Home » Kisah-Kisah Inspiratif » AKU PASTI MASUK STAN

AKU PASTI MASUK STAN

Pendaftaran STAN Online-Semuanya berawal dari ketika duduk di bangku SMA, semua yang selama ini dipelajari di kelas akan dilihat, sudah sejauh manakah saya mencari ilmu?

Apakah ilmu yang saya pelajari cukup untuk saya gunakan di waktu yang akan datang? Apakah saya siap menggunakan ilmu yang akan saya pelajari? Apakah ilmu yang saya sudah pelajari ini, tepat? Tepatkah ilmu ini untuk masa depan saya?

Begitu banyak pertanyaan didalam pikiran batin saya, saya bingung akan memilih jurusan mana yang akan saya masuki sesudah tamat SMA. Dalam benak, terpikir sejenak akan kata ayah yang menginginkan anaknya untuk memasuki universitas terbaik di Indonesia, terdengar bisikan suara ibu yang melintas dikepala, Universitas mana yang kamu mau masuki nak?

Kiasan pikiran akan masa depan dan cita-cita yang ingin diraih begitu mudah untuk dibayangkan, tetapi mimpi tak seindah apa yang kita pikirkan. Semua perjuangan harus dilakukan untuk mencapai sesuatu. Keinginan yang ingin dicapai begitu tinggi, tetapi dunia berkata lain.

Saya hanyalah anak biasa yang tumbuh di perkotaan besar di Indonesia, yaitu Jakarta. Seiring waktu sampai saya sudah duduk di bangku kelas 3 SMAN 54 jurusan IPA. Begitu banyak pikiran yang saya alami, cukupkah nilai saya supaya bisa diterima di Universitas Indonesia? Tentunya saya berharap lebih agar dapat memasuki universitas tersebut, akan tetapi semua berubah ketika saya tidak dapat mengikuti jalur SNMPTN, pikiran saya jatuh, tetapi hidup yang keras mengajari saya untuk menghadapi tantangan yang lebih besar lagi. Sayapun langsung menyemangati diri dan tetap berusaha lagi. Tentu dengan bimbingan dari guru Konseling di sekolah, saya mendapat bantuan dari beliau. Beliau mengajari saya tentang masih ada banyaknya pilihan lain selain yang saya pilih, dan dari situlah berawal ketika saya mendengar kata STAN

STAN? Itu universitas dari mana ibu? Tanya saya kepada beliau. Dan beliaupun mulai menjelaskan tentang STAN kepada saya yang sedang bingung pada waktu itu. Singkat waktu sayapun mulai tertarik akan Sekolah Kedinasan yang diceritakan oleh beliau, dan ternyata teman-teman saya-pun juga ingin memasuki STAN. Banyak teman saya yang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian-ujian untuk memasuki STAN. Akan tetapi saya masih dalam keadaan yang bingung dengan diri saya sendiri, apakah ini bisa? Sesuaikah dengan keinginan orang tua saya? dalam benak saya terpikirkan akan hal ini, apakah orang tua saya akan setuju dengan jalan yang saya pilih ini?

pa.. ma.. adek boleh gak ikut STAN? Tanya saya dengan batin yang sedang mempersiapkan jawaban dari orang tua saya. Begitu takutnya diri saya untuk mengecewakan orang tua saya, begitu sedihnya perasaan ini telah membuat mereka sedih, bahwa anak mereka akan memasuki Sekolah Kedinasan yang tentunya akan membawa saya pergi dari mereka.

Tetapi, kekhawatiran yang saya alami terjadi dengan sia-sia. Orang Tua saya dengan senang menjawab pertanyaan saya.. Tentu saja nak. Dari jawaban itulah saya menetapkan pikiran saya untuk mencoba melakukan pendaftaran STAN Online dengan mengawali pendaftaran di website STAN.
Seiring waktu sampai saatnya pendaftaran ulang, pikiran saya masih terhalangi akan pilihan yang saya pilih.. D1-Pajak? Aduh salah pilih

Dalam pikiran saya, saya juga tentu mencoba jalur SBMPTN untuk memasuki Universitas Indonesia, pilihan saya dari dulu. Bimbel dan seminar-pun saya ikuti sambil mempelajari soal-soal untuk memasuki univesitas. Sampai pada akhirnya salah satu teman saya yang sama-sama mendaftar di STAN mengajak saya untuk belajar bersama dalam menghadapi ujian tahap pertama. Dan tentu itu membuat saya kaget ketika mendengar bahwa waktu ujian USM-STAN sudah dekat. H-1 saya tidak mempersiapkan apa-apa kecuali uang dan perlengkapan lain untuk pergi ke Bintaro sana. Orang Tua saya sedang dalam perjalanan bisnis sehingga mereka hanya bisa menitipkan salam dan doa, hari itu saya hadapi dengan kesendirian, ketika saya datang ke Bintaro, banyak orang sudah berkumpul, terlihat banyak orang tua mengantar anaknya dan tentu saja menyemangati anak-anaknya dengan harapan mereka dapat lolos tahap pertama. Sementara saya hanya berjalan mencari lokasi ujian saya dengan sendiri. Dan dari situ saya hanya ingin ini hari ini cepat selesai sehingga saya bisa kembali beristirahat. Mengerjakan soal dengan benar sesuai dengan yang diajarkan di Bimbel BTA. Hari itupun saya akhiri dengan pikiran.. mungkin ga bakal dapet

