Home » Artikel » Setetes Cahaya Dalam Kelam Malam (Sekolah Ikatan Dinas PKN STAN)

Setetes Cahaya Dalam Kelam Malam (Sekolah Ikatan Dinas PKN STAN)

Bisa masuk perguruan tinggi kedinasan seperti sekolah ikatan dinas PKN STAN itu mungkin adalah mimpi banyak orang dan harapan banyak orang tua. Tak terkecuali orang tua saya. Melihat keberhasilan kakak sepupu, orang tua saya juga ingin saya mempunyai kesuksesan seperti dia. Ketika pendaftaran untuk perguruan-perguruan tinggi kedinasan telah dibuka, saya memilih mendaftar di sekolah ikatan dinas PKN STAN, entah mengapa. Banyak dari teman-teman saya yang mendaftar juga, saya berharap banyak dari kami yang diterima.

Saat itu, sebelum Ujian Nasional saya hanya berfikir semoga saya bisa masuk di salah satu perguruan-perguruan tinggi lewat jalur apa pun. Jujur saja, saya tidak memprioritaskan sekolah ikatan dinas PKN STAN di atas perguruan tinggi lainnya. Karena saya punya universitas favorit yang ingin saya masuki. Waktu itu saya sangat ingin menjadi teknolog pangan.

Tetapi saat pengumuman SNMPTN, saya gagal masuk jurusan Teknologi Pangan. Hal itu membuat saya sedih, dan otomatis, saya harus bekerja lebih keras untuk SBMPTN dan tes-tes sekolah ikatan dinas PKN STAN. Saya tahu masuk sekolah ikatan dinas PKN STAN tidaklah mudah. Dengan ber-ratus ribu orang yang mendaftar, menjadi salah satu mahasiswa sekolah ikatan dinas PKN STAN akan menjadi hal yang sulit. Peluang untuk lolos tes pertama sangat kecil.

Oleh karena itu saya fokus belajar tes sekolah ikatan dinas PKN STAN setelah Ujian Nasional. Tidak mudah juga. Materi-materi yang keluar di tes pertama sekolah ikatan dinas PKN STAN itu bukan materi-materi yang biasa saya dapat di sekolah, bukan rumus-sumus yang saya biasa hafalkan. Bukan tentang apa yang terjadi jika hormon auksin terkena cahaya matahari, atau bagaimana mengidentifikasi sebuah larutan itu termasuk koloid atau bukan. Tes sekolah ikatan dinas PKN STAN itu tentang logika, dan untuk urusan logika, saya bukan ahlinya. Hingga malam sebelum tes tahap pertama sekolah ikatan dinas PKN STAN pun, saya merasa masih kurang persiapan.

Malam itu saya tidur di kost kakak saya. Karena kost kakak saya lebih dekat dengan tempat tesnya, yaitu SMK 2 Depok, Sleman, Yogyakarta. Saya bangun pagi sekali untuk bersiap-siap dan datang lebih awal karena saya belum tahu ruang mana nanti yang akan saya gunakan. Dengan dibonceng sepeda motor kakak saya, saya berangkat menuju tempat tes. Sampai di sana ternyata sudah banyak orang. Untunglah ruangan tempat tes saya mudah ditemukan, jadi saya hanya tinggal menunggu pengawas datang, ruangan dibuka, dan mengerjakan. Saya sangat berharap hari itu berlalu dengan cepat.

Setelah menunggu selama lebih dari satu jam, akhirnya waktu tes pun tiba. Saya memasuki ruangan dan duduk di tempat yang telah ditentukan. Saya berdoa supaya saya diberi ketenangan dan kemudahan selama mengerjakan. Soal yang pertama adalah soal TPA, dilanjutkan dengan tes Bahasa Inggris. Saya tinggalkan beberapa bagian yang ragu dan mengerjakan yang mudah menurut saya. Saya banyak mengosongi jawaban di bagian verbal, karena banyak dari kata-kata yang disajikan asing bagi saya. Soal-soal hitungan saya coba selesaikan dengan cepat namun teliti. Saya tidak mau nilai saya berkurang karena kecerobohan yang tidak perlu. Saya memang tidak terlalu cepat kalau berhitung, hal itu membuat saya kehabisan waktu hingga soal-soal deret gambar saya sama sekali tak tersentuh hingga lonceng tanda berakhirnya tes TPA dibunyikan. Kemudian pengawas membagikan soal Bahasa Inggris. Soanya sesulit tes TEOFL.

