Home » Artikel » Mewujudkan Mimpi Orang Tua (Biaya Kuliah STAN Dari Pemerintah)

Mewujudkan Mimpi Orang Tua (Biaya Kuliah STAN Dari Pemerintah)

Di pertengahan tahun 2012, tepatnya kenaikan kelas 3 SMP. Ibu dan Ayah sudah mulai mempertanyakan masalah masa depan. Saya tidak akan selamanya menjadi seorang murid. Nanti akan menjadi mahasiswa kemudian menjadi seorang pekerja. Pada saat itu, pilihan untuk masuk ke PKN STAN sama sekali belum terpikirkan.

Beberapa hari setelahnya, teringat satu hal. Ibu saya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil. Sejak kecil, saat tidak ada org yang menjaga saya di rumah ibu selalu membawa saya ke kantornya agar bisa diawasi. Kemudian saya mulai mencoba membicarakan perihal kuliah kepada Ibu. Ibu sedang sibuk membaca kembali materi materi untuk presentasi nanti dan saya mulai bertanya. “Ibu” panggil saya dan ibu menjawab dengan setengah hati “Hhmm”. Saya mulai bertanya soal kampus dan jurusan yang sekiranya cocok. Mendengar pertanyaan saya ibu terlihat antusias. Ibu kembali bertanya kembali dengan heran “Kamu kesambet apa? Kok bisa kepikiran kuliah?”. Saya tidak terlalu bingung dengan pertanyaan ibu, sebab saya termasuk anak yang masih senang bermain sehingga reaksi tersebut masih bisa diterima. “Apasih bu, lagian pertanyaan-pertanyaan ibu ama ayah soal kuliah kemarin keinget terus”. Ibu tertawa kecil dan menjelaskan bagaimana beliau pada akhirnya masuk ke STAN. Saya belum mengerti yang ibu bicarakan.

Kemudian secara perlahan mulai menjelaskan soal STAN. Apa itu STAN? Kenapa ibu milih STAN ketimbang Universitas ibu yang sebelumnya? Ibu menjelaskan bahwa bahwa jika kita bisa masuk PKN STAN kuliah biaya kuliah STAN dibiayai oleh pemerintah, diberikan uang saku, dan bahkan dijamin pekerjaannya setelah lulus. Dengan perkataan ibu yang seperti itu, langsung terpikirkan oleh saya bahwa saingannya juga bukan orang yang sembarangan. Yang langsung terpikir adalah saya harus berusaha apabila ingin masuk STAN. Dan alhamdulillah saya berhasil masuk ke SMA yang menjadi target saya dari SMP dahulu. Saya semakin yakin dan niat soal keinginan masuk STAN.  Perlahan-lahan saya menggali informasi tentang STAN melalui internet, bertanya ke ibu dan teman-teman STAN-nya. Hingga kelas 12 dimulai saya mencoba melihat-lihat soal STAN dan mulai membeli buku-buku soal. Tak lama kemudian Kakak saya lolos USM STAN. Ia lolos dan masuk ke D1 Pajak di BDK Malang. Kampus-kampus mengadakan sosialisasi kampusnya ke SMA saya.

Dan saat itu perwakilan dari STAN datang. Di sisi baiknya dengan adanya ini saya bisa tau lebih banyak soal STAN, di sisi buruknya bukan hanya saya yang tau tetapi seisi sekolah juga mengetahui soal STAN. Pada awal acara dimulai, hanya ada 4 orang termasuk saya yang mendaftar di kertas minat di stand yg dibuka oleh mahasiswa STAN tetapi di akhir, pendaftar bertambah menjadi 47 murid. Melihat sekilas namanya, isinya adalah murid murid unggulan dalam bidang akademi di SMA saya. Sedikit panik. Juara kelas saja tidak pernah, apalagi bersaing dengan mereka. STAN kembali menghantui pikiran saya. Saya menjadi ragu soal kemampuan saya. Sampai di satu titik, semua keraguan berubah menjadi seperti sebuah tantangan. Semua keraguan seraya berubah menjadi semangat. Tak lama setelah itu UN selesai. Hari pengumuman SNMPTN tiba dan saya bukanlah salah satu orang yang diterima melalui jalur undangan tersebut.

