Home » Artikel » MENGGENGAM KAMPUS POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

MENGGENGAM KAMPUS POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

Saya berasal dari Bekasi, Jawa Barat. Saya adalah anak tunggal, yang menjadikan saya sebagai satu-satunya harapan mereka. Papa saya berdasal dari Siantar, Sumatera Utara, sedangkan Mama saya berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Di keluarga besar yang berasal dari Papa saya, sebagai orang batak dan anak laki-laki, saya membawa marga saya, yang menjadi salah satu alasan lagi untuk saya harus menjadi orang yang berprestasi di keluarga besar saya. Papa dan Mama saya sangat berharap agar saya menjadi orang yang sukses, begitu juga dengan keluarga besar saya.

Saya berasal dari SMA Marsudirini Bekasi, salah satu sekolah yang baik di daerah Bekasi. Selama menimba ilmu disana, banyak referensi yang saya dapatkan mengenai info perkuliahan, baik dari teman-teman saya, maupun guru saya. Saya pertama kali mengenal STAN dari salah seorang Guru saya, yang anaknya telah diterima di kedokteran Universitas Gajah Mada dan STAN secara bersamaan, tetapi dia memilih untuk menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntasi Negara. Pertama kali saya mengetahuinya, saya langsung penasaran atas alasannya meninggalkan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, dan lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di kampus Politeknik Keuangan Negara STAN. Karena menurut saya, Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada merupakan salah satu fakultas yang paling diincar oleh orang.Ternyata prospek kerja yang dapat kita peroleh melalui STAN lebih tinggi dibandingkan perguruan tinggi lainnya, baik Perguruan Tinggi Swasta, bahkan lebih tinggi juga dibandingkan Perguruan Tinggi Negeri.

Selama saya masih melakasanakan pendidikan di SMA Marsudirini, saya mendapat berbagai informasi seputar pendidikan dan lulusan kampus Politeknik Keuangan Negara STAN, salah satunya mengenai ikatan dinas. Yang saya ketahui bahwa lulusan STAN akan diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil, lalu diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Artinya lulusan STAN sudah dijamin mendapat kerja. Selain itu, lulsan STAN harus bersedia ditempatkan dimana saja, baik di daerah ataupun di kota. Saya sadar bahwa informasi yang saya terima tersebut adalah sebagian kecil dari informasi yang harus diketahui oleh saya. Akhirnya saya berusaha mencari lebih dalam informasi-informasi tersebut. Saya mencoba mancari informasi mengenai besarnya persentase masuk STAN, saya terkejut melihat angka jumlah pendaftarnya, dan yang diterima hanya sekitar 4% saja. Hal tersebut sempat membuat saya berkecil hati, tapi tidak sampai mengubur minat saya untuk masuk ke kampus Politeknik Keuangan Negara STAN.

Saya pertama kali mengetahui tentang kampus Politeknik Keuangan Negara STAN saat saya masih duduk di kelas 11 SMA. Saat mulai masuk ke kelas 12 SMA, saya sudah dipesankan oleh Papa dan Mama saya untuk belajar lebih serius agar mendapat Perguruan Tinggi yang baik, saya juga sempat mengunjungi kampus Politeknik Keuangan Negara STAN yang terletak di Bintaro, untuk membeli buku bank soal STAN.

Selama kelas 12 saya juga mengikuti bimbel untuk SBMPTN di Inten. Selama belajar di sana, saya masih kurang mempersiapkan diri untuk tes di kampus Politeknik Keuangan Negara  STAN, saya hanya terfokus ke Perguruan Tinggi Negeri yang saya minati. Ketika saya mengikuti masa superintensif di tempat bimbel saya. Saya sampai lupa mengenai minat saya untuk masuk kampus Politeknik Keuangan Negara STAN, sampai saya mengikuti sesi tambahan, dan melihat teman saya sedang berdiskusi dengan guru bimbel saya untuk membahas soal-saal matematika STAN, saya mulai belajar bersama untuk masuk STAN. Dan ternyata banyak juga yang berminat masuk ke sana. Saya mulai merasa bahwa banyak sekali peminat dan saingan saya. Saya mulai dari belajar soal-soal matematikanya, memang terlihat sulit untuk menyelesaikannya, tapi yang kita perlukan hanya analisa untuk menyelesaikannya. Saya mulai berusaha membangun kemampuan saya untuk menganalisa soal-soal matematika STAN.

