari untuk keperluan kantor. Tiga hari berlalu, ayahku kembali ke rumah setelah menjalani dinas. Hal yang mengejutkan, sungguh aku tak percaya. Ternyata ayahku terkena stroke saat berada diluar kota. Seketika aku terdiam dan air mata pun nyaris menetes.

Kejadian ini sedikit membawa perubahan untuk diriku, hampir segala tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga kini diberikan kepadaku. Bagiku memang tak mudah, tetapi untuk membalas jasanya aku harus siap menjalaninya. Cobaan terasa sangat berat, namun aku selalu ingat bahwa Allah takkan menguji hambaNya diluar batas kemampuan kita.

Hari demi hari berlalu, meskipun tanggung jawab yang diberikan tidaklah sebesar tanggung jawab yang diemban Ayahku. Namun, aku sadar  bahwa tanggung jawab dan apa yang dirasakan kepala keluarga tidaklah mudah. Aku harus pandai-pandai untuk membagi waktu antara tanggung jawab sebagai di rumah dan tanggung jawab sebagai siswa di sekolah.

Sebagai seorang siswa yang sedang duduk dikelas 12, pastilah aku sangat berharap untuk diterima di universitas negeri ternama. Hari terus berlalu, tibalah saatnya untuk mendaftar sebagai calon mahasiswa melalui jalur SNMPTN. Segala berkas telah ku persiapkan, diskusi  kepada orang tua dan guru juga ku lakukan untuk memilih di universitas mana dan jurusan apa yang akan menjadi tempatku untuk melanjutkan pendidikan.

Disisi lain, sebagai seorang remaja labil aku pun bimbang dengan pilihanku di SNMPTN, terbesit dipikiranku Berapa banyak jumlah pengangguran diluar sana yang memiliki gelar sebagai seorang sarjana?. Ya, tentu saja hal ini membuatku bimbang akan masa depan. Lalu aku pun juga mempertimbangkan untuk mendaftarkan diri disalah satu perusahaan milik BUMN. Atas saran dari kedua orang tua, aku pun mendaftarkan diri disana.

Setelah itu semua sudah ku lakukan, aku memulai mimpi yang sudah beberapa tahun ini ku impikan. Dengan izin Allah dan izin kedua orang tua, aku memulai kisah  perjuangan ku masuk STAN. Puluhan bahkan ratusan kali aku memohon petunjukNya serta kelancaran atas semua ikhtiarku.

Namun, ini semua harus kujalani dengan syarat aku harus lulus dari satuan pendidikan yang sedang kujalani. Aku harus melewati ujian pertamaku untuk jalan panjang ini yaitu, Ujian Akhir Nasional sebagai syarat untuk menyatakan bahwa aku lulus sebagai siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Pontianak.

Untuk mengisi waktu libur yang cukup lama setelah UN, aku bekerja disalah satu toko milik saudaraku. Disela-sela pekerjaan itu, aku mempersiapkan diri dengan belajar untuk menghadapi Ujian Saringan  Masuk PKN STAN. Dan hari yang ku tunggu pun tiba. Minggu, 15 Mei 2016 bertempat di SMA Negeri 1 Pontianak, aku mengawali langkahku sebagai mahasiswa STAN, meskipun aku sudah diterima disalah satu universitas negeri di kota ini dan aku juga lulus ke tahap kedua seleksi karyawan di perusahaan milik BUMN.

Tak terlalu berharap melebihi ikhtiar yang kulakukan, ku panjatkan doa kepada Sang Pencipta Langit dan Bumi agar ikhtiar  dan usahaku tak sia-sia tak lupa kuselipkan do’a untuk kedua orang tuaku yang selalu mendukungku dan menyebut namaku disetiap doa mereka. Disinilah keyakinanku diuji, teringat pesan dari guruku Doa takkan mengkhianati ikhtiar.

Terus berdoa dan berusaha, hingga tiba hari yang ditunggu. Pukul tiga dini hari. Selamat, Fiq. Begitulah pesan pribadi yang dikirimkan oleh temanku yang membangunkan aku dari tidur lelapku. Menarik nafas panjang, kubuka website resmi PKN STAN dan namaku tertulis sebagai salah satu dari 45 peserta yang dinyatakan lulus USM PKN STAN dari lokasi tes Pontianak.

Rasa senang, bahagia dan haru menjadi satu. Namun, keyakinanku kembali diuji ketika aku kembali dinyatakan lulus di tes tahap ketiga di Perusahaan BUMN yang juga terus kuikuti setiap tahapan tesnya. 2 Juni 2016, dengan penuh pertimbangan aku dan teman seperjuanganku bertolak ke Ibukota Negara untuk mengikuti Tes Kesehatan dan Kebugaran PKN STAN yang akan dilaksanakan dua hari setibanya kami disana.

