Home » Artikel » PERJALANAN MENUJU PUNCAK (DITERIMA DI PKN STAN)

PERJALANAN MENUJU PUNCAK (DITERIMA DI PKN STAN)

Awal mula perjalanan saya berawal pada awal tahun 2016, dimana para mahasiswa PKN STAN yang berasal dari Klaten mengadakan try out sekaligus faculty fair dengan nama acara Stanmospher. Pada saat kakak-kakak tingkat kami mengadakan Stanmospher, bertepatan dengan kesibukan kami siswa-siswi SMA N 1 Klaten mengisi daftar pemetaan untuk Snmptn. Sehingga kami tidak bisa mempersiapkan diri dengan matang untuk mengikuti atau mengerjakan soal-soal try out yang disediakan kakak-kakak tingkat kami. Namun, siapa yang menyangka, syukur Alhamdulillah, saya bisa mengerjakan soal cukup banyak dan meraih peringkat ke-2 dalam perolehan nilai akumulasi. Saat itu, saya tidak terlalu termotivasi untuk masuk ke PKN STAN karena cita-cita saya pada saat itu untuk masuk ke salah satu fakultas di ITB. Namun seiring berjalannya waktu, niat saya untuk kuliah di Universitas terbaik se-Indonesia itu mulai surut. Berbagai macam faktor yang menyebabkan hal tersebut. Salah satunya karena saya ingin medapatkan jaminan pekerjaan setelah lulus kuliah nanti.

Saya mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti tes tahap pertama PKN STAN. Namun pada saat saya mulai untuk benar-benar konsentrasi masuk ke PKN STAN terbilang terlambat karena hanya tersisa 1 minggu untuk mempersiapkan diri sebelum ujian tertulis yang dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2016. Saya tidak tertarik untuk mengikuti bimbel-bimbel yang menawarkan janji-janji manis pada para siswa pendaftar PKN STAN karena telah terbukti pada tahun sebelumnya, yang mengikuti bimbel tidak pasti diterima di PKN STAN. Saya memutuskan untuk belajar dengan mengerjakan soal-soal tahun beberapa tahun sebelumnya dan contoh-contoh soal yang dibukukan oleh kakak tingkat kami.

Saya hanya sempat berlatih mengerjakan 3 contoh paket soal namun dengan alokasi waktu yang sama yaitu 100 menit untuk TPA saya rata-rata mengerjakan 110 soal dari 120 soal tersedia, dengan menerapkan beberapa tips dan trik yang diajarkan oleh kakak tingkat kami. Sedangkan untuk TBI saya berhasil menyelesaikan seluruh soal yang tersedia dengan waktu kurang dari 50 menit. Dengan hasil latihan seperti itu saya cukup optimis menghadapi tes tahap 1.

Hari dimana kurang lebih 108.000 orang menggantungkan nasib pada selembar kertas pun tiba. Saya mendapat tempat ujian di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Perjalanan yang ditempuh apabila dari rumah saya sekitar 1 jam 30 menit. Saya berangkat mendekati waktu ujian dimulai karena saya tidak ingin terlalu lama menunggu. Entah mengapa saat mengerjakan soal, saya terdorong ego untuk mengerjakan secara berurutan dari nomor 1 dan tidak menerapkan tips dan trik yang diajarkan kakak tingkat kami sehingga saya terhambat pada soal matematika dan hanya bisa mengerjakan sekitar 90 soal TPA. Sedang untuk tes Bahasa Inggris saya mengerjakan semua soal yang ada. Dengan hanya mengerjakan sekitar 90 soal TPA, saya merasa rendah diri bisa lolos tes tahap 1 karena bila dibandingkan dengan kakak tingkat saya yang mengerjakan 110 soal dan 100% yakin benar saya kalah 20 soal.

