Home » Artikel » Penasaran Masuk PKN STAN

Penasaran Masuk PKN STAN

PENERIMAAN MAHASISWA PKN STAN.

Aku berasal dari Kota Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Aku berumur 17 tahun dan lulusan dari SMA Negeri 1 Sumbawa Besar yang merupakan salah satu sekolah favorit di kabupatenku.

Aku mulai tertarik untuk mengikuti penerimaan mahasiswa PKN STAN saat kelas X. Waktu itu, di awal semester genap, salah seorang alumni SMA Negeri 1 Sumbawa Besar, Kak Harry, datang ke sekolah. Menggunakan seragam yang membuatnya semakin terlihat gagah, dia memperkenalkan dirinya dan barulah aku tahu bahwa Kak Harry adalah mahasiswa program studi Diploma 1 Kepabeanan dan Cukai di Balai Diklat Keuangan Denpasar.

Kak Harry menjelaskan banyak hal mengenai STAN – saat itu STAN belum berganti nama menjadi PKN STAN – mulai dari tes saringan masuk STAN berupa tes tertulis, tes kesehatan dan kebugaran, tes wawancara hingga bagaimana proses pembelajaran disana. Sayangnya waktu Kak Harry terbatas sehingga dia segera mengakhiri penjelasannya. Padahal masih banyak yang aku ingin ketahui mengenai STAN.

Semakin penasaran dengan informasi Kak Harry yang kurang lengkap, aku browsing di internet. Aku juga bertanya kepada kenalan yang merupakan lulusan STAN. Aku bertanya mengenai tes saringan masuknya dengan lebih rinci serta program studi apa saja yang terdapat di STAN. Setelah mengetahui apa saja program studi yang terdapat di STAN aku kembali mencari satu-satu penjelasan tentang program studi tersebut. Mulai dari pelajaran apa saja yang dibahas serta bagaimana peluang kerjanya nanti. Setelah mengetahui lebih banyak mengenai PKN STAN aku memutuskan untuk mengikuti penerimaan mahasiswa PKN STAN setelah lulus SMA nanti.

Di awal kelas XII, seorang teman kelasku membawa berita yang sempat membuatku khawatir. Ia berkata bahwa tahun depan USM STAN tidak akan diadakan. Aku mencoba untuk tetap tenang dan berkata bahwa mungkin saja kabar tersebut merupakan kabar burung karena belum ada pemberitahuan resmi dari pihak STAN.

Akhirnya kepastian itu datang. Dua orang alumni yang lain, Kak Wira dan Kak Retno, yang saat itu merupakan mahasiswa Diploma 3 Akuntansi dan mahasiswi Diploma 1 Pajak di PKN STAN datang untuk mensosialisasikan perkembangan terakhir STAN. Dalam kesempatan itu dijelaskan beberapa hal, termasuk tayangan video wawancara dengan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Ibu Sumiyati yang menjelaskan transformasi STAN menjadi PKN STAN serta kepastian mengenai dibukanya pendaftaran PKN STAN untuk tahun ajaran 2016 dengan USM yang rencananya akan diadakan lebih awal daripada tahun sebelumnya dan juga adanya tes kemampuan dasar (TKD) pada USM STAN.

Walaupun merasa lega karena kabar yang aku dengar sebelumnya hanyalah kabar burung. Tetapi aku juga merasa khawatir karena dengan adanya ujian masuk yang dipercepat dan tambahan materi tes (TKD) berarti waktuku untuk mempersiapkan diri juga lebih sedikit. Apalagi peminat untuk masuk STAN juga semakin meningkat, sehingga kemungkinan untuk lulus lebih kecil.

Akhirnya untuk mempersiapkan diri akupun membeli beberapa buku-buku ujian masuk STAN. Selain itu, aku juga mengikuti Try Out yang diadakan oleh alumni STAN yang berada di daerahku. Nilaiku saat Try Out ternyata belum memenuhi syarat kelulusan, terutama pada Tes Potensi Akademik. Akupun semakin rajin membaca buku-buku yang aku beli agar aku dapat mengejar kekuranganku sekalian mempersiapkan diriku untuk ujian nasional yang akan diselenggarakan beberapa bulan lagi.

Selain mempersiapkan diri untuk tes tertulis, aku juga mulai mempersiapkan diriku untuk tes kesehatan dan kebugaran. Setiap sore aku berlari di lapangan sepak bola yang berada di dekat rumahku. Pada hari minggu aku berlari pada siang hari untuk melatih fisikku agar aku kuat jika aku harus lari pada tengah hari sebagaimana tes sebenarnya.

Awalnya aku merasa tidak kuat berlari keliling lapangan, terutama karena panasnya. Aku sempat merasa tertekan karena sebentar lagi ujian nasional tiba. Namun kedua orang tuaku tetap memaksaku untuk berlatih. Aku sempat menangis karena merasa tidak mampu untuk berlatih lagi. Namun kedua orang tuaku menyakinkan jika aku tetap berusaha maka untuk seterusnya aku akan terbiasa. Akhirnya akupun terus berlatih saat pagi, siang, dan sore jika ada kesempatan.

Karena masih merasa persiapanku belum matang, akupun meminta agar diperbolehkan mengikuti lembaga bimbingan belajar yang khusus untuk mengahadapi USM STAN. Setelah mencari-cari, ternyata di daerahku tidak ada bimbingan belajar yang seperti itu. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta, karena selain banyak pilihan bimbingan belajar, di Yogyakarta juga kebetulan ada kakakku yang sedang kuliah.

