Home » Artikel » Setiap Hambatan Pasti Ada Jalan Kemudahan Masuk di PKN STAN

Setiap Hambatan Pasti Ada Jalan Kemudahan Masuk di PKN STAN

MASUK DI PKN STAN-Saya berasal dari kota Medan, akan tetapi saya pernah berkuliah satu tahun di Jakarta, tepatnya di Jakarta Selatan karena pada tahun 2015 lalu saya gagal dalam tes masuk di PKN STAN. Pada saat saya mengetahui bahwa PKN STAN kembali pembuka pendaftaran di tahun 2016 ini saya merasa belum puas sekaligus tidak percaya diri mengingat bahwa saya pernah gagal pada pendaftaran tahun lalu. Namun untuk tahun ini saya sedikit bingung untuk memilih karena pada tahun 2016 ini ada tujuh sekolah kedinasan yang membuka pendaftaran dan tidak boleh mendaftar dua atau lebih kedinasan sekaligus.

Awalnya orang tua saya ingin saya untuk masuk ke sekolah Imigrasi, namun berhubung tinggi badan saya yang tidak mencukupi, saya memilih untuk tidak mencobanya. Saya kembali meyakinkan diri dengan membandingkan diri dengan kakak laki-laki saya, mengapa dia bisa masuk di PKN STAN sedangkan saya tidak. Saat tahun lalu saya sempat merasa iri karena tidak bisa mengikuti pendidikan yang sama seperti dia, namun saya meyakinkan diri bahwa saya pasti bisa seperti dia, walaupun tidak yang setara dengan dia.

Becerita tentang perjuangan masuk di PKN STAN, saya banyak melalui kesulitan. Kesulitan pertama saya hadapi saat saya diberi dispensasi untuk membawa Ijazah asli SMA saya, berhubung di sekolah saya yang di Medan ada pergantian Kepala Sekolah jadinya saya harus mengirim Ijazah saya untuk kebutuhan sekolah. Saya sempat panik jikalau Ijazah saya terlambat dikirim kembali dan hari untuk verifikasi berkas telah usai. Untung bagi saya karna Ijazah saya telah sampai dua hari sebelum verifikasi tutup.

Belum sampai disitu, kesulitan masih terus mendatangi. Saat ingin menyerahkan Ijazah. Ketika sedang memarkirkan motor, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, baju dan celana saya lantas basah kuyup padahal belum sempat masuk keruangan verifikasi, sayapun mencari tempat untuk berteduh sementara sekalian mengeringkan baju, akan tetapi karena hujan yang sangat deras, baju yang saya kenakan sangat basah sehingga tidak sempat untuk mengeringkan, namun saya tidak mempedulikan dan tetap masuk dengan basah kuyup.

Sehari sebelum tes tertulis saya sudah mempersiapkan semua yang perlu dibawa, bahkan mengeceknya dua kali. Setelah semua perlengkapan sudah dipastikan dan tidak ada kekurangan suatu apapun saya langsung pergi untuk menginap di kos abang saya. Jarak lokasi ujian dari tempat saya tinggal cukup jauh dan lebih dekat jika ditempuh dari tempat kosnya. Disana saya juga diajari olehnya sedikit tentang soal-soal tes dan apa saja yang perlu diperhatikan saat menjawab.

Keesokan harinya saya juga mengalami kesulitan, yaitu susah mendapatkan kendaraan untuk menuju tes tertulis. Saya merasa panik karena tahu walau hanya terlambat satu menitpun tetap tidak dapat mengikuti tes dan harus pulang dengan rasa penyesalan. Dan untungnya saya mendapatkan kendaraan tepat pada waktunya. Selama diperjalanan saya merasa cemas jika terjebak macet, apalagi diJakarta terkenal dengan kemacetannya, untunglah selama diperjalanan saya tidak terjebak macet atau hambatan apapun dan sampai di lokasi tes tepat sepuluh menit sebelum tes dimulai.

Lokasi tes tertulis saya adalah Stadion Utama Bung Karno, Senayan, Jakarta. Saya sedikit kaget melihat banyaknya peserta yang ada dan diantara mereka pasti banyak yang jauh lebih pintar dari saya, tapi saya yakin dan percaya diri bahwa saya bisa dan mampu untuk mengerjakan soal tes dengan baik dan benar, pastinya saya awali tes dengan doa dan semangat. Selama tes berlangsung saya dapat menjawab soal-soal dengan yakin walaupun ada banyak juga soal yang tidak saya jawab.

Saat pengumuman tes tertulis, saya merasa sangat senang dan bangga dapat lulus walaupun hanya tes tertulis, namun saya tidak lantas merasa puas karena masih banyak tes yang harus saya lewati, mulai dari tes kebugaran dan kesehatan serta tes kompetensi dasar. Saat mengetahui tanggal untuk tes kebugaran dan kesehatan, saya merasa sedikit tertekan karena hanya diberi waktu satu minggu untuk mempersiapkan diri. Selama satu minggu itu saya melatih fisik saya mulai dari lari pagi dan sore, mungkin bagi saya ini bukanlah pelatihan biasa melainkan pelatihan yang seperti dipaksakan.

Satu minggu yang diberikan itu saya pergunakan dengan sebaik mungkin, mulai dari mengatur jam untuk latihan, mengatur pola makan dan mengatur pola tidur. Sehari sebelum tes kesehatan san kebugaran saya mengalami sakit yang dapat mengganggu proses tes kebugaran, yaitu lari. Kalau ditanya apa penyebabnya saya tidak tahu, yang pasti orang tua saya mengatakan kalau itu hanya karena kelelahan akibat  terlalu banyak dan memaksakan diri untuk latihan padahal sebelumnya belum pernah latihan sekeras dan seintensif ini, ditambah lagi saya juga harus belajar untuk tes SBMPTN.