SBMPTN tidak berbeda dengan SNMPTN hasilnya berupa permintaan maaf dari pihak website, begitu juga dengan SIMAK UI. Harapan saya terhadap kuliah mulai berkurang karena penolakan dari kampus kampus tersebut. Dan tes tahap 1 STAN diselenggarakan. Saya masih kurang merasa percaya diri tetapi saya mengerjakan ujian dengan tenang dan saya mengerjakan soal yang sekiranya saya yakin bahwa jawaban tersebut benar. Hari pengumuman tiba dan alhamdulillah saya lolos tahap pertama. Setelah pengumuman tersebut rasa percaya diri mulai tumbuh. Saya menantikan tes tahap kedua dengan berlatih fisik setiap hari dan skala yang hari ke harinya semakin jauh jarak tempuhnya. Setiap pagi menjelang siang, saya memulai jogging harian saya dengan rasa ingin mencapai target. Sepatu rusak, jalanan becek, dikejar anjing pun sudah saya rasakan tetapi tidak mengurangi niat saya akan tes STAN tahap kedua. Hari tes STAN tahap kedua dimulai. Tes dilakukan di sebuah lapangan besar dengan keliling lapangan 400 meter.

Hasil pengumuman dikeluarkan. Alhamdulillah saya lolos tes fisik dan tes kesehatan STAN. Peserta tes tahap ketiga diumumkan. Setelah menelaah lagi taggal tes tahap ketiga, rupanya tes tersebut diadakan bertepatan dengan bulan Ramadhan. Suka atau tidak, tes dilakukan ditengah hari saat kami berpuasa. Hari pertama puasa berjalan dengan baik. Begitu juga dengan hari kedua, ketiga, keempat hingga hari ke delapan. Di malam hari ke delapan saya merasa mual, pusing tak kunjung reda. Saya mulai mencoba mencari gejala gejala penyakit saya. Pusing, demam, lidah berwarna putih dan ternyata gejala tersebut adalah gejala penyakit Thypus.

Saya sedikit tidak percaya dan bahkan tidak perduli dengan penyakit yang belum jelas. Akhirnya, bangun dari tidur merasa pusing dan terpaksa harus ke dokter. Dokter menjelaskan bahwa saya memang benar terkena penyakit tersebut. Mau tidak mau saya harus minum obat 3 kali sehari yang juga berakibat batal puasa sehingga harus membayar di kemudian hari. 2 hari sebelum tes tahap ketiga atau TKD, penyakit saya semakin memuncak. Saya terpaksa menjalani tes tahap ketiga dengan keadaan sakit Thypus. Berangkat ke PKN STAN Rawa Mangun ditemani oleh ibu hingga tes selesai. Ketika tes berlangsung, alhamdulillah penyakit tidak terlalu mengganggu. Alhasil saya cukup percaya diri dengan tes saya.

Singkat cerita malam pengumuman yang dijanjikan oleh website tiba. Saya menunggu dan berulang kali mengecek website PKN STAN dan belum juga ada pengumumannya. Tidak lama kemudian dinyatakan bahwa pengumuman diundur. Dengan diundurnya pengumuman secara tidak langsung juga memperpanjang masa deg-degan saya. Saya harus menunggu lagi. Karena lelah pada hari sebelumnya saya tidak sempat tidur akibatnya saya tertidur di jam 9 malam pada hari pengumuman dinyatakan. Saat semua orang sedang sahur, saya dibangunkan. Ibu menjelaskan bahwa saya berhasil diterima di PKN STAN.

Saya sudah sangat senang sampai akhirnya ibu menjelaskan bahwa saya mendapati tempat di BDK Pontianak. Bukan merasa tidak bersyukur, saya hanya kaget bisa sampai ditempatkan di Pontianak. Saya tidak ragu sedikitpun dan siap menjalani apa yang sudah saya perjuangkan sejak awal masuk SMA. Walaupun sedikit jauh, tetapi apa yang saya usahakan membuahkan hasil. Saya yakin bahwa Allah mempunyai jalan yang lebih baik dengan menempatkan saya di Pontianak. Alhamdulillah masa-masa tes sudah dilewati dan sekarang saya harus berjuang lagi untuk menyelesaikan masa-masa Dinamika PKN STAN 2016 dan menyelesaikan kuliah agar bisa membantu keluarga saya.

Tinggalkan Balasan