Home » Artikel » Si Pendiam Yang Menggemparkan (Masuk Sekolah Ikatan Dinas STAN)

Si Pendiam Yang Menggemparkan (Masuk Sekolah Ikatan Dinas STAN)

Saya akan menceritakan pengalaman dan perjuangan untuk sampai bisa diterima di Sekolah Ikatan Dinas STAN dan mendapat penempatan di Balai Diklat Keuangan Negara di Kabupaten Kubu Raya, Pontianak, Kalimantan Barat. Saya mulai mengenal tentang Politeknik STAN pada saat masih kelas 11 SMA, waktu itu ada kakak kelas saya yang diterima di Sekolah Ikatan Dinas STAN datang ke sekolah untuk memberi motivasi untuk masuk Sekolah Ikatan Dinas STAN. Mereka menjelaskan tentang apa itu Sekolah Ikatan Dinas STAN dan apa saja persyaratan untuk masuknya. Saat pertama saya mendengar saya kurang tertarik dengan Sekolah Ikatan Dinas STAN itu sendiri. Awal niat kuliah memang sudah bulat masuk Universitas Diponegoro, kebetulan saat itu teman-teman saya juga banyak yang mengajak ke Universitas Diponegoro. Namun dari sisi keluarga, mereka lebih mendukung saya untuk masuk Sekolah Ikatan Dinas STAN.

Orang tua saya lebih suka jika saya bersekolah di kedinasan, karena adanya jaminan kerja. Argumen tersebut berlanjut hingga saya naik kelas 12.Ternyata saat kelas 12, ada lagi beberapa kakak kelas dari Sekolah Ikatan Dinas STAN yang datang ke sekolah, kali ini mereka lebih memberikan penjelasan yang lebih detail tentang STAN. Saya pun mulai sedikit tertarik dengan Sekolah Ikatan Dinas STAN itu sendiri karena berbagai alasan, contohnya yaitu karena STAN adalah sekolah kedinasan dimana kesempatan kerja sudah pasti dapat atau akan selalu dicarikan atau ditempatkan langsung kerja. Hal ini sedikit lebih menguntungkan daripada kuliah biasa di Universitas dimana saat sudah lulus, harus mencari pekerjaan sendiri. Akhirnya saya menetapkan STAN sebagai pilihan kedua atau alternatif seandainya Universitas Diponegoro saya tidak diterima. Saya pun mulai belajar sedikit demi sedikit materi-materi yang sekiranya akan muncul di Tes Masuk Sekolah Ikatan Dinas STAN.

Saat itu saya masih tetap fokus sama SNMPTN dan SBMPTN. Karena saya siswa dari kelas IPA, maka tentu saja saya harus mulai mencari tau tentang ilmu-ilmu keuangan, jika nanti saya diterima di Politeknik STAN. Beruntung saat itu sekolah saya menerpakan Kurikulum 2013 dimana terdapat mata pelajaran lintas minat. Lintas minat yang saya dapat saat itu adalah mata pelajaran Ekonomi. Jadi saya pun sudah ada bekal atau bayangan tentang materi keuangan. Mulai awal semester 2, siswa-siswi pun sudah mulai memikirkan tentang lanjutan kuliah nanti. Ternyata yang berminat untuk masuk STAN saat itu lumayan banyak. Pendaftaran belum dibuka saja, siswa-siswi yang berminat sudah mencapai 50% lebih dari total siswa-siswi semua jurusan. Saya pun tambah semangat mengetahui kalau ternyata banyak teman atau barengan untuk masuk ke Politeknik STAN. Informasi demi informasi tentang STAN pun mulai saya cari bersama teman-teman seperti kapan mulai bisa daftar dan apa saja yang ada di Politeknik STAN.

Saya waktu itu hanya mengetahui kalau kampus STAN itu hanya ada di Bintaro, belum terpikirkan oleh saya sama sekali tentang adanya penempatan di Balai Diklat Keuangan daerah lain apalagi yang diluar Jawa. Saya masih terfokus untuk bisa lolos SNMPTN dan SBMPTN, jadi Politeknik STAN saat itu sempat saya lupakan, bahkan tidak sempat untuk memberitahu keluarga, kalau ternyata pendaftarannya sudah dibuka dan dapat diakses secara online di situs Kementrian Keuangan. Pendaftaran SNMPTN pun sudah dimulai, seperti rencana awal, saya lebih fokus untuk bisa diterima di Universitas Diponegoro, dan materi-materi untuk tes masuk SBMPTN pun sudah mulai saya pelajari, sehingga materi tes masuk Politeknik STAN pun sempat tertinggal. Pada suatu hari saya malah benar-benar lupa akan niat masuk Politeknik STAN, hingga suatu ketika kakak kandung saya menanyakan apakah saya sudah mendaftar sekolah lain selain yang SNMPTN dan SBMPTN, yang dimaksud disini adalah sekolah kedinasan.