Saya melaksanakan tes tulis pertama, di Stadion Gelora Bung Karno. Saya mengerjakan soal-soal yang saya anggap telah saya kuasai, rata-rata soal yang saya kerjakan adalah analisa kata berupa sinonim antonim, setelah analisa kata dan sinonim dan antonim, saya mengerjakan bagian matematika dasar, setelah itu saya mengerjakan bagian membaca karangan, karena menurut saya, bagian itulah yang paling banyak menyita waktu. Setelah saya selesai mengerjakan, kami, para peseerta tes langsung dihadapkan dengan soal-soal bahasa inggris. Saya merasa bahwa saya cukup menguasai materi soal-soal bahasa inggris tersebut, jadi saya berusaha menjawabnya sebanyak mungkin, hampir lebih dari 50% soal berhasil saya jawab. Setelah tes, saya keluar dari stadion, mencari orangtua saya. Saya diberi tau bahwa ada salah seorang peserta yang berasal dari Tasik Malaya tidak diijinkan mengikuti tes tersebut karena tidak membawa identitas yang diminta, saya merasa saya sangat beruntung, karena saya sudah mempersiapkan identitas yang diperlukan.

Pada saat saya kembali mengikuti bimbel, saya meminta guru saya untuk mengkoreksi jawaban dari soal-soal yang telah saya kerjakan, dan menurut guru saya, jawaban sayan banyak yang benar, yang membuat saya lebih optimis. Dan benar, bahwa saya lulus tes pertama.

Tes kedua berupa tes fisik, saya harus mempersiapkan diri, saya mempersiapkan diri dengan mulai rutin berlari setiap pagi di sekitar komplek rumah saya. Saya melaksanakan tes fisik tersebut di Pusdiklat Bea Cukai, di Rawamangun. Saat hari tes, saya datang ke lokasi sekitar jam 4 pagi, awalnya saya kira bahwa saya menjadi orang pertama disana, ternyata tidak, sudah banyak sekali orang yang mengantri disana. Pertama kita mengantri, dan melaksanakan medical check up, berupa tes mata, tes tekanan darah, cek jantung dan mendata penyakit yang kita idap. Selanjutnya saya bersama kelompok saya melakukan tes lari, memang melelahkan, tapi saya berhasil mencapai 4,5 kali putaran lapangan, lalu kita melaksanakan tes berupa shuttle run. Setelah itu kami mengantri untuk dipanggil dan mengambil BPO kita. Dan saya tinggal menunggu hasil pengumuman tes fisik tersebut. Dan untuk kedua kalinya saya berhasil lolos tes masuk kampus Politeknik Keuangan Negara STAN.

Selanjutnya yaitu tes TKD, yang dibagi menjadi Tes Wawasan Kebangsaan, Tes Intelejensi Umum, dan Tes Karakteristik. Awalnya saya bingung akan mulai belajar dari mana, saya belum ada bayangan materi yang harus saya kuasai. Tapi Papa saya membelikan saya buku bank soal-soal tes TKD, dari buku itulah saya belajar. Memang banyak sekali yang harus saya pelajari, kebanyakan soal pasal-pasal di Undang-Undang. Sulit bagi saya untuk menguasainya. Saya melaksanakan tes di STAN Bintaro bersama peserta-peserta yang lolos tes-tes sebelumnya. Saat saya dihadapkan dengan soal-soalnya, ternyata soal-soalnya diluar perkiraan saya, terutama TWK, karena menurut saya lebih mengenai sejarah, seperti biasa, saya mengerjakan soal yang mudah dahulu, saya yang tidak sabar mengetahui nilai saya langsung memilih pilihan selesai, dengan skor 347, saya sudah lolos untuk pemeringkatan. Memang awalnya sudah diberitahu bahwa memenuhi kriteria skor belum menentukan bahwa saya pasti akan diterima, tapi saya tetap optimis.

