Home » Artikel » KUTINGGALKAN KAMPUS IDAMAN DEMI MENGIKUTI USM STAN

KUTINGGALKAN KAMPUS IDAMAN DEMI MENGIKUTI USM STAN

Saya lulusan tahun 2015, sedikit cerita mengenai perjuangan saya untuk masuk mengikuti USM STAN. Awal mula ingin kuliah di PKN STAN ini mungkin berasal dari ayah saya yang dulu kuliah di STAN dan juga dorongan dari orang tua tentunya. Masa depan yangkata orang-orang sudah terjamin menjadi salah satu alasan saya juga menjadikan STAN sebagai salah satu kampus tujuan saya selain Unpad pada saya SMA kelas 1.

Perjuangan saya dimulai pasca Ujian Nasional pada tahun 2015. Belajar untuk persiapan ujian masuk kampus sudah menjadi makanan sehari-hari. Otak dipaksa untuk menguasai materi-materi ujian yang nantinya akan diujikan pada ujian masuk kampus. Pada tahun 2015, saya mencoba berbagai macam ujian untuk masuk kampus, seperti SBMPTN (gagal), Ujian Mandiri PTN-PTN (lolos salah satu UM), dan salah satunya yaitu, mengikuti USM STAN ini. Di tahun pertama saya lulus tepatnya pada tahun 2015, saya dinyatakan gagal lolos tahap awal USM STAN. Hal yang membuat saya gagal mungkin adalah sikap malas saya untuk belajar dan mempersiapkan bekal untuk ujian-ujian masuk kampus. Pada tahun 2015, saya sudah tiga kali gagal lolos ujian masuk kampus.

Hal ini tentu membuat mental saya turun, rasa putus asa dan ingin menyerah yang saya rasakan pada saat itu, tiga kali ujian untuk masuk kampus tetapi tidak ada satupun yang lolos hal ini yang mendasarkan saya ingin menyerah untuk tidak mengikuti ujian masuk kampus apapun. Ingin rasanya berhenti berusaha untuk mengejar kampus impian, tetapi di lain sisi saya tidak ingin mengecewakan kedua orang tua saya. Tetapi, ada salah satu ujian mandiri yang berhasil saya dapatkan. Pada tahun itu saya berhasil lolos Ujian Mandiri Unsoed yang akhirnya pada tahun 2015 saya menjadi maba di Unsoed jurusan Administrasi Negara.

Perjuangan pertama saya mengikuti USM STAN berawal dari ketika saya sudah diterima menjadi mahasiswa di Unsoed, karena pada saat itu pembukaan USM STAN agak sedikit terlambat daripada tahun 2016 ini. Momen atau peluang yang sudah saya tunggu-tunggu untuk bisa menjadi mahasiswa di STAN. Peluang sudah di depan mata, saya tidak ingin melewatkan peluang ini, dan akhirnya saya mencoba USM STAN dengan status sudah menjadi mahasiswa Unsoed.

Perjuangan saya ketika itu adalah pada saat itu saya yang sudah berstatus mahasiswa Unsoed sedang menjalankan rangkaian kegiatan pra-kuliah yang dikhususkan untuk maba, seperti PKKM dan PKK (ospek). Pada tahun 2015, USM STAN bertepatan dengan rangkaian kegiatan ospek, tepatnya hari terakhir ospek. Saya izin satu hari untuk bisa mengikuti USM STAN, perjalanan yang lumayan jauh dari Purwokerto sampai Jakarta (karena saya mengambil tempat ujian di Jakarta).. Perjalanan yang cukup menguras tenaga terlebih lagi perjalanan saya dari stasiun saya turun yaitu Jatinegara ke rumah saya yang berada di Kabupaten Bogor tepatnya di Kecamatan Jonggol. Sampai rumah saya langsung istirahat karena tenaga sudah terkuras selama perjalanan pulang sekaligus untuk menyimpan tenaga karena esok harinya akan mengikuti USM STAN di GBK tahap awal dan sorenya langsung pulang lagi ke Purwokerto. Singkat cerita tahun 2015 saya dinyatakan gagal lolos tahap awal USM STAN. Disitu kadang saya merasa sedih.

