Home » Artikel » MENEBUS 60 JUTA DEMI MENDAFTAR PKN STAN

MENEBUS 60 JUTA DEMI MENDAFTAR PKN STAN

Perjuangan daftar PKN STAN dimulai ketika saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Salah satu guru menyarankan saya untuk mengambil kuliah di Politeknik Keuangan Negara STAN. Motivasi terkuat saya untuk menjadi mahasiswa Politeknik Keuangan Negara adalah keluarga.Keluarga merupakan tempat saya berbagi suka dan duka, tempat saya mendapatkan pendidikan moral pertama kali, dan keluarga merupakan alasan saya untuk sukses di masa mendatang.Alasan pendukung saya untuk daftar PKN STAN adalah kedua kakak saya mendapatkan beasiswa, sehingga mendapat pandangan positif dari keluarga, saudara, dan masyarakat.kakak saya yang pertama, ia mendapatkan beasiswa di BAM angkatan 9, BAM merupakan instansi pendidikan yang diberikan untuk para mekanik LION AIR untuk menjadi seorang engineer di LION AIR  dengan jangka pendidikan 2 (dua) tahun. Sedangkan kakak saya yang kedua, ia melanjutkan kuliah di STAN yang sekarang dikenal menjadi PKN STAN pada tahun 2014 dengan jurusan Kepabeanan dan Cukai ayang berlokasi di Bintaro.

Kondisi ekonomi merupakan pengacu saya untuk sukses, terutama ketika ayah saya pergi meninggalkan kami sekeluarga. Hal yang menyedihkan ini terjadi pada tanggal 13 Desember 2012. Orang terpenting dalam kehidupan saya dan penyemangat saya dalam menjalani kehidupan. Ayah merupakan orang yang saya sayangi dalam kehidupan saya, tetapi Tuhan lebih menyayangi ayah. Ayah saya mengidap penyakit stroke batang otak dari tahun 2007. Penyesalan terbesar saya adalah saya belum membahagiakan dia dan saya selalu menyakiti hati ayah saya.Semua orang bilang kepada saya bahwa saya mempunyai ayah yang luar biasa baik, begitupun saya yang bersyukur mendapat kasih sayang yang tulus dari ayah.Relasi yang saya jalin dengan ibu saya kurang baik sebelum kepergian ayah saya.Sekarang, ibu adalah harta yang saya miliki di dunia ini. Saya baru menyadari maksud dari setiap amarah ibu kepada saya setelah saya dewasa, semua yang ibu  sampaikan bertujuan sangat baik dalam kehidupan saya.

Lulus dari SMA merupakan masa terberat dalam kehidupan saya pada masa itu. Saya benar-benar memimpikan menjadi mahasiswa PKN STAN di jurusan Kepabeanan dan Cukai, karena saya melihat alur pendidikan yang kakak saya tempuh dan masa depan saya di jurusan Kepabeanan dan Cukai. Saya mendapatkan beasiswa dari beberapa Universitas yang cukup terkenal di kalangan masyarakat, tetapi tidak satupun yang menarik hati saya.Akhir masa SMA saya mendapatkan beasiswa di Universitas Pelita Harapan yang berlokasi di Lippo Karawaci dengan Jurusan Teacher College Mathematic Educationdouble degree.Saya putuskan untuk mengambil beasiswa di Universitas Pelita Harapan karena, beasiswa ini 100%  dari kuliah, asrama, makan, dan minum. Alasan lain saya mengambil beasiswa ini adalah saya tidak akan membebani orang tua saya dan kedua kakak saya yang masih menempuh pendidikan.