Saat pendaftaran USM STAN dibuka aku segera mendaftar. Namun aku sempat bingung untuk memilih prioritas program studi. Akupun segera membahasnya dengan kedua orang tuaku. Setelah berdiskusi dengan kedua orang tuaku aku segera memilih prioritas program studi yang ada. Namun aku tidak memilih program studi Kepabeanan dan Cukai karena setelah mengukur tinggi badanku ternyata tinggi badanku tidak mencukupi. Akupun hanya memilih 7 program studi dari 9 program studi yang ada. Karena aku mengikuti bimbingan belajar yang berada di Yogyakarta, akupun memilih mengikuti tes di Yogyakarta daripada mengikuti tes di Mataram atau Denpasar yang berada dekat dengan daerahku.

Sehari setelah ujian nasional aku segera berangkat menuju Yogyakarta karena aku mendapat giliran untuk melakukan verifikasi berkas pada tanggal 15 April 2016. Sebelum berangkat kedua orang tuaku berpesan agar aku selalu rajin beribadah dan berdoa, belajar yang rajin, serta selalu lari pagi di sebuah bendungan yang terletak di sekitar kostku di Yogyakarta.

Selama satu bulan aku mengikuti bimbingan belajar yang aku pilih. setiap pagi aku selalu jogging pagi di bendungan yang berada di sekitar kostku. Setelah itu aku segera bersiap untuk mengikuti bimbingan belajar dari jam 8 pagi hingga jam 12 siang. Pada akhir minggu, bimbingan belajarku mengadakan Try Out untuk melihat sudah sampai mana kemampuan kita. Selama Try Out tersebut aku selalu lulus passing grade walaupun nilaiku belum terlalu tinggi. Namun semakin lama nilaiku semakin menunjukkan adanya peningkatan yang menunjukkan usahaku tidak sia-sia.

Tidak terasa sudah satu bulan berlalu, tes tahap pertama sudah di depan mata. Setelah mengerjakan tes tersebut aku takut tidak bisa lulus karena aku hanya menjawab 63 soal TPA dan 45 soal TBI. Teman-teman bimbingan belajarku juga membahas mengenai soal tersebut di grup Line. Mereka merasa soal tersebut sangat mudah, sedangkan aku kebalikannya. Aku merasa soal-soal tersebut sangat sulit serta waktu yang terasa sangat pendek. Namun aku tetap optimis karena aku merasa telah melakukan yang terbaik dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Sungguh bahagia rasanya karena saat pengumuman tes tahap pertama, namaku ternyata masuk dalam daftar yang lulus seleksi. Setelah mengucap syukur kepada Allah aku segera menelepon kedua orang tuaku untuk memberikan kabar tersebut, kedua orang tuaku sangat senang mendengarnya, namun mereka mengingatkanku untuk tidak terlalu senang dulu karena masih ada tes selanjutnya. Akupun segera mempersiapkan diriku untuk tes selanjutnya, yaitu tes kesehatan dan kebugaran.

Saat mengikuti tes kesehatan dan kebugaran badanku tidak dalam kondisi yang cukup baik. Selain karena mengalami flu, kakiku juga sakit karena aku terlalu memaksakan saat latian dua hari menjelang tes fisik. Namun karena aku merasa bahwa ini kesempatan terakhirku, akupun memaksakan diri untuk mengikuti tes ini. Sambil menahan perih pada kakiku aku memaksa diri untuk berlari, sebelumnya aku mengingat pesan kedua orang tuaku agar nanti jangan terpengaruh dengan peserta lainnya yang secara reflek pasti akan lari sekenang-kencangnya karena nanti aku akan lebih cepat kehabisan nafas. Setelah tes selesai aku sangat optimis dengan hasilnya karena aku telah melakukan yang terbaik. Setelah menunggu selama 2 minggu hasil ujian keluar dan ternyata sesuai dengan harapanku, aku lulus seleksi tahap kedua. Akupun kembali mengucap syukur kepada Allah karena telah membantuku dalam tes tersebut.

Tes terakhir adalah tes kemampuan dasar. Karena materi yang akan diujikan merupakan materi-materi yang merupakan pelajaran favoritku di SMA dulu aku optimis dengan tes ini. Aku kembali mengikuti bimbingan belajarku . Sambil belajar dengan materi yang diberikan oleh bimbingan belajarku, aku juga menggunakan materi-materi SMA yang telah diajarkan guruku dulu. Aku meminta tolong orang tuaku agar mengirimkan foto dari buku-buku catatanku agar aku lebih mengusainya.

Saat ujianpun tiba, dengan tenang aku mengerjakan soal tersebut. Setelah melihat nilaiku, aku semakin optimis dapat lulus di PKN STAN karena nilaiku termasuk tinggi. Dugaanku ternyata benar, saat pengumuman aku diterima di program studi D1 Pajak di BDK Pontianak. Tak bosan aku mengucapkan syukur kepada Allah karena telah membantuku. Akupun menelepon kedua orang tuaku untuk memberi tahukan kabar gembira ini.

Dan disinilah aku sekarang, salah satu tempat yang diidamkan banyak orang. Tidak aku sia-siakan kesempatan ini. Maka aku akan melanjutkan perjuanganku dan insyaallah bisa lulus dan menjadi punggawa keuangan negara yang disiplin, berintegritas, dan bertanggung jawab. Aku ingin menjadi orang yang berguna bagi agama, keluarga, nusa, bangsa, dan negara. Sebagaimana doa dan harapan kedua orang tuaku.

Dapatkan Materi Persiapan USM PKN STAN Lengkap sekarang

Tinggalkan Balasan