Home » Artikel » ” Tak Ada Perjuangan Yang Berkhianat “

” Tak Ada Perjuangan Yang Berkhianat “

Tiga bulan yang lalu adalah bulan yang penuh sejarah dalam hidup saya. Bulan yang menentukan masa depan saya. Tepatnya pada tanggal 27 Mei saya ulang tahun. Dan dua hari sebelum itu, yakni tanggal 25 Mei adalah pengumuman Tes tertulis PKN STAN. Begitu berdebar-debarnya jantung saya ketika melihat pengumuman USM STAN yang ternyata ada keajaiban dari Tuhan untuk saya.

Menengok lagi kebelakang, yaitu pada tanggal 25 Maret saya mendaftar online sekolah kedinasan dalam situs yang telah disediakan oleh negara. Anak mana yang tidak ingin membanggakan orang tua, begitupun saya. Karena saya sadar kebanyakan mereka yang bisa melanjutkan kuliah adalah anak dari keluarga yang cukup secara materil. Tidak munafik, saya masuk STAN selain karena kuliah gratis juga karena setelah lulus mendapat masa depan yang cerah. Pasti terdapat pertanyaan, kenapa tidak memilih sekolah kedinasan lain? Saya juga tidak tau, hati, fikiran, naluri, serta keluarga sayalah yang mendorong untuk memilih STAN. Selain faktor diatas, faktor utama penyebab saya memilih PKN STAN atas rekomendasi kakak saya yang juga alumnus PKN STAN yang sekarang sedang menjalankan S2 di Inggris tepatnya di Universitas Edinburgh.

Pada tanggal 15 April 2016 saya yang ditemani kakak sepupu saya melakukan verifikasi data di Semarang. Karena memang jarak antara Sragen-Semarang jika mengendarai bus akan memakan waktu kurang lebih 5 jam, saya berangkat pukul 3 pagi dari rumah. Tepatnya jam 8 saya sudah sampai di Gedung Keuangan Negara Semarang. Saat itu cuaca sedang tidak baik, sehingga kami kehujanan basah kuyup setelah turun dari  bus trans semarang atau lebih terkenal dengan BRT. Lebih menjengkelkannya lagi sepatu kakak saya rusak karena kerasnya air hujan. Sehingga dengan kehujanan kami harus mencari toko sandal. Tidak terduga, pada jam 08.30 ternyata saya memperoleh urutan 253. Saya masuk dan menunggu panggilan nomor saya dilapangan yang disediakan panitia. Tidak terdapat cukup kursi, sehingga sebagian dari kami harus berdiri, termasuk saya.

Disana saya berkenalan dengan teman-teman yang ternyata adalah kakak tingkat yang usianya  terpaut jauh dari saya. Kebanyakan mereka adalah dari siswa Universitas, baik negeri maupun swasta yang  memperjuangkan mimpinya di PKN STAN. Subhanalloh, hal tersebut menambah semangat saya untuk terus memperjuangkan PKN STAN. Pukul 16.00 saya baru selesai verifikasi. Kami pulang dengan mengendarai BRT yang oper sampai 2 kali, barulah bisa naik bus jurusan Semarang-Solo. Pada jam 22.00 kami telah tiba dirumah. Atas izin Tuhan, alhamdulillah hari itu berjalan dengan lancar.

Pada tanggal 15 Mei 2016 kami maba PKN STAN melaksanakan ujian tertulis yang biasa disebut USM PKN STAN di Universitas Semarang. Satu hari sebelumnya, yakni tanggal 14 Mei 2016 saya dan teman sekelas saya yang bernama Fifin menuju Semarang dengan menggunakan bus yang sama saat saya verifikasi kemarin. Pukul 10.00 WIB kami menuju Semarang untuk menuju kos-kosan yang sudah dipesan teman saya via online. Entah ada apa pukul 20.00 WIB kami baru tiba didaerah sekitar kos-kosan. Fifin mencoba menghubungi ibu kos untuk menjemput kami ditempat kami turun dari mikrolet. Tidak disangka ternyata ibu kos yang ditunggu-tunggu sedang keluar kota. Betapa bingungnya kami, dimanakah kami akan berteduh dari dinginnya malam dan derasnya hujan dalam waktu yang sudah larut begini? Setelah lama berkomunikasi terdapat persetujuan bahwa adik dari ibu kos yang akan menjemput kami. Akhirnya kami bisa bernafas kembali.