Perjuangan selanjutnya di tahun 2016 kesempatan kedua saya untuk ikut USM STAN. Pada tahun 2016, sebenarnya saya sudah tidak berminat lagi untuk masuk PKN STAN, mengapa ? karena saya sudah betah kuliah di Unsoed dan tidak berniat untuk pindah ke kampus lain. Tetapi, dorongan orang tua saya terutama ayah saya yang membuat saya akhirnya dengan sedikit terpaksa mengikuti USM STAN lagi. Mengapa saya bilang terpaksa ? karena saya sudah pernah mengalami yang namanya ditolak sekali, dan itu rasanya sakit sekali. Saya mengambil tempat ujian di Jakarta lagi, yang sekaligus perjuangan saya untuk menempuh Bogor-Purwokerto pun berjalan lagi. Singkat cerita, H-1 verfikasi berkas saya pulang ke Bogor, tidak ada yang spesial dari selama verifikasi berkas. Begitupun USM STAN tahap awal, tidak ada yang spesial. Lagi-lagi pulang pergi Purwokerto-Bogor.

Hanya perjalananlah yang menjadi perjuangan saya untuk dapat mengikuti USM STAN, tidak ada perjuangan yang lain selain perjalanan. Jujur saya mengikuti USM STAN pada tahun 2016 tanpa mempersiapkan apapun, tidak belajar karena fokus saya pada saat itu hanyalah kuliah di Unsoed yang jadwalnya sudah cukup padat terlebih karena saya mengikuti suatu kepatnitiaan dan kegiatan UKM. Tentulah hal ini membuat saya pesimis untuk dapat lolos USM STAN, tak ada lagi semangat yang membara seperti tahun lalu ketika saya mengikuti USM STAN pertama kalinya. Kurangnya motivasi untuk mengikuti USM STAN juga yang membuat saya pesimis. Di tahun 2016 ini, saya hanyalah mencoba peruntungan saja di USM STAN ini, bila diterima saya syukuri tetapi bila tidak diambil hikmahnya saja.

Akhirnya saya dinyatakan lolos tahap awal USM STAN. Itupun saya tidak tahu bila saya lolos tahap awal, ada teman saya yang sama-sama kuliah di Unsoed yang memberitahu bahwa saya lolos tahap awal. Karena pada saat itu saya kurang tertarik untuk membuka pengumumannya, bukannya apa-apa tetapi saya sudah yakin bahwa saya akan gagal lagi pada saat itu. Dan akhirnya saya menelpon orang tua saya untuk mengecek nomor BPU yang ada di pengumuman apakah sama atau tidak, tetapi pada saat itu tidak diangkat sama sekali, seharian penuh tidak ada kabar dari orang tua saya. Akhirnya saya hanya bisa menunggu kabar dari orang tua saya keesokan harinya. Dan akhirnya pagi-pagi ayah saya menelpon memberitahu bahwa saya dinyatakan lolos tahap awal. Dari situ saya baru percaya bahwa saya lolos, tetapi tetap saya tidak menyangka akan hal ini.

Selanjutnya saya mengikuti ujian tahap dua atau TKK. Setelah saya dinyatakan lolos tahap awal, saya memulai latihan kebugaran. H-3 TKK saya sudah pulang ke bogor dan lagi-lagi perjalanan yang menguras banyak tenaga dan waktu serta biaya kembali terulang. Pada saat itu pihak kampus Unsoed meliburkan mahasiswanya pada hari senin dan selasa karena ada penyelenggaraan SBMPTN di kampus, sehingga saya bisa bersantai terlebih dahulu di rumah mempersiapkan kebugaran dan menjaga kesehatan saya. Saya mengikuti TKK di jakarta pada hari terakhir TKK yaitu hari jumat. Dari rumah sudah berangkat dari pukul setengah 6 pagi. Sampai di pusdiklat rawamangun sekitar setengah 8. Saya mendapat nomor antrian agak terakhir, yang nantinya berkesempatan berlari sekitar pukul 3. Di dalam benak pikiran sudah terpikir bahwa pasti panas nih. Tetapi, bersyukur cuaca ketika itu sangat mendukung karena mendung. Selesai tes TKK, saya langsung pulang ke rumah. Tinggal menunggu hasil dari tes TKK.