Saya pun menjawab belum, karena saya juga lebih tertarik pada Universitas biasa. Kakak saya saat itu menyarankan untuk sekalian sebagai cadangan untuk mendaftar ke kedianasan IPDN atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Namun saya menolak saran itu karena saya tahu bahwa IPDN itu banyak kegiatan fisik mulai dari tes sampai hariannya pun, dan saya mengakui bahwa saya tidak kuat dengan kegiatan semi militer seperti itu. Mengingat ingat soal kedinasan, saya teringat akan Politeknik STAN. Saya pun langsung menanyakan pada kakak saya tentang hal itu, dan dia pun setuju akan mendaftarkan saya. Ternyata waku pendaftarannya hanya tinggal 2 hari, ini karena saya benar-benar lupa kalau pendaftaran Politeknik STAN sudah dibuka jauh-jauh hari sebelumnya. Seketika saya dan kakak saya pun mendaftar secara online dan mengisi semua formulir yang diperlukan seperti identitas, nilai rapor, dan pas foto. Â Masa pendaftaran pun sudah tiba dan seketika saya kembali untuk mempelajari materi-materi untuk Tes Masuk Politeknik STAN.

Ternyata waktu untuk Tes STAN dan SBMPTN hampir bersamaan, hanya selang sekitar 1 minggu. Waktu untuk belajar pun bagi saya langsung meningkat dan hampir tidak ada waktu untuk bermain. Kebetulan SNMPTN saya tidak lolos, maka terpaksa harus mengandalkan SBMPTN dan Tes Masuk STAN. Dua materi sekaligus saya pelajari karena saya takut apabila tidak lolos atau tidak diterima keduanya. Dua buku tentang kumpulan soal-soal SBMPTN dan Tes Masuk Sekolah Ikatan Dinas STAN pun saya beli untuk bekal belajar. Menurut saya soal-soal yang diteskan untuk masuk STAN ternyata jauh lebih mudah daripada soal-soal untuk tes SBMPTN. Adapun alasannya karena tes masuk STAN itu hanya terdiri dari 3 materi saja yaitu tes potensi akademik atau TPA, matematika dasar dan penalaran dan bahasa inggris. Dibandingkan dengan tes masuk SBMPTN yang terdiri dari berbagai mata pelajaran sesuai dengan jurusan. Saya pun malah semakin yakin akan tes masuk STAN daripada tes SBMPTN.

Namun tentu saja bukan berarti saya lengah atau kurang serius menghadapi tes STAN, memang soalnya lebih mudah dari SBMPTN menurut saya namun banyaknya saingan tidak kalah banyak dari jumlah total siswa-siswi yang mengikuti tes SBMPTN. Dari sekolah saya saja hampir 70% siswa-siswi yang mendaftar ke Politeknik STAN, entah itu yang benar-benar serius atau yang hanya coba-coba seperti saya ini. Saat tes pun tiba, saya dapat tempat di Semarang tepatnya di SMA Negeri 1 Semarang. Kebetulan juga saya dari Semarang tepatnya di Kab. Semarang, Ungaran. Jadi letaknya masih terhitung dekat dan tentu saja saya tahu betul lokasinya. Saat itu saya diantar oleh bapak saya untuk kesana dengan membawa motor. Saya berbekal buku latihan tes STAN, alat tulis yang ditentukan untuk tes, papan untuk alas dan mengenakan seragam yang juga sebelumnya sudah ditentukan oleh pihak pantia tes masuk Sekolah Ikatan Dinas STAN.

