Home » Artikel » MENJADI YANG TERBAIK

MENJADI YANG TERBAIK

Perjuangan saya untuk bisa melanjutkan pendidikan di PKN STAN tidaklah mudah. Saya harus melewati beberapa tahap ujian terlebih dahulu, seperti ujian TPA dan TBI, Kesehatan dan Kebugaran, dan yang terakhir Test Kemampuan Dasar (TKD). Saya yang adalah lulusan tahun 2015, sebelumnya sudah pernah mengikuti USM STAN, namun tahun lalu saya harus merelakan PKN STAN karena saya gugur pada tahap Kesehatan dan Kebugaran.

Belajar dari pengalaman tahun sebelumnya, tahun ini saya lebih serius dan bersungguh-sungguh dalam menjalani USM STAN. Meskipun tahun sebelumnya saya sudah berhasil melewati ujian TPA dan TBI, tapi bukan berarti saya menjadi malas-malasan dan besar kepala. Sebaliknya, saya belajar lebih giat dari tahun lalu karena saya tahu bagaimana sulitnya untuk bisa lolos ditahap pertama itu.

Sebelum melakukan pendaftaran USM STAN, saya terlebih dahulu menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan seperti Kartu Keluarga, KTP, dan Ijazah. Setelah semuanya siap, saya terlebih dahulu melakukan registrasi melalui website Kemenpan dengan memasukkan nomor KK dan KTP. Setelah berhasil melakukan registrasi, saya mendapatkan e-mail dari Kemenpan yang berisi username dan password untuk selanjutnya melakukan pendaftaran online di website USM STAN.

Segera setelah mendapat e-mail dari Kemenpan, saya mengunjungi website USM STAN dan melakukan pendaftaran online. Saya harus mengisi data diri, nilai sekolah dan pilihan jurusan. Karena sejak awal saya memang berminat pada prodip pajak, saya pun memilih D3 Pajak sebagai pilihan pertama dan diikuti oleh D1 Pajak sebagai pilihan kedua saya. Selesai mengisi data saya diharuskan mencetak BPO atau Bukti Pendaftaran Online untuk selanjutnya diserahkan pada saat verifikasi berkas.

Kurang lebih dua minggu setelah melakukan pendaftaran online, saya mendapat jadwal untuk melakukan verifikasi pada hari kelima verifikasi berkas. Saya ditemani oleh teman saya yang juga akan melakukan verifikasi berkas menuju ke kampus STAN Bintaro dengan menggunakan transportasi KRL. Saya menghabiskan waktu dua jam untuk sampai ke kampus STAN di Bintaro. Sesampainya di sana, saya mengambil nomor antrian dengan terlebih dahulu memperlihatkan BPO. Setelah mendapatkan nomor antrian, saya menunggu kira-kira satu jam sampai nomor antrian saya dipanggil oleh panitia. Saya menuju Gedung G untuk melakukan verifikasi berkas.

Di dalam Gedung G, ada beberapa tahapan untuk melakukan verifikasi berkas, perlahan-lahan saya mulai mengikuti alur verifikasi berkas. Sekitar 30 menit verifikasi berkas selesai. Setelah semua urusan verifikasi berkas selesai, saya bergegas pulang karena hari beranjak sore. Bentang waktu dari verifikasi berkas ke ujian tahap pertama TPA dan TBI tidak lama, kurang lebih hanya satu bulan saja. Dalam waktu kurang lebih satu bulan itu, saya harus pintar membagi waktu belajar karena saya juga akan menghadapi ujian SBMPTN. Saya merasa beruntung karena tipe soal ujian USM STAN dan SBMPTN ada sedikit kesamaan yaitu TPA. Dengan waktu yang cukup singkat itu saya setiap harinya berlatih mengisi soal-soal USM STAN tahun-tahun sebelumnya.

Hari ujian pun tiba, pagi-pagi sekali saya bangun tidur dan mempersiapkan segalanya, tidak lupa saya melakukan shalat subuh dan berdoa kepada Allah agar diberikan kelancaran dan kemudahan dalam ujian kali ini. Setelah saya yakin bahwa tidak ada yang tertinggal, saya berpamitan kepada kedua orang tua saya dan meminta doa restu dari mereka. Orang tua saya selalu meyakinkan saya bahwa saya bisa mengerjakan ujian dengan baik. Saya pun segera berangkat menuju lokasi ujian dan berusaha semaksimal mungkin pada saat ujian berlangsung. Meskipun saya kurang puas dengan hasil kerja saya, tapi saya tetap bersyukur masih diberi kesempatan kedua. Saya pun selalu berdoa dan meminta kepada Allah SWT. untuk diberikan hasil yang terbaik. Begitu juga dengan kedua orang tua saya, mereka tak henti-hentinya mendoakan demi kesuksesan ujian saya.

Dua minggu kemudian, pengumuman hasil ujian tahap pertama keluar. Saya dengan semangat mencari nama saya dan ternyata nama saya tercantum disana. Saya memastikan sekali lagi bahwa nomor BPU dan nama saya benar. Lolos ditahap pertama bukan berarti saya bisa bersantai. Di hari yang sama, saya mulai melatih fisik saya. Walau hanya enam hari waktu saya untuk berlatih, tapi saya tetap optimis pada diri saya sendiri.

Hari ujian tahap 2 pun datang. Pagi-pagi sekali saya diantar oleh ayah saya datang ke lokasi ujian Kesehatan dan Kebugaran yang bertempat di Rawamangun. Ujian pun dimulai, pertama saya diharuskan melakukan test Kesehatan, seperti tinggi badan, berat badan, tensi darah, tes mata, varises dan sebagainya. Selesai tes kesehatan, dokterpun memperbolehkan saya mengikuti tes kebugaran atau kesamaptaan.

Melihat dari kegagalan saya ditahun lalu, kali ini saya benar-benar bersemangat untuk melakukan test kebugaran. Sekitar pukul 09:00 saya dan teman sekelompok saya dibawa menuju Stadion Bea Cukai, disanalah saya harus melakukan test kebugaran. Tes kebugaran pertama adalah lari 12 menit mengelilingi lapangan sepak bola berukuran 400 meter. Saya mencoba berlari sekonstan mungkin agar tidak cepat lelah. Meskipun pada saat waktu habis saya hanya mendapatkan 3,5 putaran tapi saya tidak berkecil hati dan tetap bersemangat untuk menjalani tes kebugaran kedua.

Tes kebugaran kedua yaitu shuttle run. Namun saya tidak tahu hasil dari tes kebugaran kedua, karena panitia tidak memberi tahu. Setelah semua rangkaian ujian hari itu selesai, saya pulang kerumah dan beristirahat karena cukup banyak tenaga yang sudah saya keluarkan. Tak lupa saya selalu meminta hasil yang terbaik kepada Allah SWT. Selang beberapa hari setelah ujian tahap 2, pengumuman hasil ujian tahap 2 pun  keluar. Karena saat itu bulan ramadhan, saya membuka website PKN STAN dan melihat daftar kelulusan ujian tahap 2 setelah sahur. Saya mencari nama saya, berharap bahwa saya bisa melanjutkan ujian ke tahap terakhir. Dan ternyata harapan saya terkabul, nama saya tercantum disana.

 Setelah memastikan bahwa itu benar nama saya, tak henti-hentinya saya mengucapkan syukur dan memanjatkan doa agar diberi kelancaran dan kemudahan dalam menghadapi ujian tahap terakhir yaitu TKD. Hari itu juga saya mencoba mencari bahan materi untuk mempelajari TKD. Bersyukur sekali karena saya bisa dengan mudah menemukannya di internet, Beruntungnya saya karena kali ini saya tidak harus membagi waktu untuk belajar hal lain, jadi saya bisa focus pada bahan materi TKD.

Setiap hari saya selalu menyempatkan diri saya untuk membaca materi TKD. Saya juga sempat beberapa kali mencoba mengikuti Try Out Online TKD, namun nilai saya yang masih jauh dibawah ambang batas nilai membuat saya sedikit berkecil hati. Saya takut mengecewakan orang tua saya untuk kedua kalinya. Tapi, saya selalu mencoba dan terus mencoba. Sampai akhirnya, nilai saya sedikit mengalami kenaikan. Namun waktu yang tidak banyak, membuat saya sempat khawatir. Tapi saya yakin, Allah akan senantiasa membantu saya.