Hari berganti hari, akhirnya peserta ujian tes tahap 1 yang lolos pun diumumkan. Alhamdulillah, nama saya tercantum dalam daftar nama yang berlembar-lembar itu. Saya bersama 61 siswa lain yang lolos tes tahap 1 yang berasal dari SMA N 1 Klaten. Kami 62 bersama dengan siswa dari SMA lain, berlatih bersama untuk mempersiapkan tes tahap 2, didampingi kakak tingkat yang tengah berlibur. Setelah beberapa kali kami berlatih bersama, akhirnya kami memutuskan untuk berlatih secara individu, tetapi masih ada pula yang berlatih secara berkelompok. Saat saya berlatih sendiri, saya lebih memaksakan diri terutama pada latihan berlari sehingga saya mengalami nyeri yang tak tertahankan pada lutut kiri saya. Pada saat itu saya panik bukan main. Lutut saya terasa amat sakit untuk berjalan, sedang pelaksanaan tes tahap 2 tinggal beberapa hari lagi. Saya pun bercerita kepada Ibu saya. Beliau selalu punya solusi untuk setiap masalah saya.

Pertama, saya diajak berobat ke salah satu dokter ternama di daerah saya, namun diagnosa dokter tentang penyebab sakit pada lutut saya tidak meyakinkan. Dokter mendiagnosa lutut saya sakit karena saya kurang pemanasan, padahal saya tahu sendiri lutut saya sakit karena saya terlalu memaksakannya. Saya memilih tidak bercerita kepada dokter karena saya takut apabila pengobatan medis memakan waktu yang lama.keesokan harinya, saya diantar Ibu ke pengobatan alternatif. Dan Ibu membawa saya ke tukang pijat langganan Ibu saya. Bukan main kekhawatiran saya, saya berpikir, untuk berjalan saja sakit apalagi bila dipijat. Tetapi dugaan saya salah, tukang pijat tersebut ternyata tidak memijat langsung pada lutut kiri saya, melainkan memijat saluran darah yang berhubungan dengan lutut kiri saya tersebut. Setelah 3 kali saya dipijat, saya merasa kaki saya sudah bisa untuk berlari dan ternyata memang benar. Saya sangat senang karena saya bisa maksimal dalam tes tahap 2 nanti.

Selang beberapa hari kemudian, hari dimana saya harus mengerahkan seluruh otot dan energi saya untuk berlari pun tiba. Saya terbilang sedikit terlambat dating ke lokasi tes tahap 2, sehingga saya mendapatkan nomor antrean 181. Menurut cerita teman-teman yang sudah melaksanakan tes, apabila mendapatkan nomor antrean lebih dari 150, maka harus bersiap untuk lari dengan kondisi cuaca yang panas karena sudah lebih dari jam 9. Sebelum melaksanakan tes kebugaran, terlebih dahulu kami mengikuti tes kesehatan yang tidak memakan waktu cukup lama. Dan seperti yang telah diceritakan oleh teman saya, saya mulai berlari sekitar pukul 09.30 dan kebetulan pula cuaca saat itu sangat panas sehingga saya bersama peserta lain banyak mengeluh. Dengan sekuat tenaga saya berlari, keringat mengalir dengan dengan deras dan rasa haus yang amat sangat menyerang saya.

Setelah 11 menit berlalu, dibunyikan sirine pertanda waktu tersisa 1 menit yang seharusnya dimanfaatkan para peserta untuk lari sprint untuk mendapatkan jarak terjauh kami, hanya bisa saya manfaatkan untuk menambah 100 meter karena saya sudah terlalu capai. Menurut perhitungan saya, saya berhasil menempuh jarak 1900 meter, cukup baik bagi perempuan, namun terbilang jelek untuk laki-laki. Namun, ternyata apabila dibandingkan dengan peserta lain, saya termasuk dalam 10 orang tercepat dikloter saya sehingga saya sedikit tenang. Dan benar seperti yang saya kira, saat peserta yang lolos tes tahap 2 diumumkan, nama saya terselip diantara ribuan nama lain yang ada pada pengumuman tersebut. Kemudian saya segera mempersiapkan diri untuk menghadapi tes tahap 3 dimana kami mengerjakan soal dengan system CAT, dan katanya apabila kami lolos tes terakhir ini kami sudah tercatat sebagai CPNS. Hal tersebut membuat saya sedikit termotivasi sehingga saya belajar dengan sungguh-sungguh.

