Home » Artikel » Never Fail Until We Stop Trying

Never Fail Until We Stop Trying

PERJUANGAN MENUJU KAMPUS STAN JAKARTA

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat, nikmat, dan karunia-Nya sehingga saya dan teman-teman di PKN STAN semua dapat lulus dalam serangkaian tes yang diberikan dan menjadi mahasiswa baru di kampus STAN Jakarta.

Saya lahir di Pontianak 11 November 1997, saya pernah bersekolah di SMA Negeri 1 Sungai Raya. Dan sekarang atas berkat kemudahan yang diberikan Allah SWT dan doa dari kedua orang tua saya, saudara saya, dan teman-teman saya akhirnya di tahun 2016 ini saya dapat melanjutkan studi di kampus terfavorit, kampus STAN Jakarta. Ketika ditanya mengenai PKN STAN itu apa? Pasti, sebagian besar orang tau dan bahkan banyak juga yang ingin bergabung di kampus tersebut. Untuk dapat masuk ke kampus ini tentu tak mudah, dan saya yakin di kampus-kampus lain juga sama seperti itu, karna menurut saya sekarang udah jamannya bersaing dan yang tak siap menyiapkan diri untuk persaingan tersebut tentu akan jauh tertinggal atau bahkan gugur di tengah jalan.

Saya termasuk dalam orang yang tertinggal jauh dengan teman-teman mahasiswa baru PKN STAN ajaran 2016/2017, kenapa? Karena saya adalah lulusan tahun 2015 dan baru dapat tembus menjadi mahasiswa baru di kampus STAN Jakarata di tahun berikutnya yakni tahun 2016. Artinya saya baru bisa lulus di tahun kedua saya mencoba, percobaan pertama saya gagal tahun 2015 ketika saya kurang siap menyelesaikan Ujian Saringan Masuk STAN yang hanya diadakan satu tahun sekali untuk dapat menjadi mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN dan karena kurang persiapan tersebut akhirnya saya harus menanggung resiko kegagalan yang menurut saya itu menyakitkan.

Albert Einstein pernah mengatakan You never fail until you stop trying atau kamu tidak pernah gagal sampai kamu berhenti mencoba. Kegagalan tidak berarti kita tidak mencapai apapun, itu hanya berarti kita sudah mempelajari sesuatu. Kegagalan tidak berarti kita harus menyerah, itu hanya berarti aku harus berusaha lebih keras. Kata-kata diatas mungkin singkat, namun bagi saya makna yang tertuang sangatlah banyak. Ketika orang lain bangun, ia berdiri. Di saat orang lain berdiri, dia berjalan. Di saat orang lain berjalan, dia lari. Ketika orang lain berlari, dia terbang. Itulah nasihat yang pernah saya baca di buku seorang motivator. Artinya kita tak cukup hanya melakukan yang baik-baik, tetapi lakukanlah yang terbaik, itu tadi adalah kata-kata dari Pak Jamil Azzaini seorang trainer dan motivator nasional, seorang Inspirator Sukses Mulia yang sekarang menjadi pimpinan PT. Kubik Kreasi.

Selain gagal di PKN STAN, di tahun 2015 saya banyak merasa kecewa kepada diri saya pribadi. Ketika itu saya juga sangat ingin masuk ke salah satu Universitas ternama yang ada di Indonesia, universitas itu ialah Institut Teknologi Bandung (ITB). Dengan segenap semangat dan usaha yang sudah banyak saya berikan ternyata hasil akhir yang saya dapatkan kala itu adalah nihil. Untuk masuk ke ITB hanya ada 2 jalur saja yang bisa kita tempuh yakni melalui SNMPTN dan SBMPTN. Saat mendaftar di SNMPTN kampus ITB lah yang menjadi pilihan pertama saya. Namun, hasilnya sungguh mengecewakan saat pengumuman terdapat tulisan maaf anda tidak lulus dan sekarang ini saya sudah memaafkan web tersebut. Tentu saat itu saya yang sedang semangat-semangatnya meraih sukses merasa patah hati karena masih belum dapat diterima di kampus keren ITB.

Namun jalan sukses tidak hanya satu, masih banyak jalan lain yang harus saya coba. Setelah buntu di ITB, kebetulan tak perlu menunggu waktu lama, PT. PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Barat di daerah tempat saya tinggal mengundang putra-putri bangsa untuk bergabung di Perusaan BUMN tersebut. Maka saya pun tertarik untuk ikut mencoba bergabung bersama teman-teman saya yang lain. Untuk bergabung dengan Perusahaan Listrik Negara ternyata tidak mudah, jumlah pendaftar saat itu lebih dari 2000 pendaftar dan biasanya hanya menerima kurang dari 50 peserta. Total, ada 7 jumlah tes yang harus ditakhlukkan oleh saya dan para pendaftar lain yang mana test tersebut menggunakan sistem gugur di setiap testnya.

Test tersebut meliputi tes verifikasi data, tes fisik, tes akademik, tes psikotes, tes kesehatan luar, tes kesehatan lab, dan terakhir tes wawancara. Dari 2000 pendaftar hanya 44 orang yang berhasil menaklukan tes-tes mengerikan tersebut. Berarti ada sekitar 1956 orang yang gagal untuk menjadi pegawai di perusahaan tersebut dan saya termasuk yang di 1956 orang tersebut, itu artinya saya juga belum berhasil dan harus menelan pil pahit ketika harus gugur ditahap-tahap terakhir tes tersebut, lebih jelasnya saya gugur pada tahap tes kesehatan lab sehingga tak dapat lanjut di tahap tes yang terakhir yaitu tes wawancara yang menurut saya tes tersebut tidak terlalu sulit dilewati.

Cerita diatas tadi hanyalah cerita singkat saya dalam mencari jalan sukses yang tentu panjang dan tak dapat kita prediksi. Masih banyak lagi percobaan saya yang hasilnya mengecewakan, karena saya juga pernah mendapatkan hasil yang sama ketika mendaftar di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik atau yang disingkat STIS. Di tahun 2015 kemarin mungkin bisa dibilang bukan rejeki saya kala itu. Karena kalau udah rejeki ya Insya Allah lulus. Tak hanya mengecewakan diri pribadi, saya juga merasa bahwa saya mengecewakan kedua orang tua saya. Kerja keras saya belum bisa mewujudkan setiap support dan doa beliau. Rasa kecewa, malu dan sedih menjadi satu, sudah banyak air mata dan keringat yang saya teteskan namun tak satupun yang hasilnya positif. Saat itu juga saya bertekad bahwa tahun depan saya akan datang lagi dengan kerja keras yang lebih luarbiasa lagi, saya yakin bahwa saya akan sukses, dan akan saya buktikan ke semua orang yang sudah mensupport saya.

Sejujurnya, kegagalan yang kemarin tak boleh saya anggap sebagai kegagalan, karena lebih tepat kalau dianggap sebagai cost of succes, biaya untuk mencapai sukses. Karena semakin besar impian kita maka semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan, tak hanya berupa uang namun biaya tersebut juga berupa doa, semangat, ilmu, persiapan, strategi, dan juga kegagalan tadi yang saya bicarakan, serta biaya-biaya lain yang teman-teman alami sendiri dalam menempuh jalan yang sudah kita pilih.

Setelah banyak membicarakan tentang kegagalan eh maksud saya cost of succes, saya akan membahas keberhasilan saya menjadi mahasiswa baru PKN STAN. Perlu saya sampaikan bahwa perjalanan untuk tidak mudah, namun jangan juga dianggap mustahil untuk bisa. Ya, itu karena PKN STAN merupakan perguruan kedinasan yang berada dalam naungan Kementerian Keuangan, dibandingkan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), dan bahkan Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) lain, PKN STAN punya banyak keunggulan dibidang akademis maupun sistem perkuliahannya, salah satunya adalah biaya kuliah yang gratis, kalau kita kuliah di PTN atau PTS tentu akan menghabiskan biaya, kecuali bagi yang mendapat beasiswa. Kalau ada yang gratis kenapa harus milih yang bayar. Selain itu yang paling membedakan PKN STAN dengan kampus lainnya yaitu setelah lulus, Insya Allah akan langsung ditempatkan di Kementrian Keuangan, sehingga dari dulu sampai sekarang menurut info yang saya ketahui belum ada kejadian lulusan dari PKN STAN yang menganggur.

Dengan keunggulan tadi tentunya akan banyak sekali orang khususnya pelajar yang berminat untuk kuliah di PKN STAN tersebut, terbukti dari jumlah pendaftar yang mendaftar di USM PKN STAN mencapai puluhan ribu bahkan ratusan ribu pendaftar. Di tahun 2016 total peserta di USM PKN STAN 2016 mencapai 112.666 peserta dan yang diterima hanya sekitar 4500 peserta. Gak kebayangkan gimana sulitnya persaingan untuk masuk ke kampus ini. Selain kesulitan yang datang dari jumlah peserta, bagi saya yang asalnya dari Pontianak juga mengalami kendala lokasi tes, karena saat tes tertulis TPA dan TBI kami lolos, tes kesehatan kebugaran dan tes kemampuan dasar lokasi tes di kedua tes tersebut hanya berada di 11 kota dan Kota Pontianak tak termasuk didalamnya, sehingga kami harus mengikuti tes di Ibu Kota Indonesia yakni Kota Jakarta, tentu tak mudah harus bolak balik kesana dan juga harus menyiapkan biaya makanan, tranportasi, dan juga penginapan.

Totalnya ada 4 tiket pesawat yang harus saya beli ditambah lagi jadwal tes yang berdekatan dengan waktu mudik lebaran sehingga harga tiket yang dipesan tidak normal seperti biasanya. Namun bukan fighter namanya jika menyerah sebelum berperang, dimana ada kemauan disitu aja jalan. Alhamdulillah selama mengikuti tes semuanya berjalan dengan baik, lancar, dan positif. Selain itu saya juga merasa sangat bersyukur karena Allah selalu membimbing saya untuk menemukan jalan sukses saya, dan juga saya sangat-sangat bersyukur mempunyai orang tua yang selalu mendukung dan memfasilitasi saya untuk dapat mewujudkan mimpi-mimpi saya selama ini. Maaf jika anakmu ini tak mampu dan takkan pernah mampu untuk membalas semua kebaikan yang telah engkau berikan.

Demikian tadi adalah sepotong cerita perjuangan saya untuk masuk PKN STAN. Masih banyak potongan cerita yang tak bisa saya sampaikan karena jumlah lembaran yang sudah dibatasi. Semoga tulisan ini dapat diambil manfaatnya bagi saya dan juga para pembaca yang barangkali adalah calon mahasiswa baru di PKN STAN di tahun berikutnya. Semoga sukses dunia akhirat dan Selamat Berjuang.

Tinggalkan Balasan