Menanti pengumuman tes pertama sekolah ikatan dinas PKN STAN itu sangat mendebarkan. Walaupun sekolah ikatan dinas PKN STAN bukan satu-satunya harapan saya, tapi akan sangat melegakan jika saya lolos. Saya juga tidak membuka pengumuman resminya, karena saya kira saya tidak akan lolos dengan pekerjaan seperti itu. Saya mengetahui kalau saya lolos tes dari teman. Dia sangat senang dan memberi saya selamat. Saya juga sangat lega dan bersyukur karena tes pertama sudah terlalui. Allah telah membantu saya.

Tapi kelegaan itu hanya sesaat karena jalan yang ditempuh untuk bisa menjadi mahasiswa sekolah ikatan dinas PKN STAN masih panjang. Masih ada Tes Kesehatan dan Kebugaran setelah ini. Ayah saya adalah orang yang paling mendukung saya untuk menghadapi tes yang kedua ini. Beliau yang selalu mengingatkan dan menemani saya latihan lari. Saya latihan di jalan atau di lapangan. Saya sempat berfikir mungkin lebih baik kalau tes tahap dua adalah tes tertulis juga karena berlari itu sangat melelahkan.

Pada pagi di hari Jumat tanggal 17 Juni 2016, dengan berbekal doa dan restu orang tua dan teman-teman, saya berangkat ke BDK Yogyakarta untuk menjalani tes diantar ayah saya. Di sana saya bertemu dengan tujuh teman dari sekolah saya yang berhasil lolos hingga tahap dua. Saya benar-benar berharap mereka bisa lolos tes tahap dua juga. Saya mendapat nomor antrian 217 waktu itu. Itu artinya saya mendapat giliran berlari siang hari. Saya khawatir tidak bisa berlari dengan baik karena saat itu matahari sudah tinggi.

Tes kesehatan dimulai dengan mengisi angket tentang riwayat penyakit yang dimiliki. Setelah itu, berat badan dan tinggi saya diukur. Kemudian saya harus tes buta warna dan dilanjutkan dengan tes minus. Saya pikir saya mempunyai penglihatan yang cukup baik, jadi saya tidak terlalu khawatir dengan tes yang satu itu. Selanjutnya adalah tes tekanan darah. Saya berdoa semoga tekanan darah saya normal. Dan sekali lagi, Allah mengabulkan doa saya. Tes selanjutnya adalah tes kesehatan bersama dokter. Setelah memeriksa dan menanyakan beberapa hal, dokter yang itu menuliskan catatan di lembar yang saya bawa dan mengizinkan saya ikut berlari.

Benar dugaan saya, ketika saya sampai di lapangan tempat saya berlari, cuacanya cukup panas. Dan untuk mengurangi debu, panitia menyemprotkan air ke sekeliling lapangan. Panitia lalu memberikan nomor kepada semua peserta. Setiap kali peseta melewati garis start, peserta harus meneriakkan nomor dan warna yang dipakainya. Saya masih ingat saya mendapatkan nomor 9 dengan warna hijau. Tetapi saya idak ingat berapa kali saya berhasil melewati garis start, karena yang terpenting bagi saya hanya berlari dan menempuh jarak sejauh mungkin. Untuk ujian yang terakhir, yaitu shuttle run, saya tahu saya tidak melakukannya dengan cukup baik. Namun saya tetap berfikir positif dan menyerahkan hasilnya pada Allah. Dan saya lega karena akhirnya tes PKN STAN tahap dua telah selesai.

