Home » Artikel » Setetes Embun Di Tengah Gurun Pasir (Menjadi Mahasiswa Ikatan Dinas)

Setetes Embun Di Tengah Gurun Pasir (Menjadi Mahasiswa Ikatan Dinas)

MAHASISWA IKATAN DINAS

PKN STAN (Politeknik Keuangan Negara Sekolah Akuntansi Negara) atau yang biasa nya disebut STAN adalah salah satu perguruan tinggi negeri yang bekerja sama dengan pemerintah. Berdiri pada tahun 1964 yang berdasar pada Kepres RI No.45 Tahun 1974 Juncto Kepres RI No. 12 Tahun 1967 serta Permen Keuangan RI No.1/PMK/1977 tanggal 1977, sekolah ini menjadi sekolah favorit masyarakat Indonesia. Walaupun umur nya yang masih terbilang muda untuk sebuah instansi pendidikan, namun STAN telah menghasilkan banyak orang-orang sukses di bidang keuangan, seperti Helmy Yahya, Sudirman Said, Gayus Tambunan, dsb. Atas prestasi nya itu, STAN banyak dilirik oleh siswa SMA, SMK, maupun mahasiswa sebagai salah satu sekolah yang menjanjikan dan hal itu membuat mereka berlomba-lomba untuk masuk. Namun tidak bagi diri saya yang merupakan seorang pelajar dari sebuah SMA Negeri di Kota Semarang yang tidak begitu terkenal akan kecerdasan murid nya.

Saya adalah seorang pelajar biasa saja dari sekolah yang biasa saja. Banyak orang yang tidak mengetahui keberadaan sekolah saya, hanya segelintir orang yang akan berkata ooo…disitu atau yang sebelah masjid besar itu? ya, memang sekolah ku terletak tepat di sebelah masjid besar banyumanik. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, bisa dibilang sekolah saya merupakan ukuran sekolah yang ideal dengan lokasi yang strategis. Berawal dari sekolah itu lah, perjuangan saya ingin menjadi mahasiswa ikatan dinas di PKN STAN.

Semenjak kelas 11, saya mulai mempelajari sebuah hal yang sangat seru tapi membuat frustasi dan terkadang menjijikan, bagi segelintir orang memang menjijikan. Seperti makan kuaci, hal ini memang kelihatan sepele dan tidak penting namun bagi orang yang sudah pernah merasakan hal tersebut dia akan berdecak kagum. Hal itu bernama akuntansi, ya akuntansi, pelajaran yang kelihatan nya sepele namun sangat besar pengaruh nya di kehidupan. Mempelajari akuntansi merupakan hal yang baru bagi diri saya dan kawan kawan. Pada awal nya dia adalah hal yang sangat asing di telinga kami namun kelamaan kami mulai melihat sifat asli nya. Pada awal nya dia baik, tidak seperti matematika yang langsung menampak kan wujud nya yang terkenal sangar. Akuntansi menyamar kan diri nya sebagai sesuatu yang gampang untuk di pelajari. Hanya orang yang sabar dan teliti yang mampu menjinakkan dia. Setelah mengetahui hal itu banyak dari mereka yang merasa tidak peduli, namun mereka salah.

Di saat kami sudah menginjak kelas 12, mata pelajaran yang satu ini menjadi semakin absurb, kenapa aku bilang absurb? Karena memang akuntansi merupakan satu-satunya pelajaran yang absurb selain fisika. Jangan ditanya dimana absurb nya fisika.. oke, kembali ke jalan yang benar.. di kelas 12 ini saya mulai belajar yang nama nya jurnal perusahaan dagang dan di sini lah mulai muncul ke-absurban nya. Di sini kami mulai menemui tingkat kesulitan yang berbeda. Tidak seperti akuntansi pada kelas 11 yang mempunyai bos tingkat dengan level yang tidak lebih tinggi dari kami, pada kelas 12 ini bos tingkat nya menjadi lebih besar dan hebat. Bos ini bernama jurnal penyesuaian. Jurnal ini tidak se-ringkas jurnal pada kela 11, jurnal ini lebih rumit. Membutuhkan kesabaran dan ketelitian ekstra untuk mengalah kan nya. Di kelas 12 ini juga, kami mulai di berikan latihan ekstra untuk menghadapi sebuah momok bagi semua siswa, yaitu Ujian Nasional.