Selama menunggu pengumuman hasil TKD, saya melakukan banyak kegiatan bersama teman-teman saya. Pengumuman hasil tes STAN yang terakhir, memang selama saya belum mendapat hasil pengumumannya membuat saya merasa kurang tenang, karena saya sendiri tidak mempersiapkan universitas swasta cadangan, karena saya memang sangat optimis di Perguruan Tinggi Negeri yang saya minati, yaitu Universitas Indonesia sebagai prioritas utama saya, dan Universitas Padjajaran sebagai prioritas kedua saya. Untuk Universitas Indonesia saya sendiri juga mengambil jalur mandirinya yaitu SIMAK UI. Pengumuman SBMPTN dibagikan sehari sebelum pengumuman tes STAN yang sesuai jadwal dibagikan. Saat pengumuman SBMPTN saya sudah mendapatkan bangku di Universitas Padjajaran, membuat saya cukup tenang, tapi sekaligus resah karena pengumuman STAN dilaksanakan tepat sehari setelah hari dimana pengumuman hasil SBMPTN dibagikan, tapi saya tetap optimis. Hari selanjutnya, saya sudah siap menunggu pengumuman hasil tes STAN, yang dijadwalkan jam 1 siang hari itu dibagikan.

Tapi cukup mengecewakan karena pengumuman ditunda sampai hari Jumat minggu tersebut. Hal tersebut membuat saya semakin resah. Hari selanjutnya adalah hari pengumuman SIMAK UI, sayang sekali, karena saya kurang beruntung dan belum layak diterima untuk melakukan pendidikan di sana. Saya merasa sangat kecewa, tapi papa dan mama saya tetap optimis. Dengan gagalnya saya untuk mendapatkan 1 bangku perkuliahan di Universitas Indonesia, saya menjadi sedikit eseimis dengan kemngkinan saya untuk diterima untuk masuk sebagai calom mahasiswa baru STAN, karena menurut saya sendiri, soal yang diberikan oleh STAN terbilang lebih sulit jika dibandingkan dengan soal yang diberikan oleh SBMPTN dan SIMAK UI. Saya pun pasrah pada keputusan Tuhan.

Pada hari Jumat, pengumuman dikabarkan siap untuk dibagikan. Saya pun semakin tidak bisa tenang. Sepanjang hari saya menunggu pengumuman STAN, teman-teman saya mendukung saya, dan berusaha membuat saya agar tetap optimis dengan kemungkinan yang ada. Sampai malam pun, pengumuman belum dibagikan. Saya benar-benar kecewa dengan fakta bahwa akan diundur kembali. Dan pad jam 00.00 hari sabtu, saya melihat dari official account STAN di LINE, saya mendapat informasi kalau pengumumannya sudah dbagikan. Saya langsung membangunkan pap saya agar kami berdua bisa mngecek hasilnya bersama. Dan saat dibuka, saya diterima masuk. Kami berdua sangat senang, sampai-sampai mama saya pun bangun, lalu saya melihat bahwa saya mendapat tempat pendidikan di Pontianak, memang saya heran, atas dasar apa pembagian daerahnya. Jujur, awanya saya kurang bisa menerima fakta bahwa saya diterima di STAN yang ada di Pontianak, tapi papa dan mama saya tetap membuat saya optimis dengan keputusan tersebut.

Akhirnya saya menyetujui keputusan tersebut, saya bersedia ditempatkan, walaupun yang saya harapkan adalah ditempatkan di Jakarta, di Bintaro. Saya mempersiapkan data-data yang diperlukan untuk melakukan pendaftaran ulang, seperti SKCK, surat keterangan sehat dan tidak bercacat badan. Sesampainya saya di pontianak, saya langsung melakukan pendaftaran setelah saya sampai di bandara. Tetapi terdapat kesahalan pada beberapa data yang diperlukan. Seperti surat keterangan sehat dan tidak bercacat badan milik saya tida dicantumkan keterangan “tidak bercacat badan. Akhirnya saya membuat yang baru di rumah sakit setempat dan memenuhi persyaratannya. Sekian perjuangan saya masuk STAN.

Tinggalkan Balasan