Home » Artikel » USAHA KERAS MASUK PKN STAN

USAHA KERAS MASUK PKN STAN

USAHA KERAS MASUK PKN STAN

USAHA KERAS MASUK PKN STAN-Saya berasal dari Ponorogo Jawa Timur. Saya lulusan tahun 2015 di SMA NEGERI 2 PONOROGO. Tahun lalu saya telah mencoba mendaftarkan diri saya untuk masuk ke berbagai perguruan tinggi kedinasan, antara lain : STAN, STIS, STMKG, IPDN, API MADIUN, dan STIN. Saya juga daftar SNMPTN. Akan tetapi, keberhasilan belum menghampiri saya.

Dari semua pendaftaran PTK, perjuangan yang sangat berkesan bagi saya adalah untuk masuk STAN, karena saya tahun lalu sempat belajar di bimbingan belajar sekitar STAN. Tepatnya di pondok Jurang Mangu Indah Bintaro. Saya belajar di bimbingan belajar selama 1 bulan. Saya yang belum pernah pergi ke luar kota, memberanikan diri untuk ke Bintaro demi STAN. Saya membulatkan tekad untuk usaha keras masuk PKN STAN . Saya berangkat dari Ponorogo bersama Bapak, tetapi bapak setelah mengantar saya ke bimbingan belajar dan mendapatkan kontrakan langsung pulang.

Saya yang hanya sendirian diawal merasa sangat kesepian. Akan tetapi, saya sangat bersyukur karena selama saya di kontrakan, teman-teman sekontrakan semuanya baik dan ramah. Saya dan teman-teman berkumpul demi satu tujuan yang sama, yaitu agar lolos USM STAN tahun 2015. Teman saya berasal dari berbagai daerah, seperti : Medan, Makassar, Bangka Belitung, Ambon, Tangerang, Banten, Indramayu, dan Aceh.

Setelah saya akrab dengan mereka, saya sadar bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang sendirian berjuang utuk meraih mimpi yang saya cita-citakan. Mereka sangat mengerti perasaan satu sama lain. Perasaan jauh dari orang tua, perasaan kesepian, dan juga mereka tau betapa kerasnya perjuangan masing-masing.

Setiap pagi saya dan teman-teman selalu jogging mengelilingi kampus STAN di Bintaro. Walaupun belum menghadapi USM tapi kita sudah mempersiapkan diri untuk tes fisik STAN. Walaupun terdengar terlalu jauh melangkah, akan tetapi itulah kita. Kita selalu optimis menatap masa depan.

Saya mengikuti bimbingan belajar setiap hari pada pukul 13.00 WIB sampai 17.00 WIB. Setelah itu dilanjut dengan Study Club pada pukul 19.00 WIB sampai 22.00 WIB. Saya mengikuti bimbingan belajar pada hari senin sampai sabtu. Saya belajar di bimbingan belajar Newton Six.

Kebanyakan tentor yang mengajar di Newton Six ternyata juga mahasiswa dan mahasiswi STAN. Selain mengajar, mereka juga berbagi pengalaman selama di STAN, seperti model pembelajaran di STAN, tugas-tugas STAN, dan juga UAS di STAN yang terkenal rumitnya. Selain itu para kating juga memberi tips dan trik untuk menghadapi tes tulis, tes fisik, dan juga tes wawancara.

Setelah satu bulan belajar di bimbingan belajar akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Yaitu hari USM STAN. Tempat tes saya berlokasi di Jakarta tepatnya di Stadion Gelora Bung Karno.

Sehari sebelum pelaksanaan tes, saya dan teman-teman survey terlebih dahulu ke GBK agar besoknya tidak perlu mencari-cari tempat. Karena bisa dibayangkan 12.000 peserta kumpul ditempat yang sama dan tempat yang sangat luas. Saya waktu itu berada di tribun atas nomor 4. Setelah menjelang magrib kita pulang ke kontrakan bersama-sama mengendarai Go-jek. Setelah kita sampai di kontrakan, kita bersiap-siap untuk packing barang-barang.

Alhamdulillah saat itu bapak saya datang ke Jakarta lagi untuk menemani saya menghadapi USM. Saya juga bersyukur teman saya di Tangerang menawarkan untuk tidur di rumahnya sehingga kita bisa berangkat serombongan. Jadi saya tidur semalam di rumah teman saya sebelum menghadapi USM. Pagi harinya, saya berangkat ke GBK pada pukul 05.00 WIB dan tiba sekitar pukul 06.30 WIB. USM dimulai pada pukul 08.00 WIB. Akan tetapi mundur sekitar 1 jam.

Saya merasa sangat tegang sebelum menghadapi soal. Sehingga konsentrasi saya sedikit terpecah. Setelah selesai mengerjakan soal, saya merasa tidak puas dengan kemampuan saya. Akan tetapi, saya berusaha tetap optimis. Setelah itu, saya pulang kembali ke Ponorogo. Saya menunggu pengumuman USM di rumah. Saya berharap-harap cemas menunggu hasil yang akan keluar. Tiba saat pengumuman, saya mencari nama dan nomor ujian saya. Akan tetapi nama saya tidak ada. Saya merasa sedikit kecewa dan sedih. Akan tetapi saya harus tetap tersenyum di depan orang tua saya supaya mereka tidak terlalu bersedih.

Saya tahu orang tua saya juga sangat sedih, tetapi mereka menutupi kesedihan mereka dengan selalu memberi motivasi kepada saya agar tidak menyerah dan berkata kesempatan tahun depan masih ada. Dengan dukungan mereka, saya kembali bangkit dan semangat lagi untuk belajar.

