Home » Artikel » Sebuah Kesempatan Masuk PKN STAN

Sebuah Kesempatan Masuk PKN STAN

Ini adalah kisah tentang perjuangan saya untuk bisa sampai di sini, di tempat ini, di posisi ini, di Politeknik Keuangan Negara STAN. Ini adalah kisah tentang bagaimana saya berjuang melawan hambatan dari luar dan dari dalam diri saya sendiri. Ini adalah kisah bagaimana saya berjuang untuk melawan pejuang lain yang jumlahnya lebih dari 100 ribu orang. Ya. Untuk bisa sampai di sini memang butuh perjuangan, dan menurut saya, Politeknik Keuangan Negara STAN memang pantas untuk diperjuangkan.

Keinginan saya untuk bisa masuk di Politeknik Keuangan Negara STAN ini berawal dari rasa iri. Iri melihat kakak kelas yang bahkan berasal dari keluarga biasa-biasa, bisa kuliah, tanpa membebani orang tua, dan membat mereka bangga. Jadi, ya, dengan berbekal rasa iri itu, rasa percaya diri, dan sedikit pengetahuan tentang Politeknik Keuangan Negara STAN, tahun 2015 lalu saya putuskan untuk mencoba ikut USM Politeknik Keuangan Negara STAN. Namun ternyata saya gagal. Padahal saya sudah yakin saya bisa, karena sebelumnya saya sudah banyak latihan soal dan sudah mengikuti banyak try out, saya pikir persiapan saya sebelumnya sudah cukup matang, tapi ternyata saya gagal, bahkan di tes tahap pertama. Kecewa? Pasti. Rencana selanjutnya? Belum terpikirkan. Hal pertama yang saya lakukan saat itu adalah mencoba mengikhlaskan, mencoba menerima kenyataan bahwa mungkin di sana bukan tempat saya, bahwa mungkin ada yang lebih pantas berada di sana. Sulit memang, tapi ya, mau bagaimana lagi, mungkin belum berjodoh.

Adalah hal yang tabu bagi saya yang merupakan anak dari keluarga biasa-biasa untuk nganggur saat saya sudah lulus sekolah, karena saya sudah seharusnya bisa mandiri, sudah seharusnya bisa meringankan beban orang tua. Jadi dengan pertimbangan itu, saya memutuskan untuk mencari pekerjaan. Tapi ternyata, mencari pekerjaan juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan, apalagi untuk lulusan SMA seperti saya, yang minim pengetahuan dan minim pengalaman. Tapi Allah itu baik, Dia pasti memberi kita jalan, buktinya, tentu saja setelah melewati pencarian yang panjang dan setelah mengirimkan surat lamaran pekerjaan ke sana sini, akhirnya pada bulan januari 2016 saya mendapatkan pekerjaan.

Untuk saya, beradaptasi di lingkungan yang benar-benar baru adalah hal yang benar-benar tidah mudah. Di sini kita seperti masuk ke sebuah tim yang sudah solid, apalagi kita harus berusaha membaur di dalamnya, Itu adalah tantangan tersendiri untuk saya, tapi saya mau dan saya akan berusaha. Dan setelah mengenal lebih jauh, ternyata mereka semua adalah orang-orang yang menyenangkan, orang-orang yang mau membimbing, orang-orang yang bersahabat, dan orang-orang yang mau bekerja sama. Selama bekerja, saya belajar banyak hal dari mereka, belajar mengatasi masalah, belajar memaklumi, belajar untuk tidak saling menyalahkan, belajar tepat waktu, belajar memanfaatkan waktu dengan baik, dan masih banyak hal lain lagi, yang tentu saja positif. Jadi begitulah saya, saat itu, dengan pekerjaan yang saya dapat, dengan rekan kerja saya, dengan sahabat baru saya, dan dengan pelajaran-pelajaran  yang saya dapatkan. Saya nyaman dengan semua itu dan saya bersyukur karena telah mendapatkan semua itu, sangat.

Di awal tahun 2016, saya mendengar kabar bahwa kakak kelas yang dulu sempat kuliah di Politeknik Keuangan Negara STAN sudah sudah lulus dan sudah bekerja sebagai di bawah kementerian keuangan, sudah jadi PNS tentu saja, sudah mandiri, sudah bisa membantu meringankan beban orang tua, dan pasti membuat mereka bangga. Hal itu membuat saya iri bahkan lebih dari sebelumnya dan itu sangat mengganggu rasa nyaman saya, rasa nyaman yang sudah saya dapatkan sebelumnya. Dan hal itu membuat saya bimbang karena ternyata keinginan saya untuk bisa masuk Politeknik Keuangan Negara STAN masih ada, dan mendengar kabar itu membuat semangat saya timbul lagi. Dari situlah saya ingin tahu, dan berusaha mencari tahu, lebih banyak tentang Politeknik Keuangan Negara STAN.

Mengejar Kesempatan Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN

Semakin banyak saya tahu, semakin besar keinginan saya untuk bisa masuk ke Politeknik Keuangan Negara STAN, apalagi tahun ini usia saya sudah hampir 20 tahun, itu artinya kesempatan saya untuk bisa ikut USM Politeknik Keuangan Negara STAN tinggal tahun ini. Ini kesempatan terakhir saya!! Manfaatkan atau tidak sama sekali. Sementara di sisi lain saya juga masih bingung apakah saya siap melepas semua yang sudah saya dapat ini, semua yang sudah saya capai ini, karena untuk saya bisa sampai di sini pun bukannya tanpa perjuangan yang besar, dan untuk saya bisa merasa nyaman di sini juga bukannya tanpa melewati proses adaptasi yang panjang.

