Home » Artikel » MELAWAN KERAGUAN MENAPAKI MASA DEPAN

MELAWAN KERAGUAN MENAPAKI MASA DEPAN

Melawah Karaguan Diri Sendiri "Susahnya Masuk STAN"
Melawah Karaguan Diri Sendiri “Susahnya Masuk STAN”

Anggapan mengenai susahnya masuk STAN merupakan keraguan dalam diri yang harus dihilangan. Keraguan sebelum malakukan usaha adalah tindakan yang bisa memutuskan sebuah impian masa depan. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) merupakan salah satu sekolah lanjutan impian bagi banyak orang. Bukan hanya siswanya sendiri tetapi juga impian para orang tua, Begitu pula dengan saya, STAN telah menjadi salah satu sekolah impian saya walaupun bukanlah jalan yang selancar jalan tol untuk melewatinya.

Kelas tiga SMA merupakan saat yang paling membingungkan selama masa SMA, kita harus menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikan baik perguruan tinggi ataupun sekolah tinggi yang akan menentukan masa depan kita. Saat kelas tiga SMA pun saya mendaftar perguruan tinggi melalui SNMPTN dan juga SBMPTN (karena gagal SNMPTN), saat itu saya masih mengharapkan untuk ikut USM STAN, Akan tetapi pada saat itu (tahun 2015) ada berbagai rumor tentang STAN yang mengatakan bahwa tahun itu STAN tidak akan menerima mahasiswa baru lagi dan saya pun mulai percaya, alhasil setelah diterima SBMPTN saya mulai lengah mengenai informasi STAN dan akhirnya saya ketinggalan informasi pendaftaran USM STAN 2015 yang baru saya ketahui setelah H+1 penutupan pendaftaran. Walaupun kecewa saya tetap berbesar hati karena mungkin itu belum rezeki saya dan saya pun melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi dengan niat untuk mencoba USM STAN 2016.

Saat menempuh pendidikan di PTN, saya merasa tidak terlalu nyaman karena berada pada jurusan yang tidak terlalu saya minati, sehingga keinginan saya untuk ikut USM STAN semakin meningkat. Di kampus saya juga bertemu dengan beberapa teman yang juga ingin masuk STAN dan berniat untuk ikut USM bersama, sehingga saya semakin bersemangat. Tetapi setelah mendekati hari pendaftaran banyak teman saya yang ragu karena sudah merasa nyaman dengan suasana kampus dan ketidakinginan untuk menjadi mahasiswa baru lagi yang kita pikir cukup melelahkan. Saya pun awalnya juga merasa begitu, akan tetapi saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya jika saya telah lulus dari jurusan itu. Akhirnya saya tetap melanjutkan apa yang awalnya menjadi keinginan saya. Dan dengan dorongan orang tua, saya pun mendaftar USM STAN 2016.

Hal yang paling berkesan mengenai perjalanan saya sampai diterima di STAN adalah pada saat proses verifikasi. Saat itu saya memilih tempat lokasi di Semarang sesuai dengan tempat saya kuliah. Karena saya tidak bisa naik motor dan saat itu hari Kamis yang berarti kuliah padat, saya tidak bisa meminta teman untuk mengantar saya. Saya pun akhirnya memutuskan untuk naik Gojek. Saya yang waktu itu berangkat sekitar pukul 07.30 WIB merasakan macetnya Semarang di pagi hari dan sampai sekitar pukul setengah sembilan  di GKN Semarang dan mendapat antrean nomor 400 lebih.

Setelah menunggu antrean selama sekitar dua setengah jam di lapangan luar GKN yang panas, saya mengecek kembali perlengkapan saya dan saya pun sadar bahwa saya salah membawa fotocopy ijazah karena yang saya bawa adalah fotocopy SKHUN. Setelah meminta izin kepada petugas untuk mengambil fotocopy ijazah, saya memesan Gojek lagi untuk kembali ke kost-an saya. Sesampainya di kost, saya mencari fotocopy ijazah saya yang ternyata hanya tinggal satu lembar, saat itu saya merasa bersyukur karena jika satu lembar kertas itu tidak ada saya bisa gagal untuk mengikuti USM STAN. Dengan Bapak Gojeg yang sama, saya kembali ke GKN untuk melanjutkan antrean.