Tetapi ternyata Tuhan berkehendak lain, ketika teman saya bilang kepada saya bahwa saya lolos ujian USM-STAN. Sementara banyak teman saya yang lain, gagal pada tahap pertama. Saya-pun senang mendengar kabar bahwa saya lolos, tetapi diri saya tetap ingin mencoba mengikuti SBMPTN supaya dapat memasuki universitas yang saya inginkan

Hari demi hari datang pada waktunya bagi kami anak SMA untuk menghadapi ujian SBMPTN. Saya-pun dengan yakin bahwa semua yang saya pelajari akan berguna pada saat menghadapi soal SBMPTN, akan tetapi Tuhan tak berkehendak untuk saya mendapatkan universitas lewat jalur tersebut. Putus asa saya rasakan, tetapi saya masih ada ujian yang saya harus hadapi, yaitu ujian tahap 2 STAN tes fisik dan kesehatan. Tahap ke-2 inipun saya jalani seperti biasanya, tetapi kali ini orang tua saya datang sebagai penyemangat untuk anaknya. Saya-pun melakukan ujian tahap ke-2 dengan pengabdian tinggi untuk orang tua saya. Hari-pun berlalu sampai waktunya pengumuman. Dan saya lolos tahap ke-2, sayapun senang, akan tetapi ada teman SMA saya yang gagal pada tahap ini. Sedih rasanya ketika banyak teman seperjuangan mulai menghilang satu per satu, dan kami dari SMA 54 hanya tersisa 5 orang untuk menghadapi ujian tahap ketiga. Lain halnya-pun saya masih ingin mencoba memasuki UI dengan jalur mandiri. Dalam batin saya, pasti saya akan bisa dalam jalur ini. Dan tentu hidup lebih menginginkan saya untuk memasuki STAN, sehingga saya-pun harus meninggalkan impian saya untuk memasuki Universitas Indonesia.

Tahap ujian ke-3 pun mulai, Ujian TKD diberikan kepada kami untuk menghadapi tuntutan, apakah saya pantas untuk menjadi PNS, ataukah memang kenyataan hidup itu harus dirasakan terlebih dahulu. Apakah saya harus menunggu setahun lagi dan kembali mencoba? Ataukah saya akan berhasil dan sukses akan jalan yang saya pilih?

Tentu hal ini merupakan pengalaman bagi saya, dan saya-pun menikmatinya, ketika saya harus sudah siap bekerja dan dikirim kemanapun untuk merantau. Banyak pikiran yang saya hadapi untuk menjalani tahap ketiga. Apakah saya bisa? Mampukah saya mendapat nilai diatas standar yang sudah ada? Apakah nilai ini akan mempengaruhi hidup saya? Teringat pikiran ketika menghadapi ujian tahap ke-2 dimana saya harus berlari selama 12 menit, dengan penyakit asma yang ada pada tubuh saya, pikiran saya hanya ada satu, BISA

Perlahan-lahan teringat begitu banyak teman saya yang masih mencari universitas untuk dimasuki, sementara saya disini masih berusaha untuk memasuki STAN. Apakah semua ini akan berarti dalam hidup saya? Mampukah saya?

Bertanya pada diri tentu tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan menambah lagi pertanyaan untuk diri sendiri. Bisik benak saya ketika saya menjalani ujian tahap ke-3. Dengan perlahan waktu akan segera berakhir, saya hanya bisa yakin pada diri sendiri, nilai apapun yang keluar akan menjadi takdir bagi saya. Itulah tanggapan saya ketika menghadapi ujian CPNS pada saat itu.

Detik-detik saat ujian mulai begitu menegangkan, begitu banyak soal dihadapi dan dijawab demi mendapatkan nilai agar lulus persyaratan. Menit demi menit mulai bertambah seiring saya menjawab soal demi soal dengan penuh keyakinan, dan tak terasa waktu akhir untuk ujian mulai mendekat

Ujian-pun selesai pada akhirnya, dengan nilai yang saya dapatkan yaitu 341 totalnya. Tentu saya senang, tapi apakah cukup agar saya lolos dan berhasil memasuki STAN. hari demi hari saya tunggu bersama teman-teman saya yang ingin memasuki STAN, dengan perasaan yang tegang ketika menunggu hasil pengumuman.

Gimana kabarmu vin? Sehat? Lulus gak STAN? Tanya salah satu teman saya pada saat disekolah, ya, tungguin aja dulu, lulus gak lulus juga pasti ada jalan lain-kan masuk ke jenjang universitas jawab saya dengan setengah hati pada saat waktu itu. Tetapi hati saya sudah siap menghadapi jawaban yang dinantikan, dengan kepercayaan bahwa masih ada jalan lain untuk saya pilih ketika saya mungkin akan gagal. Guru BK-pun tak lupa menanyakan bagaimana hasil ujian saya untuk masuk STAN, tetapi tentu jawaban yang saya berikan hanya berupa kiasan sejuta dusta dalam bentuk senyuman. Tetapi walaupun seperti itu, semua teman-teman saya tetap memberikan semangat kepada saya beserta guru maupun orang tua saya. Mengetahui hal ini saya hanya bisa tersenyum sambil membisikan kedalam hati, Aku Pasti Bisa.

Usaha tidak akan menghianati hasil yang diinginkan, berserta doa dari orang tua yang turut serta membantu untuk anaknya menggapai masa depan yang diinginkan.

Dan akhirnya pengumuman itu keluar, 3 teman saya lolos dan berhasil memasuki STAN dan diterima sebagai mahasiswa baru, tak lupa saya juga melihat hasil saya, dan sayapun akhirnya bisa bilang kepada orang tua saya, Aku berhasil masuk STAN.

Tinggalkan Balasan