Kegiatan perkuliahan ini dimulai pada saat penandatangan surat perjanjian beasiswa oleh pihak Universitas Pelita Harapan. Isi dari surat perjanjian ini adalah denda sebesar Rp 60.000.000 (enam puluh juta  rupiah) apabila dengan sengaja mengundurkan diri dari statusnya sebagai mahasiswa Universitas Pelita Harapan. Denda Rp 60.000.000 ini dikenakan untuk mahasiswa yang telah menempuh pendidikan selama 1 (satu) tahun dan berlaku kelipatan. Pada awalnya saya mengambil ini dengan yakin, karena saya tidak terfikir dalam benak saya untuk mengundurkan diri dari Univeritas Pelita Harapan, serta pindah ke Universitas lain karena kendala biaya untuk memenuhi kebutuhan serta pembayaran denda yang besar.

Masa perkuliahan yang awalnya saya jalani setengah hati ini, karena saya tidak terpanggil menjadi seorang pendidik dalam bidang matematika berjalan cukup mulus pada semester pertama dengan indeks prestasi diatas 3 (tiga).Menurut saya menjadi guru merupakan pekerjaan yang mulia dan tidak semua orang tidak dapat menjadi seorang guru, seperti saya yang tidak menekuni segala bentuk kegiatan perkuliahan yang di adakan Universitas Pelita Harapan.Saya terus mencoba untuk menerima kenyataan bahwa saya bukan merupakan mahasiswa Politeknik Keuangan Negara dan saya berprofesi sebagai seorang guru.Menggerutu adalah hal yang sering saya lakukan dalam menjalani masa kuliah saya yaitu tidak menggunakan sepenuh hati dalam menjalani setiap mata kuliah.

Indeks Prestasi saya menurun pada semester 2 (dua) dan saya kecewa terhadap diri saya yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa saya akan menjadi tenaga pendidik. Perubahan motivasi saya  dimulai ketika saya mendengarkan cerita dari kakak kedua saya tentang pekerjaannya di Bandara Soekarno Hatta. Pikiran saya tertuju pada Politeknik Keuangan Negara menjelang UAS di tempat kuliah saya dan perihal denda sebesar Rp 60.000.000 (enam puluh juta) yang harus saya bayarkan ketika saya mengundurkan diri dari status saya menjadi mahasiswa Universitas Pelita Harapan.Saya menyadari bahawa denda merupakan hal yang patut di berikan agar menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri mahasiswa ketika pengambilan keputusan.

Pendaftaran menjadi bagian dari Kepanitiaan Welcoming New Student pun saya ikuti, tetapi saya di tolak dengan alasan saya di terima dalam 2 (dua) divisi yaitu divisi Induction dan divisi transportasi. Saya mengikuti pendaftaran menjadi seorang mentor Welcoming New Student dengan hasil yang sama dengan kepanitiaan yaitu ditolak. Perasaan saya pada saat saya ditolak yaitu biasa saja, karena saya tidak mengikuti dengan hati, melainkan kewajiban saya untuk memenuhi Student On Work. Student On Work merupakan kewajiban setiap mahasiswa di Universitas kelas International yakni Universitas Pelita Harapan.

Politeknik Keuangan Negara membuka pendaftaran dari akhir bulan April hingga awal bulan Mei tahun 2016.Saya benar-benar tertarik dengan berita bahwa Politeknik Keungan Negara membuka pendaftaran yang bertepatan dengan libur di Universitas Pelita Harapan.Tanpa Berpikir panjang saya menghubungi kelurga saya perihal pendaftaran USM PKN STAN dan keluarga saya menanyakan mengenai keyakinan saya untuk mengikuti USM PKN STAN 2016.Keluarga menyutujui permintaan saya untuk mengikuti USM PKN STAN dan membelikan beberapa buku untuk persiapan saya untuk mengikuti USM PKN STAN.Rasa bahagia yang menyelimuti hatiku begitu hangat terasa.Kendala lainnya adalah saya lemah dalam TBI, tidak mempelajari soal USM selama setahun lebih, dan saya tidak pernah mengikuti bimbel yang di buka oleh badan pendidikan mandiri yang terfokus pada USM PKN STAN.Secercah harapan yang saya miliki, lalu saya jadikan motivasi dalam diri saya.Setiap hari sewaktu liburan saya belajar dari pagi hingga malam, karena saya menyadari saya memulai segala sesuatu untuk mengikuti USM dari 0 (nol).