15 Mei pukul 06.30 WIB kami sudah siap menunggu GO jek yang telah dipesan. Ternyata yang datang hanya satu sepeda motor. Apa boleh buat, kami harus berbagi jok untuk 3 orang yang ukuran badannya cukup besar. Hal yang tidak kuduga terjadi pada hari itu, saya mendapat tempat duduk tepat didepan AC, dan ternyata diruangan itu tidak ada remote control AC. Apa  boleh buat, terpaksa saya mengerjakan USM dengan bibir yang menggigil karena memang suhu yang dipasang terlalu rendah. Sekitar pukul 12.00 WIB kami keluar dari area tes. Dibawah terik matahari kami harus menyusuri panasnya Semarang dengan jalan kaki untuk menuju kosan, karena memang kami bukan anak konglong merat yang bisa pesan taksi kapanpun dibutuhkan. Setelah berberes, kami kembali berjalan kaki untuk menuju jalan raya demi mencari mikrolet, kami harus oper mikrolet beberapa kali untuk bisa menuju terminal bus.

Pada tanggal 25 Mei pukul 00.00 WIB adalah pengumuman USM STAN, malam itu saya tidak dirumah karena saya menunggu ayah yang esok harinya akan melaksanakan operasi. Pukul 03.00 WIB teman saya yang bernama Brian mengirim sms yang mengatakan bahwa dia gagal, dan dia melihat nama saya beserta nomor BPU saya tertera dalam pdf pengumuman yang tersebar. Saya merasa sebuah keajaiban terjadi pada saya, karena sebelum itu saya sudah mencocokan dengan kunci soal USM yang beredar di internet, dan saya mendapati bahwa nilai Bahasa Inggris saya kurang satu poin untuk aman dari nilai mati. Namun Tuhan berkehendak lain. Hal yang membuat saya sedih adalah fifin selaku teman seperjuangan saya harus kandas dalam tahap 1. Setelah kejadian tersebut saya lebih sungguh-sungguh untuk terus berjuang dalam tes tahap kedua, yaitu TKK. Berlari adalah hal yang paling susah untuk saya lakukan, karena memang jantung saya tidak sekuat mereka orang-orang yang sehat.

Namun, demi masa depan dan keluarga apapun akan saya lakukan, sekalipun saya harus mengorbankan hidup saya untuk itu, setidaknya saya sudah berjuang untuk mereka. Kata-kata itulah yang selalu terbesit dibenak saya saat itu. Saya berlatih pagi, siang, sore tanpa mengenal waktu, meskipun saya harus terbakar oleh jahatnya sinar matahari, saya jalankan dengan senang hati.  Hari itupun akhirnya tiba, 2 Juni 2016 pukul 21.00 WIB saya yang diantar oleh kakak sepupu mengendarai mobil pribadi milik  budhe untuk menuju GOR Tri Lomba Juang di Semarang. Pukul 02.00 WIB kami sudah sampai di depan GOR Tri Lomba Juang, pada jam tersebut kami baru bisa istirahat di area spbu, tepatnya diatas sofa jok mobil. Pukul 04.00 WIB saya mandi di POM bensin. Dan pukul 05.00 WIB saya sudah mengantri didepan gerbang GOR selaku saksi bisu perjuangan saya. Entah apa yang telah terjadi, saya mendapat giliran lari pukul 11.00 WIB.

