Home » Artikel » MENGGAPAI ASA MENJADI PEGAWAI NEGERI SIPIL

MENGGAPAI ASA MENJADI PEGAWAI NEGERI SIPIL

Saya Lahir di Cilacap, 20 Agustus 1998. Saat artikel ini ditulis saya genap berumur 18 tahun. Tempat tinggal kedua orang tua saya di Jalan Pakualam 109, Desa Cinyawang, Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Saat artikel ini di tulis saya kost di Perum Angkasa Permai Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Suatu anugerah dari Allah SWT yang telah mentakdirkan saya bergabung dengan calon keluarga mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN khususnya di BDK Pontianak. Saya ingin berbagi cerita tentang perjuangan perjalanan hidup saya sampai saat artikel ini ditulis sebagai rangkaian tugas Dinamika Politeknik Keuangan Negara STAN.

TK- Saya mengenyam pendidikan di TK Islam Cinyawang saat berusia 4 tahun. Hal yang menjadi kenangan masa kecil saya diantaranya adalah tentang arti kepolosan seorang anak. Masa dimana saya bercita-cita menjadi seorang Satria Baja Hitam, masa dimana saya bermain dengan lepasnya, masa dimana bibit sebuah pohon tumbuh.

SD- Saya mengenyam pendidikan dasar di SD N 01 Cinyawang. Saat periode pendaftaran umur saya baru 5 tahun. Sedangkan standar umur saat itu adalah 6 tahun. Saya sempat merasakan hampir ditolak sekolah di usia yang sangat belia, namun saya membuktikan bahwa umur bukanlah satu-satunya indikator kedewasaan, kemampuan kognitif, dan kemampuan psikomotorik dari seseorang. Hal yang menjadi kenangan saya adalah tentang arti belajar sambil bermain. Masa dimana diajarkan bersosialisasi dengan baik dan benar, masa dimana diajarkan arti toleransi, masa dimana diajarkan arti tenggangrasa, masa dimana diajarkan pentingnya sebuah tanggung jawab, masa dimana diajarkan apresiasi, masa dimana diajarkan saling menghargai, masa dimana sebuah pohon mengembangkan akarnya.

Saya mengenyam pendidikan menengah di SMP N 01 Patimuan. Mulai merasakan ada suatu kebanggaan tersendiri bisa masuk SMP favorit di level kecamatan. Saya menyebut masa sekolah menengah sebagai masa kenakalan dari diri saya saat itu. Kelabilan psikologis dari seorang anak yang menginjak masa remaja, pergaulan yang bebas, perasaan benci dibenci dan saling membenci, mindset sesuatu yang menyimpang adalah sebuah prestis, keinginan untuk menjadi sebuah perhatian publik, semua itu hanyalah sebagian dari konflik yang dialami di jenjang pendidikan menengah. Apa cita-citamu? Pertanyaan yang sering terdengar dari sesi kegiatan belajar mengajar. Saat itu saya mempunyai pemikiran diskriminatif mengenai profesi Pegawai Negeri Sipil. Karena dari observasi lingkungan yang saya amati, dan sebelumnya karena kurangnya pengetahuan yang saya tau mengenai profesi Pegawai Negeri Sipil saya menilai Pegawai Negeri Sipil bukanlah profesi yang menunjang kesejahteraan jangka panjang.

Saat itu saya berfikir Pegawai Negeri Sipil hanyalah seorang guru. Sedangkan kondisi lapangan saat itu profesi guru kurang mendapatkan jaminan untuk kesejahteraan. Banyak guru yang bertahun-tahun mengajar sebagai guru honorer tetapi belum mendapat pengangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil. Saat itu saya sudah mengerti bahwa profesi guru adalah tugas mulia mengabdi kepada Negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi saya lebih memilih untuk menjawab cita-cita saya dengan pilihan menjadi karyawan di sektor swasta. Karena dalam pemikiran saya belum ada suatu motivasi untuk benar-benar menjadi seorang abdi Negara.

