Home » Artikel » PKN STAN Adalah Pilihanku

PKN STAN Adalah Pilihanku

Pilih STAN atau PTN? – Oke saya akan mulai dari niat masuk PKN STAN. Jadi waktu itu saya baru saja menyelesaikan simulasi UN CBT. Setelah turun, di smada student center saya melihat begitu banyak siswa yang mengerumun di pojokan mading. Ternyata ada kakak-kakak Paspilo yang lagi mensosialisasikan tryout yang akan diadakan di SMA Negeri 4 Surakarta, selain itu kakak-kakak Paspilo juga membuka layanan konsultasi segala sesuatu yang berkaitan dengan PKN STAN, mulai dari status PKN STAN yang sudah berubah dari sekolah tinggi menjadi politeknik, jurusan-jurusan yang ada di PKN STAN dengan segala seluk beluk sistem perkuliahan, mata kuliah, ujian, sistem DO, sampai gaji jika bekerja sebagai PNS di lingkungan Kemenkeu. Tapi sayang, saya tidak begitu tertarik dengan kegiatan tryout tersebut, karena saya juga tidak niat melanjutkan kuliah di PKN STAN.

Pilih STAN atau PTN

Saat itu yang ada di pikiran saya hanyalah bagaimana mengatur strategi untuk memaksimalkan peluang di SNMPTN. Pilih STAN atau PTN? Jelas saat itu saya masih lebih memilih PTN. Mengapa demikian? Sepanjang saya bersekolah di SMA, hampir setiap hari saya banyak menghabiskan waktu di sekolah hanya untuk membaca informasi di laman-laman resmi yang berkaitan dengan pendidikan tinggi dan karir lanjutan. Hal itulah yang membuat semangatku untuk mendapatkan PTN terbaik untuk karirku kedepan semakin mengebu-gebu, dan niat untuk mendaftar PKN STAN semakin kabur, hilang entah kemana.

Pilih STAN atau PTN? “Gua mah pilih S1 PTN begitulah pikirku ketika temanku mengajak mendaftar tryout. Hal itu bisa terjadi karena informasi yang aku dapatkan selama ini dan pengalaman-pengalaman orang-orang yang aku kenal ditambah pengalaman orang lain yang menyesal kuliah di PKN STAN meskipun sekarang sudah jadi PNS di Kemenkeu.

Pilih STAN atau PTN? Titik Balik Perubahan Pilihan

Siang yang cerah di hari sabtu itu seakan berubah jadi kelabu. Karena saya masih nunggak SPP saya harus mengambil kartu peserta UAS secara terpisah di ruang kesiswaan. Disitu saya mendapatkan omelan yang menyakitkan plus dilemparnya kartu peserta saya. CUKUP! Cukup saya saja yang mengalami posisi seperti ini, saya bersumpah bahwa penerus saya nanti tidak akan mengalami apa yang ayahnya alami sekarang.  Saya harus cepat lepas, mentas hahahaha kira-kira seperti itulah pikiran saya, hiperbola memang, mungkin pengaruh saya terlalu banyak nonton sinetron. Tapi pada intinya peristiwa itulah titik balik saya berniat mendaftar STAN. Saya ingin cepat mentas dari tanggungan orang tua.

Menjelang UN grup line kelas sedang ramai-ramainya membahas berita di website Menpan-RB tentang informasi bahwa tahun ini pendaftaran PTK se-Indonesia dilakukan secara satu pintu, satu NIK hanya diperkenankan untuk mendaftar di satu PTK. Perasaan bodo amat sama PTK (termasuk STAN) hilang sirna sudah sejak tragedi kertu peserta ujian. Saya justru jadi bingung untuk memilih PTK mana yang bisa membuat saya cepat mentas dari tanggungan orang tua. STAN sudah pasti pikiran saya tertuju kesana, tapi saya juga tergoda dengan IPDN dimana full gratis (orang tua saya tidak harus mengeluarkan uang untuk biaya hidup karena ada asrama) dan ada kuota provinsi. Tetapi setelah berpikir ulang dengan berita-berita yang sudah banyak saya baca di media mengenai perpeloncoan di IPDN maka saya pilih STAN saja. Waktu seakan berjalan begitu lama, laman panseldikdin tidak segera dibuka setelah berita itu dipublikasikan, setelah menunggu berhari-hari akhirnya laman panseldikdin diluncurkan.

