Home » Artikel » STAN DAN PERJUANGAN KU MERAIH MIMPI

STAN DAN PERJUANGAN KU MERAIH MIMPI

STAN DAN PERJUANGAN

Menjadi mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN dapat dikatakan merupakan impian sebagian besar siswa yang berada di tahun terakhir Sekolah Menengah Atas di seluruh nusantara. Kemapanan hidup setelah lulus kuliah menjadi salah satu alasannya. Saya merupakan salah satu dari ratusan ribu siswa yang memiliki mimpi tersebut.

Saya berasal dari Kota Batik Pekalongan, Jawa Tengah. Saya lulus tahun 2016 dari SMA Negeri 1 Pekalongan. Pertama kali mengenal STAN waktu kelas 9 SMP dari saudara saya yang saat itu merupakan mahasiswa IPB ketika saya berkunjung ke rumah nenek di Banjarnegara. Saudara saya berkata dia menyesal karena dia tidak masuk STAN dan malah kuliah di IPB. Ketika itu saya bertanya apa itu STAN, dia menjelaskan bahwa STAN adalah perguruan tinggi kedinasan di bawah kementerian keuangan. Dia juga menjelaskan bahwa bersekolah di STAN gratis dan malah diberi uang saku. Saat itulah saya mulai tertarik untuk masuk STAN.

Pada saat itu, SMA N 1 Pekalongan menjadi satu-satunya sekolah yang menggunakan kurikulum 2013 di seluruh kota Pekalongan, karenanya walaupun saat kelas sepuluh saya masuk jurusan IPA, saya juga mempelajari mata pelajaran ekonomi-akuntansi. Entah karena guru yang mengajar sudah tua atau karena hal lain, saat itu saya sama sekali tidak paham mata pelajaran akuntansi. Bagi saya mendapatkan nilai bagus di pelajaran itu merupakan anugerah. Sempat saya menyerah akan STAN karena berpikir bahwa kuliah di STAN pasti akan sesulit ini. Hingga akhirnya datanglah guru PPL di SMA N 1 Pekalongan. Guru itu mengajar pelajaran akuntansi dengan cara yang dapat saya pahami. Sejak saat itu saya mulai optimis lagi untuk memperjuangkan STAN.

Ketika kelas duabelas, para mahasiswa IMAKABA STAN atau Ikatan Mahasiswa Pekalongan Batang di STAN mengadakan TRY OUT Ujian Seleksi Masuk STAN. Mereka juga berjualan buku kumpulan soal-soal Tes Potensial Akademik STAN dari tahun-tahun sebelumnya untuk bahan latihan, tentu saja saya langsung mendaftar untuk mengikuti try out dan membeli buku latihannya. Sayangnya, hasil try out tidak sesuai harapan saya; saya tidak lulus nilai mati. Sedih jelas saya rasakan tetapi saya tetap meyakinkan diri bahwa ini hanyalah try out dan saya pasti akan lulus saat Ujian Seleksi Masuk yang sebenarnya.

Di kelas duabelas juga merupakan waktu penentuan dimana akan mendaftar SNMPTN. Saya menetapkan pilihan saya di Universitas Gadjah Mada jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian. Walaupun begitu, saya tetap mendaftar STAN. Karena saat itu belum mendapatkan ijazah, saya harus mengurus legalisasi rapot untuk verifikasi berkas. Mengurus rapot tidaklah semudah yang saya bayangkan. Saya harus berulang kali mengunjungi Tata Usaha sekolah karena ada saja hal yang salah di rapot seperti biodata dan NISN. Ketika ada yang salah, saya harus print ulang rapot dan kembali meminta tanda tangan wali kelas sepuluh dan sebelas saya dulu. Padahal, ketika itu wali kelas sepuluh saya sudah pensiun. Untunglah para staf Tata Usaha sekolah saya yang begitu baiknya membantu saya untuk mendapatkan tanda tangan beliau. Selain itu, banyaknya siswa yang mengurus rapot untuk juga mendaftar di STAN membuat saya harus bersabar mengantri untuk dilayani oleh staf Tata Usaha di sekolah saya. Hal tersebut merupakan perjuangan awal saya demi bersekolah di STAN.

Perjuangan saya yang selanjutnya adalah ketika verifikasi berkas di Gedung Keuangan di Semarang. Rumah saya terletak lumayan jauh dari lokasi verifikasi berkas tersebut kira-kira selama dua jam perjalanan. Saya berangkat naik motor berboncengan dengan kakak saya. Walaupun telah berangkat pagi, saya tetap mendapatkan nomor antrian seratus limapuluh-an lebih dan harus mengantri lama. Untung saja tidak ada berkas penting yang tertinggal. Selesai verifikasi berkas sekitar jam 3 sore. Mendung sudah terlihat menggantung di langit sore itu. Seperti yang telah diduga, hujan turun saat kami meraih Kota Kendal. Karena ketika pagi cuaca sangat cerah, saya tidak terpikir untuk membawa mantel. Sehingga saya harus menghabiskan sisa perjalanan dengan berhujan-hujanan di jalan. Tiba di rumah dalam keadaan basah kuyub dan badan yang sangat lelah, untung saja saya tidak mengalami sakit setelahnya.

SNMPTN diumumkan sebelum Tes Potensial Akademik Ujian Saringan Masuk STAN dilaksanakan. Hasil yang tertera adalah saya berhasil masuk di Universitas Gadjah Mada di jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian. Setelah pengumuman tersebut keraguan muncul dalam diri saya; haruskah saya melanjutkan di STAN dan perjuangan atau memilih perguruan tinggi yang sudah ada di depan saya yakni Univeritas Gadjah Mada. Kebimbangan tersebut membuat saya tidak begitu serius belajar untuk mempersiapkan diri untuk Ujian Saringan Masuk STAN.

