Home » Artikel » TEKA TEKI KEHIDUPAN (PENERIMAAN STAN 2018)

TEKA TEKI KEHIDUPAN (PENERIMAAN STAN 2018)

Teka Teki Kehidupan (Penerimaan STAN 2018)

Aku ingin memulai ini dengan sedikit non-sens, dimana aku berpikir bahwa sekolah adalah rumah kedua. Saat itu bulan Juli 2015, aku baru saja menyelesaikan studiku sebagai seorang siswa kelas 11 di suatu SMA di Kabupaten Wonosobo; SMA 2 Wonosobo. Secara resmi aku telah menjadi siswa kelas 12 yang dianggap warga sekolah sebagai angkatan yang suka menindas adik kelas namun di sisi lain menjadi angkatan dengan tanggung jawab yang paling besar. Begitulah, benar kata orang-orang bahwa masa kelas tiga SMA adalah masa terberat menjelang tiga tahun aku dan kawan sejawatku belajar.

Berbulan-bulan aku lalui selama masa terakhirku di sekolah menengah atas. Mulai dari tugas ringan mengerjakan LKS hingga tugas membuat wayang kulit. Mulai dari sikap santai di kelas hingga sikap serba salah di depan guru. Mulai dari tidur di kelas hingga sikap serius di depan meja. Semua berlalu bagai siklus pada tiap akhir proses pembelajaran. Di titik itu aku merasa bahwa jati diri harus sudah mulai dicari.

Semester pertama telah berlalu dan semester kedua baru saja dimulai. Segala hal yang tidak terlalu penting harus mulai dikesampingkan. Namun, pikiran tentang melanjutkan kemana sama sekali belum terlintas di otakku. Waktu itu Januari 2016, kabar tentang perguruan tinggi sudah mulai berhembus kesana kemari, teman-temanku tak pernah berhenti menanyakan “Mau lanjut mana kamu?” Orang tua pun mulai menerorku dengan pertanyaan itu setiap harinya.

Aku mulai terngiang-ngiang dengan pertanyaan empat kata yang tak mudah dijawab mengingat aku ingin jadi apa saja belum tahu. Aku mulai memanfaatkan internet dengan bijaksana dengan mencari informasi mengenai program studi apa saja yang ada di perguruan tinggi. Aku juga mulai berkaca tentang kapabilitasku. Akhirnya, aku mempertimbangkan teknik kimia sebagai program studi pilihanku ke depannya. Tinggal satu lagi, yakni menentukan universitas mana yang ingin aku masuki. Hal ini menjadi dilema lain bagiku sementara SNMPTN sebentar lagi dibuka. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya aku menentukan Universitas Gadjah Mada sebagai universitas pilihanku.

Pendaftaran SNMPTN telah dibuka, hampir seluruh siswa antusias akan adanya jalur seleksi “untung-untungan” ini. Kali ini ada yang berbeda, hanya 75% siswa terbaik dari masing-masing sekolah yang boleh mengikuti jalur seleksi ini. Bagi kaum 75% mungkin hal ini bukan merupakan masalah, tapi bagi kaum 25% hal ini merupakan masalah lain. Sebagian dari kami menempuh jalur selatan, sebagian lagi menempuh jalur utara. Â Segala keriweuhan prosedur SNMPTN sudah dilalui, tinggal Tuhan yang menentukan nasibku selanjutnya.

Selama tiga bulan setelah itu aku menyibukkan diri dengan berbagai try out Ujian Nasional, bimbingan belajar sana-sini, les tambahan di kelas, hingga merelakan waktu tidurku untuk belajar materi Ujian Nasional. Namun mau tak mau aku tetap melaksanakannya sebagai syarat agar aku bisa segera lepas dari sekolah ini.

Suatu waktu, aku mendengar beberapa siswa saling berbisik bahwa ada perwakilan dari PKN STAN yang datang untuk melakukan penyuluhan. Mengenai Penerimaan STAN 2018, sebenarnya sejak kelas 10 SMA orang tuaku selalu mendoktrinku agar melanjutkan studi kesana dengan iming-iming pekerjaan mudah, sekolah gratis, dan gaji besar. Namun, tidak ada sama sekali minat yang tumbuh dalam diriku untuk kesana hingga tiga tahun aku bersekolah SMA. Hingga adanya penyuluhan ini, minatku terhadap PKN STAN sama sekali belum tumbuh, aku masih kekeuh dengan pilihanku sebelumnya.

Sesampainya di rumah, aku bercerita kepada orang tuaku mengenai adanya penyuluhan tadi dan serentak mereka langsung menyuruhku untuk mendaftar. Mereka berdalih bahwa tidak ada salahnya mendaftar toh ini sebagai cadangan apabila aku tidak lolos seleksi perguruan tinggi. Akhirnya dengan berat hati aku mengikuti kata mereka. Aku membuka situs Penerimaan STAN 2018 dan mengisi formulir online di sana untuk selanjutnya melakukan pembayaran. Sebelumnya aku mencari informasi di internet mengenai program studi apa saja yang ada di sana segala kelebihan kekurangan dan lain-lain, sehingga akhirnya aku menentukan pilihan program Diploma III Pajak sebagai prioritas utamaku.

Bulan April menjelang, Ujian Nasional tinggal menghitung hari. Selama empat hari aku memfokuskan pikiranku ke mata pelajaran utama Ujian Nasional. Aku memusatkan segala konsentrasiku kesana dan tak terasa semuanya telah berlalu. Beberapa hari kemudian, aku mendapat informasi bahwa verifikasi data untuk proses pendaftaran dan penerimaan STAN sudah dapat dilakukan. Bertempat di Balai Diklat Keuangan Yogyakarta, aku mengantri selama berjam-jam sejak subuh untuk melakukan verifikasi. Tak henti-hentinya aku kesal dan ingin pulang karena proses verifikasi yang begitu lama ditambah suasana yang penuh sesak dan panas.