Pada hari tes kesehatan dan kebugaran saya masih merasakan sakit yang sama, dimana keadaan itu membuat saya merasa pesimis karna disaat saya lari rasa sakitnya semakin bertambah. Pada saat tes kesehatan saya juga lupa membawa kacamata karena saya memang bukanlah orang yang sehari-hari menggunakan kacamata, walaupun kadang saya harus menggunakan kacamata untuk belajar. Lantas saya disuruh oleh panitia untuk meminjam kacamata peserta yang lain dan mau tidak mau saya meminjamnya. Tibalah saat tes kebugaran, yaitu lari. Saya merasa sangat deg-degan, merasa takut tidak bisa menyelesaikan dengan hasil yang bagus.

Pada saat tes lari rasa sakitnya kembali terasa. Pada putaran pertama sakitnya tidak terlalu parah, saat putaran kedua rasa sakitnya semakin parah, pada putaran ketiga rasa sakitnya terus bertambah, begitu seterusnya, bahkan lebih parah dari yang sebelumnya. Saat itu fisik saya mungkin sudah tidak mampu menahan rasa lelah dan sakit, tapi mental saya masih bertekad untuk menyelesaikan lari dengan hasil yang memuaskan. Sayapun lantas memaksakan fisik saya untuk terus lari sambil menahan rasa sakit yang semakin parah. Di satu menit terakhir saya kembali memaksakan diri, saya mempercepat lari saya dengan mengumpulkan tenaga terkahir untuk beberapa detik terakhir. Setelah selesai lari keliling lapangan, masih ada lari membentuk angka delapan. Disaat  tes lari angka delapan saya mulai dengan biasa, seusai satu putaran rasa sakit kembali terasa, sayapun kembali memaksakan diri untuk lari secepat mungkin membentuk angka delapan.

Seusai tes kebugaran dan kesehatan saya hanya merasa lemas bahkan lebih lemas dari biasanya. Keesokan harinya saya benar-benar memulihkan fisik saya dengan hanya berbaring di tempat tidur, tidak melakukan kegiatan yang terlalu menguras fisik. Kedua kaki saya terasa berat untuk digerakkan karena terlalu dipaksakan saat tes kesehatan. Sakit di bagian perut masih terasa padahal sudah tidak berlari lagi. Semua kelelahan dan rasa sakit itu terbayar dengan pengumuman kelulusan tes kebugaran dan kesehatan yang sesuai dengan harapan.

Tes selanjutnya adalah TKD, yaitu Tes Kompetensi Dasar. Menjelang tes ini saya belajar dengan serius, karna tahun ini menggunakan peraturan baru yaitu TKD yang diadakan lebih awal. Untuk tes yang satu ini saya belajar lebih serius, membeli buku dan membahas soal-soal. Berhubung TKD ini adalah tes yang terakhir maka harus dilakukan dengan maksimal. Di hari pelaksanaan TKD tepatnya tanggal 22 Juni 2016. Ujian TKD berjalan lancar, saya datang tepat waktu dan membawa perlengkapan yang dibutuhkan. Saat melihat soal TKD saya merasa sedikit yakin dapat mengerjakannya dengan tepat walaupun ada beberapa soal yang cukup memutar otak dan memakan waktu untuk menjawabnya.

Semua tes telah saya lalui dengan cukup baik dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Pengumuman yang tidak sesuai jadwalpun membuat perasaan tidak tenang bagi saya. Pengumuman yang seharusnya keluar pada tanggal 29 diundur menjadi tanggal 1. Setelah penantian yang mencemaskan, akhirnya pengumuman keluar. Saat saya melihat nama saya ada di daftar pengumuman saya merasa sangat lega dan senang karena semua perjuangan yang saya hadapi tidaklah sia-sia.

Setelah membaca hal yang perlu disiapkan untuk melakukan daftar ulang, saya pun langsung mengurus semuanya. Surat-surat yang diperlukan juga cukup banyak dan tidak cukup satu hari untuk menyelesaikan semuanya. Pengurusan surat-surat saya lakukan di Medan, hitung-hitung sekalian pamit dengan orang tua dan liburan sejenak. Setelah semua surat telah selesai saya kembali ke Jakarta untuk mengurus surat berhenti di kampus lalu bersiap-siap pergi daftar ulang di Pontianak.

Sebelum pergi ke Pontianak untuk daftar ulang saya kembali mengecek barang-barang yang perlu dibawa, dan surat-surat yang diperlukan untuk daftar ulang. Tepat tanggal 27 Juli 2016, langsung dari bandara saya menuju BDK Pontianak untuk daftar ulang. Sedikit kendala terjadi karena saya lupa untuk membawa materai. Setlah materai lengkap saya langsung masuk keruangan daftar ulang. Di dalam ruangan saya merasa sedikit grogi saat melakukan daftar ulang, namun semua berjalan lancar.

Setiap jalan pasti ada hambatannya dan untuk menuju kesuksesan juga tidaklah mudah. Saat melakukan sesuatu, hal yang terbaiklah yang akan saya lakukan dan saya akan melakukannya sampai akhir karena setiap masalah yang datang adalah ujian pendewasaan tidak ada alasan untuk menyerah. Benahi dirimu dan jadilah seorang yang lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan