» » AKSES KERETA HARAPAN MENUJU PKN STAN

AKSES KERETA HARAPAN MENUJU PKN STAN

Banyak orang yang berharap bisa menuju PKN STAN salah satunya adalah saya. Saya adalah anak kedua dari enam bersaudara. Saya lahir di Pontianak, 5 Agustus 1997. Saat ini saya berumur 19 tahun. Karena memiliki empat orang adik yang semuanya masih sekolah dan kakak saya masih kuliah maka saya memutuskan untuk mencari kuliah yang tidak membebani orang tua saya. Orang tua saya sempat menyuruh saya agar berkuliah dengan jurusan yang saya inginkan, namun ketika saya pikirkan lagi, kuliah gratis dengan mutu dan kualitas yang baik seperti STAN bukanlah pilihan yang buruk. Pada awalnya ketika pertama kali melihat soal-soal STAN pada tahun-tahun sebelumnya saya sangat ragu dan takut bahwa saya tidak akan bisa menjawab satupun soal yang ada dengan benar. Namun, berkat belajar secara terus menerus, lama kelamaan saya pun terbiasa mengerjakan soal-soal STAN. Berbekal ilmu yang sudah saya pelajari selama mengikuti bimbingan belajar, saya cukup optimis bahwa saya dapat lolos pada ujian tertulis STAN.

Tepat satu minggu sebelum saya mengikuti tes tulis STAN, orang yang saya sayangi meninggal. Nenek saya meninggal tepat satu minggu sebelum tes tertulis STAN dilaksanakan. Nenek saya mengalami pendarahan pada otaknya yang terjadi secara tiba-tiba. Saat itu saya sangatlah merasa sedih atas kepergian almarhumah nenek saya yang sangat saya sayangi. Keluarga saya memiliki tradisi untuk meakukan Tahlilan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari berturut-turut. Pada masa-masa itu saya tidak memiliki kesempatan untuk belajar karena harus menyiapkan segala sesuatu untuk Tahlilan nenek saya dan saya pun tidak memiliki semangat untuk belajar karena saya merasa sangat sedih atas kehilangan tersebut. Sehingga akhirnya selama tujuh hari sebelum tes tertulis STAN, saya tidak ada belajar apa-apa sama sekali. Tiba pada hari dimana tes tertulis tersebut dilaksanakan. Ujian tersebut tidak berjalan dengan lancar. Yang bisa saya pikirkan hanyalah nenek saya yang telah tiada, perasaan sedih masih sangat terasa saat saya mengikuti tes tersebut.

Saat tes tersebut saya sangat merasa gugup dan saya tau bahwa saya tidak menjalankan tes tersebut dengan baik. Setelah selesai tes saya pulang ke rumah dan menangis. Saya tau bahwa kemungkinan saya gagal dan tidak lolos pada tahap seleksi pertama STAN sepertinya sangat besar. Dan pada hari pengumuman tes tertulis STAN tersebut, dugaan saya ternyata terbukti, saya tidak lolos tes tertulis STAN. Saya merasa sangat sedih akan hal itu karena saya benar-benar mencurahkan seluruh kemampuan dan waktu saya untuk belajar. Saya dinyatakan lolos di universitas lain lewat jalus SBMPTN, yaitu Universitas Tanjungpura, Teknik Perencanaan Wilayah Kota. Namun, kesempatan tersebut tidak saya ambil karena saya tidak benar-benar menginginkan untuk masuk kejurusan teknik, karena satu-satu nya universitas yang saya inginkan adalah STAN. Jadi pada tahun pertama kelulusan saya, saya tidak mengikuti kuliah dimana pun, dan saya menganggap waktu tersebut adalah liburan untuk saya.

