Home » Artikel » Keberuntungan Tembus PKN STAN (Beasiswa Untuk Perguruan Tinggi)

Keberuntungan Tembus PKN STAN (Beasiswa Untuk Perguruan Tinggi)

Ini hanyalah sedikit cerita perjuangan lelaki yang berusaha mendapatkan beasiswa untuk perguran tinggi dan kebangganan bisa menjadi bagian dari Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN STAN), tepatnya D1 Pajak. Lelaki itu adalah saya sendiri, Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga saya dapat menulis sedikit cerita ini sebagai tugas awal saya di Balai Diklat Keuangan Pontianak (BDK Pontianak).

Sudah ada di atas, nama saya Yohanes Krisna Ageng Pangestu. Saya lulusan SMAN 13 Kab. Tangerang tahun 2016. Saya lahir 30 Maret 1998. Saya hanya lelaki biasa yang tak punya hobi khusus. Saya juga tidak terlalu bisa menulis cerita, tapi kali ini saya harus mencobanya, karena ini adalah sebuah tugas.

Sebenarnya impian saya saat kecil dulu adalah untuk menjadi seorang guru, tepatnya guru matematika. Namun melihat keadaan saat ini dimana lulusan PTN belum mendapatkan pekerjaan, disitu saya mulai ragu dan berpikir ulang. Namun untungnya, banyak masukan dan saran dari orang tua dan teman-teman saya. Salah satunya soal beasiswa untuk perguruan tinggi di PKN STAN, Pada saat itu namanya masih STAN. Lalu, yang menjadi pertanyaan saya saat itu apa itu STAN? Di jelaskan secara singkat oleh kedua orang tua saya bahwa PKN STAN merupakan perguruan tinggi kedinasan dalam naungan Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Penjelasan singkat orang tuaku didukung oleh teman-temanku. Inti dari berbagai cerita dan penjelasannya menyangkut beasiswa untuk perguruan tinggi, soal PNS dan kerja enak, meskipun penempatannya kadang jauh.

Namun jika dipikir kembali, guru bisa jadi PNS juga. Saya pun dilanda kebingungan dan bimbang. Setelah diyakinkan orang tua, saya putuskan untuk mencari informasi tentang beasiswa untuk perguruan tinggi PKN STAN. Akhirnya, saya mendaftar SNMPTN di PTN untuk jurusan matematika, dan juga PKN STAN. Tuhan berkata lain, saya gagal di SNMPTN. Sisi positif dari ini, saya bisa lebih mantap dan niat untuk masuk PKN STAN.

7 April 2016, selesai Ujian Nasional (UN). Belum ada persiapan apapun dari saya untuk USM tahap awal. Saya terlalu fokus untuk UN pada saat itu. Saya pun juga termasuk kurang update dalam informasi. Ternyata ada try out dari PKN STAN itu sendiri, namun saya tidak ikut. Saya baru mempersiapkan diri dan mencari materi setelah selesai UN. Jika dipikir kembali, sangat telat dan waktu tidak akan cukup. Saya tetap semangat, tetap berusaha dan belajar untuk mengejar kekurangan persiapan saya di waktu yang sedikit ini.

11 April 2016, belum USM, ujian dari Tuhan datang terlebihi dahulu untuk saya. Saya dicelakai orang. Tepatnya setelah saya mengantarkan bapak saya kerja. Di perjalanan pulang, saya dicelakai orang. Urat tangan kanan saya putus dan ditusuk hampir mengenai ginjal. Disesali pun tak ada gunanya. Saya hanya bisa ikhlas dan bersyukur kepada Tuhan masih diberi kehidupan. Dngan keadaan yang mengenaskan saya masih bisa pulang jalan kaki sampai kerumah.

Setelah saya selesai operasi, saya tidak bisa menulis untuk waktu yang lama. Saya sempat bingung, bagaimana cara saya belajar untuk materi hitung-hitungan tanpa menulis dan mencoret. Cukup berat bagi saya yang terbiasa belajar dengan menulis dan mencoret. Orang tua saya menyarankan saya untuk belajar menulis. Saya sedikit memaksakan diri latihan menulis dengan harapan saya bisa pulih dan menulis dengan cepat.

Saya memverifikasi data pada 18 April 2016, dimana tangan saya masih di gipsum saat itu. Hambatan terbesar saya pasa saat mengelem foto dan tanda tangan. Untuk mengelem foto, saya masih bisa menggunakan tangan kiri saya. Saat tanda tangan ini yang sulit. Saya tidak bisa menggunakan tangan kiri saya, dan orang lain juga tidak mungkin membantu saya membuat tanda tangan. Saya harus menyelipkan pulpen saya ke gipsum, alhasil tanda tangan saya pada saat itu aneh dan sedikit berbeda dari aslinya. Untungnya masih bisa diterima dan dimaklumi.

Dengan usaha, semangat dan mukjizat tangan saya bisa menulis dengan baik menjelang USM tahap 1. Meskipun tulisan saya tidak sebaik seperti sebelumnya. Keberuntungan juga datang kepada saya bahwa di USM tahap 1 menulisnya sedikit dan lebih namyak membulatkan.

Menjelang USM tahap 1, saya meminta doa dan dukungan dari orang tua dan teman-teman saya. Akhirnya hari itu pun tiba. Minggu, 15 Mei 2016, hari dan tanggal saat USM tahap 1. USM tahap 1 saya ikuti di Gelora Bung Karno, sampai pukul 06.00 WIB. Karena sisa waktu yang masih banyak, saya menyempatkan diri mengitari stadiun untuk mengurangi kegugupan saya. Saya tetap gugup dan sedikit panas dingin, namun saya langsung berdoa sejenak dan mengharapkan ketenangan dalam pengerjaan soal nanti. Sekitar pukul 11.00 WIB, USM tahap 1 sudah selesai. Perasaan tidak yakin menghampiri saya kembali, pada saat Tes Bahasa Inggris saya hanya mengisi 20 soal dengan yakin, sisanya saya mencoba dan berharap kepada Tuhan agar jawaban saya banyak yang benar.. Akhirnya pada 25 Mei 2016 pengumuman keluar dan ternyata nama saya tertera. Puji dan syukur saya curahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya dapat melanjutan USM tahap 2 di Rawamangun Jakarta Timur.

Dalam USM tahap 2, kesehatan dan kebugaran diuji pada saat itu. Pada saat itu, yang diujikan yaitu kesehatan, lari 12 menit, dan shuttle run. Seminggu sebelum USM tahap 2, saya latihan lari. Banyak yang meragukan saya, karena menurut pemikiran mereka tangan saya menghambat dalam tes ini. namun, itu semua justru membuat saya ingin membuktikan bahwa saya bisa melewati ini dengan baik. Jika dipikir kembali, ujian kali ini leih membebankan kaki. Hari itupun tiba. Kamis, 2 Juni 2016. Puji Tuhan, saya bisa berada di tempat ujian dengan selamat. Sedikit disayangkan, saya dapat tes pukul 14.00 WIB. Tenaga saya terkuras sebelum tes dimulai. Puji Tuhan saya dapat melewati tes dengan baik. Akhirnya pada 15 Juni 2016 pengumuman keluar. Saya kembali harus mencari nama saya kembali. Puji dan syukur saya curahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya dapat melanjutkan USM tahap 3 di PKN STAN di Bintaro.

Pada USM tahap 3, saya bisa mempersiapkan diri lebih baik. Karena tangan saya sudah bisa menulis dengan baik. Namun keadaan saya yang membaik tidak dibarengi dengan buku yang ada. Akhirnya saya harus mencari bahan dan informasi tambahan di internet. Saya mengalami kesulitan di bagian Tes Wawasan Kewarganegaraan (TWK). Hari itupun tiba. Rabu, 22 juni 2016. Puji Tuhan saya berada di tempat ujian dengan selamat. Setelah ujian berakhir, saya sangat bersyukur. saya bersyukur karena bagian yang paling saya takuti, TWK lulus. Meskipun nilainya kurang memuaskan. Akhirnya saya harus kembali menunggu pengumuman seperti sebelumnya.

1 Juli 2016, saat hari pengumuman tiba. Tak seperti sebelumnya yang tepat waktu, pengumuman tidak tepat waktu keluar pada saat itu. hal itu membuat kecemasan dan rasa penasaran saya semakin memuncak. 2 Juli 2016, akhirnya pengumuman keluar. Saat tahu pengumuman berdasarkan absen, saya langsung melihat dari bawah. Kali ini nama saya kembali ada. Puji dan syukur saya curahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Senang dan bimbangpun menghampiri. Mengapa saya bimbang? bukan tanpa alasan. Karena di penempatan saya dapat di Pontianak. Jauh dari orang tua, tak ada saurada, tak ada kenalan sama sekali. Saya sempat bimbang untuk tetap mengambil pilihan itu. Terpikir biaya hidup di Pontianak yang sedikit lebih mahal, dan juga suasananya masih asing menurut saya, membuat saya bimbang pada saat itu. ditambah lagi saya tidak bisa jauh dari rumah. Namun orang tua saya kembali meyakinkan saya, dan memfasilitasi saya, saya mengambi pilihan di BDK Pontianak ini. saya sangat bersyukur dan terharu pada saat itu. kasih sayang dan pengorbanan orang tua memang benar-benar luar biasa.

25 Juli 2016, waktu daftar ulang tiba. Dan itu membuat saya pergi ke bandara dan naik pesawat terbang untuk pertama kalinya. Saya sedikit pusing dan jetlag pada saat itu. Puji Tuhan saya bisa memijakan kaki di Pontianak. Dan bersyukur juga dapat sampai dan bisa daftar ulang. Disela-sela daftar ulang, streaming-an kartun larva menjadi penghibur saya saat menunggu giliran daftar ulang. Perjuangan tidak hanya disitu. Setelah itu, saya harus mencari kost untuk saya tinggal selama di Pontianak. Mukjizat Tuhan, saya di permudah dalam urusan mencari kost. Setelah saya dapat kost, saya langsung kembali ke Tangerang untuk bermain bersama teman-teman saya sebelum saya harus ke Pontianak dan juga untuk mengambil barang saya.

17 Agustus 2016, hari kemerdekaan Indonesia yang ke 71 tahun, bertepatan dengan saya yang harus kembali ke Pontianak untuk mengejar masa depan dan impian saya. Pada saat saya menuju bandara, ada beberapa barang saya yang tertinggal. Namun puji dan syukur saya curahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya tidak tertinggal dan bisa ke bandara tepat waktu. Dan akhirnya saya sampai di Pontianak untuk berjuang.

Jadi, dengan optimis, semangat, usaha, doa, dan juga keberuntungan kita bisa meraih apa yang kita inginkan. Walaupun keadaan tidak baik, selama optimis, semangat, dan tidak putus asa, harapan akan tetap ada. Dan jangan lupa berdoa untuk mewujudkan harapan tersebut.

Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan dalam pemilihan dan penulisan kata-kata. Semoga saya nantinya bisa membuat tulisan yang lebih baik lagi. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.