Sesampainya di sana, tak beberapa lama kemudian saya mendapat giliran untuk memasuki aula gedung GKN lantai tiga yang lebih sejuk daripada di luar. Dan lagi-lagi saya merasakan suatu keganjalan, kali ini dengan foto saya yang lebih kecil dari foto teman-teman yang lain. Foto yang seharusnya 4×6, tapi saya malah membawa foto 3×4. Dengan izin dari petugas lagi saya kembali ke kost-an dengan menelepon bapak Gojeg yang sebelumnya. Lagi-lagi saya harus melakukan perjalanan pulang pergi Tembalang-GKN yang bila dihitung sekitar satu jam. Saya merasa sangat kesal pada diri sendiri karena begitu ceroboh, ditambah lagi harus merasakan panas teriknya matahari Semarang yang saat itu sangat panas.

Sesampainya di GKN lagi, saya langsung menaiki lantai tiga gedung GKN dengan lelah, dan akhirnya saya pun berhasil melakukan verifikasi berkas. Dan akhirnya saya bisa pulang dengan lagi-lagi menggunakan Gojeg. Selama perjalanan pulang saya berpikir bahwa kecerobohan saya tadi merupakan tanda saya tidak akan diterima sehingga saya menjadi pesimis. Saya juga merasa sedih karena kecerobohan saya, membuat ongkos saya selama verifikasi menjadi membengkak. Dengan ongkos Gojeg Tembalang GKN Rp30.000 setiap pergi, saya menghabiskan Rp180.000, yang untuk ukuran anak Kost itu merupakan jumlah yang besar apalagi saya seharusnya hanya harus mengeluarkan Rp60.000 apabila saya tidak ceroboh. Walaupun begitu saya sangat berterimakasih kepada bapak Gojeg yang mengantar saya selama verifikasi.

Perjuangan yang selanjutnya adalah test tertulis USM, saat itu saya melihat di internet mengenai perbandingan calon lolos dan jumlah peserta. Angka itu membuat nyali saya menyusut, apalagi saya tahu bahwa banyak calon peserta yang telah belajar dengan sangat giat dan juga mengikuti berbagai bimbingan belajar. Saya yang waktu itu hanya belajar sedikit dan seadanya karena tugas dan kegiatan kuliah, merasa tidak yakin bisa lolos. Ditambah lagi sebelum melakukan saya mengalami sakit perut, sehingga kurang konsentrasi dalam mengerjakan soal. Tetapi saya masih berharap dan selalu berdoa semoga bisa lolos. Dan setelah hari pengumuman tiba, saya yang tidak berani membuka pengumumannya mendapat pesan dari kakak saya bahwa saya lolos test tertulis, saat itu saya merasa sangat senang, karena walaupun itu baru tahap pertama saya berhasil mengalahkan ribuan orang diluar sana.

Tahap penyisihan yang tidak kalah menegangkan adalah test kesehatan dan kebugaran. Saya yang tidak biasa berolah raga, mulai berlatih untuk lari yang merupakan salah satu tes kebugaran. Untungnya disaat yang bersamaan saya memiliki mata kuliah olahraga yang juga mengharuskan saya untuk berlari mengelilingi stadion yang ukurannya hampir sama dengan lokasi TKK, jadi saya juga dapat berlatih untuk TKK. Saat menjalani test kesehatan saya merasa khawatir jika nanti saya ternyata tidak cukup sehat untuk melakukan test kebugaran Tapi ternyata saya memang sehat, dan saya pun melakukan test kebugaran.

Karena saya berangkat tidak terlalu pagi saya pun mendapat antrean yang cukup banyak, sehingga saya harus lari pada sekitar pukul sepuluh yang mataharinya cukup terik. Saya yang biasanya latihan lari hanya pada pagi hari tidak terbiasa dengan panasnya, sehingga saya hanya mendapatkan tiga tiga-perempat putaran yang kurang dari standar lolos test kebugaran, sehingga saya merasa was-was  dengan hasil TKK yang akan saya terima. Saat lolos dari test TKK saya merasa sangat bersyukur dan merasa sedikit heran karena bisa lolos.