Walaupun saya masih sedih karena tidak dapat menjadi mahasiswi di STAN pada tahun tersebut, saya optimis pada tahun berikutnya saya pasti bisa menjadi mahasiswi STAN. Setengah periode dari masa senggang saya, saya habiskan untuk belajar ataupun membuat cerita. Dengan harapan bahwa saya pasti bisa menjadi mahasiswi STAN pada tahun berikutnya. Pada tahun berikutnya yaitu tahun 2016, saya mengikuti tes STAN kembali. Pada tahun ini, saya memutuskan untuk tidak mengikuti bimbingan belajar apapun. Saya hanya yakin pada hasil belajar saya selama setahun belakangan. Saat mengikuti tes tertulis STAN, saya mengerjakan soalnya dengan lancar dan saya cukup optimis dengan hasil yang saya dapat nantinya. Saya mendapatkan berita bahwa saya lolos tes tertulis STAN dari teman saya karena saya terlalu takut untuk melihat hasilnya, dan pada saat itu saya sangat sangat sangat sangat senang. Walaupun hanya tes pertama namun saya merasa sangat lega dan senang karena hasil belajar saya selama ini tidak sia-sia.

Tes kedua adalah tes kesehatan. Saya melaksanakan tes kesehatan di Rawamangun, Jakarta Timur. Saya pergi sendiri tanpa didampingi oleh orang tua saya karena saya juga memiliki keluarga di daerah tersebut. Sebelum tes kebugaran di Rawamangun saya menghabiskan waktu saya untuk melatih tubuh saya agar lebih bugar. Saya menginap di tempat keluarga saya, tepatnya di daerah Bojong Gede dekat dengan Bogor. Disana setiap pagi dan sore saya latihan lari untuk membiasakan tubuh saya saat tes nanti. Beberapa hari sebelum hari-H saya pergi untuk mensurvey tempat yang dimana tes kebugaran akan dilaksanakan. Satu hari sebelum hari-H saya dan keluarga saya pergi untuk menginap di tempat keluarga saya yang berada di daerah Jakarta Timur karena akan lebih dekat untuk pergi ke Rawamangun keesokan harinya. Perjalanan saya menuju tempat keluarga saya di Jakarta Timur terasa sangat panjang dan melelahkan.

Saya adalah tipe orang yang mudah mabuk kendaraan apabila menaiki angkutan umum, karena di daerah asal saya, saya sudah tidak terbiasa lagi menaiki angkutan umum. Perjalanan ke sana kami menggunakan angkot dan kereta. Hari itu kami pergi sekitar jam 3 sore dari rumah menggunakan kereta dan angkutan umum. Diperjalanan kami terjbak macet yang begitu padat. Hal itu mengagetkan saya karena di daerah asal saya tidaak pernah ada macet seperti itu. Terlebih lagi perut saya sudah merasa sakit dan mual-mual selama diperjalanan. Saya tidak tahan dengan polusi yang ada dan saya pun memang orang yang mudah mabuk apabila naik kendaraan tertutup yang padat. Saya bertanya kepada keluarga saya, kapan kita akan sampai. Dan keluarga saya berkata sebentar lagi. Namun, setelah satu setengah jam, kita belum juga sampai. Karena pusing dan merasa mabuk, akhirnya saya menangis dikendaraan tersebut.

Akhirnya kami memutuskan untuk turun karena saya sudah tidak kuat dan ingin muntah. Kami turun dari angkutan tersebut dan saya muntah dipinggir jalan. Lalu kami menaiki lagi angkutan umum dan akhirnya kami sampai ditempat keluarga saya di Jakarta Timur. Keesokkan harinya kami pergi ke Rawamangun menggunakan taksi sekitar pukul setengah empat subuh. Sesampainya disana saya mengambil nomor antrian dan keluarga saya pun pergi. Saya adalah tipe orang yang memiliki tekanan darah rendah. Saat pemeriksaan fisik saya takut karena tekanan darah saya rendah dan saya tidak boleh mengikuti tes kebugaran. Namun, untungnya waktu tekanan darah saya diperiksa tekanan darah saya normal dan saya bisa bernapas sedikit lega. Usaha saya untuk menstabilkan tekanan darah saya dengan makan dan minum vitamin yang benar tidak sia-sia. Saat tes kebugaran berlangsung saya berlari dengan tidak terlalu stabil, namun akhirnya saya berhasil mendapatkan 4,5 putaran, yang menurut saya adalah jarak tempuh yang aman.