Hari tes tiba. Saya datang sehari sebelumnya dan menginap di rumah saudara saya yang berada di Semarang. Tes Potensial Akademik saya berlokasi di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Semarang. Karena hari tes adalah hari Minggu dan bertepatan dengan Car Free Day, saya sedikit mengalami hambatan untuk meraih lokasi ujian dikarenakan macet. Untung saja saya bisa datang lebih awal dan mulai mencari ruangan saya untuk tes. SMA Negeri 1 Semarang merupakan sekolah yang sangat luas. Saya sempat bingung menentukan dimana ruangan saya berada meskipun telah diberi petunjuk denah. Selama tes berlangsung, keriuhan acara car free day yang terdengar jelas sangat mengganggu saya. Saya pesimis akan tes yang telah saya kerjakan karena disamping saya kurang belajar, konsentrasi saya agak terganggu dengan adanya car free day yang begitu ramai. Sekitar dua minggu kemudian hasil tes diumumkan dan menyatakan bahwa saya lolos tes tahap pertama. Saat itu saya berpikir; saya tidak belajar dengan baik tapi Allah memberikan kesempatan saya untuk melanjutkan perjuangan saya di STAN. Sejak itu saya mulai lagi untuk memperjuangkan STAN.

Tes tahap dua yakni Tes Kesehatan dan Kebugaran. Sejujurnya ini adalah tes yang paling saya takutkan. Saya tidak begitu pandai dalam hal olahraga kebugaran terutama lari. Dengan hari berdebar, saya berangkat menuju lokasi tes. Walaupun telah berangkat jam setengah tujuh pagi, saya tetap mendapatkan nomor antrian seratus lebih. Lagi-lagi saya harus mengantri dengan sabar menunggu giliran saya. Setelah melewati tes kesehatan dengan lancar, saya mulai menuju lapangan untuk tes kebugaran sekitar pukul 9 pagi. Cuaca saat itu sangat panas, namun tidak menyurutkan semangat saya. Saya terus meyakinkan diri saya untuk tetap terus berlari dan jangan sampai diselingi jalan. Walaupun sangat lelah saya terus berusaha dan berakhir dengan hasil tiga putaran lebih seratus limapuluh meter dalam waktu duabelas menit. Saya cukup puas dengan hasil tersebut. Dilanjutkan dengan sprint membentuk angka delapan, saya mengakhiri tes hari itu dengan lumayan baik.

Tes ketiga adalah Tes Kemampuan Dasar. Saya harus belajar tentang sejarah Indonesia, Pancasila, Undang-Undang Dasar, Matematika, dan lain sebagainya. Saya sempat kesulitan belajar terutama pada materi sejarah Indonesia dan pengetahuan wawasan kebangsaan. Materi sejarah yang harus di pelajari sangatlah banyak, mulai dari zaman nirleka atau zaman sebelum mengenal tulisan, sejarah penjajahan Indonesia oleh Belanda dan Jepang, hingga sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Materi wawasan kebangsaan juga tidak kalah dengan begitu banyaknya pasal-pasal yang harus dihapalkan. Malam sebelum Tes Kemampuan Dasar hujan turun sangat deras sehingga membuat jalan menuju lokasi tes digenangi banjir. Banjir menyebabkan perjalanan menuju lokasi tes terasa sedikit sulit dengan menaiki sepeda motor. Disamping kendala banjir, Tes Kemampuan Dasar dengan sistem CAT berhasil saya lewati dengan hasil yang lumayan yakni skor akhir 373.

Perjuangan lain yang saya lewati demi STAN adalah melawan keraguan diri saya sendiri untuk memilih antara STAN atau Universitas Gadjah Mada. Setelah membaca pengumuman akhir yang mencantumkan nama saya sebagai calon mahasiswa dari PKN STAN Diploma 1 pajak di Pontianak, keraguan langsung muncul dalam diri saya. Bayangan bersekolah di luar pulau Jawa menyurutkan tekad saya untuk bersekolah di STAN. Saya berpikir sangat sayang untuk melepaskan UGM hanya untuk program Diploma 1 apalagi jurusan kuliah di UGM sangat sesuai dengan passion saya. Keraguan saya di dukung oleh guru Bimbingan Konseling sekolah saya yang lebih mendukung saya untuk kuliah di UGM. Keluarga saya, terutama ibu, mendukung saya untuk bersekolah di STAN. Bimbang sangat saya rasakan di saat itu. Shalat istikharah merupakan satu-satunya jalan saya untuk menentukan pilihan terbaik yang harus saya pilih. Setelah berkonsultasi dengan teman, memikirkan orang tua saya yang sudah tua, dan memikirkan saudara kembar saya yang berkuliah di kedokteran yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, saya memilih STAN Diploma 1 Pajak dengan pertimbangan bahwa bersekolah di STAN memakan waktu yang relatif sebentar hanya setahun dan langsung kerja sehingga setelahnya saya bisa meringankan beban orang tua saya dan membantu biaya kuliah saudara kembar saya.

Mendaftar dan berjuang untuk STAN membuat saya memahami bahwa menjadi dewasa diawali dengan mampu membuat keputusan-keputusan menyangkut masa depan. Bukan hanya untuk diri kita sendiri melainkan juga harus memikirkan orang lain yang kita sayangi yakni keluarga. Mendaftar dan berjuang untuk STAN membuat saya selangkah lebih dewasa dari diri saya yang sebelumnya. Setelah semua pejuangan yang saya lalui, saya bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang tidak semua orang bisa miliki; menjadi bagian dari keluarga besar Politeknik Keuangan Negara STAN.

Tinggalkan Balasan