Home » Artikel » SATU JALAN UNTUK SEJUTA GERBANG

SATU JALAN UNTUK SEJUTA GERBANG

Politeknik STAN, salah satu sekolah ikatan dinas yang paling diminati di Indonesia, setiap tahunnya ada ribuan bahkan ratusan ribu orang yang berusaha berjuang untuk mendapatkannya. Obrolan temanku. Beberapa orang bahkan sudah takut hanya untuk mendaftarkan dirinya ke sana. Ada seorang teman yang pernah aku tanya kenapa dia tidak mau mendaftarkan dirinya ke Politeknik STAN, dan jawabnya,

Aku gak berani, peminatnya banyak sekali, takut,

Takut. Itu adalah kata-kata yang sering aku dengar, membuat keyakinanku runtuh. Namun aku ingat-ingat kembali, kata orang bijak, takut hanya kerikil dalam jalan perjuangan. Takut itu hanya menghalangi.

politeknik stan

Dengan tekat dan keyakinan. Bismillah. Waktu itu jemariku sudah selesai menari-nari diatas keyboard dalam urusan mendaftarkan diri ke Politeknik STAN tahun 2016. Klik. Tersimpanlah sudah namaku dalam database pendaftar Politeknik STAN tahun 2016 di sektor Yogyakarta.

April 2016. Waktunya verifikasi berkas dan pengambilan bukti peserta ujian (BPU) di BDK Yogyakarta, jarak dari rumahku ke BDK itu memakan waktu kurang lebih tiga jam. Sebelum berangkat aku bahkan sudah bangun lebih pagi daripada ayam jantan.  Sekitar pukul  enam pagi aku sudah sampai disana, namun mataku terbelalak, ternyata jadwal verifikasi berkas dan pengambilan bukti peserta ujianku bukan hari ini, tapi kemarin!. Aku sangat kaget dan merasa menyesal, apalagi dalam pengumuman jadwal sudah tercetak jelas dengan tinta bahwa,

Calon peserta ujian hanya akan dilayani pada hari, jam, dan lokasi yang telah ditentukan.

Seketika pupus harapanku, aku hanya tertunduk lesu dan merasa bodoh hanya karena kesalahan kecil, aku harus kehilangan kesempatan untuk bisa sekolah di PKN STAN. Namun, ayahku tidak putus asa, ayahku berusaha untuk mencari solusinya, akhirnya setelah menunggu berjam-jam kemudian saat antrian mulai habis, segala puji bagi-Nya. Panitia mengizinkanku masuk. Belum cukup disitu ternyata dokumen yang kubawa kurang lengkap, hal ini karena terganjal masalah konversi nilai skala 4 ke nilai skala 100. Besok aku harus kembali lagi kesini untuk menyerahkan perlengkapan dokumen itu. Sedih? Pasti. Lagi-lagi aku harus merepotkan kedua orang tuaku. Setelah lengkap masalah perlengkapan dokumen itu, aku mendapatkan bukti peserta ujian (BPU) dengan tempat ujian di tribun merah GOR Among Rogo Yogyakarta. Merah untuk tempat ujian? Beberapa orang mengatakan itu pertanda tidak bagus bak warna merah dalam rapor, kegagalan.

Sampai di rumah, aku berusaha untuk mencari soal latihan ujian saringan masuk (USM) Politeknik STAN. Alumni SMA ku yang sudah sekolah di Politeknik STAN menyediakan buku soal latihan, saat aku akan membeli salah satunya, ternyata stoknya sudah habis. Tak berpikir lama aku langsung teringat jika teman sekosku ada yang sudah membeli buku soal latihan, sejurus aku segera menemuinya dan meminjam bukunya untuk memfotocopy, dan mengembalikannya lagi, terimakasih kawan, terimakasih Tuhan.Masa masa saat belajar soal latihan tersebut, aku menemui banyak kesulitan pada soal soal english grammar, aku sama sekali tidak mengerti tentang english grammar di soal latihan, terasa sangat sulit. Untungnya, perpustakaan segera terlintas di pikiranku, esoknya aku pergi untuk meminjam buku Bahasa Inggris yang memuat materi grammar di perpustakaan sekolah dan mempelajarinya berkali-kali, juga menghafalkan beberapa teorinya bila kurasa perlu.

Menjalani Tahapan USM Politeknik STAN

15 Mei. Hari ini jadwal ujian saringan masuk (USM) Politeknik STAN. Kau harus siap!. Kata hatiku menyemangati diriku sendiri. Namun kenyataan sungguh berbanding terbalik, aku sama sekali tidak siap. Pagi itu, jika orang lain terlihat siap dan percaya diri menghadapi ujian,  aku hanya terduduk dalam tribun merah GOR Among Rogo dengan menahan rasa sakit perut yang tiba-tiba menyerangku. Biasanya tidak pernah seperti ini, tapi kenapa justru muncul disaat penting seperti sekarang?. Aku menatap angka jam digital raksasa dalam GOR, berwarna merah dan berkedip-kedip, kedipannya seolah senada dengan tusukan rasa sakit perutku ini. Soal dan lembar jawaban didepanku, kukerjakan sedemikian rupa dan semampuku, karena aku harus berpikir sambil menahan rasa sakit itu. Sedetikpun rasanya seperti menulis dengan pisau.

