Home » Artikel » Usaha Menjadi Abdi Negara (Penerimaan Mahasiswa Baru STAN)

Usaha Menjadi Abdi Negara (Penerimaan Mahasiswa Baru STAN)

PENERIMAAN MAHASISWA BARU STAN 2018

Assalamualaikum, saya adalah siswi berasal dari dari Karanganyar, Jawa Tengah saya pindah ke Tangerang Selatan setelah lulus SMP dan lanjut sekolah di SMK Darussalam Ciputat jurusan Akuntansi, banyak orang bilang kalau akuntansi itu susah bikin orang pusing tapi menurut saya itu bisa menjadi mudah asalkan kita mau sungguh-sungguh dalam belajar, hari-hari di sekolah tak lepas dari pelajaran akuntansi mulai dari jurnal sampai pada siklus akuntansi akhir yaitu laporan keuangan, ketika saya naik kelas XII saya sudah di sibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan kelulusan, oh iya saya pas kelas XII juga sempat galau mau lanjut kuliah atau kerja karena teman-teman saya kebanyakan setelah lulus ingin langsung kerja aja bantu orang tua mereka.

Kuliah atau kerja? Sungguh membingungkan, saya terus memikirkan hal itu saya coba tanya kepada orang tua bagaimana baiknya untuk masa depan saya, mereka selalu mendukung apapun keputusan saya tapi mereka memberikan saran agar lanjut kuliah karena kalau hanya lulusan SLTA saja sulit untuk bersaing dengan tenaga kerja lainnya yang memiliki ilmu dan pengalaman yang sudah mumpuni, guru di sekolah saya juga menyarankan kuliah dan beliau ingin saya bisa kuliah di STAN, STAN? Perguruan tinggi apa itu asing bagi telinga saya saat mendengar nama STAN, di jelaskan sedikit mengenai STAN, saya langsung tertarik dan mencari info lebih detail mengenai Penerimaan Mahasiswa Baru STAN.

Diskusi dengan orang tua pun dimulai, ketika melihat wajah mereka dalam hati saya berkata saya harus bisa membuat mereka bangga kepada saya, harus bisa membahagiakan dan menjamin masa tuanya kelak karena perjuangan mereka sungguh berat untuk saya, alhamdulillah akhirnya orang tua saya setuju dengan pilihan saya. Penerimaan Mahasiswa Baru STAN sudah di buka tapi saya tidak langsung mendaftar, saya lihat persyaratannya dahulu dan mata saya tertuju kepada tulisan Tidak cacat badan Ya Allah apakah saya tidak diperkenankan masuk sekolah kedinasan? Bagaimana kedua orang tua saya yang mengharapkan saya menjadi seorang pegawai di lingkup negara.

Di facebook saya menilik ke sebuah akun yang isinya info mengenai Penerimaan Mahasiswa Baru STAN, tata cara masuk STAN dan lainnya di bahas di akun tersebut, tanpa pikir panjang saya langsung bertanya apakah bisa kaki saya yang tidak sempurna karena kecelakaan daftar STAN, saya tunggu belum ada balasan, setelah lama menunggu akhirnya di balas juga Boleh dik asalkan tidak mengganggu selama kegiatan membaca itu saya seperti di terpa angin segar itu sungguh membahagiakan, saya mendaftar bersama dengan empat orang teman sekelas, saya sangat antusias alhamdulillah di mudahkan sampai pendaftaran akhir waktu itu saya mendapatkan urutan 13.000an jumlah yang begitu banyak dan itu hanya di Jakarta saja, bagaimana kalau di daerah lain karena saya lihat di internet kalau pendaftar STAN itu paling banyak di antara perguruan tinggi kedinasan lainnya.

Rasa minder pun mulai menghantui apa iya bisa bersaing dengan pendaftar yang begitu banyaknya sedangkan saya dari lulusan SMK, kata guru saya pendaftar STAN itu banyak yang dari SMA dan mereka itu matematikanya kuat, namun saya berusaha untuk mengalahkan rasa minder itu, saya browsing di internet soal-soal USM STAN tahun-tahun sebelumnya dan beberapa prediksi tanpa di sengaja muncul sebuah link yang menginfokan ada bimbel yang bisa membantu untuk masuk STAN, tanpa pikir panjang saya langsung membuka link tersebut dan membacanya secara seksama, di bimbel itu menawarkan berbagai paket belajar mulai dari harga jutaan sampai puluhan juta, wah harga yang begitu fantastis bagi saya.

Saya merasa saya butuh bimbingan karena saya memang tidak ada persiapan materi yang matang, masih sulit dalam memahami apa yang di inginkan soal tersebut dan bagaimana cara pengerjaannya, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti bimbel dengan berbagai pertimbangan yang cukup matang, jarak dari rumah ke tempat bimbel lumayan jauh perjalan memakan waktu sekitar setengah jam, alhamdulillah saya pulang dan pergi naik ojek online, bimbel diadakan setiap dua hari sekali dan setiap minggu diakan tryout, rasa lelah sudah pasti ada karena saya pulang selalu malam, tapi ketika sudah bertemu dengan orang tua di rumah rasa lelah itu hilang berganti dengan semangat.