Betapa panasnya semarang pada jam tersebut, tapi saya tetap semangat untuk memperjuangkan hal tersebut. Rompi merah bernomer punggung 3 lah yang akan merasakan derasnya keringat perjuangan saya. Setelah mendapat 3 putaran tiba-tiba terjadi insiden yang tidak terduga. Kepala saya tiba-tiba pusing, mata terasa pedih, hidung keluar air, telingan terasa berdengung, perut tiba-tiba mual. Dengan hal tersebut, secara tertatih-tatih saya berjalan sekuat tenaga untuk menghabiskan waktu yang tersisa. Hanya mereka, orang tua yang saya fikirkan saat itu. Saat waktu telah habis saya hanya bisa mendapat 4 putaran lebih 100m saja. Walaupun begitu saya tetap bersyukur karena jika Tuhan telah berkehendak maka apapun akan terjadi. Setelah istirahat 5 menit, kami melaksanakan shutlle run. Meskipun saat itu mata saya tidak bisa fokus, saya mencoba lakukan sekuat saya bisa.

15 Juni 2016  adalah pengumuman TKK PKN STAN, saya tidak berani untuk membuka hasil pengumumannya, karena berdasarkan pengalaman sebelumnya saya selalu gagal jika saya membuka dengan tangan saya sendiri. Dari pengumuman yang telah dibuka kakak saya, saya mencari-cari nama saya, dan ternyata diantara ribuan nama yang tertera Tuhan menyelipkan nama saya. Keajaiban telah terjadi kembali dalam hidup saya.

Untuk mempersiapkan TKD pada 22 Juni 2016 saya mencari cari buku diseluruh toko buku dikota saya, tetapi saya tidak mendapatkan buku yang berjudul TKD STAN, saya berencana membeli online shop namun kata admin buku itu akan datang satu hari sebelum saya tes. Akhirnya saya belajar dengan materi apa adanya di yang terdapat di internet.

Hari itupun akhirnya tiba, saya mendapat jadwal melaksanakan TKD pada sesi ke empat, yaitu pukul 14.30 WIB. Dengan diantar oleh ayah serta kakak sepupu saya, di tempat saya verifikasi berkas dulu tepatnya dilantai 4 Gedung Keuangan Negara Semarang kami melaksanakan TKD dengan sistem CBT. Diluar dugaan, ternyata soal yang keluar dilayar komputer saya berbeda 97 dengan materi yang selama ini saya pelajari. Hal ini semakin membuat saya takut, saat itu yang saya lakukan hanyalah berdoa. Mengharapkan keajaiban Tuhan dilimpahkan kembali kepada saya. Setelah waktu habis, kami melihat hasil CBT yang tertera. Akhirnya doa saya terkabul, setidaknya saya lolos dari kkm yang ditentukan. Pukul 18.00 WIB tangan kasar saya memegang kait yang terdapat dibawah atap bus, dengan diiringi musik yang terdapat di  BRT, wanginya parfum manusia dari semua golongan, serta kehangatan dari puluhan orang yang berdesak-desakan tiba-tiba air mata saya menetes. Betapa baiknya Tuhan kepada saya. Betapa Tuhan menyayangi saya.

Saya mengira 29 Juni itu adalah hari yang menentukan masa depan saya, namun ada rencana yang lain. Pengumuman USM STAN diundur menjadi tanggal 1 Juli, mungkin ini adalah USM PKN STAN yang ke empat yaitu ujian kesabaran. Malam itu tidak ada satupun dari keluarga saya yang tidur. Kami mengaji, bedoa, memelas, meminta agar saya bisa diberi kelancaran atas masa depan impian saya. Pukul 01.00 WIB pengumuman USM STAN keluar, betapa kerasnya degup jantung saya. Yang saya fikirkan hanyalah ketakutan jika saya mengecewakan keluarga dan teman-teman. Lagi-lagi saya tidak berani membuka hasil tersebut, Saya serahkan amanat itu pada kakak saya. saya hanya mengaji, berharap keajaiban berada dipihak saya.

Alhamdulillah, Tuhan mengabulkan doa mereka, pemilik tangan yang selalu tengadah untuk mendoakan kesuksesan saya. D1 Pajak Pontianak, mungkin menurut sebagian kecil orang tidak menyukainya. Namun berbeda dengan saya, apapun itu saya terima. Saya sangat senang, karena sejak saat itu perjuangan saya akan dimulai. Mulai saat itu saya percaya bahwa hasil tidak akan pernah menghianati usaha serta tidak akan ada kesuksesan tanpa sebuah kesakitan.

Tinggalkan Balasan