Saya mengerjakan soal-soal try out CPNS yang saya beli, yang berisi pula bonus aplikasi tes CPNS dengan system yang menyerupai CAT. Dalam tes pertama saya mendapatkan nilai yang mengecewakan bahkan tertulis saya tidak lulus tes. Hal tersebut bak sebuah cambuk bagi saya untuk terus belajar lebih giat lagi. Saya mengumpulkan berbagai e-book dari berbagai sumber yang ada, mulai dari internet. Namun karena keterbatasan waktu, saya tidak bisa mempelajari seluruh e-book yang saya punya. Namun, Saya berhasil mendapatkan nilai yang cukup memuaskan pada percobaan tes kedua dengan aplikasi yang menggunakan sistem menyerupai dengan system CAT tersebut. Namun saya masih terasa janggal dengan hasil tes psikotes saya yang selalu dibawah 150. Kemudian saya memutuskan untuk mengerjakan sekaligus melihat kunci jawaban, pilihan mana yang mendapatkan skor tertinggi yaitu 5 poin. Setelah beberapa soal saya coba dan sekaligus saya cermati, saya akhirnya berhasil mengetahui ciri-ciri jawaban terbaik untuk soal tes psikotes.

Hari pelaksanaan tes tahap 3 pun tiba. Saya mendapat jatah kloter kedua, dimana ujian dilaksanakan pukul 10.00 . Kali ini saya memilih berangkat dari rumah karena saya kira tidak terlalu terburu-buru. Namun, saya malah bangun kesiangan perjalanan yang musti ditemput dalam waktu 1 jam, hanya saya tempuh dalam waktu 30 menit. Hal ini membuat jantung saya lebih berdebar-debar karena terpacu adrenaline-nya. Alhasil, sampai saat ujian berlangsung pun saya masih deg-degan. Saya berusaha untuk menengkan diri sebisa mungkin, saya mengira, saya sudah mengerjakan tes dengan tenang dan cermat. Namun, saat saya mengklik tombol selesai, nilai yang muncul sangat mengecewakan saya. Saya mendapat nilai cukup baik di tes wawasan kebangsaan dan tes intejensi umum, namun pada tes kepribadian diri saya mendapatkan nilai yang sangat rendah, lebih rendah dari nilai latihan-latihan saya sebelumnya. Saya terus berdoa agar diterima dan ditempatkan di tempat yang terbaik untuk saya.

Pada hari pengumuman, nama saya tercantum dalam calon mahasiswa yang kuliah di Kota Pontianak, lebih tepatnya di Jl. Supadio km 8,8 Kubu Raya. Perasaan senang, bangga, lega bercampur dengan perasaan bingung, kecewa dan lemas. Saya senang, bangga dan lega karena diterima di PKN STAN, namun disatu sisi, saya bingung, kecewa dan lemas karena saya ditempatkan untuk kuliah di BDK Pontianak. Namun, beberapa menit kemudian, perasaan-perasaan negatif tersebut hilang dikala membayangkan peserta seleksi lain yang berjumlah puluhan ribu yang telah gugur dalam persaingan mendapatkan kursi mahasiswa PKN STAN. Dan akhirnya pada hari ini, saya membuat tugas untuk membuat sebuah karangan yang menceritakan perjuangan saya dapat diterima di PKN STAN yang tercinta ini. Saya tidak akan pernah lagi kecewa atau langsung lemas ketika saya ditempatkan di pelosok mana pun karena saya meyakini, ini yang terbaik untuk saya. Alhamdulillah.

Tinggalkan Balasan