Home » Artikel » PKN STAN 2016, AKU DATANG!

PKN STAN 2016, AKU DATANG!

Kamu coba dulu buat daftar STAN tahun ini, Win. Aku masih ingat apa yang ibu katakan di telepon hari itu. Jujur saja, aku sudah nyaman kuliah di Semarang. Menjadi mahasiswi STAN memang mimpiku, sejak masih SMP dulu. Ya, aku lulusan tahun 2015 dan sudah hampir setahun kuliah di Universitas Negeri Semarang. Masuk ke sana pun seperti sebuah kebetulan saja, bukan impianku yang sebenarnya. Akan tetapi, lambat laun aku mulai menikmatinya. Ya, Bu. Nanti aku pikir-pikir lagi, ya. Telepon hari itu pun terputus. Rasanya berat membicarakan hal itu. Tugas kuliah menumpuk, belum lagi jadwal penting USM PKN STAN 2016 yang bersamaan dengan jadwal UTS-ku. Bagaimana pun aku tidak ingin IPK-ku jelek karena fokus terbagi. Di sisi lain, aku tak ingin membuat ibu yang selalu mendukungku kecewa.pkn stan 2016

Okelah, tahun lalu sudah sempat gagal daftar, tahun ini mungkin kesempatanku. Toh, doa ibu selalu menyertaiku. Bismillah, aku mantap untuk mendaftar USM PKN STAN 2016. Mulai dari tahap registrasi via online sampai pembayaran aku lakukan di Tegal, selama minggu tenang pra UTS. Setelah semua masalah administrasi selesai, aku lebih memilih belajar untuk UTS. Tak kusentuh sedikit pun buku latihan soal USM STAN yang selalu kupelajari setahun yang lalu itu. Terkesan sombong, ya. Tolong jangan ditiru adegan ini.

Hari demi hari berlalu, aku belum belajar sedikit pun! Maklum ya, aku banyak tugas menjelang UTS. Sampailah pada malam Minggu, malam terakhir sebelum ujian tahap 1 esoknya. Baru kali itu aku menyentuh dan mengulang kembali materi soal-soal USM STAN. Lagi-lagi, harap jangan meniru Kebetulan ada teman satu kos-ku yang juga mendaftar USM STAN kali ini. Tahun lalu ia juga mencoba, namun sayang belum beruntung. Kami belajar bersama, saling bertukar soal. Tapi, ya yang namanya belajar bareng, lebih banyak mengobrol ketimbang belajar itu sendiri. Melalui ngobrol itulah kami jadi tahu impian kami masing-masing, yang memiliki satu tujuan. Lolos USM PKN STAN 2016 sampai akhir, sampai jadi mahasiswa baru (lagi). Tidak ada kata bersaing di antara kami. Saling mendukung adalah kesepakatan kami berdua. Siapa pun berhak untuk lolos, dan siapa pun bisa saja gagal. Kami percaya, masing-masing orang punya rezekinya sendiri-sendiri.

Sehabis sholat subuh, aku dan temanku segera menuju lokasi ujian kami. Tepatnya di Universitas Semarang. Kami sengaja berangkat sepagi itu karena sejujurnya kami tak tahu dimana lokasinya. Hanya berbekal Google Maps kami mulai berpetualang, bahkan ketika fajar belum menampakkan dirinya. Temanku bertugas menyetir motor, sedang aku membonceng sambil terus membaca peta Google. Sempat kami tersesat, tapi untung saja bisa datang tepat waktu sebelum tes dimulai.Selama mengerjakan soal, aku berusaha tetap tenang dan terus mengerjakannya dengan teliti. Waktu terasa sangat cepat berjalan. Ya pasti ada kesulitan, tapi aku tak ingin memikirkannya. Fokus, fokus, dan fokus. Hasilnya aku pasrahkan kepada Allah. Itu saja. Akhirnya hari pengumuman pun tiba. Aku sendiri tak menyangka bisa lolos ujian tahap satu, yang orang-orang katakan itu merupakan ujian yang amat sulit. Terkejut, senang, bingung, bercampur jadi satu.

Setiap sore, aku jogging di area kampus UNNES. Sangat ironis. Tahap kedua menurutku adalah tahap yang paling sulit. Baru lima menit berjalan, napasku sudah habis. Payah memang. Tapi aku tidak boleh menyerah, pikirku. Aku sudah diberi kepercayaan oleh Tuhan sampai tahap ini, aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Sampai pada H-1, aku sudah hampir mencapai target berapa jarak yang harus aku tempuh. Sedihnya, itu hanya hampir. Takut, itulah perasaanku saat itu. Aku takut tak bisa menyelesaikan targetku. Aku takut besok tak berjalan sesuai harapanku. Malam hari, aku tidak bisa tidur. Padahal mataku sudah cukup berat dan sembab karena menangis. Cengeng memang.