25 Mei. Lulus ujian saringan masuk USM STAN. Alhamdulillah. Selanjutnya, tes kesehatan dan kebugaran. Jadwal tesku tinggal seminggu lagi. Aku yang malas olahraga ini, harus mampu melatih tubuhku agar kuat berlari selama 12 menit, hanya dalam waktu latihan seminggu. Mau tidak mau, setiap pagi dan sore aku berlatih memutari lapangan desaku. Dalam tujuh hari berkeringat itu, kram, nyeri otot, salep obat otot, dan balsem seolah sudah menjadi makanan pokokku. Melelahkan dan menyakitkan. Mungkin juga memalukan saat ada orang menghirup bau menyengat balsem dariku. Ya, saat mereka nyegir dan seolah berkata, Jaman sekarang cewe sering bau balsem? Aku hanya membalas dengan senyuman terpaksa yang mungkin bisa mereka terjemahkan dengan kata Hah-ha-ha dengan nada tidak ikhlas.

1 Juni. Satu, Dua, Satu, Dua. Suara kami saat pemanasan sebelum tes kesehatan dan kebugaran. Dan, ini agak keren karena aku mendapatkan seragam tes warna emas. Warna paling berkilau diantara warna lainnya. Dan keajaiban seolah datang, saat itu aku yang harusnya tidak mungkin  mampu berlari tanpa henti hingga lima putaran lapangan dalam waktu 12 menit, rekor ajaib untukku yang selama latihan hanya mampu mencapai jarak tiga putaran, dan shuttle run yang sering membuatku terpeleset pun ajaibnya juga bisa kulewati dengan mudah. Sungguh, Allah Maha Kuasa. Dalam sekian detik itu, kalimat Kun Faya Kun-Nya benar-benar merasuk menyebar dalam tubuhku.

15 Juni. Aku lulus tes kesehatan dan kebugaran. Tinggal satu langkah lagi untuk masuk ke PKN STAN!.

Tes selanjutnya adalah tes kemampuan dasar (TKD) sebelumnya aku pikir tes TKD adalah semacam tes potensi dan bakat dan aku salah besar, ternyata tes kemampuan dasar (TKD) adalah tes yang terdiri dari cabang ilmu Sejarah, Bahasa Indonesia, Matematika, psikologi konseling, Pendidikan Kewarganegaraan, dan seterusnya. Materinya sangat luas, mau tidak mau pasti harus menghafalkan tanggal tanggal penting dan pasal pasal. Tes untuk calon pegwai negeri sipil (PNS) begitu kata mudahnya. Kelihatan berat. Dan memang akan semakin berat semisal aku menganggapnya berat. Kutenangkan hatiku. Mencoba untuk serius tapi santai.

Lagi-lagi masalah buku soal latihan, di perpustakaan tidak ada buku semacam itu. Syukurlah, ibuku boleh meminjam buku latihan soal tes kemampuan dasar (TKD) dari temannya. Tapi ternyata dipinjami buku soal latihan 2 tahun yang lalu. Sempat kecewa. Tapi, aku sadar diri, buku ini kan cuma pinjam. Memang sudah seharusnya berterimakasih. Ada yang meminjamkan saja sudah lega. Buku soal latihan yang sangat tebal bak setumpuk novel seri Harry Potter itu pun kubaca dan kupelajari, lembar demi lembar.

22 Juni. Siang ini aku melihat skor TKD di layar komputer, alhamdulillah semua nilai per sub tes diatas batasan nilai, meskipun untuk skor TWK hanya pas diatas batasan nilainya. Waktu itu aku mendapatkan total skor TKD tepat di angka 350. Dan itu sangat mengkhawatirkan, karena rata-rata nasional skor TKD waktu itu adalah 350 koma sekian. Dalam artian, nilaiku dibawah nilai rata-rata TKD nasional. Aku menunduk, tenagaku sudah habis, dan harapanku diujung tanduk. Kini aku dalam satu kata, pasrah lagi.

Hari Pengumuman. Subuh agak siang, muncul sebuah notifikasi dari chat WhatsApp, di handphone milikku, ternyata itu adalah pesan yang dikirimkan oleh salah satu teman sekelasku di SMA. Segera kubaca pesan itu.

Wah, Fi. Selamat, tapi adoh ning Pontianak. (Wah, Fi. Selamat, tapi jauh di Pontianak)

Apane sing ning Pontianak? (Apanya yang di Pontianak?)

Kowe ning STAN, (Kamu di STAN)

Segeralah aku bersujud syukur kepada Sang Pemilik Jagad Raya. Teringat ayat-ayat firman-Nya yang begitu indah. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?. Apabila kamu sekalian menghitung nikmat-Nya maka tidaklah bisa menghitungnya.

Perjuanganmu sudah berakhir?, dia bertanya padaku.

Aku hanya diam dan menatap jauh ke depan. Aku sudah melewati sebuah jalan penuh kerikil. Dan sekarang berada di depan jutaan gerbang perjuangan lain yang sudah menunggu di depan mata. Tersembunyi di balik gerbang. Bukan hanya satu, mungkin jutaan, dan lebih besar.

Sejenak, tiba-tiba sebuah kata dari seorang temanku terlintas di pikiranku. Hamasah! (Semangat!). **

Cek di Instagram @bimbelbebas karena Banyak banget info terbaru dan tips n trick tentang PKN STAN loh! Tersedia juga program bimbel lengkap dan terjangkau. Go follow @bimbelbebas sekarang juga!

https://www.instagram.com/bimbelbebas/

Buat kamu yang BELUM gabung di grup pejuang STAN, yuk join di sini

http://bimbelbebas.com/join/

Kamu bisa saling berbagi informasi dengan teman seperjuanganmu dari berbagai daerah. Juga ada informasi seputar STAN dan link tryout yang akan diberikan setiap minggunya. Jangan sampai ketinggalan ya 🙂

Tinggalkan Balasan