Walaupun telah lolos TKK saya tidak bisa langsung merasa tenang karena masih ada satu tahap lagi yang harus dijalani yaitu TKD yang katanya cukup sulit. Waktu itu saya mencari materi-materi di internet untuk bahan belajar. Saat hari test tiba saya datang terlalu awal, saya yang mendapat sesi ke-empat datang pada sekitar pukul satu siang padahal test baru akan dimulai pada setengah empat. Melihat hasil-hasil TKD yang terpasang di depan GKN dari sesi sebelumnya, saya merasa sedikit panik, khawatir jika nilai saya tidak memenuhi. Saat memasuki ruangan saya mencoba mengerjakan semampu saya. Setelah waktu habis dan nilai TKD muncul adalah saat yang cukup mendebarkan dan melegakan karena nilai saya memenuhi, walaupun nilai saya tidak terlalu tinggi saya tetap merasa bersyukur karena berarti saya masih memiliki harapan lolos Ujian Masuk PKN STAN.

Setelah melewati tiga tahap penyisihan, saat yang ditunggu pun tiba yaitu hasil akhir diterima atau tidaknya menjadi mahasiswa PKN STAN. Saat itu pengumuman dijadwalkan pada tanggal 29 Mei 2016, saya yang waktu itu berdebar-debar menantikan pengumuman telah membuka web PKN STAN dari jam empat pagi akan tetapi ternyata pengumuman belum muncul. Hari itu hampir setiap jam saya mengupdate laman web tersebut tetapi tetap saja belum muncul hal ini tambah membuat saya khawatir dan akhirnya muncullah sebuah pengumuman. Akan tetapi itu bukanlah pengumuman yang saya harapkan, karena pengumuman tersebut memberitahukan mengenai penundaan pengumuman kelulusan PMB STAN menjadi tanggal 1 Juni 2016. Dan akhirnya saya harus menunggu dua hari lagi untuk melihat hasilnya. Saat hari yang ditunggu tiba, seperti sebelumnya pengumuman tidak kunjung keluar.

Dari pagi saya melihat laman tersebut, orang tua dan kakak saya juga mulai bertanya-tanya mengenai pengumuman. Saya semakin khawatir, karena sampai malam pun pengumuman tidak kunjung dipasang sehingga saya pun tertidur. Sekitar pukul dua belas malam saya terbangun dan saya pun membuka HP saya berharap ada pengumuman dan ternyata ada sebuah tautan mengenai pengumuman PMB STAN. Dengan gemetar saya membuka link tersebut dan saya menemukan nama saya di lampiran pengumuman tersebut dengan disandingkan jurusan D1 Pajak dengan lokasi pendidikan Pontianak. Saat itu saya tidak yakin dengan perasaan saya, di satu sisi saya senang karena saya diterima di PKN STAN tapi di lain sisi Pontianak bukanlah tempat yang saya harapkan untuk menjalankan pendidikan. Saat itu ibu saya yang mendengar berita tersebut menjadi ragu haruskah saya mengambil kesempatan ini, begitu pula dengan saya, karena Pontianak sangatlah jauh dari rumah dan juga saya sudah merasa nyaman dengan teman-teman dan tempat saya belajar sebelumnya.

Akan tetapi setelah memikirkannya dengan matang saya akhirnya memutuskan untuk mengambil kesempatan ini, karena kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kalinya. Saya tidak ingin menyia-nyiakan apa yang telah saya lalui untuk sampai di sini, karena menurut saya bukanlah hal yang mudah untuk sampai sejauh ini. Apalagi melihat ratusan orang yang berusaha untuk menjadi mahasiswa PKN STAN. Jarak bukanlah menjadi halangan untuk melanjutkan pendidikan, lagi pula dimanapun kita berada kita harus tetap bersedia untuk mengabdi kepada masyarakat Indonesia. Untuk saat ini saya ingin dan akan berusaha untuk menjalani pendidikan di BDK Pontianak dan saya berharap semuanya akan berjalan dengan lancar.

Tinggalkan Balasan