Tetapi rangkaian tes masuk PKN STAN masih satu lagi, yaitu Tes Kompetensi dasar (TKD). TKD diselenggarakan waktu bulan puasa. Hal itu turut menguji peserta muslim tentunya. Persiapan TKD saya lakukan saat saya ada waktu luang selama hasil TK belum diumumkan. Namun menjadi lebih sering lagi setelah saya dinyatakan lolos seleksi TKK. Materi yang diujikan sangat banyak dan luas. Saya tidak bisa menebak soal mana dan seperti apa yang akan saya hadapi. Oleh karena itu saya mempelajari semua materinya dengan membuka kembali buku Pendidikan Kewarganegaraan SMA, mencari bahan ujian di internet, menghafal isi pasal-pasal UUD NRI 1945, dan mengasah kembali kemampuan berhitung. Ayah saya juga membelikan buku latihan, yang tentunya sangat membantu.

Sebenarnya saya merasa masih kurang persiapan, sering lupa isi pasal-pasal UUD, dan merasa sangat kurang wawasan tentang Indonesia. Tes kali ini adalah yang paling mendebarkan menurut saya karena hasilnya langsung diketahui. Itu membuat peserta lebih panik dari pada ujian-ujian yang lainnya. Saya mencoba mengerjakan setenang mungkin dan mencoba sebaik mungkin. Saya mencoba untuk berfikir bahwa tes ini adalah UN CBT yang sudah saya lalui untuk menenangkan diri.

Ketika penunjuk waktu di layar komputer menunjukkan sisa waktu tinggal satu menit lebih beberapa detik, saya belum juga berniat untuk mengakhiri pekerjaan saya. Saya masih mengoreksi jawaban untuk memastikan jawaban yang saya pilih tidak keliru ketika tiba-tiba layar komputer telah berganti ke halaman yang menunjukkan hasil tes. Saya kaget selama sepersekian detik sebelum akhirnya merasa cukup puas karena nilai saya di atas nilai yang harus dicapai agar dinyatakan lolos. Walaupun belum sepenuhnya senang karena hasil akhirnya belum pasti, tetapi paling tidak aku masih ada harapan.

Pengumuman hasil TKD sekaligus pengumuman terakhir adalah pengumuman yang sangat penting. Seluruh keluarga saya terus menanyakannya. Mereka sangat tidak sabar menantikannya, agak berbeda dengan saya karena saya masih memikirkan mimpi saya yang lain. Mimpi saya untuk kuliah di universitas favorit saya yang telah menerima saya melalui SBMPTN dan berkesempatan untuk bisa mempelajari makhluk hidup dan alam lebih jauh lagi.

Jujur saja, saya bersyukur ketika pengumuman TKD  diundur. Karena jika saya lolos, sudah pasti saya harus melepaskan SBMPTN yang sudah saya dapatkan dengan perjuangan juga. Saya ingin menikmati menjadi mahasiswa universitas yang saya inginkan lebih lama lagi. Ketika akhirnya tanggal 1 Juli tiba dan saya diberi tahu bahwa saya lolos, saya bersyukur dan sedih di saat yang bersamaan. Saya sangat senang bisa diterima sebagai mahasiswa di PKN STAN, tapi saya sedih ketika tempat belajar saya di Pontianak. Pontianak itu di Pulau Kalimantan, sedangkan rumah saya di Pulau Jawa. Saya belum pernah berada di jarak sejauh itu dengan orang tua. Belum lagi dengan biaya hidup yang lebih mahal dan tidak adanya teman satu sekolah yang bertempat pendidikan di Pontianak, saya sempat mengurungkan niat untuk memilih PKN STAN.

Tetapi akhirnya, dengan petunjuk Allah, dorongan orang-orang terdekat dan juga semangat dari teman-teman, dan mengingat semua perjuangan untuk mendapatkan ini, saya berhasil memantapkan diri untuk memilih PKN STAN sebagai kelanjutan studi saya. Saya tahu pasti akan sulit belajar hal-hal yang tidak menjadi favorit saya, pasti akan sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang jauh dari orang tua, saudara dan sahabat. Tetapi saya menganggapnya sebagai perjuangan untuk mengabdi kepada negara. Saya berharap bisa melakukan yang terbaik untuk negara. Saya tahu saya harus melakukan usaha yang keras dan melapangkan dada untuk menghadapi semua itu, dan itulah yang akan saya lakukan.

Tinggalkan Balasan