Saat hari ujian tahap ketiga, saya menuju Bintaro seorang diri. Saya berangkat dari rumah pukul 09:00 dan sampai di sana pukul 11:00. Sesampainya disana, saya menunggu sekitar 1,5 jam sampai giliran sesi ujian saya dimulai. Sebelum ujian dimulai, panitia terlebih dahulu menunjukkan bagaimana cara mengisi ujian TKD. Karena ujian kali ini memakai system CAT atau berbasis computer maka dari itu ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para peserta ujian agar saat ujian berlangsung peserta ujian tidak mengalami kesulitan.

Sebelum memulai ujian, saya dan peserta lainnya diarahkan ke suatu ruangan untuk menonton video cara mengisi ujian TKD. Saya dan peserta ujian lainnya dipersilahkan memasuki ruangan TKD dan memulai ujian. Waktu yang diberikan hanya 90 menit, waktu yang cukup singkat untuk jumlah soal yang tergolong banyak. Saya mengisi soal-soal yang tergolong mudah terlebih dahulu. Dimenit-menit terakhir, masih ada beberapa soal yang belum terjawab. Disitulah saya mencoba keberuntungan saya. Saya mengisi secara acak soal-soal yang belum terjawab karena tidak ada sistem jika salah nilai minus. Kira-kira ada 12 soal yang saya isi secara acak, berharap bahwa dari pilihan jawaban saya yang benar

Waktu ujian pun selesai, komputer secara otomatis langsung menunjukkan perolehan nilai saya. Lega sekali rasanya waktu tahu bahwa nilai saya melewati ambang batas nilai. Tapi nilai saya tidak besar, hanya 356 saja, sedangkan peserta ujian lainnya ada yang mendapat nilai sampai 415. Saat itu saya cukup berkecil hati, namun saya tidak menyerah. Setelahnya saya hanya bisa berdoa dan meminta kepada Allah. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, dan semuanya saya serahkan kepada Allah SWT.

Pengumuman Hasil Akhir USM STAN dijadwalkan tanggal 29 Juni 2016. Sehari sebelum pengumuman, saya terlebih dahulu mendapatkan hasil bahwa saya diterima disalah satu universitas negeri di Solo. Saya sangat bersyukur, tapi hati kecil saya tetap menginginkan PKN STAN. Saya menunggu pengumuman yang tak kunjung tiba. Ternyata pengumuman diundur sampai tanggal 1 Juli 2016. Saya merasa gelisah, karena itu artinya saya harus melakukan daftar ulang terlebih dahulu di universitas di Solo, sebagai cadangan jika saya tidak diterima di STAN.

Tanggal 1 tiba, tapi pengumuman hasil akhir tak kunjung dikeluarkan. Saya pun memutuskan untuk melakukan daftar ulang di universitas negeri di Solo. Seharian saya menyiapkan berkas-berkas untuk melakukan daftar ulang sampai saya sempat melupakan tentang pengumuman akhir PKN STAN. Setelah menunggu beberapa jam, tepatnya pukul 01:00 WIB tanggal 2 Juli 2016, pengumuman hasil akhir tiba. Saya segera mencari nama saya di lembar abjad A. Betapa bahagianya saat saya menemukan nama saya dinyatakan lulus disana. Saya hanya bisa menangis dan berterima kasih kepada Allah SWT. dan juga kepada orang tua saya serta orang-orang yang selalu mendukung saya selama ini. Meskipun saya tidak diterima dipilihan pertama saya dan saya harus merantau jauh ke Pontianak, tapi saya tetap senang bahwa cita-cita saya bisa melanjutkan pendidikan di PKN STAN dapat terwujud, terlebih lagi saya mendapatkan prodip yang saya inginkan, yaitu spesialisasi Pajak. Dan saya akan berusaha agar bisa menjadi yang terbaik demi diri saya, orang tua saya, keluarga saya, teman-teman saya, lingkungan saya, serta bagi bangsa dan Negara saya.

Tinggalkan Balasan