Pukul 1 siang akhirnya aku selesai melakukan proses verifikasi dan mendapat Bukti Peserta Ujian (BPU), di situ tertulis bahwa tes akan diselenggarakan tanggal 15 Mei 2016 bertempat di GOR Amongrogo Yogyakarta. Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah lokasi tes ada di gedung olahraga yang pastinya akan panas dan tidak kondusif. Namun, aku mengesampingkan itu dan melupakan sejenak mengenai segala yang berhubungan dengan PKN STAN.

8 Mei 2016, akhirnya tiba saatnya pengumuman SNMPTN. Aku membuka situsnya dan jegleg mataku langsung sayu melihat kalimat “Maaf, Anda belum lolos seleksi ini.” Saat itu aku lesu dan masih belum bisa percaya akan apa yang aku lihat. Namun, aku rasa aku harus segera melupakannya dan mulai belajar untuk SBMPTN dan Ujian Tulis UGM. Aku sama sekali tak berniat belajar untuk USM PKN STAN karena aku tak berminat di sana. Hingga tiba saatnya tes tertulis untuk PKN STAN aku hanya mengerjakan sebisaku dan tidak terlalu bersungguh-sungguh. Selebihnya aku hanya fokus belajar untuk SBMPTN dan Ujian Tulis UGM. Aku belajar terus menerus sampai aku lupa bahwa pengumuman USM PKN STAN sudah keluar. Saat itu tanggal 25 Mei 2016 dan aku cek pengumuman tak disangka-sangka aku lolos tes yang orang bilang bagai “pembunuh berdarah dingin.”

Seminggu setelahnya aku mengikuti tes SBMPTN diikuti dua hari selanjutnya dengan Tes Kesehatan dan Kebugaran (TKK) sebagai seleksi lanjutan untuk PKN STAN dan UTUL UGM. Ketiganya dapat aku lalui tanpa suatu masalah berarti, meski aku harus mengulang shuttle run pada saat TKK sebanyak dua kali karena suatu masalah teknis. Untuk tes SBMPTN dan UTUL sendiri aku merasa mantap melaluinya. Aku merasa optimis untuk diterima melalui jalur itu dan tidak terlalu memikirkan mengenai hasil dari TKK PKN STAN karena pengulangan shuttle run yang aku alami.

.Dua minggu menjalani ibadah puasa, tak terasa pengumuman TKK PKN STAN sudah keluar. Tak disangka aku lolos tahapan ini dan berhak melanjutkan ke tahap selanjutnya. Namun, pengumuman yang lebih ku nanti yakni SBMPTN masih dua minggu lagi sehingga aku masih menunggu dan menunggu hingga saat yang ku nanti tiba. Selama itu, aku melaksanakan Tes Kompetensi Dasar sebagai seleksi tahap akhir untuk masuk ke PKN STAN yang dijadwalkan pengumumannya sehari setelah SBMPTN.

Pada 28 Juni 2016, pengumuman yang ku nanti akhirnya keluar dan seperti sebelumnya, aku masih lesu karena usahaku belum berbuah hasil yang manis. Mau tidak mau aku hanya bisa bergantung pada pengumuman akhir PKN STAN dan atau UTUL UGM. Hingga keesokan harinya, aku untuk pertama kalinya menunggu pengumuman PKN STAN namun ternyata diundur hingga 1 Juli atau bertepatan dengan pengumuman UTUL UGM. Aku makin khawatir apabila aku tidak mendapat sekolah pada tahun ini, atau justru aku ditakdirkan untuk melanjutkan studi di PKN STAN.

Malam itu, 1 Juli 2016 pukul 8 malam. Pengumuman UTUL UGM sudah bisa diakses, aku pun segera memeriksanya. Ternyata apa yang aku khawatirkan terjadi, aku belum diizinkan untuk berkuliah di Universitas Gadjah Mada. Pikiranku semakin carut marut, aku sudah tak bisa berpikir jernih. Di sisi lain pengumuman PKN STAN masih belum juga keluar, hingga pada tengah malam aku mendapat kabar dari temanku bahwa pengumuman yang ku nanti sudah bisa diakses. Aku membukanya, memeriksanya satu per satu dan mendapati namaku tercantum di dalamnya. Aku melihat prodi  apayang ku dapat, setelah aku amati di situ tertulis “D1 Pajak Pontianak”. Aku senang namun sempat ragu karena lokasi pendidikan yang jauh namun setelah berbagai pertimbangan dan kondisi yang mengharuskan, aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di program Diploma I Pajak PKN STAN di Pontianak.

Di sini aku ingin berpesan bahwa di setiap waktu nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk dimengerti atau dipahami. Kita tidak tahu bagaimana persisnya usaha-usaha akan diberi harga dan apakah sebuah hasil akan sampai. Kita tak meng-harap. Kita ber-harap. Tanpa optimisme. Kita tahu bahwa dalam hidup, gelap tak pernah lengkap dan terang tak sepenuhnya membuat siang. Dalam celah itulah adanya harapan: sederhana, sementara, tapi akan selalu menyertai kita apabila kita tak mewujudkannya. Suatu hari, kita akan menemukan makna dari sebuah keinginan. Dalam hidup, biarpun ringkas selalu ada yang harus dilepas. Mungkin ke arah yang lebih baik atau lebih buruk. Namun, lebih baik atau lebih buruk bagi suatu zaman tidak pernah ditentukan oleh setiap orang Di luar pintu nanti, pada saat seperti ini hanya ada mendung, hujan, kebutaan, dan mungkin ketidakyakinan. Semuanya teka-teki.

Tinggalkan Balasan