Hari-hari pun berlanjut, saya kuliah seperti biasa. Dan tiba saatnya pengumuman TKK, alhamdulillah saya masih bisa lolos sampe tes tahap dua ini. Saya sebenarnya tidak menyangka bisa sampai sejauh ini. Karena dengan bekal dan persiapan yang belum matang ini yang akhirnya saya tidak percaya sama diri saya sendiri bahwa saya bisa sampai sejauh ini. Tetapi, keterkejutan saya tidak hanya sebatas keberuntungan yang saya dapat sejauh ini, saya mendapat ketidakberuntungan, yaitu Ujian TKD saya bertepatan dengan jadwal UAS saya. Rasa dilema melanda diri saya ketika itu, antara mengikuti Ujian TKD atau UAS. Akhirnya saya curhat kepada ibu saya, dan sampai pada keputusan, bahwa saya akan lebih memilih mengikuti Ujian TKD daripada UAS. Karena pada saat itu ibu saya bilang masih bisa mengikuti ujian susulan nanti.

Persiapan mengikuti TKD sebenarnya antara siap dan tidak siap, di lain sisi saya harus tetap belajar untuk UAS sekaligus juga saya harus belajar TKD. Tetapi, pada saat itu saya lebih memilih memperbanyak belajar UAS daripada belajar untuk persiapan TKD. Karena seperti kebanyakan mahasiswa pada umumnya, mereka tidak ingin bila nilai-nilai mata kuliahnya jelek, maka dari itu saya lebih memilih belajar untuk persiapan UAS. Bahan pertimbangan saya yaitu materi-materi TKD yang nantinya diujikan masih sehubungan dengan mata kuliah yang pernah saya dapatkan di semester satu yaitu PKn. Sehingga saya hanya perlu mengingat-ngingat saja, walaupun pada akhirnya saya tidak membuka buku yang berhubungan dengan persiapan ujian TKD sampai ujian TKD pun terlaksana. Perasaan deg-degan ketika ujian TKD karena belum mempersiapkan apapun, sekaligus beban pikiran karena tidak mengikuti UAS menambah beban saya ketika ujian TKD.

Ujian TKD pun selesai, dan saya pun dinyatakan memenuhi passing grade yang sudah ditentukan. Hanya tinggal selangkah lagi bisa kuliah di PKN STAN, oh iya semangat saya untuk masuk STAN yang pada saat tahap awal tidak terlalu semangat, tetapi pada saat Ujian TKD semangat saya kembali seperti saat pertama kali saya mengikuti USM STAN tahun 2015. Karena hanya tinggal selangkah lagi saya bisa kuliah di PKN STAN, peluang yang tidak akan saya sia-siakan. Walaupun hanya dengan persiapan belajar yang sedikit tetapi saya harus tetap semangat mengerjakan Ujian TKD. Dan hari pengumuman pun tiba, semua keluarga saya sangat antusias menanti pengumuman kelulusan USM STAN saya, terutama ayah saya. Dan akhirnya saya dinyatakan lulus USM dan ditempatkan di jurusan pajak dengan tempat pendidikan di Pontianak. Senang sekali bisa melihat orang tua saya bangga dengan saya.

Walaupun saya telah dinyatakan sudah lolos USM STAN, tetapi hati saya masih tidak rela meninggalkan kuliah saya di Unsoed. Teman-teman yang sudah sangat nyaman menjadi salah satu alasan saya, serta kecocokan saya dengan jurusan yang saya ambil di Unsoed pun menjadi alasan saya berberat hati untuk meninggalkan kampus Unsoed. Sedih sekaligus senang ketika saya diterima masuk ke kampus PKN STAN ini. Sedih karena saya harus meninggalkan kuliah di Unsoed, dan senang karena saya telah diterima di PKN STAN.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.