Tibalah hari ujian tahap kedua. Aku naik ojek menuju lokasi ujian, tepatnya di GOR Tri Lomba Juang, Semarang. Saat aku tiba di lokasi, GOR sudah penuh oleh para peserta dan orang tua yang mengantar. Jujur, aku sedih. Dari awal ujian, aku tidak pernah ditemani orang tua. Tapi aku yakin, doa orang tuaku selalu menyertai tiap langkahku dalam berjuang.

Tiba saatnya giliranku untuk unjuk gigi. Ya Allah, saat itu aku benar-benar gugup. Mulas dan mual sekaligus aku rasakan saat itu. Bisa kau bayangkan? Peluit dibunyikan, aku dan kelompok lariku mulai berlari. Selama dua belas menit itu, aku berusaha sekuat yang aku bisa. Hampir saja aku menyerah di tengah jalan, ketika baru mencapai dua putaran. Namun, ketika bapak-bapak pemandu menyemangati kami dengan berkata “Bayangkan gerbang STAN di depan kalian! Ayo, semangat!, ya itu memang berguna. Semangatku kembali berkobar. Aku memang lemah dalam urusan lari, tapi nasib orang siapa yang tahu?

Akhirnya tes tahap terakhir sekaligus tes yang baru dilaksanakan tahun ini dimulai. Tes Kemampuan Dasar, sistem CAT. Luar biasa. TKD ini bertepatan dengan jadwal UAS-ku. Sekali lagi, luar biasa. Dimana aku harus memilih, belajar TKD atau materi Hukum Bisnis. Ya tentu saja aku memilih belajar TKD. Dengan berat hati dan berulang kali memohon maaf pada dosenku (tentu saja dalam hati), aku mengabaikan buku Hukum Bisnis di pojok kamar kos.

Esoknya, lagi-lagi bersama abang ojek langganan, aku meluncur ke lokasi ujian, di Gedung Keuangan Negara Semarang. Gugup untuk ke sekian kalinya sebelum tes dimulai. Tentunya saingan saat itu tidak main-main. Mereka semua punya tekad yang kuat seperti aku, bahkan mungkin ada yang lebih berapi-api. Saat memasuki ruang tunggu, aku sudah tidak mau menyentuh buku. Sedangkan peserta lain sibuk membahas materi sana-sini. Aku hanya curi-curi dengar, belajar materi baru dari obrolan mereka. Aku benar-benar gugup dan tidak selera membukan buku.

Tes pun dimulai. Tanganku berkeringat, padahal ruangannya ber-AC. Tapi secara keseluruhan aku rasa lancar-lancar saja. Dan saat hasilnya keluar di monitor komputer, aku cukup puas. Aku optimis bisa lolos. Sambil terus berdoa, aku kembali pulang untuk mengikuti UAS Hukum Bisnis yang entah bagaimana harus ku jawab soal-soalnya.

PKN STAN 2016, aku datang!

Ya begitulah. Pada akhirnya, Febinta Dewinda Putri, lulusan SMA Negeri 1 Tegal tahun 2015 ini diterima sebagai mahasiswi baru di PKN STAN 2016. Terima kasih kepada Allah yang sudah mengabulkan doaku dan doa orang tuaku. Untuk Bapak dan Ibu, aku tahu dalam setiap helaan nafas kalian selalu terselip doa untuk anak sulungmu ini. Terima kasih atas segalanya. Aku berjanji, suatu hari nanti akan ku balas segala pengorbanan kalian, segala peluh yang menetes dari kerja keras kalian. Meski aku tahu balasannya tak akan sebanding dengan kasih sayang dan dukungan kalian selama ini. Perkenalkan, aku seorang perempuan Berasal dari Tegal, sekarang menjadi anak rantau di Pontianak. Hari-hariku sebagai mahasiswi baru PKN STAN baru saja dimulai. Inilah awal dari mimpiku yang akan terus mengembang. PKN STAN 2016, aku datang! **

Cek di Instagram @bimbelbebas karena Banyak banget info terbaru dan tips n trick tentang PKN STAN loh! Tersedia juga program bimbel lengkap dan terjangkau. Go follow @bimbelbebas sekarang juga!

https://www.instagram.com/bimbelbebas/

Buat kamu yang BELUM gabung di grup pejuang STAN, yuk join di sini

http://bimbelbebas.com/join/

Kamu bisa saling berbagi informasi dengan teman seperjuanganmu dari berbagai daerah. Juga ada informasi seputar STAN dan link tryout yang akan diberikan setiap minggunya. Jangan sampai ketinggalan ya 🙂

Tinggalkan Balasan