Meskipun orang tua saya memotivasi saya, ternyata teman-teman dan tetangga-tetangga saya merendahkan saya dan menghina saya. Mereka menduga saya benar-benar bodoh karena sudah mendaftar kemana-mana tapi tetap saja gagal. Mereka tidak mencaci maki akan tetapi saya menjadi bahan pergunjingan di lingkungan saya.

Saya sadar mereka membicarakan saya, yang lebih menyakitkan lagi sahabat saya menjauhi saya karena hal ini. Saya tidak pernah membayangkan bagaimana bisa seorang sahabat bisa menjauhi saya karena hal ini. Saya setelah itu merasa sangat sedih dan kecewa. Saya tidak mempunyai teman dirumah, saya tidak mempunyai orang yang bisa saya ajak untuk bercerita. Sampai-sampai saya jarang sekali keluar rumah karena takut menghadapi cemoohan orang sekitar.

Di lingkungan rumah, saya merasa seperti orang asing. Tidak ada teman saya yang menganggap saya ada. Ketika bertemu di jalan pun mereka seolah tidak melihat saya. Saat itulah saya memberanikan diri untuk bercerita kepada ibu saya. Saya bercerita dengan menangis karena saya sudah tidak tahan menahan beban yang ada. Ibu hanya memberi nasehat bahwa mereka akan kembali seperti semula jika saya berhasil. Mereka akan kembali menganggap saya ada ketika saya sukses kelak.

Dengan keadaan seperti itu, akhirnya bapak saya menyuruh saya untuk belajar di Kampung Inggris Pare, Kediri. Tujuannya yaitu agar saya kembali termotivasi untuk belajar dan bisa fokus menghadapi USM STAN tahun 2016. Tak lama kemudian pada bulan Desember 2015 saya berangkat ke Kampung Inggris Pare. Saya ditemani dengan kakak sepupu yang sama-sama ingin belajar Bahasa Inggris lebih dalam.

Disana saya bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai daerah. Alhamdulillah mereka ramah dan baik. Dengan hinaan teman-teman dan tetangga saya, saya menjadi lebih termotivasi dalam belajar. Hinaan mereka saya jadikan motivasi untuk membuktikan bahwa saya bisa, saya tidak seperti yang mereka pikirkan.

Saya belajar dengan sungguh-sungguh dan pantang menyerah. Saya belajar setiap hari senin sampai jum’at pukul 08.00 WIB – 12.00 WIB. Dan sore hari pukul 14.00 WIB sampai 16.00 WIB. Setiap 2 minggu sekali diadakan tes untuk mengetahui seberapa dalam materi yang telah dipahami. Tes tahap pertama hasil yang saya dapatkan cukup bagus dengan memperoleh skor 98. Tes tahap kedua yaitu tes TOEFL, saya mendapatkan skor 580.

Saya tidak lupa bersyukur dan terus mengasah pemahaman saya dengan sering mengerjakan soal-soal STAN dari tahun sebelum-sebelumnya. Hingga pada akhirnya pengumuman pendaftaran STAN dibuka kembali. Saya menjadi lebih semangat belajar dan ingin membuktikan kepada semua orang bahwa saya bisa. Saya mengikuti tes pertama di Yogyakarta tepatnya di Universitas Sanata Dharma III. Setelah itu saya kembali ke Ponorogo dan menunggu hasil, Alhamdulillah saya lolos tahap pertama. Saya dan kedua orang tua sangat bahagia dan bersyukur.

Setelah itu saya mempersiapkan diri untuk tes fisik, saya diantar ibu naik kereta ke Yogyakarta. Akan tetapi, saya tiba di Yogyakarta terlalu awal yaitu jam 1 pagi sedangkan tes fisik jm 6 pagi. Sehingga saya menginap di stasiun. Saat itu saya dan ibu tidur di kursi stasiun, saya tidur dengan berbaring sedangkan ibu saya tidur dengan duduk. Saat itu rasanya saya ingin menangis melihat perjuangan ibu saya. Saya berjanji dalam hati bahwa saya akan sukses tahun ini.

Setelah saya lolos tes fisik saya menghadapi tes TKD. Saya diantar sekeluarga beserta sepupu dan adik-adik. Disitu saya lebih termotivasi lagi. dan ketika pengumuman akhir saya sekeluarga berharap-harap cemas. Terlebih lagi pengumuman sempat ditunda-tunda, membuat saya makin gelisah. Waktu itu setelah sahur saya membuka web STAN, dan ternyata saya lolos di spesialisasi D1 Pajak. Saya sangat senang dan bersyukur usaha masuk PKN STAN saya tidak sia-sia. Bapak dan ibu saya sampai menangis mengetahui itu. Mereka memeluk saya dengan berkata akhirnya perjuangan saya selama ini tidak sia-sia, doa yang bapak ibu panjatkan selama ini didengar oleh Allah. Saat itu saya juga ikut menangis. Saya senang bahwa saya bisa membanggakan kedua orang tua saya. Akhirnya saya bisa membuktikan kepada orang-orang bahwa saya bisa berhasil dan sukses.

Walaupun penempatan pendidikan saya berada di luar pulau jawa tetapi hal ini bukan menjadi masalah untuk saya meraih cita-cita saya dengan menjadi insan yang berguna untuk bangsa Indonesia. Saya akan berusaha keras untuk membangun bangsa ini khususnya dalam pengelolaan keuangan negara. Saya berjanji akan menjadi penerus bangsa yang patuh akan peraturan dan tidak akan goyah oleh godaan korupsi.

Tinggalkan Balasan