Setelah tes kebugaran, saya merasa sangat pusing dan mual, karena saya merasa gugup setelah tes tersebut selesai. Saya menelpon orang tua saya bahwa tes tersebut telah selesai. Dan ketika mendengar suara mama saya, saya tidak tahan untuk tidak menangis. Saya sangat ingin mereka ada disana untuk mensupport saya seperti orang tua yang lainnya yang menunggu anak mereka diluar. Saya menguatkan diri saya karena saya tau keluarga saya sangat mendukung saya dimanapun mereka. Saat perjalanan pulang saya mengendarai motor dengan paman saya. Dan hal yang tidak disangka-sangka terjadi, tapak sepatu olahraga saya lepas. Hal itu sangat mengagetkan sekaligus melegakan saya, karena setidaknya tes kebugaran telah saya lewati. Dari rumah keluarga saya kami pulang ke Bojong Gede dengan kereta. Sambil menunggu hasil tes kebugaran saya mempelajari materi Tes Kemampuan Dasar (TKD). Alhmadulillah saya sangat senang saat tengah malam saya mendapatkan berita bahwa saya lulus tes kebugaaran dan berhak mengikuti tes TKD.

Tes TKD dilaksanakan di kampus STAN Bintaro Tanggerang. Sebelum hari tes dilaksanakan saya dan teman saya pergi survey menuju PKN STAN menggunakan kereta. Pada hari itu sebenarnya saya tidak enak badan, namun karena demi menuju PKN STAN saya memaksakan diri saya. Perjalanan menggunakan kereta dari tempat keluarga saya ke kampus STAN lumayan memakan waktu yang lama. Sehingga, saya memutuskan untuk menginap di rumah keluarga saya yang berada di daerah Tanggerang agar saat tes nanti tidak terlambat. Sesampainya di kampus STAN saya bertemu teman saya yang sudah menjadi mahasiswa STAN. Dari sana saya pergi ketempat keluarga saya menggunakan kereta, karena saya balum pernah kesana sebelumnya. Dari tempat keluarga saya, pulangnya saya benar-benar merasa tidak enak badan dan saya memutuskan untuk berhenti di beberapa stasiun. Saya pergi ke toilet dan muntah disana. Sayangnya tidak ada yang menjual minuman di stasiun tersebut. Karena sudah tidak tahan, akhirnya saya meminum air keran di wastafle.

Saya sudah tidak merasa jijik lagi dengan air keran karena badan saya benar-benar tidak fit pada saat itu. Kereta dari stasiun Tanah Abang menuju Bogor sangat padat pada hari itu, saya merasa semakin pusing. Akhirnya selama perjalanan pulang saya tidur dengan posisi berdiri. Saat hari-H saya turun dari rumah keluarga saya di daerah Tanggerang menggunakan ojek online, lalu naik kereta, dan naik ojek online sekali lagi. Disana saya bertemu teman saya yang lain yang berasal dari Balikpapan. Kami menyemangati satu sama lain. Saya dan teman saya yang berasal dari Pontianak ujian di satu ruangan dan kami duduk bersebelahan. Setelah tes selesai skor kami keluar dan saya sangat senang karena saya melewati passing grade. Saya lekas menelpon orang tua saya untuk menyampaikan berita tersebut. Saya merasa sangat lelah sekaligus lega, karena saya telah melewati tes terakhir, walaupun saya belum tau apa saya akan diterima menjadi mahasiswi STAN atau tidak tahun ini.

Saat tengah malam saya membuka handphone saya dan mengecek hasil dari pengumuman tes TKD STAN. Dan Alhamdulillah saya menemukan nama saya pada kolom D1 Pajak Pontianak. Saya merasa sangat senang. Perjuangan dan pengorbanan saya selama ini akhirnya terbayar. Tidak sia-sia saya melepaskan jurusan teknik di Universitas Tanjungpura dan menganggur selama setahun. Karena saya sangat optimis dan berharap sangat besar bahwa tahun ini saya harus menjadi mahasiswi STAN. Saya sangat bersyukur doa saya terkabul dan perjuangan saya terbalaskan dengan hasil yang manis.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.