Pukul 5 pagi, kami bertolak dari penginapan dijalan Otista untuk berangkat ke Pusdiklat Bea dan Cukai, Rawamangun, Jakarta Timur. Disini pertolongan Allah benar-benar nyata. Aku berhasil melewati tahap tersebut dengan cukup baik. Berselang dua minggu kemudian aku dinyatakan lulus di TKK tersebut dan berhak mengikuti Tes Kompetensi Dasar (TKD) sekaligus tahapan terakhir dari Ujian Saringan Masuk PKN STAN 2016.

Kembali ke Pontianak aku juga melanjutkan tes kesehatan di Perusahaan BUMN itu. Hingga tiba waktunya aku harus kembali ke Jakarta tepatnya di Kampus PKN STAN Bintaro untuk menjalani tahapan terakhir seleksi mahasiswa baru. Beberapa jam sebelum menjalani TKD aku telah tiba di lokasi agar aku lebih siap.

Aku duduk disalah satu toko alat tulis disekitar lokasi tes, aku sedikit berbincang-bincang dengan pemilik toko. Anda Muslim? Tanya pemilik toko kepadaku. Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh terlalu berharap besar. Kita harus lebih banyak melakukan tindakan nyata daripada harapan-harapan serta rencana-rencana yang belum tentu bisa terealisasi. sambungnya sambil menatapku.

Aku tertunduk lesu, seakan ini adalah pukulan keras yang tepat mendarat diwajahku. Memang benar, aku terlalu berharap besar untuk lolos sebagai mahasiswa PKN STAN. Terlalu banyak rencana kedepan yang kubuat jika aku lolos sebagai mahasiswa PKN STAN dan sebagai calon PNS dilingkungan Kementerian Keuangan. Serahkan semua hanya kepada Allah, jika bukan rejekimu disini, Insya Allah akan dibukakan pintu rejeki yang lebih baik untukmu. Selamat berjuang semoga sukses perkataan terakhir inilah yang membuatku semangat dan sepenuhnya ku serahkan hasil ikhtiarku kepada Sang Khalik.

Benar saja hasil TKD ku tidak begitu memuaskan dibandingkan hasil teman-teman yang lainnya. Namun, kembali ku yakinkan diri ini Ingat! Apa yang melewatkanmu takkan pernah ditakdirkan untukmu, dan apa yang ditakdirkan untukmu takkan pernah melewatkanmu. ucapku dalam hati sambil berusaha untuk tetap bersyukur atas semua ini.

Hasil Kisah Perjuangan Masuk STAN

Rabu, 29 Juni 2016 pukul 12 malam tepat aku yang sudah tak sabaran menanti hasil akhir dari perjuanganku selama ini hampir setiap menit aku terus mengikuti perkembangan untuk mengetahui hasilnya, namun tak kunjung ada. Hingga siang hari aku mendapat informasi bahwa pengumuman kelulusan ditunda dua hari kedepan.

Seperti hal yang kulakukan sebelumnya, aku terus menanti perkembangan informasi tersebut. Hingga  pukul sebelas malam lewat aku mendapatkan informasi tentang kelulusan dan diterima sebagai mahasiswa PKN STAN. Secara perlahan ku geser dan terus menggeser kebawah layar handphoneku sambil terus mengucapkan doa untuk apapun hasil kedepannya.

Sontak saja, air mataku menetes. Aku dinyatakan lulus sebagai mahasiswa PKN STAN, air mata bahagia, haru dan gemetar bercampur jadi satu saat itu. Sujud syukur kepada Sang Pemilik Jagad Raya, sungguh anugerah yang telah diberiNya tak mampu untukku ungkap dengan kata. Perjuangan yang sungguh tak sia-sia, kisah perjuangan ku masuk PKN STAN merupakan pengorbanan karena aku harus melepas kesempatan menjadi mahasiswa di universitas negeri di Pontianak dan bagian dari karyawan Perusahaan BUMN.

Karena tujuan utamaku ialah PKN STAN dan prospek masa depan yang Insya Allah lebih terjamin dari kedua kesempatan tersebut, aku membulatkan tekad untuk melepas kedua kesempatan tersebut. Dan aku percaya, apa yang telah terjadi kepadaku semuanya tak lepas dari kehendak oleh Sang Maha Berkehendak. Tiada yang kebetulan, karena rejeki diatur Allah dan tinggal bagaimana cara kita untuk menjemput rejeki tersebut.

Ingat! Jangan terlalu berharap tanpa ada tindakan nyata dan nyatakanlah sebuah harapan dengan tindakan. Karena tiada yang mustahil bagi Allah dan Ikhtiar takkan pernah mengkhianati doa.

Wassalam

Tinggalkan Balasan