» » MENGIKUTI JALAN TAKDIR MASUK KULIAH DI PKN STAN

MENGIKUTI JALAN TAKDIR MASUK KULIAH DI PKN STAN

Saya akan menceritakan pengalaman dan perjuangan saya sehingga saya bisa dinyatakan masuk Kuliah di PKN STAN tahun 2016.

Sebelumnya, saya tidak mengetahui apa itu PKN STAN, di mana lokasinya, dan bagaimana syarat dan cara agar dapat mengikuti serangkaian tes ujian masuk. Sampai kelas dua belas semester satu, cita-cita saya cuma satu : melanjutkan sekolah di salah satu universitas impian saya sejak kecil.

Mulai dari bulan Oktober tahun 2015, salah satu guru penjaskes di sekolah saya mengadakan pelatihan fisik bagi siswa-siswi yang ingin melanjutkan di sekolah kedinasan dan sejenisnya. Saya pun mengikuti pelatihan itu tanpa ada keinginan untuk melanjutkan di Perguruan Tinggi Kedinasan.

Namun, pada saat kelas dua belas semester dua, sekitar bulan Februari atau Maret, ada beberapa kakak-kakak dari PKN STAN datang ke sekolah saya dan sepertinya masuk ke semua kelas dua belas untuk mempresentasikan dan mempromosikan tentang masuk Kuliah di PKN STAN. Kalau tidak salah, ada dua kali kakak-kakak datang ke kelas saya. Hal tersebut memunculkan keinginan saya untuk masuk Kuliah di PKN STAN tahun ini sehingga saya membeli buku kumpulan soal USM PKN STAN dari kakak-kakak tersebut.

Setelah adanya presentasi dari PKN STAN, diadakan Try Out USM PKN STAN. Saya mengikuti Try Out tersebut sebanyak dua kali. Yang pertama diadakan sekitar bulan Maret dan yang kedua antara akhir April atau awal Mei. TO pertama saya dinyatakan lulus passing grade. Namun, pada TO kedua, nilai saya kurang sehingga tidak lulus passing grade.

Setelah mengikuti Try Out pertama, keinginan saya untuk mendaftar semakin kuat. Maka pada saat pendaftaran dibuka, saya segera mendaftarkan diri saya melalui web. Setelah selesai mendaftar dan mendapatkan BPO, saya dan tiga teman saya pergi ke bank bersama-sama untuk membayar biaya pendaftaran. Saat itu hari Kamis. Kami pulang lebih awal dari biasanya karena Senin depan kami  harus menghadapi Ujian Nasional. Jadilah sekitar pukul setengah sepuluh, kami dengan seragam sekolah lengkap, menuju bank bersama-sama.

Ujian Nasional yang soalnya sangat tidak terprediksi itupun selesai. Setelahnya, ada hari dimana pengumuman jadwal verifikasi berkas dilaksanakan. Saya mendapatkan hari ketiga. Awalnya, saya sudah janjian dengan seorang teman saya untuk pergi bersama-sama. Namun ternyata, kakak teman saya ingin ikut. Jadilah saya pergi sendiri ke BDK Pontianak.

Saya sampai di BDK sekitar pukul setengah sembilan. Saat mengambil nomor antrian, saya mendapatkan nomor empat puluhan. Di sana, saya bertemu dengan dua teman saya yang ternyata juga ikut mendaftar PKN STAN.

Setelah mendapatkan nomor antrian, kami masuk ke salah satu ruangan. Lalu setelahnya, dipanggil lima-lima untuk verifikasi. Alhamdulillah saat itu verifikasi berjalan lancar.

Seminggu setelah libur UN, saya harus mengikuti bimbel SBMPTN di salah satu bimbel. Waktu untuk bimbel itu adalah sebulan. Namun, dua minggu pertama saya tidak bisa fokus dengan SBMPTN karena fokus saya hanya tertuju pada USM PKN STAN.

Seminggu sebelum USM PKN STAN, saya dan tiga teman saya belajar bersama di rumah saya. Mengerjakan soal dengan patokan waktu, membahas jawabannya bersama, dan mengetes sejauh apa kami siap untuk mengikuti USM dengan patokan nilai yang kami dapat dari menjawab soal-soal itu. Sesekali juga, saya membawa contoh-contoh soal USM pada guru bimbel untuk ditanyakan jika saya masih tidak mengerti.

Tanggal 15 Mei pun tiba. Pagi itu, saya sangat degdegan. Untung saja, saya melaksanakan tes di SMA tempat saya bersekolah, SMA Negeri 1 Pontianak. Mungkin ketegangannya berkurang sedikit. Pada saat saya mengerjakan soal-soal tersebut, saya merasakan apa yang telah saya pelajari hilang. Apalagi saat mengerjakan soal TBI. Jadi, saya hanya menjawab sekitar 70 soal TPA dan 35 soal TBI.

Setelah keluar ruangan tes, saya dan beberapa teman saya berkumpul. Saat itu, saya merasa down karena teman-teman saya menjawab soal dengan jumlah cukup banyak. Tapi, saya langsung meyakinkan diri bahwa saya pasti bisa lulus passing grade dan bisa mengikuti tes selanjutnya yaitu Tes Kesehatan dan Kebugaran.

Setelah tes pertama selesai barulah saya bisa fokus ke SBMPTN. Dalam waktu dua minggu saya harus memantapkan materi yang sudah agak saya kuasai. Tapi ternyata, soal-soal yang keluar saat SBMPTN tidak seperti dengan soal-soal latihan SBMPTN yang selama ini saya kerjakan.

Dua puluh lima Mei, saat itu sekitar pukul setengah satu pagi, saya terbangun dan membaca percakapan saya dengan salah satu teman saya, Riska. Dia bilang, saya lolos tes pertama dan bisa melanjutkan tes kedua yang dilaksanakan di Jakarta.