Masa pendidikan menengah ini bagi saya juga sebagai awal tumbuhnya suatu jiwa keorganisasian, implementasi sikap kepemimpinan, belajar menentukan keputusan dalam suatu permasalahan. Saya mulai bergabung dengan organisasi sekolah saat saya di jenjang pendidikan menengah ini. Menjadi pemimpin saat itu mempunyai konflik tersendiri, namun bukan konflik mengenai visi mis organisasi yang dirasakan, melainkan konflik dengan sesama teman yang mengalami perbedaan pendapat dengan kondisi psikologis remaja yang relatif labil.

Hal yang menjadi kenangan saya dimasa pendidikan menengah adalah tentang arti dari self controlling. Dimana kita menempatkan diri dan menyesuaikan sikap dengan lingkungan. Suatu masa dimana tunas batang suatu pohon tumbuh sebagai calon penopang bagian lain diatasnya yang lebih kompleks.

SMA- Saya mengenyam pendidikan atas di SMA Negeri 1 Cilacap. Suatu kebanggaan tersendiri juga bias masuk sekolah favorit di level kabupaten. Dan suatu keputusan yang cukup berat juga untuk memutuskan memasuki spesifikasi umum atau kejuruan. Sebelumnya saya sempat mempertimbangkan mengenai masa depan dan cita-cita apa yang ingin saya raih melalui tangga pendidikan yang akan saya putuskan. SMA atau SMK? Saat itu saya belum terbersit sedikitpun mengenai masa depan masuk menjadi bagian kementrian keuangan melalui Politeknik Keuangan Negara STAN. Yang saya fikirkan hanyalah apakah saya mau kuliah atau kerja. Dengan pribadi yang kecenderungan ambisisus, dan dengan kapasitas saya yang lebih menyukai analisis, saya membulatkan tekad untuk mengambil jenjang pendidikan SMA.

Masa SMA adalah masa dimana saya menyebutnya sebagai arena pertempuran mendapatkan jati diri. Saya ingin menjadi pribadi yang seperti apa, ingin dikenal dengan pribadi yang seperti apa, ingin mendapatkan masa depan yang seperti apa.

Mengenai organisasi, masa SMA merupakan ajang belajar sekaligus implementasi saya mengenai seni organisasi dan seni kepemimpinan dengan lebih meluaskan dan melebarkan cakupan kegiatan. Implementasi kemandirian dan BERDIKARI Berdiri Dibawah Kaki Sendiri. Melakukan suatu tugas dengan seefektif dan seefisien mungkin.

Hal yang menjadi kenangan saya dimasa pendidikan atas adalah tentang arti pengambilan keputusan hidup. Siapa saya, kenapa saya disini, untuk apa saya disini, apa tujuan saya, saya ingin menjadi apa, dan inilah saya.

Masa dimana sebuah pohon menentukan seberapa rindangnya dan lebatnya dirinya, dan masa yang akan menentukan akankah dia berbuah, dan berbuah yang seperti apa.

Mau lanjut kuliah dimana? Prodi apa yang akan diambil? PTN atau PTS? Ikut SNMPTN, SBMPTN, atau mandiri? Beberapa todongan pertanyaan yang diberikan oleh sebagian besar orang ke siswa SMA yang sebentar lagi lulus.

Bagi saya rasanya cita-cita itu menjadi nilai sekunder yang menjadi tujuan, sedangkan bisa masuk kuliah adalah hal primer.

Selama menempuh pendidikan atas saya mulai mendapatkan banyak informasi mengenai kehidupan setelah lulus SMA, mengenai kampus, mengenai pekerjaan, dan mengenai dunia kerja yang akan dilewati dengan pilihan kampus yang akan kita dapatkan. Saat itu saya mulai mengerti bahwa abdi Negara profesi Pegawai Negeri Sipil tersebar di berbagai kementrian dan dengan insentifnya masing-masing. Mempertimbangkan prospek jangka panjang, saat itu saya mulai mendapat suatu keyakinan batin bahwa melanjutkan di kedinasan akan mendapatkan keuntungan jangka panjang.