Namun akhirnya saya mulai belajar, dengan melawan rasa malas, rasa lelah, dan bingung itu tadi, saya mulai beranjak dari zona nyaman saya, saya mulai memperbanyak latihan soal, ikut banyak try out, belajar pada kakak kelas, dan sesekali latihan lari keliling lapangan. Soal apakah pada akhirnya saya ikut USM Politeknik Keuangan Negara STAN atau tidak itu urusan nanti, apa lagi soal apakah saya lulus atau tidak jika akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti USM Politeknik Keuangan Negara STAN, sama sekali belum saya pikirkan, yang penting usaha dulu, bergerak dulu, ya, walaupun rasa bingung itu masih ada, masih melekat malah.

Lelah? Iya. Karena sulit sekali memang membagi waktu antara belajar dan bekerja, apalagi melawan rasa malas saya, sulit. Sampai pada akhirnya pada awal bulan April 2016 pendaftaran USM Politeknik Keuangan Negara STAN resmi dibuka, tapi saya masih dengan kebimbangan saya, masih belum menemukan keputusan akhir saya. Jadilah saya bertanya, bertukar, dan meminta pendapat dari orang-orang terdekat saya. Dari semua pihak yang saya mintai pendapatnya, hampir seluruhnya mendukung saya untuk ikut USM Politeknik Keuangan Negara STAN. Jadi, dengan dukungan dari mereka, sedikit persiapan, tekad yang ada dalam diri saya, dan dengan harapan semoga Allah memberi saya sedikit keberuntungan, akhirnya mendaftarlah saya di USM Politeknik Keuangan Negara STAN, dengan lebih dari 100 ribu pendaftar lain sebagai saingan saya, dan dengan lokasi tes di Jakarta sementara tempat tinggal dan tempat bekerja saya ada di Bekasi, yang artinya saya harus siap bolak-balik Jakarta-Bekasi Bekasi-Jakarta setiap kali saya mengikuti satu tahapan tes.

Tahap demi tahap tes saya ikuti dengan meminta kompromi pada atasan kerja saya untuk dapat menyesuaikan jadwal kerja saya dengan jawal USM Politeknik Keuangan Negara STAN, atau sesekali meminta ijin tidak masuk bekerja jika terpaksa. Ya, atasan saya tahu tentang hal ini, karena saya memang berusaha terbuka dari awal, harapannya adalah supaya nantinya segala sesuatunya bisa menjadi lebih mudah, tentu saja awalnya saya mendapatkan respon yang negatif, tapi setelah saya memberikan banyak penjelasan, pengertian, dan proses negosiasi yang panjang dan rumit, akhirnya atasan kerja saya mau memaklumi dan bersedia bekerja sama, dan kalau pun pada akhirnya saya harus mengundurkan diri, atasan kerja saya bersedia memaklumi.

Tahap demi tahap tes yang saya ikuti dapat saya lewati dengan baik. Tentu saja itu karena faktor keberuntungan yang tinggi, karena jujur saya tidak percaya diri. Iya, saya ulangi sekali lagi, saya dapat melewatinya dengan baik, yang artinya saya lolos. Sampai tahap akhir! Saya diterima di Politeknik Keuangan Negara STAN! Tapi ada yang tahu dimana lokasi pendidikan yang saya dapat? Di Pontianak saudara-saudara! Pontianak! Dari situ saya semakin bimbang, jaauh lebih bimbang dari kebimbangan saya yang jauh lebih bimbang dari sebelumnya. Bukan karena  saya tidak berani, takut jauh dari  keluarga, atau bahkan takut mereka tidak mendukung saya. Tentu saja mereka pasti mendukung apapun keputusan saya, saya sangat tahu itu. Yang saya takut adalah bahwa mungkin nantinya saya akan menyusahkan keluarga saya lebih banyak, akan menambah berat beban mereka lebih banyak. Namun mereka tahu, sangat tahu, seberapa besar keinginan saya, kemauan saya, jadi mereka mendesak saya untuk mengambilnya. Tentu saja itu bukan desakan dalam arti sebenarnya, itu adalah dukungan, dukungan penuh dari mereka. Jadi akhirnya saya ambillah kuliah di Politeknik Keuangan Negara STAN, tepatnya di Pontianak itu.

Itulah bagaimana saya bisa sampai di sini, dengan banyak perjuangan dan jaauh lebih banyak keberuntungan yang saya dapatkan. Saya tahu, saya sangat tahu bahwa ini bukanlan akhir dari perjuangan saya, karena masih harus ada perjuangan yang lebih besar agar perjuangan saya sebelumnya dapat terbayar, supaya saya dapat membayar pengorbanan mereka, dan supaya dukungan penuh dari mereka tidak sia-sia.

Dan saya bisa sampai di sini juga bukan berati saya sudah layak, sama sekali bukan, mungkin ini hanya karena Allah ingin memberi saya kesempatan, dan sudah seharusnya saya menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya supaya saya bisa menjadi layak yang sebenarnya. Jadi, ya, saya akan dan saya siap berusaha dan berjuang lagi setelah ini. **

Cek di Instagram @bimbelbebas karena Banyak banget info terbaru dan tips n trick tentang PKN STAN loh! Tersedia juga program bimbel lengkap dan terjangkau. Go follow @bimbelbebas sekarang juga!

https://www.instagram.com/bimbelbebas/

Buat kamu yang BELUM gabung di grup pejuang STAN, yuk join di sini

http://bimbelbebas.com/join/

Kamu bisa saling berbagi informasi dengan teman seperjuanganmu dari berbagai daerah. Juga ada informasi seputar STAN dan  link tryout yang akan diberikan setiap minggunya. Jangan sampai ketinggalan ya 🙂

Tinggalkan Balasan