Tanggal 22 Maret 2016 tanpa berpikir lama saya langsung membuka laman panseldikdin dan mendaftarkan NIK saya dengan memilih instansi Kementerian Keuangan (membawahi PTK PKN STAN). Setelah mendapat nomor registrasi saya langsung membuka laman USM PKN STAN namun hasilnya nihil. Berulang kali saya mencoba login tetap tidak bisa. Akhirnya saya pulang dan berharap di hari kedua pendaftaran saya dapat langsung bisa login, dan alhamdulillah saya sangat senang berhasil login. Berlebihan? Saya rasa tidak karena memang hari itu saya sangat senang dapat login di laman USM PKN STAN yang trafficnya padat di awal-awal pendaftaran. Saya baca berulang-ulang laman tersebut. Saya mulai menyusun agenda mulai dari jadwal pengambilan BPU sampai tes tahap akhir.

Sungguh sangat berantakan. Jadwal pengambilan BPU bertabrakan dengan ujian nasional minggu kedua (UN CBT SMA dilaksanakan dalam jangka waktu 2 minggu, senin-kamis senin-selasa) tapi alhamdulillah pendaftaran diperpanjang sehingga jadwal mundur. Tidak sampai disitu jadwal USM juga bertabrakan dengan shift kerja saya (setelah selesai UN saya mengisi waktu dengan bekerja sebagai karyawan di sebuah swalayan lokal di Solo) yaitu tanggal 15 Mei padahal di hari itu saya shift pagi dan akhirnya ada rekan kerja yang baik hati untuk bertukar shift dengan saya. Ujian tahap 1 saya lewati dengan tenang, karena pada tanggal 9 Mei saya sudah diterima di jurusan S1 Akuntansi Universitas Diponegoro jadi misalnya tidak lolos pun saya sudah aman. Ujian tahap 1 selesai kemudian bergegas untuk pulang. Dari kampus Sadhar Jogja jam 11.35 sampai Solo jam 13.00 sholat makan lalu berangkat kerja shift siang, sungguh hari yang melelahkan.

Acara perpisahan di Sasana Kridha Kusuma (gedung wanita) Manahan kala itu (25 Mei 2016) berlangsung khidmat. Rasa syukur dan haru tercurahkan oleh semua wisudawan. Mulai dari yang lolos SNMPTN, PMDK Vokasi, juga STAN, alhamdulillah saya termasuk yang dapat dua anugrah SNMPTN dan STAN. Setelah acara selesai saya dapat wejangan dari guru sekaligus orang tua saya selama dua tahun di SMA (beliau yang biasa membantu masalah finansial saya di sekolah seperti mengusahakan beasiswa, mensubsidi LKS saya, bahkan pernah membiayai reparasi handphone saya). Beliau minta saya untuk berjuang di STAN sampai akhir. Saya semakin semangat untuk mengikuti tes tahap dua. Tapi menjelang tes tahap dua saya was-was. Karena bisa jadi jadwalnya bersamaan dengan daftar ulang SNMPTN. Tetapi ternyata saya kebagian jadwal tanggal 30, malangnya saat itu asma saya kambuh.

Hasilnya saya hanya dapat 3 ¾ putaran dari rata-rata cowok 5 putaran, dan akhirnya saya hanya bisa pasrah. Tanggal 15 juni 2016 pengumuman kelulusan tes tahap dua, alhamdulillah saya lolos. Padahal saya tidak yakin dengan hasil tes kebugaran yang di bawah rata-rata. Sungguh mukjizat itu nyata. Misi selanjutnya adalah tes terakhir (TKD), saya dapat giliran tanggal 20 Juni sesi dua dengan jumlah peserta 90 orang. Alhamdulillah saya mendapat peringkat 1 di antara 90 orang sesi dua waktu itu dengan skor kalau tidak salah 389 (TIU 125, TWK 105, TKP 159). Jadi saya bisa pulang dan tidur nyenyak. Ya begitulah harapankau. Tapi tidak demikian, waktu pengumuman kelulusan yang sempat molor membuat saya khawatir, dan akhirnya saya dinyatakan lolos USM PKN STAN di jurusan D1 Pajak BDK Pontianak. Subhanallah. Jadi, pilih STAN atau PTN? Jelas dong pilih STAN!**

Cek di Instagram @bimbelbebas karena Banyak banget info terbaru dan tips n trick tentang PKN STAN loh! Tersedia juga program bimbel lengkap dan terjangkau. Go follow @bimbelbebas sekarang juga!

https://www.instagram.com/bimbelbebas/

Buat kamu yang BELUM gabung di grup pejuang STAN, yuk join di sini

https://bimbelbebas.com/join/

Kamu bisa saling berbagi informasi dengan teman seperjuanganmu dari berbagai daerah. Juga ada informasi seputar STAN dan link tryout yang akan diberikan setiap minggunya. Jangan sampai ketinggalan ya 🙂

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.