Saya mendapat kesempatan mengikuti SNMPTN, tetapi tidak lolos seleksi nasional. Kemudian saya sempat mengikuti SBMPTN, tetapi juga tidak lolos. Saya tidak mengikuti ujian mandiri karena pertimbangan finansial jangka panjang dank arena saya sudah memutuskan alternative mendaftar seleksi kedinasan dan beasiswa. Saya mengikuti proses seleksi EVE Progam PT Holcim Indonesia Tbk dari tahap seleksi berkas, TPA, Psikotes, wawancara, medical klinik, medical laborat, dan akhirnya sampai tahap final untuk penandatanganan berkas kontrak. Namun saya membatalkannya karena sebelumnya saya sudah mendapat kelulusan sebagai calon mahasiswa baru di Politeknik Keuangan Negara STAN.

Saya mendaftar Ujian Saringan Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN 2016 dengan lokasi tes di Semarang. Jarak yang cukup jauh dengan waktu tempuh perjalanan berkisar 8 – 9 jam. Saat hari verifikasi berkas dalam tempo satu hari saya langsung kembali ke rumah tanpa istirahat menginap. Hanya masjid yang menjadi persinggahan. Cuaca Kota Semarang yang panas menambah perasaan susahnya terjun ke kehidupan yang sebenarnya.

Ujian tertulis saya mendapat tempat di SMA N 3 Semarang. Saya menginap di penginapan dengan jarak kurang lebih 5 Km dari lokasi tes karena pertimbangan biaya sewa yang relative murah.

Ujian kesehatan dan kebugaran diadakan di satu lokasi untuk wilayah tes semarang yaitu di gor Tri Lomba juang, Perjuangan yang cukup berat dengan jarak tempuh perjalanan yang sudah menguras fisik diawal sebelum melakukan tes. Namun dengan kebulatan tekad Alhamdulillah bias dilalui dengan baik.

Ujian TKD diadakan di gedung keuangan Semarang, hari yang menentukan apakah saya bisa melanjutakn langkah menuju STAN atau akan terhenti. Saat tiba hari pengumuman, semakin gelisah karena ada penundaan. Esok hari setelah sahur sudah ada Link pengumuman. Saat saya membuka dan scroll yang memakan waktu yang tidak singkat dan juga penuh kesabaran, semua terbayarkan dengan nama dan nomor tes saya tercantum di dokumen kelulusan. Dan penempatan di BDK Pontianak merupakan hal yang sempat membuat pemikiran dalam tempo satu hari sebelum saya memantapkan tekad berjuang dengan konsekuensi yang telah di tentukan.

Suatu hal yang sebelumnya tidak terduga, saudara saya juga bertempat tinggal di Pontianak. Hal ini bisa sedikit menjadikan sedikit obat kerinduan dengan keluarga yang berada di rumah. Saudara yang bertempat di Pontianak adalah paman saya. Paman yang pertama beliau bekerja di Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan Barat. Melihat semangat juang beliau dalam menggapai cita-cita dan pantang menyerah dengan segala keadaan yang menghalangi membuat saya semakin semangat untuk meraih kesuksesan. Paman saya yang kedua beliau bekerja di Dinas Pendidikan Kabupaten Kubu Raya. Beliau orang yang sangat akademis, pembicaraan yang berbobot, dan menjunjung tinggi kejujuran. Ditengah maraknya praktik korupsi beliau tetap teguh dengan pendiriannya untuk hidup jujur dan dengan sikap qonaah.

Perjalanan hidup saya meraih cita-cita masih panjang, semoga Allah SWT memberikan waktu kehidupan yang bisa dimanfaatkan untuk berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Hidup adalah untuk terus belajar, karena manusia telah dianugerahkan pemikiran.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.