Perpustakaan di UPH sangat lengkap untuk mempelajari TBI dan saya memanfaatkan fasilitas yang telah di berikan UPH.Setiap hari saya tidur hingga larut malam dan terkadang sampai subuh baru saya melangkahkan kaki ke tempat tidur.Kondisi kesehatan saya pun menurun yang dapat di perhatikan dari muka yang pucat dan tensi yang rendah.Saya menanamkan dalam benak saya bahwa kesempatan tidak datang dua kali sehingga segala sesuatu yang saya ambil dengan keyakinan penuh harus saya lakukan dengan tanggung jawab dan saya tidak boleh mengecewakan kepercayaan yang telah keluarga saya berikan kepada saya.Setiap hari selama sebulan saya melakukan kegiatan pembelajaran secara rutin tanpa sepengetahuan teman asrama dan leader care group. Saya merahasiakan hal ini agar segala sesuatu dapat berjalan dengan baik dan lancar sesuai apa yang telah saya rancang.

Verifikasi berkas berlokasi di bintaro dengan kakak saya yang kedua.Segala sesuatunya berjalan dengan semesetinya tanpa suatu halangan apapun.USM PKN STAN tahap 1 berlokasi di Gelora Bung Karo. Saya dan kaka saya berangkat jam 05.00 dari Lippo Karawaci dan sampai di GBK pukul 06.30. USM tahap satu adalah TPA dan TBI. Pada awalnya saya sedikit takut dengan puluhan ribu peserta yang sama dengan saya yakni mengikuti USM PKN STAN. Saya berdoa kepada Tuhan untuk di berikan kemudahan dalam mengerjakan soal TPA dan TBI. Saya mengucap syukur pada Tuhan bahwa saya mampu melewati tes, bukan karena saya pintar, melainkan Tuhan  yang memampukan saya. Persiapan untuk tahap dua merupakan proses yang benar-benar saya gumulkan yaitu saya tidak makan makanan yang mengandung cabai, minyak, gorengan, dan santan. Selama dua minggu aktivitas saya adalah lari selama 12 (dua belas) menit, gym, dan masak oat mealsebagai makanan saya sehari-hari selama persiapan tahap dua.

Persiapan tidak akan menghianati hasil yakni saya berhasil melakukan lari 12 (dua belas menit) tanpa berhenti dan shuttle run selama 17 (tujuh belas) detik. Saya senang dengan hasil yang saya dapatkan.Persiapan tahap ketiga tidak berbeda jauh dengan persipan tahap pertama yaitu tidur hingga larut malam bahkan hingga matahari terbit dan menempel materi yang saya rasa baru saya pelajari serta sulit untuk saya pahami.Pada saat USM tahap 3 (tiga) keadaan saya down, karena teman saya berusaha menjatuhkan saya dengan kata-katanya ketika saya berusaha untuk bangkit dari keterpurukan saya.Saya benar-benar bergumul dalam menghadapi setiap cobaan, tetapi Tuhan memampukan saya untuk menghadapi segala sesuatunya.

Setelah saya membaca nama saya dalam pengumuman penerimaan mahasiswa baru yaitu saya memberitahu kepada keluarga dan mereka memutuskan untuk daftar PKN STAN. Saya di dampingi oleh ibu saya menemui YPPH dan menandatangani perihal pembayaran denda Rp 60.000.000 (enam puluh juta rupiah). Sekarang, saya akan memulai untuk mewujudkan impian saya menjadi Abdi Negara dengan memulai aktivitas perkuliahan dengan sepenuh hati dan tanggung jawab terhadap semua kegiatan perkuliahan yang saya lakukan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.