Ujian nasional tahun ini tidak seperti tahun lalu. Ujian tahun ini di buat lebih menguntungkan bagi siswa.Tidak menentukan kelulusan hal ini menjadi Garis Besar Haluan Negara *halah* bagi para siswa. Namun, banyak dari mereka yang tidak mengetahui bahwa UN masih menjadi penentu dalam ujian masuk perguruan tinggi negeri yang diadakan oleh pemerintah. Kawan-kawan ku tetap santai, mereka tidak takut terhadap ancaman tersebut dan akhirnya pun mereka menghalal kan segala cara untuk bisa mendapat nilai yang baik. Sekitar 98% orang di sekolah ku, banyak yang menggunakan kunci jawaban. Hmm… memang terdengar biasa saja, namun bagi diriku hal itu merupaka sesuatu yang memalukan…Lebih baik gagal dengan baik daripada sukses dengan tidak baik.. Ya memang sih, hasil yang di dapat sangat memuaskan. Kebanyakan dari rekan rekan ku yang menggunakan kunci berhasil mendapat nilai yang bagus pada mata pelajaran yang di nilai nya susah.

Sekarang, kita mulai memasuki era penentuan. Penentuan apakah nama kita akan tercantum pada situs laman pendaftaran perguruan tinggi negeri yang di selenggarakan pemerintah. Nama kita bisa tercantum di situ juga merupakan hal yang luar biasa. Banyak siswa SMA/SMK/MA yang menanti masa tersebut. Menjadi yang nama nya terpampang di situs itu dengan warna hijau pada tulisan nya merupaka hal yang sangat menggembirakan, namun bagi diriku lain hal nya. Nama ku berwarna merah. Warna itu menandakan bahwa diriku tidak di terima di perguruan tinggi yang telah aku pilih. Aku tidak patah semangat. Namun, ada sebuah harapan baru, yang tak pernah aku rencanakan.

Berawal dari dorongan orang tua untuk mencoba mendaftar PKN STAN, dengan harapan awal hanya lolos tahap seleksi satu. Awal nya, aku menolak hal tersebut, karena diriku sudah tidak mau berhadapan dengan yang nama nya menghitung menggunakan rumus. Aku lebih suka jika dihadap kan dengan sesuatu yang berbau kebahasaan, sejarah, dan budaya. Impian ku pada saat itu ada menjadi staff Kedutaan Republik Indonesia atau menjadi seorang Duta Besar. Walaupun dengan sejarah yang bersinar dan prestasi alumni yang tidak meragukan, aku tetap tidak memiliki niatan untuk menjadi mahasiswa ikatan dinas di PKN STAN. Namun, tidak ada salah nya untuk mencoba.

Hari pertama pendaftaran pun dibuka, pada saat itu pendaftaran di lakukan secara online dan konfirmasi ulang dilakukan di Gedung Keuangan Negara I Jawa Tengah di Kota Semarang dengan jeda waktu yang cukup lama. Di hari pertama yang mendaftar sekitar 300 orang dan pada saat yang sama, jadwal pendaftaran mundur karena suatu hal.. menyebalkan? Bisa dibilang seperti itu, dengan harapan bisa pulang cepat untuk menyelesaikan urusan lain nya harus pupus di terpa angin jalanan siang Kota Semarang. Pendaftaran yang di mulai pukul 08.00 harus berakhir pada pukul 20.00, yang lebih menyebal kan, hal tersebut tidak terjadi pada hari hari berikut nya. Pada hari berikut nya, proses konfirmasi ulang dilaksanakan lebih efisien dengan waktu pelayanan yang terhitung cepat, lebih cepat dari quick count hasil pilpres.. aneh memang, seperti hari pertama merupakan hari di mana kita menjadi bahan percobaan waktu.. tapi, ya sudah lah..

Lanjut ke hari dimana tes dilaksanakan. Kebetulan, aku mendapat venue tes tertulis di Universitas PGRI Semarang. Venue di sini sangat lah rumit, karena tidak ada petunjuk khusus tentang nomor maupun nama bangunan, hanya ada secarik kertas yang terpasang di papan pengumuman yang sudah usang dan sebuah papan tulis putih yang di jadikan papan pengumuman. Bersamaan dengan hal itu, saya sudah duduk manis di depan ruang tes, terdiam mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Tidak ada kawan yang menemani. Sewaktu saya dating, keadaan masih sepi, hanya segelintir manusia yang ada di tempat tersebut. Namun, tidak beberapa lama, para peserta tes mulai berdatangan dan memenuhi lokasi. Setelah menunggu, pengawas tes pun masuk dan memberi isyarat kepada peserta tes untuk masuk ke ruangan dengan membawa alat tulis, kartu BPO, dan kartu identitas kami.

Pada saat tes dilaksanakan, suasana ruangan langsung berubah. Menjadi medan perang yang tak kenal ampun, masing-masing peserta mulai mengerjakan dengan serius. Saya yang saat itu mungkin yang paling “bodoh” di ruangan itu mengerjakan dengan seadanya, namun saya tidak mau tidak serius. Di saat waktu tes telah berganti menuju tes bahasa asing, saya mulai bersemangat karena pelajaran ini lah yang paling saya kuasai. Saya berusaha untuk mengisi semua kolom jawaban yang ada pada kertas jawaban tidak seperti sebelum nya yang hanya saya isi beberapa nomor yang bisa saya kerjakan. Untuk tes bahasa asing, saya merasa percaya diri, namun tidak untuk tes pengetahuan umum. Saya sangat pesimis tentang tes itu.

Menunggu pengumuman untuk tes kedua juga merupakan sebuah penantian panjang, karena semasa itu saya tidak melakukan kegiatan apa-apa sehingga terasa sangat lama. Akhirnya penantian itu pun berakhir, saat pengumuman di keluarkan di situs laman kemenkeu. Nama saya tercantum di pengumuman yang berbentuk file. Saya merasa takjub, karena tidak menyangka bisa masuk menembus puluhan ribu orang pada seleksi tingkat I. Namun, saya juga merasa kebingungan, kenapa? Karena saya saat itu jarang melakukan olahraga lari dan kebetulan pada saat itu tes nya merupakan tes fisik berupa lari mengitari lapangan selama 12 menit dan shuttle run.

Kembali, perasaan akan gagal menghantui saya, namun dengan tekad membara saya memutuskan untuk mencoba melakukan tes ini secara sungguh-sungguh. Tes lari merupaka yang paling berat, karena saya tidak biasa lari dalam waktu 12 menit. Sehingga di tengah-tengah proses berlari nafas saya mulai tersengal-sengal dan saya merasa akan tumbang. Namun, saya sudah bertekad untuk menghabiskan waktu 12 menit untuk berlari. Akhirnya, saya berhasil menyelesaikan 12 menit dengan berlari secar terus menerus dan berikut nya adalah shuttle run. Saya sudah pasrah untuk hasil tes kali ini dan berdoa yang terbaik.

Kejutan terjadi pada pengumuman tes kedua ini, tanpa disangka-sangka saya berhasil lolos menuju tes seleksi tingkat III dan tes ini adalah tes TKD (Tes Kemampuan Dasar) tes ini biasa dilakukan oleh CPNS sehingga dia bisa menjadi seorang PNS. Pada tahapan tes kali ini, saya mulai belajar secara teratur mengenai materi tes. Dengan jangka waktu yang cukup pendek saya berusaha untuk memenuhi kuota otak. Saat hari tes, saya melakukan nya secara benar – benar dan pasrah akan hasil dan kembali tanpa disangka saya lolos dan akhirnya bisa masuk menjadi mahasiswa ikatan dinas PKN STAN.

Tinggalkan Balasan