Bimbel saya jalani selama hampir 1 bulan, selama tryout saya lolos nilai mati tapi nilainya tak begitu memuaskan karena masih di bawah 300 tapi saya yakin saya bisa lulus, berangkat USM saya tidak diantar oleh kedua orang tua, saya berangkat bersama teman naik angkutan, selama perjalan muka tegang di tunjukkan olehnya begitupun dengan saya sampai di STAN sudah banyak yang datang padahal jam masih menunjukkan pukul 7 saya langsung menuju tempat ujian di gedung C lantai satu, ketika saya masuk ruang begitu dinginnya, teman-teman tak ada yang bicara satu sama lain mereka kelihatan tegang, saat mengerjakan ujian apa yang terjadi? kenapa saya begitu sulit untuk menjawab soal-soalnya TPA hanya bisa terjawab 79 dan TBI tidak bisa terjawab semua.

Keluar dari ruang ujian rasanya saya ingin menangis karena tidak bisa mengerjakan secara maksimal, sepanjang hari sebelum pengumuman saya terus berdoa agar di beri yang terbaik, hari pengumuman pun tiba saya sudah pesimis tidak lolos karena hasil kerja saya yang tidak maksimal, pagi saya membuka link pengumuman tes tahap satu dan betapa bahagianya  ada nama saya di daftar pengumuman yang lolos tes tahap satu saat itu orang tua sedang bekerja, tak selang waktu lama setelah pengumuman bapak saya pulang, saya langsung memeluknya dan berkata kepada beliau bahwa saya lolos, kalimat syukur langsung  keluar dari mulut beliau, tak disangka saya yang hanya siswa SMK swasta bisa lolos tes, namun kebahagian itu tidak bisa membuat lena saya karena masih ada tes tahap dua yang mana menggunakan fisik, saya harus berlatih meskipun kondisi kaki saya yang tidak sempurna, bukankah keberhasilan itu bisa diraih dengan kerja keras?.

Saya berlatih lari setiap pagi dan terkadang sore saya berlari semampu saya, tak lupa kedua orang tua saya menemani,ibu menemani ketika saya lari di sore hari dan sesekali bapak menemani di waktu pagi, sungguh semangat membara dalam diri ini dukungan orang tua yang bisa membuat saya semangat setiap hari, waktu terus berganti tiba saatnya saya menjalani tes TKK, pagi hari setelah sholat shubuh saya berangkat menuju rawamangun tempat tes di laksanakan, jam 6 kurang saya sudah sampai dan sudah banyak teman-teman yang datang, setelah menunggu cukup lama saya di arahkan untuk mejalani tes kesehatan dimulai dari pengukuran tinggi badan, berat badan, tensi darah, tes mata, buta warna dan sampai akhirnya saya di nyatakan bisa lanjut untuk tes lari keliling lapangan.

Sebelum lari saya di ajak untuk pemanasan terlebih dulu, saya melihat ibu saya berdiri di luar pagar terus memandangi saya, terlihat wajah yang khawatir dengan keadaan saya, saya berusaha meyakinkan beliau dengan tetap senyum dan tidak menunjukkan wajah tegang, lari pun di mulai awalnya saya berlari cukup baik selama satu putaran, setelah memasuki putaran yang kedua rasanya langkah kaki begitu berat, kepala sudah terasa pusing, saya mendengar ibu saya berkata yang tenang nduk, atur napas saya berusaha berlari kecil karena memang sudah tidak kuat, perut terasa kaku tapi saya ingat kata pembimbing saya kalau bisa jangan jalan terus lari sebisanya kalau belum jatuh tersungkur jangan berhenti.

Apalah daya waktu 12 menit saya baru sampai di putaran 3 setengah, saya berjalan menuju tempat shuttle run, semua nampak lelah dengan sisa tenaga saya berlari membentuk angka 8 entah berapa detik yang bisa saya tempuh, hari yang melelahkan pun usai pasrah dengan apapun hasilnya, alhamdulillah saya lolos tahap 2 meskipun hanya berlari 3 putaran karena mendengar dari perkataan pembimbing kalau mau aman ya 4 putaran, kalau sudah rezeki tidak ada yang bisa menghalangi.

Persiapan tes TKD selama kurang lebih seminggu, saya fokus untuk membaca dan sedikit menghafal karena materinya begitu banyak dengan persiapan seadanya saya optimis bisa mengerjakan, tes terakhir saya diantar oleh ibu dengan ojek online sampai di STAN banyak orang tua yang mengantar, sebelum mengerjakan saya di beri arahan mengenai tes TKD saya mengerjakannya sesuai dengan kemampuan, menunggu pengumuman terakhir dan akhirnya alhamdulillah tanpa henti-hentinya saya mengucap syukur saya diterima sebagai mahasiswi di PKN STAN BDK pontianak meskipun sempat ragu apakah mau di ambil atau tidak karena jauh dan butuh biaya besar untuk belajar di pontianak tapi dengan niat dan kerja keras saya yakin bisa kuliah di sana. pak, buk hanya doa dan restumu yang mengiringi setiap langkahku dalam menggapai mimpiku menjadi abdi negara.

Tinggalkan Balasan