Paginya, ibu saya langsung memesankan tiket pesawat untuk saya dan teman saya beserta mamanya. Karena dari Kalimantan Barat mendapatkan giliran TKK hari terakhir, 4 Juni, jadi kami memutuskan untuk berangkat tanggal 2 Juni.

Selesai memesan tiket, kami pun mencari penginapan yang sekiranya dekat dengan tempat tes. Setelah mencari info melalui Google Maps, kami pun mendapatkan tempat penginapan sekaligus transportasi selama kami berada di Jakarta.

Tanggal 4 Juni pun tiba. Hari itu saya bangun sekitar pukul tiga, bergantian mandi dengan tiga teman saya, sarapan, dan berangkat menuju tempat tes setelah salat subuh. Sampai di sana ternyata sudah banyak yang datang. Saya mendapat nomor urut 112.

Pertama, kami dikumpulkan di sebuah ruangan. Setelah itu kami harus registrasi untuk memastikan bahwa nama kami ada pada deretan nama yang lulus tes pertama. Setelah itu, kami menuju tempat tes kesehatan bersama teman sekloter—satu kloter terdiri dari sepuluh orang.

Setelah lulus tes kesehatan, kami dibawa ke sebuah lapangan bola. Saat itu sekitar pukul sembilan pagi. Tapi, matahari sudah bersinar cukup terik. Saya pun menyelesaikan tes kebugaran, lari 12 menit dan shuttle run, sekitar pukul setengah sepuluh. Kami dikembalikan di ruangan pertama kami dikumpulkan untuk menunggu giliran nama kami dipanggil dan mendapatkan BPU kembali—karena sebelumnya BPU dikumpulkan.

Sebelas hari kemudian, tepatnya tanggal 15 Juni 2016, sekitar pukul dua belas malam, saya sudah bisa melihat hasil pengumuman tes kedua dan hasilnya, saya dan tiga teman saya itu lulus dan bisa mengikuti tes terakhir yaitu Tes Kemampuan Dasar.

Paginya, ibu saya kembali memesan tiket keberangkatan. Kami memutuskan untuk berangkat pada tanggal 22 karena saya dan dua teman saya mendapatkan giliran TKD pada tanggal 23 sore dan satu teman saya mendapat giliran TKD pada 24 pagi.

Setelah mengetahui bahwa saya lulus tes kedua, saya dan teman saya pun bersepakat untuk belajar bersama lagi seperti saat kami akan menghadapi tes pertama.

Hari keberangkatan pun tiba. Kami berangkatan pada penerbangan terakhir di hari itu. Sehingga saat kami sampai di penginapan, waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam.

Paginya, saya dan teman-teman saya kembali belajar bersama. Menghapal Undang-Undang Dasar, mengerjakan soal matematika, dan lainnya. Pada saat pukul sebelas siang, kami bersiap untuk berangkat menuju Bintaro mengingat saat itu kami menginap di Jakarta Timur.

Tepat pukul dua belas siang kami sampai di Bintaro. Kami pun salat zuhur terlebih dahulu, belajar bersama lagi, dan saat jam menunjukkan pukul setengah dua, saya dan dua teman saya bergegas menuju gedung tempat tes dilaksanakan.

Pertamanya, kami dikumpulkan di sebuah ruangan. Lalu, kami dibawa ke sebuah ruangan yang berisi puluhan komputer. Di ruangan ini lah kami akan melaksanakan TKD.

Pada tiga puluh menit pertama, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya isi. Hingga saya hanya menjawab sekitar lima soal dalam waktu selama itu. Saya degdegan. Takut jika hasil yang keluar saat TKD selesai tidak memuaskan. Tapi dalam hati saya terus berdoa agar saya bisa mendapat hasil yang diharapkan. Hingga pada lima belas menit terakhir, saya memanfaatkan perasaan saya untuk menjawab soal karena saya sama sekali tidak tahu dengan soal yang belum saya isi ini. Saat waktu habis, saya mendapatkan hasil yang cukup memuaskan diri saya`

Dalam pengumuman sebelumnya, kami mendapat info bahwa pengumuman seleksi tahap akhir akan dikeluarkan pada tanggal 29 Juni. Hingga pada tanggal 28 malam, saya tidak tidur karena menunggu hasil tes kali ini.

Tapi sampai sahur, pagi, dan siang sekitar pukul dua belas, kami tidak juga mendapat info kapan pengumuman dikeluarkan. Saya selalu me-refresh web PKN STAN dan mengecek official account di LINE. Tapi, belum ada hasilnya sampai kami diberi info bahwa pengumuman dikeluarkan tanggal 1 Juli.

Jadi, pada tanggal 30 Juni malam, saya tidak tidur lagi. Menunggu pengumuman. Sampai sahur tiba, pagi, siang, sore, dan malam hingga saya mengantuk. Tidak ada tanda-tanda jika pengumuman akan dikeluarkan. Saya memutuskan untuk tidur dan berpesan pada teman saya untuk memberi info pada saya jika pengumuman sudah keluar.

Sekitar pukul 1.00 WITA saat itu saya sedang mudik lebaran di Makassar saya dibangunkan oleh ibu saya dan beliau bilang jika saya lulus dan ditempatkan di Pontianak. Saya bersyukur dan terharu. Setelah dinyatakan gagal di SNMPTN dan SBMPTN, akhirnya saya dinyatakan masuk Kuliah di PKN STAN. Dari lebih seratus ribu orang mendaftar, hanya diterima empat ribuan dan nama saya termasuk di dalam empat ribu itu. Mungkin ini bukan impian saya pada awalnya. Tapi, ini menjadi impian saya pada akhirnya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.