Sesuai perkiraan saya bahwa soal-soal yang diteskan ternyata hampir semudah yang ada dibuku kumpulan soal-soal latihan tes masuk Sekolah Ikatan Dinas STAN yang sebelumnya sudah saya pelajari. Saya pun dapat mengerjakan tes tahap 1 ini dengan tenang dan yakin untuk dapat lolos di tes tahap 1 ini. Saat itu banyak teman-teman saya yang dari SMA yang mendapat tes di SMA Negeri 1 Semarang, bahkan ada yang 1 ruangan tes dengan saya, sehingga untuk masuk pun saya tidak gugup atau semacamnya. Pada pengumuman tes tahap 1 pun akhirnya saya dinyatakan lolos, saya cukup bersyukur karena paling tidak sudah ada bayangan akan kuliah nanti, meskipun tes masuk STAN sendiri masih ada 2 tahap lagi yaitu tes kesehatan dan kebugaran atau TKK dan tes kemampuan dasar atau TKD.

Sementara untuk hasil tes SBMPTN, pengumumannya masih menunggu. Diumumkan juga bahwa peserta yang lolos akan melalui tes tahap 2 yaitu tes kesehatan dan kebugaran yang terdiri dari tes dasar kesehatan dan cacat fisik, lari keliling lapangan selama 12 menit, dan lari kelincahan atau shuttle run. Dalam tes tahap 2 ini akan diberlakukan sistem peserta gugur atau pasti ada yang akan tidak lolos di tahap ini entah apa alasannya. Mengetahui hal ini pun saya langsung mulai untuk latihan mengukur diri terutama untuk yang lari kebugaran 12 menit yang mungkin akan menjadi bagian tersulit bagi saya dan karena juga selang waktunya yang terbilang cepat. Saya pun saat itu dilatih oleh paman saya yang seorang polisi, dia tahu betul akan tes-tes semacam ini dan tahu seberapa yang dibutuhkan untuk dapat lolos.

Ternyata hasilnya pun sedikit tidak memuaskan, namun saya pantang menyerah dan terus mencoba tiap hari tiap pagi. Sampai pada akhirnya pun tiba waktunya untuk tes tahap 2 yaitu tes kesehatan dan kebugaran. Saat itu saya mendapat tempat tes di Stadion Tri Lomba Juang di Semarang. Dalam tes kesehatan saya dinyatakan normal dan dalam tes kebugaran belum dapat langsung dinyatakan lolos, menunggu pengumuman lanjutan. Saat tiba pengumuman yang hanya berselang beberapa hari pun saya dinyatakan lolos kembali dan dapat melanjut ke tes tahap 3 yaitu Tes Kemampuan Dasar atau TKD atau kalau kebanyakan orang menyebutnya tes CPNS atau Calon Pengawai Negeri Sipil. Tentu saja dalam menghadapi tes ini pun saya harus belajar kembali karena materinya saja sudah jauh beda dari tes tahap 1.

Saya mulai belajar membaca tentang buku-buku tentang Undang-Undang, Pemerintahan, dan buku soal-soal untuk tes CPNS, karena kemungkinan besar materi-materi tersebutlah yang akan muncul di tes TKD yang akan datang. Kali ini selang waktu tesnya sedikit lama, sehingga waktu belajarnya pun lebih enak dan santai. Saya rutin membaca buku-buku tadi setiap pagi dan malam, tentu saja saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk lolos lagi. Tes tahap 3 ini adalah tes tahap terakhir sehingga jika siswa dinyatakan lolos maka dia langsung dinyatakan diterima di Politeknik Keuangan STAN. Waktu tes pun tiba, saya dapat tempat tes di Semarang lagi, tes TKD dilaksanakan menggunakan sistem komputer seperti UN, sehinggal nanti hasilnya pun bisa langsung dilihat namun belum ada keterangan dimana siswa akan ditempatkan. Saya mengerjakan dengan tenang dan penuh kesiapan karena telah belajar bersungguh-sungguh.

Dan benar nilai saya pun langsung keluar begitu saya selesai mengerjakan dengan perolehan nilai TKD yaitu 359. Saya pun akhirnya dinyatakan lolos, namun belum ada keterangan dimana saya akan ditempatkan. Selang beberapa hari akhirnya diumumkan bahwa saya mendapat jurusan D1 Pajak dan ditempatkan di Balai Diklat Keuangan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Saya pun merasa senang telah mendapat kuliah dan berupa kedinasan, meskipun ini bukan tujuan awal saya namun cukup untuk membuat orang tua saya bahagia. Dan begitulah kisah perjuangan saya masuk ke Sekolah Ikatan Dinas STAN dari awal pengenalan sampai ke tes-tes yang bertahap dan akhirnya secara resmi diterima sebagai mahasiswa baru.

Tinggalkan Balasan