» » KANVAS KEHIDUPAN (PMB IKATAN DINAS PKN STAN)

KANVAS KEHIDUPAN (PMB IKATAN DINAS PKN STAN)

Animo masyarakat mengenai PMB Ikatan Dinas PKN STAN sangatlah tinggi, hal tersebut dikarenakan PKN STAN adalah salah satu sekolah favorit di Indonesia yang memiliki banyak peminat dan menjanjikan para mahasiswanya untuk langsung bekerja menjadi pegawai negeri. Apalagi PKN STAN saat ini di bawahi oleh Kementrian Keuangan Negara. PKN STAN sudah terkenal dari saya kecil. Dari mulai SMP saya sudah mendengar tentang adanya PKN STAN. Walaupun saya belum mempunyai minat apapun untuk melanjutkan sekolah ke sana.

Cita-cita awal saya saat SMA adalah memasuki jurusan teknik sipil dan belum ada pikiran  mengenai ikut PMB Ikatan Dinas PKN STAN. Pada saat kelas XII, banyak teman-teman yang membicarakan mengenai PKN STAN dan saya pun mulai tertarik untuk mendaftar. Dimulai dengan bahan pembicaraan teman-teman mengenai PMB Ikatan Dinas  PKN STAN dan banyaknya promosi mengenai try out serta buku-buku mengenai PMB Ikatan Dinas PKN STAN.

Orang tua pun akhirnya menginginkan dan mendukung saya untuk mengikuti PMB Ikatan Dinas di PKN STAN karena masa depan yang tidak diragukan lagi. Ya, memang lulusannya langsung menjadi PNS dan mendapat gaji yang pasti.

Menjadi anak yang berbakti pada orang tua adalah impian semua anak. Oleh karena itu, saya menjadi lebih bersemangat karena orang tua mendukung seratus persen. Ditambah lagi saya gagal memasuki jurusan impian saya, yaitu teknik sipil. Hal tersebut membuat saya semakin bersemangat untuk ikut PMB Iktan Dinas di PKN STAN.

Setelah banyak berbincang dengan teman-teman, saya ingin menjadi bagian dari sekolah ini. Alasan lain saya masuk Ikut PMB Ikatan Dinas di PKN STAN adalah adanya MEA. Pada masa ini akan semakin sulit bagi kita untuk mendapatkan pekerjaan karena persaingan yang ada tidak hanya se-Indonesia tetapi se-ASEAN. Jumlah tenaga kerja pun bertambah tetapi kualitas SDM dari Indonesia kalah bagusnya dengan negara lain. Persaingan mendapat pekerjaan akan semakin mengglobal dan sulit.

Ingin rasanya mencoba untuk bersekolah di PKN STAN, tetapi nyaliku masih belum besar karena saya merasa para pesaing untuk ikut PMB Ikatan Dinas di PKN STAN tiap tahunnya pun selalu bertambah. Awalnya saya hanya membeli buku USM PKN STAN yang dijual oleh kakak kelas yang sudah berkuliah di PKN STAN, tetapi saya belum menyentuh sama sekali buku itu sampai Ujian Nasioal. Padahal saya berniat untuk mengerjakan buku itu jauh-jauh hari supaya lebih siap mental.

Entah mengapa rasa untuk mengikuti PMB Ikatan Dinas di PKN STAN lama kelamaan semakin tinggi dan ingin rasanya untuk ikut ke persaingan yang ada di dalamnya. Banyak temanku yang sudah mendaftarkan diri ke tempat bimbel sebelum Ujian Nasional alih-alih adanya diskon yang sangat besar.

Memang saat itu saya tidak ada minat untuk mengikuti les atau bimbel apapun karena saya merasa itu akan membebani orang tua karena biaya bimbel yang begitu tinggi. Saya pun hanya mengerjakan buku USM PKN STAN dari awal dengan semangat yang biasa saja karena waktu masih beberapa bulan lagi. Alhasil, perjuanganku latihan soal USM hanya ala kadarnya.

Setelah beberapa bulan berlalu, rencanaku bersama teman-teman untuk mengerjakan buku USM STAN bersama-sama pun hanya wacana. Kami hanya belajar bersama hanya satu kali saja. Sampai pada akhirnya ada seorang temanku yang menawarkan kepadaku les di Jogja dengan harga yang murah dan terpercaya.

Saat itu USM STAN tinggal beberapa minggu lagi. Saya memberitahu orang tua untuk meminta izin mengikuti les tersebut. Tak lupa ku selalu berdoa kepada Allah SWT dan mengencangkan ibadahku supaya Yang Kuasa memberiku kemudahan untuk menjalani semua ujian masuk perguruan tinggi.

Akhirnya saya mendaftarkan les saat USM STAN kurang dua setengah minggu. Paket yang ditawarkan oleh bimbel tersebut yaitu asrama dan modul. Saya dan beberapa teman mengikuti les di tempat tersebut. Sayangnya, jarak asrama dan tempat les lumayan jauh, yaitu satu kilometer dan harus ditempuh dengan berjalan kaki saat pulang dan pergi.

Saat siang terik pukul 12 kami harus sudah berjalan ke tempat les karena perjalanan memakan waktu 15 sampai 25 menit. Kami les terkadang sampai pukul enam sore dan saat jalan pulang kami harus mencari lauk. Setiba di asrama pun kami memasak nasi.

Memang terlihat sederhana, berat menurut kami tapi kami menjalani dengan senang hati. Semua dilakukan dengan mandiri selama dua minggu penuh dan kita juga tidak bertemu keluarga. Fisik kami mulai terlatih untuk hidup mandiri jauh dari orang tua dan kami hidup saling membantu satu sama lain karena kami sadar, teman adalah sandaran kami saat itu.

USM PKN STAN pun tiba, saya diantar oleh mobil dari bimbel tanpa pamit dengan orang tua secara langsung karena dua hari sebelum USM kami masih mengikuti bimbel dan kami masih menetap di asrama. Meminta izin pun hanya bisa lewat HP saja. Namun saya yakin orang tua pasti mendoakan yang terbaik untuk anak mereka.

Hanya dengan kemantapan hati saya berangkat ke tempat tes di Yogyakarta, yaitu di AMIKOM. Mengerjakan tes dengan lancar, sayang tidak ada penanda waktu berupa jam. Memang seikit mengganggu tetapi kemantapan hati lebih penting dari pada melihat jarum jam. Senang rasanya karena banyak teman satu sekolah yang satu ruangan. Kita memang sengaja melakukan segala hal bersama agar sampai akhir pun kita tetap bersama.

Setelah usai saya dan teman-teman pulang untuk mengistirahatkan pikiran sejenak karena sebentar lagi sebagian dari kami akan mengikuti SBMPTN termasuk saya. Hari demi hari ku lalui dengan doa dan pasrah menunggu hasil yang sangat di nanti-nanti.

Perasaan yang campur aduk saat menunggu pengumuman pun tiba. Saya sangat bersyukur setelah tahu saya lolos tes tertulis. Dan hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan latihan fisik dan makan makanan yang bergizi. Saat itu terjadi perdebatan dengan orang tua karena saya ingin belajar untuk SBMPTN tetapi orang tua memintaku untuk fokus mengikuti PMB Ikatan Dinas di PKN STAN saja. Alhasil saya tidak fokus belajar untuk SBMPTN dan mendapat hasil mengecewakan.

Setelah menjalani SBMPTN pun saya bersama seoran teman berlatih shuttlerun supaya bisa menemukan posisi yang pas untuk berputar saat sampai tiang. Kami berlatih di lapangan sekolah. Beberapa hari berlalu dan terus berlatih bukannya tambah bugar tapi perut saya sakit dan katanya usus saya terdapat luka. Jika saya berlari akan merasa tertusuk. Sialnya lagi, alas kaki saya luka karena sepatu yang saya gunakan.

Saat berangkat untuk tes kesehatan kebugaran saya berangkat dengan hati yang pasrah. Berangkat dari rumah pukul 4.15 supaya mendapat antrian awal dan tidak terlalu terik untuk lari. Ayah saya begitu mendukung dan mengantar saya sampai ke tempat lokasi dengan sepeda motor. Beruntung semua tes yang saya jalani berjalan dengan lancar, tetapi perut dan kaki saya tidak mau berkompromi dan saya merasakan sakit yang luar biasa. Benar, kaki saya terluka karena kulitnya terkelupas. Tapi saya bersyukur saya dinyatakan sehat dan mendapat lima putaran lebih.

Saya kembali lolos dan belajar untuk TKD dengan maksimal walaupun dalam kondisi puasa. Akhirnya tiba di malam sebelum TKD dan saya pun tidak bisa tidur karena terbayang-bayang soal yang tidak tertebak dan susah. Saat mengerjakan pun saya banyak melihat waktu dan melompat-lompat dalam menjawab soal.

Walaupun saya mengerjakan dengan grogi, alhamdulillah saya berhasil lolos ke tahap selanjutnya. Menunggu dan menuunggu, ternyata pengumuman SBMPTN lebih awal dari PKN STAN dan saya hanya bisa kecewa karena gagal dalam SBMPTN. Setelah penundaan pengumuman yang membuatku bergadang, akhirnya tiba dimana saat tanggal yang sudah dijanjikan.

Sekitar pukul dua dini hari, pengumuman sudah keluar dan saya mengecek namaku dan bersyukur saya bisa lolos dan menjadi mahasiswa di PKN STAN. Tetapi yang membuat shock saya dan keluarga adalah penempatan pendidikan yang sangat jauh yaitu di Pontianak, Kalimantan Barat. Ibuku terutama, agak berat melepaskanku untuk merantau jauh dan terpisah oleh laut. Setelah di pikir-pikir secara masak, saya memiih untuk mengambil kesempatan yang di berikan.

Persiapan demi perisapan dan syarat-syarat saya penuhi bersama teman-temanku. Semua ku jalani dengan senang karena dari awal pendaftaran saya dan teman-temanku selalu bersama menguatkan satu sama lain. Alhasil, banyak dari kami yang lolos. Sayang, saya tidak mendapat lokasi pendidikan di Bintaro. Namun saya tetap bersyukur akan hal itu.

Membeli tiket, perpisahan sementara dengan orang tua, kerabat, dan berpisah dengan jarak yang tidak dekat. Saya masih mengingat semua hal itu tetapi tak cukup saya tuangkan dalam kertas ini. Harapan saya, saya ingin selalu bisa membanggakan kedua orang tua entah apapun yang mereka inginkan. Menjadi anak yang berbakti dan menuntut ilmu merupakan kewajiban kita. Semoga saya bisa tetap berjuang dengan maksimal selama masa pembelajaran supaya bisa memberi hasil yang maksimal pula kepada orang tua.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.